//
archives

Short Story

This category contains 7 posts

BELANG

[Belang-belang warna kupu-kupu

Terbang-terbang sayapnya

Aku termangu bersamamu, melihatnya hinggap di jari bercicinku]

Untuk ke sepuluh kalinya dalam pagi ini, mama bilang kalau aku ini anak manja. Suka membentak-bentak pembantu dan kalau ada kesempatan untuk memaki, mulutku mampu menjakaunya. Aku bilang pada mama lebih baik aku tinggal di Singapura. Di sana hidupku lebih nyaman dan tentram. Setidaknya tidak seperti saat ini, di mana di setiap jam aku harus mengomeli pembantuku yang lemot itu. Misal saja bajuku belum disetrika, sepatuku yang aku pakai kemaren belum juga dicuci padahal besok aku harus memakainya untuk pergi jalan-jalan dengan anjingku, dan makhluk itu tidak kunjung datang saat aku menyuruhnya membuatkanku minuman padahal tenggorokkanku sudah terancam panas. Tapi satu hal yang harus aku akui ,yaitu masakan yang dia buat lumayan enak. Meski tidak seenak makanan yang sering aku makan di rumahku dulu.

Aku nggak punya adik, aku nggak punya kakak. Sebetulnya aku anak tunggal, tapi pada waktu yang tidak pernah aku duga sebelumnya akhirnya aku punya kakak juga. Saat umurku lima tahun, mama mengangkat anak laki-laki berambut jabrik itu dari panti asuhan. Meski kutahu dia tidak jelek, dia juga tidak bodoh, dia juga tidak nakal. Tapi sayang, aku membencinya. Dari pertama melihatnya, dia senyum sok ramah di mukaku, aku tak pernah suka dengannya. Lihat saja, mama lebih mengelu-elukan dia, papa juga tak pernah berhentinya memujinya. Satu lagi, mama sering membanding-bandingkanku dengan manusia satu itu. Dia yang pintar matematika lah, jago fisika lah, getol kimia lah, atau sistematik lainnya. Aku diam saat itu, aku mengakui aku tidak terlalu menyukai macam itungan seperti batu dicelupkan ke cairan mendidih lalu dilempar dan dihitung berapa jarak A ke B. Sampai mati paling-paling nilai yang paling mujur adalah enam seperempat untukku yang tidak mungkin untuk macam keahlian Jonathan. Macam manusia yang sudah melenggang ke negara-negara pengada olympiade. Itulah kekuranganku, tidak untuk yang lainnya.  Apapun kiblat Jonathan, dia tidak mungkin bisa merancang gaun serumit jaring laba-laba seperti apa yang aku lakukan.

Di sini aku nggak punya sahabat, teman sebangkuku pun aku nggak tau namanya. Dia memperkenalkan dirinya, tapi aku lupa. Lebih tepatnya aku tidak mau mengingatnya. Ada juga yang baik, menyambutku dengan ramah sekali, sekali lagi aku tidak terlalu memperdulikan. Beda dengan Jonathan, setelah kami keluar dari ruang kepala sekolah. Dia masuk ke kelasnya yang berada di dekat tangga, aku terpaksa naik karena kelasku di lantai atas. Kupikir dia terlalu berlebihan untuk memberikan senyum seperti itu. Lihat saja, cewek-cewek mulai menjuruskan senjata kecetilannya.

Waktu istirahat aku keluar kelas, itu lantaran aku bosan. Aku turun tangga, duduk di bangku pendek di samping lapangan. Jonathan mendekatiku dan ikut-ikutan duduk di sampingku.

“Ngapain kamu ke sini?” aku nggak melihat mukanya. Aku masih menatap buku tipis yang aku bawa untuk bacaan.

“Bosan ya?! Kamu pasti nggak betah di sini.”

“Kamu bisa nggak sih, Jo, nggak ngurusin hidup aku sehari saja! kamu itu kayak mami!” aku pikir dia tuli karena kata-kata itu sudah berulang kali aku ucapkan untuknya,”Bosan! Ya, aku bosan hidup di sini!” ucapku sambil berdiri,”Dan asal kamu tahu, jangan deketin aku lagi! Meski kamu satu rumah denganku, bukan berarti kamu boleh deketin dan sok nasehatin aku seenak jidat!” aku pun meninggalkannya. Sedikitpun aku nggak memandang wajahnya. Aku pun nggak mau tahu perasaannya.

******

“Jesica.” jawabku tak acuh. Lima orang cewek mengulurkan tangan ke arahku. Mereka memperkenalkan dirinya masing-masing. Meringis layaknya cewek kurang gizi. Aku kembali ke tempat dudukku tanpa sedikit pun melihat tampang mereka.

“Jes,” aku melirik ke arah sumber suara. Hari ini hari ke tujuh aku bersekolah di sini, hari yang membuatku muak semuak-muaknya.

“Kamu mau nggak nanti sore lihat permainan basket, buat hiburan? Itu kalau kamu mau sih!” aku menatap wajahnya sekilas. Jadi aku suruh lihat permainan basket dia gitu? Aku mendengus pelan. Mencoba tersenyum sedikit biar hatinya tidak putus asa. Lihat saja tampangnya? Memelas. Aku tahu dia ketua tim basket karena mulut cewek-cewek di belakangku dari tadi menggunjingkannya.

“Oh, mungkin aku akan datang.” dia langsung tersenyum ke arahku.

“Aku tunggu ya!” dia pun pergi dari hadapanku. Kini digantikan dengan ocehan guru yang kupikir ini pelajaran untuk anak SD. Hah? Macam apa lah ini? aku mendengus kesal. Cewek di sebelahku menoleh ke arahku dengan tatapan heran.

“Kenapa Jes? Ada masalah?” tanyanya beruntun. Aku menggeleng lalu menatap paket yang seharusnya untuk anak SD.       

*****        

Aku melangkah ke lapangan sore ini, duduk-duduk melihat Jonathan dan orang yang mengundangku tadi bertanding basket. Baru juga masuk kemaren, anak itu sudah digilai banyak cewek. Nggak sudi aku memanggilnya kakak. Itu prioritas pertamaku di sekolah ini. teman-temanku di sekolah lama tahu dia itu kakakku, mereka tahu dia kakak kandungku. Di sini jangankan mengira kakak kandungku, kakak angkat pun aku nggak rela semua orang di sini mengetahuinya, mengetahui kebenarannya. Anak papa dan mama itu hanya aku seorang, bukan Jonathan atau siapapun.

Macam permainan yang menarik sekaligus membosankan. Cewek-cewek yang berkerumun itu berteriak kesetanan seperti nggak pernah melihat cowok-cowok yang berlari merebutkan bola. Bola? Yah bola basket tepatnya. Sesekali kulihat ke dua orang itu mencuri pandang ke arahku. Tersenyum dan kembali merebutkan bola. Aku menatapnya acuh.

Setelah permainan itu selesai dan dimenangkan Jonathan. Suara-suara cempreng itu riuh rendah sembari bertepuk tangan. Begitu sangat menjengkelkannya ketika mereka menghadap Jonathan dengan tatapan terkesima. Tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku tanpa aku sadari. Menyamai langkahku menuju gerbang sekolah.

“Makasih ya, kamu udah mau lihat permainan basketku! Meski aku kalah dengan anak baru itu!” ucapnya terkagum-kagum. Dia mengagumi Jonathan. Aku menggangguk dan tersenyum hambar.

“Permainanmu juga bagus kok!” ujarku mencoba menyemangatinya. Kupikir aku nggak akan terlalu menyombongkan diri di muka memelasnya itu. Kuperhatikan dia cukup tampan dan lucu.

