//
archives

Story Adaptation

This category contains 1 post

SAKURA

“Nama saya Aya! Hmm..saya dari Jepang! Matur Nuwun!” dia memperkenalkan diri di depan kelas. Bahasa Indonesianya cukup lancar, meski aksen Jepangnya masih kental terdengar. Teman-teman langsung bersorak waktu mendengar Aya mengucapkan rasa terima kasihnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Matur nuwun berarti terima kasih. Dia tersenyum manis lalu duduk kembali di kursi. Aku masih menatapnya dari arah belakang. Aku hanya mampu melihat punggungnya yang tertutup kaos berkerah berwarna biru pastel, rambut sebahunya yang ia jepit sebelah, dan dia menunduk. Dia mencari sesuatu, entah apa.

“Bisa tolong ambilkan pulpen saya?” aku bengong. Wajahnya menghadap kearahku,”Ituu..pulpen saya!” ditunjuknya pulpen berwarna biru muda cermelang di samping kakiku yang membujur kaku. Aku mengambil pulpen itu lalu kuserahkan kepadanya yang sudah menunggu.

“Terima kasih ya!” ucapnya kemudian sembari tersenyum manis. Aku membalasnya kaku, hatiku terlalu tegang menghadapinya.

“Sama-sama, Aya!” balasku. Dia kembali ke posisinya semula. Kembali pula aku hanya dapat menatap rambut sebahunya yang lurus. Senyumnya masih terbayang-bayang di kepalaku.

Aya adalah salah satu anak darma siswa yang mengikuti materi antropologi di kelas reguler di kampusku. Satu kata lain darma siswa, dia adalah seorang mahasiswa Jepang yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di Indonesia, tepatnya di Universitas Sebelas Maret. Aku tidak menyangka di kelas Sastra Indonesia ini bisa bertemu dengannya untuk pertama kali. Hanya sekali ia terlihat di kelas sastra dan beberapa kali di kelas antropologi. Dia di sini hanya satu tahun. Aku terdiam lesu saat seorang dosen mengatakan hal itu.

***

Hari ini aku melihatnya berjalan sendiri di depan gedung tiga, kampusku. Aku mengejarnya dan mencoba menyamai langkahnya.

“Aya!!! Aya!!!” seruku pelan karena aku sudah berada di belakangnya. Dia menoleh ke arahku dan menghentikan langkahnya.

“Ya? Ada apa?” tanyanya.

“Mau makan siang bersamaku?” kutawarkan sekenanya. Tidak menyangka dia menjawabnya dengan anggukan dan senyum. Betapa bahagianya hatiku sampai nafasku begitu sesak.

Aku melangkah bersamanya menuju kantin kampus. Dia berjalan di sampingku. Aku merasa orang-orang yang kami lewati memandang kami sampai ujung. Dika bisa berjalan dengan gadis Jepang yang manis itu suatu mukzizat paling besar di kampus ini. Kataku dalam hati pada diri-sendiri.

“Kamu mau makan apa?” tanyaku sembari menyodorkan menu makanan.

“Aku ingin mencoba makanan oseng buncis.” Jawabnya selaku menunjuk tulisan di menu makanan,”kamu, mau makan apa, Dika?” tanyanya. Dia yang menulis makanan yang akan kami pesan di sobekan kertas yang sudah disedikan di sini.

“Aku ingin gulai kentang,” jawabku. Dia langsung menulisnya.

“Minumnya?” tanyanya sembari menatapku. Aku kaget karena aku sedari tadi memperhatikan sambil melamunkannya. Dia tertawa kecil saat menyadari aku melonjak sedikit.

“Hmm..teh..” dia menulis teh di kertas itu kembali. Masih dengan senyum malu-malunya. Aku menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal ini, aku pun malu padanya.

Kami mulai memakan makanan pesanan kami. Dia memilih oseng karena dia merasa oseng di sini enak. Dia menceritakan saat pertama ke Indonesia sampai saat ia mengikuti pelajaran di kelas darma siswa. Di sela-sela ceritanya, kami tertawa bersama karena ada yang kami anggap itu lucu dan konyol. Aku habiskan siang itu bersamanya di kantin. Kulihat dia banyak tersenyum daripada saat aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Sekarang aku merasa begitu dekat denganya.

“Dika, terima kasih ya atas makan siangnya dan menemani makan siangku!” katanya saat kami berjalan menuju parkir.

“Ya, aku juga sangat berterima kasih karena kamu mau makan siang bersamaku!” dia menunduk dengan senyum malu-malu.

***

Sesuatu yang begitu indah itu selalu cepat berakhirnya. Seperti kedatangan Aya di Indonesia yang semakin hari semakin mendekati kepulangannya ke Jepang. Sepertinya aku baru saja makan bersamanya kemarin, berlari pagi di sekitar kampus denganya, dan jalan-jalan bersama di pusat kota tidak lama ini.