“Kalian saudara ya? Sama-sama anak baru dari Singapura?”

“Siapa yang bilang?” nadaku meninggi. Agak sedikit aku tekan, aku tahu dia agaknya terkejut. Tapi dia langsung menyeringai.

“Aku hanya menebak saja, mungkin benar, mungkin juga salah?! Kulihat kemarin kalian berdua juga berbicara berdua bersama. Dan kulihat kamu sepertinya marah.” Aku terdiam. Dia menguntitku. Jangan-jangan…

“Atau dia pacarmu?” lanjutnya. Aku terkejut, tapi juga bersyukur karena dia tidak tahu apa yang aku katakan pada Jonathan kemarin. Aku mencoba tersenyum.

“Bukan..bukan! aku tidak mengenalnya!”

“Jadi dia bukan pacarmu?” kali ini aku menatapnya. Tersenyum dan menggeleng pelan.

“Rumahmu di mana? Biar aku antar!” ujarnya bersemangat.

“Tidak perlu, sopirku sudah menjemputku,” kulihat raut mukanya meredam kecewa. Entah kenapa aku merasa tidak tega. Dia tetap tersenyum ke arahku sembari melambaikan tangannya. Tidak akan mungkin dia mengantarku di depan rumah apalagi bermain di rumahku. Karena sangat jelas mereka akan mengetahui Jonathan adalah saudaraku.

Kulihat dari kaca mobil, di luar sana hujan sangat deras. Kupikir Jonathan sudah mengerti perkataanku. Dia tadi sama sekali tidak menghampiriku atau sekedar mengajakku berbincang yang tak mungkin aku balas. Kusentuh embun yang melekat di kaca mobil, aku tidak akan mengkawatirkannya. Aku yakin dia akan pulang dengan keadaan selamat dengan motor baru yang dibelikan Papa untuknya.

*****  

Jonathan pulang dengan keadaan basah kuyup, mama langsung menghampirinya. Macam pertanyaan untuk  anak kecil, mama  lontarkan untuknya. Aku melihatnya menggigil dan bibirnya terlihat pucat. Aku teringat saat dia pulang dari sekolah waktu aku masih sekolah dasar. Aku meninggalkannya saat hujan. Dia di belakangku tanpa menggunakan pelindung hujan, sedangkan aku menggunakan payung cantikku sendirian. Dia mengikutiku sampai rumah tanpa sedikit pun aku berniat menawarinya untuk satu payung denganku. Mama tidak memarahiku, tapi kurasa wanita itu memendam kesal kepadaku. Selama satu minggu Jonathan tidak mengikutiku lagi di belakang saat hujan turun. Kutahu dengan amat jelas dia sedang sakit demam dan berakhir di rumah sakit. Papa dan mama sangat mengkawatirkannya.

Dia menatapku sembari menyungging senyum. Aku langsung melengos, mataku tertangkap olehnya karena sedari tadi aku melihatnya berdiri gemeletuk di samping Mama yang kawatir bukan main. Aku tahu, mama tidak akan membiarkan anak laki-lakinya itu mendekam di rumah sakit seperti beberapa tahun silam.

*****

Kubenamkan wajahku di depan kedua lututku yang kukatupkan. Apakah sikapku keterlaluan pada Jonathan? Sejak melihatnya pertama kali aku tidak suka, karena dia merebut semuanya dariku. Mungkin wajar saja lah seperti ini, toh dia juga bukan siapa-siapaku. Aku tertawa. Dia bukan kakakku! Aku tidak mempunyainya! Kurasa mama saat ini sedang mengompresnya dan tidur di samping anak manja itu. Seharusnya mama menyadarinya, yang manja itu bukan aku, tapi dia.

Kurebahkan badanku, aku tidak tahan dengan semua yang ada di sini. Aku kehilangan teman-temanku. Teman-teman di sekolah baruku itu sangatlah membosankan. Tidak hanya itu, lihat saja mata pelajaran yang diajarkan! Mereka pikir aku anak sekolah dasar? Aku benci! Aku benci tinggal di sini! Aku ingin kembali ke Singapura! Kupukul-pukul bantal dengan keras. Menyebalkan.

“Kau belum tidur? Bolehkah aku masuk, Jes?” kudenggar suara di balik pintu kamarku yang tertutup rapat. Aku sangat mengenali suara itu.

“Ada apa? Bicara saja di situ! Aku tak mau melihatmu!” ucapku setengah berteriak.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!”

“Ya sudah, bicara saja di situ!” balasku kesal, ini sudah malam masih saja menggangguku. Kupikir dia mengerti, tapi ternyata tidak. Hening, dia tidak segera membalas. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu yang tadi kukunci. Kulihat dia berada di depan kamarku, berdiri mematung seperti mayat hidup. Kadang memang aku tidak sampai hati membentaknya, bibirnya pucat.

“Ada apa?” tanyaku ketus, dia justru tersenyum. Aku ingin menanyakan, apakah dia sakit? Aku berpikir ulang, kalau aku tanyakan pertanyaan itu bisa jatuh reputasiku di depannya. Kugeser kakiku menuju tempat tidurku kembali. Kupeluk bantalku, kutarik selimutku, dan mencoba menghindari tatapan matanya. Dia duduk di pinggir tempat tidurku karena kurasakan ada seseorang yang menindih kasur yang berada di belakangku. Aku merasakan kehadiran itu.

“Aku tahu kamu membenciku,” kalimat pertama yang kudengar darinya, dia tahu aku membecinya. Dia mengetahui itu sejak lama, tapi baru dia lontarkan malam mini. Dulu apa dia pura-pura tidak mengetahuinya atau memang saking bodohnya dia tidak mempunyai kepekaan terhadap sikapku? Atau karena dia ingin merebut papa dan mamaku?,”Kamu ingin aku bagaimana supaya kamu tidak membenciku lagi? Kalau kamu ingin aku pergi dari rumah ini, aku akan pergi. Aku memang tidak pantas masuk ke dalam keluargamu, aku tidak pantas menjadi kakakmu, aku bukan kakak yang baik untukmu…”

“Cukup!” ujarku cepat,”Kalau kamu mau pergi silakan saja! Nggak ada yang akan menahanmu! Jangan mencari-cari alasan konyol seperti itu!” aku tidak menatapnya sedikitpun. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi mukanya yang membelakangi punggungku yang membujur di balik selimut,”aku memang membencimu!” tandasku. Entah kenapa hatiku mencelos saat setelah kata itu keluar dari mulutku, air mataku menetes pelan. Aku menangis? Tidak.

“Baiklah kalau itu membuatmu bisa bahagia. Jaga papa dan mama, aku akan pergi.” Tubuhnya terangkat seketika dari kasurku. Setelah itu tidak kudengar suaranya, hanya deritan pintu yang tertutup. Dia sudah tidak berada di dalam kamarku.

“Itu ucapan konyol, Jonathan! Kau pikir, kau itu di mana? Ini Indonesia, kau baru saja menginjak tanah ini satu minggu yang lalu. Kalau kau mau kabur, kau mau kabur kemana? Huh, dasar anak manja! Penyakitan pula! Haha..” aku tertawa memikirkan cowok sableng itu. Mana mungkin aku menanggapi ucapannya itu? tidak mungkin dia berani pergi dari rumah ini begitu saja. Kupejamkan mataku, menjemput mimpi indah sebelum pagi-pagi sekali harus bertemu dengan manusia satu itu kembali.

*****

Di ruang makan sudah tidak ada satu pun orang, sarapan pagiku sudah siap. Ternyata pembantu itu bisa juga tepat waktu.

“Ke mana papa dan mama?” tanyaku sambil mengambil roti tawar.

“Pagi-pagi sekali tuan dan nyonya sudah pergi, non! Pesan nyonya, menemui relasi di luar kota, jadi besok pagi baru akan pulang.”

“Oh..” gumamku.

“Den Jonathan..”

“Aku tidak bertanya dia!” sambarku sebelum wanita paruh baya itu melanjutkan perkataannya. Kini kuteguk susu coklat di depanku dan segera keluar dari rumah. Paling-paling anak itu sudah sampai di sekolah. Dia sudah kelas tiga, mungkin ada pelajaran tambahan. Ah, kenapa aku malah memikirkannya?

****

“Siang-siang begini hujan,” Gerutuku sembari melihat jam tangan. Sedari tadi aku sama sekali tidak melihat Jonathan. Biasanya dia pura-pura jalan-jalan ke lantai atas padahal aku tahu dia ingin melihatku. Huh!

“Jes, kamu melamun ya?” aku tersentak. Suara itu tiba-tiba muncul di sampingku.

“Ah, tidak.” Jawabku.

“Sedang mikirin apa?” aku menoleh ke arahnya.

“Tidak kok, hanya kepalaku sedikit pusing saja.” Asalku, tapi aku merasa kepalaku memang agak pusing.

“Kalau begitu kamu mending istirahat saja di UKS!” ucapnya kawatir, aku menggeleng pelan dan memunculkan senyumku yang asing. Aku jarang tersenyum pada orang-orang yang aku anggap memang tidak perlu aku berikan senyuman.

“Tidak..aku tidak apa-apa kok!” kilahku, dia tersenyum. Dadaku berdebar melihat hujan dan petir yang tiba-tiba menyambar.

*****

Malam ini sepi sekali, Papa dan mama juga belum pulang. Kubolak-balik buku materiku yang baru saja kubeli. Lagi-lagi biologi versi SD! Kutarik badanku dan beringsut ke depan jendela. Lagi-lagi pemandangannya hanya hujan dan hujan. Seharian tadi aku sama sekali tidak melihat Jonathan. Apa dia benar-benar pergi dari rumah? Ah, mana mungkin dia serius dengan omongannya yang terdengar konyol itu.

Kubuka pintu kamarku perlahan, pintu di depanku itu tertutup rapat. Mungkin dia sudah tertidur. Aku ingin masuk dan mengecek keadaannya. Tapi aku urungkan niat baikku, dia itu sudah besar, bisa menjaga diri! Aku meyakinkan diriku sendiri kalau bibir pucat yang aku lihat kemarin baik-baik saja dan sekarang dia tertidur pulas di kasur empuknya.

“Trutt..truttt…” suara getaran ponsel yang diikuti lagu who am I milik Casting Crowns terdengar sampai di telingaku. Kulihat ponselku berdiam diri di atas kasur. Kuperhatikan suara itu berkali-kali bergetar dan suara bertambah nyaring. Kuketuk pintu di depanku tiga kali.

“Jo..” suara ponsel itu masih terdengar, sepertinya si penelpon tak jemunya memutar nomor itu sampai kesekian kalinya. Tak ada respon dari dalam.

“Jo..kau tuli ya?!” gertakku. Ponsel itu terdiam dan kembali menyaringkan suaranya. Aku membuka kamar gelap ini. Mencari saklar, setelah aku memukannya dan lampu menyala benderang. Sosok itu tak aku temukan di kamar tidur. Kubuka pintu kamar mandinya, kosong. Tidak kutemukan apa-apa kecuali ponselnya yang berdering tak karuan. Kuangkat telponnya,

“Hallo, Dear..jangan lupa minum obatmu!” kulihat beberapa bungkusan obat tergeletak tak berdaya di atas meja,”Dear, katakan pada adikmu juga. Papa dan mama pulang besok karena terjebak hujan. Dear..kau dengar mama?” ponsel itu jatuh dari genggamanku. Aku berlari keluar menuju kamar pembantuku. Mengetuk pintunya keras-karas hingga wanita itu menyembulkan kepalanya sembari mengucek mata.

“Kau lihat Jonathan?” dia menggeleng, “cepat katakan!”

“Aku tidak tahu non, hanya saja saya ingin katakan tadi pagi, kalau den Jo tidak terlihat dari pagi.” Aku langsung berlari keluar, ternyata dia tidak main-main dengan perkataannya.

*****

“Cepat dong Pak!”

“Iya non ini sudah cepat!” aku melihat-lihat kalau-kalau Jonathan ada di pinggir ruko-ruko yang sudah tutup. Meringkuk bersama gelandangan, tapi mana mungkin? Dasar bodoh! Dia belum makan dari tadi pagi, dia belum meminum obat dan kabur seperti orang yang sudah mengenal cukup baik Negara ini. Dadaku berdebar keras, kuakui perasaanku tidak enak sudah dari kemarin setelah manusia itu keluar dari kamarku. Aku tidak tahu kalau perasaanku benar.

“Hallo, kak Andi ya? Maaf mengganggu malam-malam, aku adik Jonathan. Apa kakakku ada di rumahmu?” tanyaku dengan nada bergetar.

“Jo tidak ada di sini, kenapa memangnya dengan Jo?” tanyanya balik.

“Tidak apa, terima kasih ya!” ucapku sebelum mematikan ponsel Jonathan. Semua teman-teman yang berada di phone book dalam card barunya aku telpon, tapi tidak ada satu pun yang tahu Jo di mana.

“Tadi kan dia tidak masuk, kenapa dengan Jo?” balas seorang cewek.

“Nggak apa kak, makasih!” semua aku akhiri dengan terima kasih yang jarang sekali aku ucapkan. Brengsek kau, Jo! Membuatku uring-uringan seperti ini.

“Pak..bagaimana ini? Jo di mana? Mama bisa pinsan kalau anaknya itu hilang!”

“Tenang, non!”

“Tenang bagai…stop..stop..” cowok yang meringguk di pojok itu, sepertinya aku mengenalnya. Aku membuka pintu mobil dan langsung menghambur dengan derai hujan.

“Non..mau kemana?” aku tidak menghiraukan teriakan laki-laki paruh baya itu.

Wajahnya menunduk, memeluk kedua lututnya. Dia kedinginan, aku tahu itu. Aku semakin mendekatinya. Dia hanya mengenakan kemeja hitam lengan panjangnya yang dipilihkan mama untuk ke acara ulang tahunku tahun lalu. Dia mengenakan gelang simpul yang kuhadiahkan padanya saat ulang tahunnya ke 17 tahun. Sudah tahu kedinginan dia masih saja menggulung lengan kemejanya itu, dasar bodoh kau Jo! Umpatku berkali-kali melihat lengannya yang putih itu terlihat memerah karena suhu yang tidak cocok dengan tubuhnya yang ringkih. Kudongakkan wajahnya yang pucat dengan kasar. Matanya melihatku dengan keterkejutan luar biasa.

“Plak!” aku menamparnya. Tangisku meledak. Tangan kananku berhasil menampar pipinya yang mendingin seperti es.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau mempermalukanku dengan cara kau menjadi gelandangan? Iya, begitu?” tanyaku dengan nada tak jelas karena tangis dan derai hujan mengalahkan apa yang aku ujarkan. Dia menatapku,

“Maaf..”

“Kau selalu mengatakan itu, apa kau tak punya kata lain? huh?” kulihat matanya terlihat lelah dan bibirnya pucat sekali. Ingin rasanya aku menghajarnya.