Sekarang aku melihatnya memakai baju tipis dengan jaket putih yang kubelikan beberapa hari yang lalu saat kami jalan-jalan di pusat kota Solo. Di tangan kanannya tergolek paspor dan tiket keberangkatan pesawat ke Jepang. Sedangkan koper hitam itu sudah berada di samping kirinya.

“Dika,” ujarnya padaku. Aku menatapnya dengan mengangguk kecil,”Jangan lupakan aku ya!” lanjutnya. Anggukanku semakin mantap.

“Aku tidak akan melupakanmu, Aya!” ujarku. Dia tersenyum mendengarku. Aku mengeluarkan kotak hijau yang berada di tas jinjingku. Perlahan kuangkat tangannya sedikit dan kuberikan kotak itu di tangannya.

“Apa ini, Dika?” tanyanya bingung.

“Ini hadiah untukmu, kamu bisa membukanya!” dia mencoba membuka kotak hijau berhias pita emas dariku. Tapi aku menahanya.

“Kamu buka di pesawat ya!” ujarku menahan tangannya bergerak lebih lanjut. Dia tersenyum dan mengangguk kecil.

“Terima kasih, Dika!” beberapa detik kami terdiam. Pesawat tujuan Jepang akan segera berangkat. Dia melangkah mundur, sebelum akhirnya membelakangiku. Aku menatap punggungnya yang terdiam. Dia tidak kunjung melangkahkan kakinya.

Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya. Aku kaget begitu melihat wajahnya yang dipenuhi air mata. Melangkah ke arahku hingga sedemikian dekat.

“Dika, boleh aku memelukmu?” Tanyanya.

“Ya,” aku merentangkan tanganku sedikit. Dia langsung ambruk di pelukanku. Dia menangis di pelukanku 10 menit sebelum dia benar-benar memasuki pesawat. Dia mengatakan sesuatu dengan bahasa Jepang yang kurang dapat aku pahami karena segukan tangisnya meluap. Ucapannya dalam bahasa Indonesia pun tidak jelas di telingaku. Entah apa yang ia rasakan saat ini. aku hanya mampu memeluknya selama beberapa detik dengan perasaan kehilangan. Kehidupanku akan berubah ketika ia sudah kembali ke Jepang, mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang aku rasakan sebelum kedatangan Aya di sini. Tepatnya di dalam hatiku.

          ***

Malam yang bisu. Kutatap foto kami berdua yang kami ambil saat kami di restoran tempo hari. Aku merindukannya. Seperti ini kah rasanya? Gelisah, gundah, dan rasanya hanya ingin melihatnya saja. Ingin bertemu dengannya.

Hatiku berdebar. Apakah dia sudah membuka kotak hijau yang aku berikan? Kupenjamkan mataku. Berharap Tuhan mengerti perasaanku padanya, berharap Aya mau menungguku di sana.

Lewat terpejamnya mataku, aku melihat wajahnya di dalam bayangku. Memoriku melemparku kembali ke kejadian satu tahun, satu bulan, satu hari lalu. Saat pulpennya jatuh, saat dia menatapku, saat dia tersenyum malu-malu, saat kami jalan-jalan dan saat dia berada di dalam gendonganku…

“Dika, aku capai..” katanya menahan tanganku yang menggandeng tangannya. Langkahnya terhenti, langkahku pun terhenti. Aku langsung berjongkok di depannya.

“Ayoo!” ujarku. Aku menengadahkan wajahku ke arah wajahnya yang menunduk menatapku. Dia tersenyum dengan pipi kemerahan.

“Boleh?!” Tanya lirih.

“Ya, tentu saja. Untuk apa aku berjongkok seperti ini kalau kamu masih berdiri seperti itu!” celetukku. Kami tertawa bersama. Dengan pelan dia merangkul bahuku dengan ke dua tangannya. Aku pun mulai berdiri.

 “Aku berat ya?! Hihi…” tanyanya dengan pipi merah.

“Sangat!!! Haha..” jawabku dengan gelak. Aku mulai berjalan dengan menggendongnya di punggungku.

“Haha…” dia pun ikut tertawa renyah.

Aku tersenyum, di sini, di dalam kekosongan hati. Malamku semakin larut, tidurku pun ingin segera menyahut mimpi yang indah tentangnya.

***

Wajahnya tertunduk, rambut lurusnya hampir menutupi wajahnya yang cantik. Dengan pelan dibukanya kotak hijau itu. Sebuah kalung dan selembar kertas yang terlipat tergolek di dalamnya. Perlahan ia mengambil kalung yang bergantung inisial namanya dan nama Dika dengan ukiran bunga sakura di samping huruf tersebut.

“Sakura…” gumam Aya saat berada di dalam gendongan Dika.