“Lihat…” aku menenteng lengannya yang kemerah-merahan,”Dasar bodoh!” aku melepas jaketku dan memakaikan ke tubuhnya yang terlihat menggigil.

“Tuan…kenapa seperti ini?” sopirku itu langsung memapah Jo. Aku memayungi mereka sampai ke mobil. Baru kali ini aku seperti pembantu dan ini semua gara-gara Jonathan.

*****

“Ke rumah sakit sekarang!” suruhku. Kulihat Jonathan menggigil sangat, terdengar giginya bergemeletuk. Matanya terpejam.

“Kau kedinginan? Cepat dong pak!” badannya sangat panas.

“Iya..iya..non!”

“Dasar! kau itu memang bodoh! Menyusahkanku!” matanya yang sipit terbuka dengan paksaan. Merekahkan bibir pucatnya.

“Jangan memaksakan diri untuk tersenyum!” sungutku. Dia terkekeh disusul dengan batuk.

“Uhuk..uhuk..” matanya kembali merapat. Wajahku mulai panik melihatnya lebih seperti mayat.

“Jo, buka matamu!” aku menepuk-nepuk pipinya pelan,”Jo..jangan mati dulu! Kau itu masih punya hutang padaku! Jonathan…” aku ambruk di tubuhnya, memeluknya,”Cepat dong pak!” selama ini aku sudah menjahatinya,”Jo, bangun! Siapa lagi nanti yang aku bentak-bentak kalau kamu nggak ada? Hiks..” tangisku menimbun di atas tubuhnya yang mendingin.

*****

1 minggu kemudian…

“Mama nggak tahu sih, dia menangis sambil memelukku!” aku merengut. Papa, mama, dan dia tertawa terpingkal-pingkal.

“Pasti romantis sekali ya?” papa mulai menggoda. Aku merasa terpojok. Papa gila!

“Papa!” aku melempar bantal ke arah papa.

“Lihat pipinya memerah!” mama menambah-nambahi. Aku beranjak dari kursi, puas-puaskan kalian menertawaiku! Tangan itu menarikku hingga kami saling berhadapan, tidak hanya itu bibirnya yang lembut menyentuh bibirku.

“Plok…plok…haha…” mama dan papa malah bertepuk tangan girang. Orang tuaku memang sedikit ah..tidak wajar seperti itu.

“Apaan sih?!” aku menunduk malu. Aku tidak tahu kenapa hatiku menjadi seperti ini. aku memang tidak ingin Jonathan menjadi kakakku. Aku hanya ingin dia menjadi kekasihku dan menjadi pendampingku di altar. Itu impianku dari kecil saat pertama kali aku tersanjung dengan semua yang dilakukannya padaku.

Tidak menyangka ternyata dia tidak melupakanku. Dia ingat semua kata-kataku dulu. Sedangkan mama dan papa mempunyai rencana gila dengan menjodohkanku dengan anak angkat yang mereka sayangi setengah mati itu. Ah, pantas saja! Mereka tak mau kehilangan Jonathan, seperti aku, aku juga tidak mau kehilangannya.

Kami tertawa bersama. Keluarga bahagia! ^.^

*****

“Kakak, tunggu aku!” aku berlari mengejarnya di taman.

“Kupu-kupunya hinggap di sini, cepatlah sedikit!” serunya. Aku menghampirinya. Kupu-kupu belang itu memang di depan bunga-bunga kecil di sekitar kami.

“Kakak lihat!” seruku pelan. Kupu-kupu belang itu hinggap di jemari bercincinku. Kami melongo bersama saking kagumnya dengan makhluk bersayap belang itu. Aku mengangkat tanganku.

Setiap pulang sekolah kami selalu bertemu di taman belakang sekolah. Kami bermain bersama.

“Kamu nanti yang akan jadi pasanganku di altar!” ujarnya sambil menggandeng tangan mungilku.

“Aku jadi pasangan kakak?” tanyaku polos sembari membayangkan aku menjadi pengantinnya. Dia mengangguk mantap.

Dua hari kemudian…

Dear, lihat siapa yang datang?” seru mama di depan pintu yang terbuka lebar. Papa membopongku. Aku melihat anak laki-laki berambut jabrik yang sering bermain denganku di taman. Papa menurunkanku. Sepertinya anak itu terkejut, tak jauh berbeda seperti apa yang sedang aku alami. Aku terkejut bukan kepalang lagi.

Dear, dia adalah saudaramu! Namanya Jonathan dan sekarang dia adalah kakak laki-lakimu!” mataku berkaca-kaca mendengar penyataan mama. Kulihat papa tersenyum bahagia seperti mama, mereka memang menginginkan anak laki-laki yang tak mungkin mereka meliki kecuali mereka mengadopsi seorang anak laki-laki. Mama tidak bisa memiliki anak lagi setelah melahirkanku. Rahim mama harus diangkat karena ada tumor yang menjalar di dinding rahimnya. Masih untung aku dan mama selamat saat itu.

Mendengar hal itu aku langsung berlari menuju kamar dan membuang boneka beruang kecilku. Aku membenci Jonathan!

TAMAT

Model foto: Kevin R. & Chindy Lam

Advertisements

Kacang Lupa Kulit

Ayah dan Asan duduk di ruang keluarga sambil menonton tivi. Samira, adik Asan sibuk dengan PRnya di ujungsana. Tidak jauh dari tempat Asan dan Ayahnya berbicang-bincang. Ibu menemani Samira, menjawab pertanyaan yang Samira belum paham. 

“Makanan apa yang paling kamu suka?” tanya Ayah sembari menyeruput kopi hangatnya.

“Kacang, Ayah!”

“Itukancemilan, San! Maksud Ayah, makanan.”

“Kacangkanjuga termasuk makanan, Yah!”

“Iya, tapi kalau dikategorikan lebih dalam itu termasuk ke dalam cemilan.”

“Ayah berfikir selalu ke kompleks jadi aku malas kalau harus membicarakan hal yang sederhana menjadi rumit.” Asan menatap Ayah dengan pandangan nyiyir.

“Justru sebaliknya! Lagian bukankah sudah biasa bagimu?!” mendengar hal itu Asan mendengus kesal. Ayahnya justru tertawa. Asan pun menarik majalah di depannya dengan kasar. Terlihat beberapa halamannya sampai bertekuk-tekuk.

“Ya, sudah. Sekarang karena kamu suka dengan kacang, Ayah ingin tahu apa yang membuatmu suka dengan kacang?”

“Karena rasanya enak.”

“Apanya yang enak?”

“Kacangnya lah, Yah!” suara Asan terdengar jengkel. Ayah terkekeh kembali.

“Lalu apa yang membuat orang tidak suka dari kacang?”

“Karena harus membuang kulitnya terlebih dahulu! Ribet seperti ayah!”

“Ya, tapi kamu tetap suka!”

“Jelas!”

“Jadi kesimpulannya?” Asan menatap Ayahnya yang kembali menyeruput kopinya.

“Aku suka kacang, tapi tidak suka dengan kulitnya. Jadi isi telah meninggalkan kulit karena isi lebih banyak disukai orang atau hewan. Isi meninggalkan kulit bukan karena kehendaknya sendiri, isi meninggalkan kulit karena ada pihak yang telah memisahkan mereka. Isi lebih bermanfaat, selain bisa dimakan, isi juga bisa ditanam kembali untuk menjadikan gerombolan kacang-kacang yang montok. Sedangkan kulit hanya sebagai sampah. Tapi, jasa kulit justru lebih besar. Tanpa kulit isi tidak bisa tumbuh dengan sempurna dan bisa dimakan seperti ini! Kriuk!” Cerocos Asan. Beberapa detik Asan justru terdiam. Berfikir. Mulutnya masih mengunyah kacang atom yang dibuat Ibunya, tanpa harus bersusah payah mengupas kulitnya dulu. Kacang atom lebih praktis untuk dimakan.

“Jadi kehidupan sendiri?”

“Ibarat kacang lupa pada kulitnya. Tidak ada kehidupan yang sempurna untuk manusia, Ayah!”

Suara jam gantung berdentang. Asan berpamitan pada Ayah kalau dia harus segera masuk kamar untuk melaksanakan ritual rutin. Mengingat besok harus sekolah.Adaujian Biologi. Tidur baginya adalah sebuah ritual sebagai seorang manusia. Menggosok gigi dan mencuci muka terlebih dahulu itu juga dia sebut sebagai ritualnya.

———

——————-

“Gua itu memang tampan. Ini sudah takdir!” kata Asan setengah berteriak pada beberapa teman cowoknya.

“Pintar itu jelas!” lanjutnya.

“Sombong lu!” samber Janu.

“Bego lu!” sahut Asan cepat. Janu melotot nggak terima. Kini jadi saling memelototkan mata.

“Sudah jangan ribut!” Ivan menengahi mereka,“Kamu itu tidak perlu pamer, kami juga tahu, San!” Asan merengut. Beberapa temannya tertawa semua.

“Kenapa Tuhan nyiptain kamu?”

“Untuk pelengkap dunia, Van! kamu tahu sendiri, ngapain tanya-tanya segala! Kalau bego jangan diumbar!” untung saja Ivan sabar menanggapi Asan yang selalu meremehkan orang. Sebenarnya tidak bermaksud meremehkan, hanya saja jengkel pada orang yang bertanya padahal jawabannya sudah jelas dimengerti. Ivan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Yang lain mengikik karena sudah tahu sifat Asan yang memang begitu kecuali Janu tentunya. Janu itu tidak suka diremehkan. Sebenarnya sama sifatnya dengan Asan. Sama-sama tidak mau diremehkan. Sama-sama tidak mau dibilang “BEGO” karena mereka sudah teruji kecerdasannya. Bedanya Janu bukan tipe orang yang dengan gamblang meremehkan orang, meremehkan seperti Asan yang berkata apa adanya secara terang-terangan. Tapi tujuan Asan seperti itu sebenarnya untuk memacu potensi seseorang.

“Hanya pelengkapkah?”

“Ya. Untuk apa lagi?” Asan balik tanya. Dia sebenarnya paling benci kalau harus menjawab. “Cari buku, baca! Ngapain tanya-tanya aku? Emang aku tetua? Tuhan saja nggak pernah jawab, kamu suruh aku jawab? Tuh, buku di perpustakan banyak, nggak usah beli, baca ampe mampus! Nggak usah tanya sudah dijawab! Atau mikir tuh pake otak! Untuk apa otak kalau nggak untuk tanya-pikir-jawab!” dia selalu berfikir seperti itu. Tapi sikap juga harus dijaga, reputasi bisa jatuh kalau etika buruk, pikirnya. Jadi dia hanya membatin, tidak mungkin digamblangkan begitu saja. Sebenarnya tidak takut kalau menyinggung hati orang karena kalau dikatakan bukannya lebih baik, mengajak orang untuk berfikir bagaimana memunculkan sebuah pertanyaan dan mencoba menjawabnya sendiri. Kalaupun tidak mampu ya baca buku setidaknya cukup.

“Bicara kok sama Asan, sakit hati kamu nanti, Van!” songol Janu.

“Aku ingin mengobrol dengan Asan, mumpung tidak ada tugas sekolah.” Kata Ivan dengan nada halus. Dia sosok yang sabar luar biasa. Mungkin disuruh untuk menaruh apel di atas kepalanya, dia akan menurut. Katanya, “Ini untuk kebaikan, sobat!” padahal nyawanya bisa mati kalau peluru itu meleset ke tengkoraknya kemudian menebus sel-sel otaknya.

 “Apa lagi Van? Gua tanggapi nih?” tanya Asan antusias sambil melirik Janu. Tersenyum sinis, Janu membalas dengan memonyongkan mulutnya.

“Hidup kamu untuk apa, San?” tanya Ivan.

“Untuk mati.” Jawabnya singkat.

“Kalau begitu mati saja sekarang!” Janu menyambar cepat.

“Memotong pembicaraan itu tidak sopan, Bego!” sahut Asan. Janu berontak ingin memukul Asan tapi Viktor dengan gesit menahan ancang-ancang Janu.

“Lanjutkan!” gelak Viktor dan Romi. Janu dongkol di ujung lemari. Mengambil buku kimia dan membantingnya di meja. Sangat jelas dilihat dia hanya berpura-pura membaca. Bersungut-sungut. Asan tertawa keras disusul dengan kedua temannya. Ivan hanya tersenyum.

“Kalau begitu percuma dong kamu mendapat nilai 100 dalam setiap mata pelajaran, menyelesaikan penelitian, dan mengejar medali emas?” pertanyaan Ivan berlanjut.

“Itukanpemanis hidup, Van! Hidup itu harus ada pemanisnya. Kayak gini tuh aku juga mikir orang tuaku dan adikku, Samira. Kalau aku mati sekarang, seperti yang dikatakan Janu,” Asan melirik Janu. Janu menoleh sedikit lalu memalingkan wajahnya kembali.”Hidupku di tengah-tengah keluarga percuma, Van! Aku tidak suka mengecewakan orang yang ditakdirkan menyayangiku. Intinya semua yang aku lakukan ini adalah pemanis hidup.”

“Kamu sayang pada mereka, San?” kali ini Romi yang bertanya.

“Pasti.”

“Mendoakan mereka tidak?” Janu yang sedari tadi pura-pura membaca buku tebal berjudul KIMIA di sampulnya, kini kembali ikut bertanya-tanya. Asan diam sejenak.

“Mendoakan lah! Lu pikir ngapain gua?”

“Ke Gereja saja tidak pernah, kapan lu doa?”

“Memangnya berdoa harus ke Gereja ya? Ke Masjid, ke Pura? Bagi gua nggak perlu, Jan! disini gua duduk juga bisa berdoa ‘dimana saja’, mendoakan mereka, mendoakan lu juga supaya nggak banyak bacot!” sangkal Asan. Janu melotot seakan organ dalam hampir hangus terbakar oleh kata-kata Asan barusan.

“Doa sama siapa lu?”

“Yang nyiptain gua lah? Masak gua doa sama lu? Memangnya lu itu yang nyiptain gua?”

“Siapa yang nyiptain lu?”

“Sang Pencipta, namanya juga pencipta!”

“Lu nggak pernah mau nyebut Allah, Tuhan setidaknya!”

“Harus ya?”

“Iya dong!”

“Siapa lu nyuruh-nyuruh gua? Lu nyadar nggak posisimu dimana? Lu itu bukan atasan gua, dan gua bukan bawahan lu! Posisi gua disini! Lu disitu! Kita itu sama-sama manusia, sadari itu!”

“Lah, lu sendiri sadar kalau lu manusia kenapa nggak mau menyebut Tuhan dan taat pada ajaran!”

“Woi, mata lu itu rabun atau sudah buta? Kalau buta nggak perlu pakai kaca mata setebal itu! Kapan gua melanggar ajaranNya? Lu pernah liat gua membunuh orang, mencuri uang, atau memperkosa gadis lu?”

Ivan, Victor, dan Romi hanya diam. Mulutnya terkatup sempurna, tidak mampu menengahi argumentasi mereka berdua.