“Hmmm…” Dika menoleh sedikit.

“Apa kamu mau melihat Sakura?”

“Sakura?”

“Ya…pemandangan yang sangat bagus di Jepang!”

“Aku jadi ingin melihat sakura di sini!” gumam Dika yang suaranya masih mampu terdengar oleh Aya.

“Sakura hanya ada di musim semi dan tidak cocok dengan musim di Indonesia!”

“Aku tahu itu, tapi aku ingin melihatnya di sini..”

“Dika-san, kamu bisa datang ke Jepang!”

 “Aku akan datang ke Jepang bila kamu menerima Sakuraku..”

Memori itu mengingatkan Aya tentang Sakura yang disinggung oleh Dika.

“Lalu aku akan membawa Sakuraku beserta pemilik barunya kembali ke Indonesia.” Kata-kata Dika seakan begitu lekat di telinga Aya saat ini. Air mata Aya menetes haru. Karena ia melihat sakura di dalam gantungan kalung itu. Kertas yang terlibat dua belah itu pun segera ia buka.

“Aya, aku akan menemuimu di bulan Sakura. Pakai Sakuraku bila kamu menerima cintaku dan mau menungguku sampai dua tahun ke depan. Tapi kalau kamu tidak menerima cintaku dan tidak sanggup menungguku selama dua tahun ke depan. Aku tetap akan menemuimu dan membawa kembali sakuraku dan kamu bisa membawa sakuramu!” tulisan itu kembali membuat air mata haru Aya menetes. Ia tersenyum dengan rona kemerahan di kedua belah pipinya.

***

24 April…

Aku berjanji bertemu dengannya di Taman Hirosaki di Shimoshirogane, Aomori. Taman itu sangat ramai pengunjung karena selama bulan april sampai mei, Hirosaki Cherry Blossom Festival berlangsung. Setelah masuk ke dalam Taman Hirosaki dengan membayar uang sebesar 300 yen kepada petugas. Aku segera mencari sosok Aya. Aku sudah tidak sabar lagi. Begitu penasarannya diriku pada wajah yang dua tahun terakhir ini tidak kulihat.

“Dika-san!” serunya pelan. Ya, aku mengenali suara itu. Perlahan aku membalikkan badan. Melihat wajahnya yang tersenyum manis. Memakai topi rajut berwarna putih yang membuatnya semakin terlihat cantik.

Kemudian kami duduk di selasar bawah pohon cemara yang sangat rindang. Bunga-bunga berjatuhan di antara kami. Di antara aku dan Aya. Menambah Susana menjadi begitu indah di dalam hati. Kulihat ia memakai kalung sakuraku. Dia memakainya.

“Aku sudah menunggumu di sini dan memakai kalung sakura pemberianmu! Sekarang aku ingin mendengar langsung darimu tentang rasa cintamu terhadapku!” aku kaget mendengarnya. Apakah aku sedang bermimpi? Tidak, ini nyata. Benar-benar aku tidak menyangka sebelumnya.

“Aya..” kupengang ke dua belah tangannya. Lalu menaruhnya di depan dadaku,”Seperti yang aku katakan sebelumnya, bahwa aku mencintai Aya.” Kulihat senyumnya merekah. Kedua belah pipinya mulai merona merah.

“Aya juga mencintai Dika-san!” gumamnya lirih. Aku tersenyum mendengar balasannya yang malu-malu itu.

Kami berjalan melewati guguran bunga sakura dengan hati penuh cinta. Dia bercerita panjang lebar tentang dirinya, seakan semua ingin diluapkan padaku hari ini juga. Aku kembali dibuatnya kaget dengan pernyataannya barusan dan pernyataan yang lampau, yang tidak mampu aku tangkap karena isak tangisnya yang terlalu dalam di bandara dua tahun yang lalu.

“Dika-san, aku tidak ingin meninggalkan Dika-san! Aku ingin bersama Dika-san! Aya sangat mencintai Dika-san!” dia mengulangi pernyataannya. Aku tersenyum malu karena terlambat menyadari pernyataan itu. Kutatap kedua belah matanya yang indah.

“Maafkan aku, Aya!” dia mengangguk. Menerima permintaan maafku. Dia memaklumi hal itu karena dia memang tidak jelas waktu mengucapkanya.

Untuk kesekian kalinya aku menatap matanya yang indah. Tiba-tiba dia mencium pipi sebelah kananku. Dia membuatku terkejut. Setelah melakukan itu dia langsung menunduk dengan senyum yang tidak lupa meninggalkan rona merah di pipinya. Sangat indah bukan, Cinta itu?

          .Selesai. Cerita ini terinspirasi dari salah seorang teman. Terima kasih! ^^

Model Foto: Chindy Lam & Friends

Ost: Sakura__Moriyama

Advertisements