“Kenyataannya begitu! Menyebut saja tidak mau, itu namanya lu sudah membangkang! Jangan bawa-bawa gadis gua!”

“Haha…serius amat lu! Hidup itu nyantai, Man! Membangkang dalam arti lu bukan gua. Ritual lu beda dengan ritual gua. Tuhan lu beda dengan Tuhan gua. Gua nyebut Pencipta-Eksistensi yang tinggi, lu sebut Allah. Victor dan Ivan nyebut penciptanya dengan sebutan Tuhan. Sedangkan Romi lebih suka menyebutnya Dewa. Aku langsung saja “Pencipta” meski agak panjang tapi tidak masalah. Sebenarnya sama saja, Cuma penyebutannya yang berbeda!”

“Beda!”

“Terserah lu!”

“Hentikan!” Ivan kembali mencoba menengahi. Dia tidak mau suasana tambah memanas. Asan mungkin bersikap santai dan tidak terlalu memikirkan apa yang barusan dia katakan, tapi tidak untuk Janu. Bisa-bisa menyita waktu panjang. Senja sudah nampak. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing yang sebelumnya berkumpul di ruang diskusi yang berada di ujung perpustakaan sekolah. Asan pergi lebih dulu setelah berpamitan pada mereka. Sedangkan Janu pulang bersama yang lain setelah membereskan beberapa berkas yang mereka butuhkan untuk praktek besok pagi.

——-

—————–

“Kalian pikir aku ini siapa?” gumam Asan sembari tersenyum tipis. Menyetir mobilnya untuk keluar dari gerbang sekolah, “Jangan pernah meremehkan Matheus Asandy! Haha…Uhuk!” dia terbatuk lalu tersenyum kembali.

Bangku Kayu Tua

Aku menghampiri bangkunya, melangkah dengan hati riang. Kutorehkan senyumku padanya. Mencoba membuat guratan-guratan di pipinya muncul. Sayangnya tidak berhasil. Ia melengos mengamati buku yang berada di atas bangkunya.

“Tara, apa aku nanti siang boleh bermain ke rumahmu?” tanyaku pelan.  Ia tidak kunjung merespon. Kutunggu jawabnya sembari berdiri di sisi bangkunya. Mengetuk-ngetuk bangku tua ini dengan jemariku. Menatapnya dengan raut muka tidak sabar.

“Tara…” kupanggil namanya supaya ia segera menjawab pertanyaanku. Aku tidak mendapatkan jawaban tapi justru mendapatkan raut wajah yang tiba-tiba menatapku dingin. Aku mencoba tersenyum, namun lagi-lagi ia tidak membalas senyumku. Ia melengos dari wajahku dan kembali menatap buku.

Tidak lama setelah itu, ia membiarkan bukunya tergeletak dengan posisi terbuka di meja. Membuatku seperti orang bodoh. Sudah jelas-jelas dia tidak mau berbicara denganku, aku justru bersikukuh untuk berbicara dengannya. Seakan memang seperti yang aku pikirkan. Aku bodoh.

Aku berharap ia membalas senyumku. Lebih bahagianya lagi kalau ia juga membalas pertanyaanku. Tapi itu hanyalah harapanku. Ia pergi tanpa sepatah kata.

Aku berjalan pulang, melewati pintu gerbang sendirian. Aku tidak jadi bermain ke rumah Tara. Mungkin ia tidak suka kalau aku bermain di rumahnya. Lagipula aku teman barunya, tidak pantas aku menginginkan yang lebih seperti itu.

Ia teman pertamaku di sekolah baruku ini. Aku duduk di sampingnya. Melihatnya mendengarkan penjelasan guru dan melihatnya menulis hal-hal yang dianggap penting. Aku merasa begitu senang saat melihatnya seperti itu.

Aku berkenalan dengannya dua hari yang lalu, saat aku dipersilakan duduk oleh guru. Ia menyambutku dengan senyum tipis. Meski tidak kentara, tapi aku tahu Ia menyambutku sebagai teman barunya.

Saat jam istirahat, aku langsung menjulurkan tanganku ke arahnya. Meski agak lama ia menyambut uluran tanganku, aku tetap bahagia karena perkenalanku mendapat respon darinya.

“Kevin Ardian.” Kuperkenalkan namaku dengan menyebutnya secara lengkap.

“Tara.” Kutunggu lanjutannya. Ia diam dan melepaskan jabatanku. Itu menandakan bahwa harapanku kosong. Dia tidak melanjutkan nama panjangnya. Tara, hanya itu. Kukatakan aku senang berkenalan dengannya, responnya pun hanya tersenyum sedikit. Tidak ada lagi. Kosong. Lalu beberapa teman baru menghampiriku, mengajakku berbincang. Aku pergi meninggalkannya duduk di depan bangku itu. Bangku yang menghubung dengan bangkuku. Sepasang bangku kayu tua yang berdempetan.

Matanya indah. Bulat dengan bulu mata yang lentik. Sayangnya kosong. Pandangan matanya kosong saat itu. Sama seperti harapanku padanya. Kosong.

Hari ke empat,

Bukan main panasnya. Benar-benar bikin gerah. Aku meneguk air mineral yang kubeli tadi. Kulirik Tara menulis di buku pelajarannya. Kucondongkan badanku ke arahnya sedikit,

“Kamu sedang mengerjakan apa?” tanyaku. Diam. Tak menjawab. Aku melihat isi bukunya. Aritmatika. Angka-angka yang selalu membuatnya bergairah. Aku tahu itu karena ia sering berlatih berhitung setiap jam kosong seperti ini. Aku meluruskan badanku kembali. Menghembuskan nafas panjang. Benar-benar aku ingin mengajaknya berbicara. Aku ingin berteman dengannya, ingin tahu tentangnya sedikit saja. Hobinya, warna kesukaannya, atau apa saja.

“Kevin!” Anjar menepuk bahuku dari belakang.

“Kenapa?” tanyaku yang masih agak kaget dengan kemunculannya.

“Tidak keluar?”

“Aku ingin disini saja.” Jawabku. Ia melirik gadis yang berada di sampingku.

“Aku belajar matematika dengannya! Hehe…” sebelum ia mencurigaiku yang tidak-tidak, aku mengatakan sesuatu sekenanya. Anjar tersenyum masam. Jelaslah Anjar bersikap seperti itu karena tidak ada tanda-tanda kalau Tara sedang mengajariku.

“Oh, kalau begitu selamat belajar!” ujarnya sembari meninggalkanku. Beberapa teman laki-laki mengikutinya dari arah belakang. Mereka menatapku nanar. Seakan tahu kalau aku telah membohongi mereka. Karena aku tidak benar-benar sedang belajar bersama Tara.

“Kenapa bilang seperti itu?” saat aku menipas-nipas baju kerahku dengan lesu, tiba-tiba suara itu mengagetkanku. Aku menoleh ke kanan lalu kiri. Tidak ada seorang pun di antara kami berdua. Hanya ada beberapa anak gadis yang bercengkrama di pojok belakang. Jauh dari tempat duduk kami.

“Karena aku ingin belajar denganmu! Tidak boleh?” tanyaku balik.

“Kerjakan semua soal-soal di paket!” suruhnya tanpa memandangku. Aku menurut. Membuka halaman yang sama dengan halaman di buku paketnya.

“Aku tidak bisa!”

“Mana bisa kalau kamu belum mencoba?!”

“Kenapa kamu jarang berbicara? Apa kamu tidak suka berteman denganku?”

“Bicara apa? Sekarang aku bicara.”

“Kamu jarang menjawab pertanyaanku?” kini dia menatapku. Tersenyum sedikit seperti biasa. Dingin sekali.

“Kalau tidak ingin belajar, lebih baik kamu keluar saja!”

“Tidak, aku akan memulainya!”  aku segera membuka buku tulisku dan menyerobot pulpen yang berada di depanku. Mencoba mengerjakan satu soal yang sulit aku mengerti. Ini menyebalkan! Dimana jawabannya? Sungutku.

Aku membolak-balik isi buku paket Matematika sub bab Aritmatika, mencoba menemukan contoh yang dapat aku pegang sebagai acuan dalam mengerjakan. Beberapa menit kepalaku memang tidak bisa berhenti untuk mengikuti isi buku yang aku bolak-balik sedari tadi.

Saat aku mencoba membuka halaman demi halaman buku itu untuk kesekian kali sehingga membuat halamannya sedikit lecek, tiba-tiba dia memegang tanganku. Menyahut buku paketku dan menggantikannya dengan selembar kertas kosong. Dia menulis sebuah angka berumus. Menguak tabir yang sulit aku pahami. Sekelumit tabir angka yang membuatku harus memperhatikan bagaimana cara dia mengerjakan soal itu.

“Sudah mengerti?” tanyanya. Aku gelagapan.

“Hmm…yang ini bagaimana caranya? Aku belum mengerti.” Ia mulai mengajariku. Hari ini aku dekat dengannya. Sedekat angka-angka aritmatika yang selama ini aku benci.

Siang ini tidak sengaja aku melihatnya di sebuah bangunan dekat taman. Ia berjalan sendiri dengan tas jinjing di bahu kanannya. Tanpa pikir panjang aku mengikutinya dari arah belakang. Menyamai langkahnya yang cepat. Ia tidak mempedulikanku. Sedikit pun tidak.

“Tara,” aku mencoba menyapanya. Tapi dia tidak pernah menyahutku. Aku masih mengikuti arah jalannya.

“Tara,” aku menahan tangannya. Dalam keadaan diam aku berhasil  menghentikan langkahnya. Perlahan aku melepaskan tangannya karena aku merasa canggung.

“Kenapa mengikutiku?” menatapku dengan mata bulat indahnya. Agak tajam. Aku terlihat kikuk. Aku tidak tahu alasan apa yang paling pantas untuk menjawab pertanyaan itu. Karena aku sendiri pun bingung kenapa aku tadi mengikutinya, apalagi menahan lajunya. Ia menungguku. Kini ia yang menunggu jawabanku. Daun-daun kering itu berjatuhan di sekitar kami. Angin menyelusup sunyi. Seperti hatiku, aku sampai tidak bisa berucap sepatah kata pun.

Setelah beberapa menit kami diam mematung. Akhirnya kulihat ia tersenyum. Merekahkan bibirnya hingga terbentuk guratan-guratan tipis di sekitar mata indahnya. Aku justru tertegun selama beberapa detik, tidak percaya dengan apa yang aku saksikan. Mimpikah?

“Kamu ingin bermain ke rumahku kan?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. Ia langsung menyerobot tanganku. Berjalan dengan menggandeng tanganku. Aku tersenyum.

“Aku punya anak anjing yang lucu!”

“Oya?”

“Iya. Kamu pasti suka!”

“Pasti!” jawabku. Kemana sosoknya yang dingin itu? Haha…aku tidak peduli! Sekarang aku bahagia, Tara menerimaku sebagai sahabatnya dengan perlakuan yang jauh sangat menyenangkan! Tidak seperti sebelumnya.

Di dalam perjalanan, kami tertawa dengan canda. Baru kali ini aku merasakan sosok Tara yang sebenarnya. Sampai saat ini aku pun belum tahu alasan dari perubahan sikapnya terhadapku. Ini mengejutkan. Aku berharap waktu akan menjawabnya. Menjawab semua kekosongan yang Tara rasakan saat awal jumpa denganku.

Setelah aku mengantar berkas kakakku ke kantornya. Aku berjalan sendiri melewati gedung tua di samping taman. Sebuah gedung yang dibiarkan tanpa penghuni. Aku ingin menghirup udara segar di sini. Maka aku putuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar taman.

Tanpa aku sadari ada seseorang yang menyamai langkahku. Ia memanggil namaku berulang kali. Seseorang yang sudah aku kenal. Seseorang yang dengan sengaja tidak aku hiraukan. Seseorang yang membuatku terluka bila aku membiarkannya begitu saja.

Awalnya aku tidak suka dengan anak baru yang bernama Kevin Ardian. Ia telah menggantikan tempat duduk sahabatku, Alena. Ia memakai tempat duduk Alena. Ia memakai bangku yang biasanya dipakai untuk menulis Alena. Ia telah merusak pemandanganku. Ia pengacau!

Aku bersikap dingin padanya, aku tahu Ia pasti juga merasa dengan perbuatan yang kusengaja itu. Aku tidak ingin melihatnya. Rasanya aku ingin mengusirnya. Mendepaknya dari bangku Alena.

Tapi, setelah aku pikirkan kembali. Perbuatanku melampaui batas kalau aku teruskan. Ia tidak tahu apa-apa. Ia tidak tahu perasaanku. Ia hanya tahu bangku itu kosong. Ia tahu kalau bangku di kelas ini yang kosong hanya di sampingku. Tidak ada yang lain. Ia butuh tempat duduk, Ia butuh tempat untuk mencatat materi, Ia butuh tempat untuk menerima pelajaran dari guru. Tidak mungkin aku mengusirnya. Aku tidak berhak karena ia juga murid di sekolah ini, di kelas ini. Ia berhak atas bangku itu. Lagipula Alena tidak akan pernah kembali. Ia tidak akan memakai bangku dan kursi yang berada di sampingku lagi. Ia sudah menghilang. Jadi aku harus menerima kenyataan yang ada. Aku harus mampu melupakan kalau bangku itu milik Alena. Kenangan, biarlah menjadi kenangan saja. Kenangan dimana aku dan Alena menghabiskan masa persahabatan kami di kelas ini, di bangku kayu tua ini. Bangku tua yang pinggir kakinya terdapat bekas gigitan rayap. Keropos dan cat kayunya sebagian sudah memudar.

Aku menerimanya. Aku menerima Kevin Ardian sebagai sahabatku seutuhnya. Seperti Alena yang kini sudah berada di sisi Tuhan.

Kini aku berjalan dengannya. Menapaki undakan kehidupan persahabatan yang baru. Aku akan memulainya, saat ini aku memutuskan untuk bersahabat baik dengan Kevin Ardian.

————————-Selesai!

Model Foto: Stephania Maria & Stefan Cornelius

Selembar Daun Kering

Aku menuruni anak tangga dengan langkah yang sengaja kupercepat. Perasaanku tak karuan. Antara bahagia dan kecewa. Mungkinkah aku akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama kurindukan. Seseorang yang aku sayangi dalam kehidupanku. Mungkinkah itu dia, Tuhan? Semoga saja!

Kini aku sudah berada di depan pintu, dengan hati yang berdebar aku mencoba membuka pintu ini.

“Bunda!!” Seruku pelan penuh dengan segala kerinduan. Dan aku segera terdiam saat senyuman lembut muncul dari pemilik bibir tipis itu. Aku kembali dalam kekecewaan. Dia bukan Bunda! Dia bukan seseorang yang kusayangi dan kurindukan itu. Dia bukan siapa-siapaku! Aku tak pernah sekalipun mengharapkan kehadirannya di dalam kehidupanku. Apalagi menyebutnya Bunda.

“Alline, kamu baik-baik saja kan?” Tanyanya penuh perhatian. Aku hanya mengangguk. Lalu dia menuntunku masuk ke dalam rumah. Kenapa di depan pintu itu yang muncul bukan Bunda? Kenapa Tuhan? Kenapa harus Deeva yang muncul. Dia membawa belanjaan yang cukup banyak, tapi aku tak membantunya. Deri menangis pun aku tak membantu menenangkan bayi laki-laki itu. Dan semuanya itu dia lakukan sendiri. Biar kata diriku ini kejam, aku tak peduli. Aku tak peduli dengan apa yang dia lakukan di rumah ini. Sudah 1 tahun lamanya aku tinggal bersamanya, tapi dia tidak pernah marah ataupun menyiksaku seperti kebanyakan Ibu tiri yang ditayangkan di TV-TV itu. Dia selalu memberikan perhatian penuh terhadapku. Sampai Deri terlahir, perasaannya tak berubah terhadapku. Aku menatapnya yang sedang menidurkan Deri di ranjang. Namun sepertinya dia tahu dan langsung tersenyum seperti yang sebelumnya dia berikan padaku. Entah kenapa aku tetap tak bisa menerimanya di dalam hatiku. Aku segera mengalihkan pandanganku, dan menaiki anak tangga menuju kamarku.

Namaku Alline Putri Pertiwi, itulah nama yang diberikan Ayah dan Bunda. Seorang Dewi yang kukuh dan mandiri dalam menghadapi masalah, itu arti dari namaku. Mungkin mereka berharap aku seperti bumi yang kukuh. Namun Aku tak seperti bumi, aku tak sekukuh Bumi. Aku rapuh dan selalu sendiri. Kata Alline lebih pantas berarti sendiri daripada Mandiri untukku, dan usiaku kini sudah menginjak 16 tahun. Kenapa Bunda meninggalkanku? Apa Bunda tidak sayang lagi pada Alline? Alline rindu Bunda? Bukankah dulu Bunda pernah janji pada Alline, kalau suatu hari nanti Bunda akan mengajak Alline bersama-sama lagi? Kenapa Bunda bohong pada Alline? Kenapa? Aku menangis merasakan hati yang berkecamuk ini. Namun air mata ini tak pernah bisa keluar lagi. Air mata ini seakan sudah habis. 2 tahun lalu Ayah dan Bunda bercerai, saat itu aku seperti boneka yang di perebutkan anak kecil. Aku bingung. Aku bingung dengan semua kejadian demi kejadian yang tak aku inginkan. Dan akhirnya Ayahlah yang lebih berhak mengasuhku. Aku sedih, aku sedih harus berpisah dengan Bunda. Aku tak ingin salah satu dari mereka berpisah dariku. Saat itu Bunda masih mengunjungiku. Namun semua itu berubah saat Ayah menikah lagi dengan Deeva. Kenapa Ayah tega meninggalkan Bunda demi wanita itu? Aku benci, muak, setiap melihat Ayah dengan wanita itu. Bagiku mereka tak mempunyai perasaan sedikit pun.

***

Ini sudah kesekian kalinya aku menunggu Bunda di taman depan rumah. Duduk di kursi pajang di bawah pohon akasia yang cukup untuk melindungiku dari sinar matahari. Aku tetap akan menunggunya datang. Meski perasaanku mengatakan Bunda tidak akan datang lagi, namun aku akan terus berdoa agar Bunda datang mengahampiriku lagi!

Dari kejauhan Ayah menghampiriku, lalu duduk di sampingku.

“Sudah Ayah bilang, Bunda tak akan lagi datang!”

“Kenapa Ayah selalu bilang seperti itu pada Alline? Alline yakin Bunda akan datang.” Aku menatap Ayah dengan sorot mata tajam. Ayah memegang pipiku lembut dan menepuknya pelan.

“Kamu anak yang baik, Ayah tak tega melihatmu seperti ini! Ayah sangat menyayangi Alline! Maafkan Ayah, Alline!” Tangan Ayah seperti mencari sesuatu di saku kemejanya. Ayah mengeluarkan Amplop berwarna hijau pinus, lalu menyerahkannya padaku. “Maafkan Ayah, Alline!” Setelah Ayah berkata seperti itu, Ayah meninggalkanku sendiri.

Kulihat Amplop ini sangat indah, dengan warna kesukaanku dan hiasan bunga-bunga kecil membentuk namaku, Alline. Aku membaliknya, tak tertera nama pengirimnya. Kenapa Ayah tidak berbicara langsung saja pada Alline? Tak perlu kan menulis surat-surat seperti ini segala. Hatiku tiba-tiba saja berdegup dengan kencang, di benakku terlintas sosok Bunda yang tersenyum. Mungkinkah ini dari Bunda? Dengan perlahan aku mulai menyobek ujung amplop hijau ini. Aku mengeluarkan isi amplop ini, terdapat sepucuk surat dan selembar daun kering.

Dear, Putriku

Alline

Angin yang berbincang….

Saat daun berguguran….

Alline, putriku yang selalu berada di dalam hati ini selamanya. Bunda menulis surat ini karena Bunda tak lagi bisa membahagiakan Alline. Mungkin Alline akan lebih bahagia bersama Ayah dan Bunda Deeva. Maafkan Bunda! Bunda tidak bermaksud meninggalkan Alline sendirian. Bunda hanya ingin Alline bahagia di keluarga baru Alline. Alline harus bahagia bersama Ayah dan bunda Deeva. Ini mungkin berat untuk Alline, tapi Bunda ingin Alline bisa menerima dengan tulus Deeva sebagai pengganti Bunda. Deeva adalah sosok bunda yang baik untuk Alline, Bunda yakin hal itu. Jadi Alline mau kan menerima Deeva sebagai bunda Alline yang baru? Bunda tak bisa mengunjungi Alline lagi. Dokter memvonis Bunda mengidap penyakit yang sangat parah. Alline tak perlu tahu penyakit apa yang Bunda rasakan, karena Bunda tak ingin membuat Alline sedih. Meski Bunda tidak bisa melindungi Alline di dunia, namun Bunda akan selalu melindungi Alline di atas sana! Alline tahu kan sesuatu yang muncul itu suatu saat akan sendirinya menghilang. Seperti daun yang bersemi suatu saat nanti juga akan berguguran. Sama hal nya dengan Bunda, Bunda akan kembali kepada Sang Pencipta setiap saat Tuhan inginkan. Alline harus menjaga diri baik-baik. Sayangilah Ayah, bunda Deeva, dan Deri seperti Alline menyayangi Bunda.

Yang Menyayangimu.

Bunda

Setelah sekian lama, kini aku meneteskan airmata itu kembali. Harapanku bertemu Bunda sudah pupus sampai disini. Aku memegang selembar daun kering dengan hati getir.

“Alline sangat menyayangi Bunda!!” Gumamku. Tiba-tiba angin semilir menjatuhkan daun akasia itu hingga gugur tepat di pangkuanku. Mungkinkan Bunda mendengarku? Senyumku getir. Aku mengambil daun itu. Aku yakin Bunda ada disini dan mendengarku.

Dari depan pintu Ayah mulai menghampiriku kembali, namun sekarang Ayah tidak sendirian. Ada Deeva, dan Deri dipelukan Ayah. Lalu mereka duduk di sampingku. Airmataku tak bisa kuhentikan. Deeva mengelus rambutku perlahan. Aku sangat bersalah padanya, aku tak pernah menyadari kalau dia begitu tulus menyayangiku.

“Bunda!” Gumamku sembari memeluknya erat.

====================

Diterbitkan di koran harian solopos 2009

Model Foto: Chindy Lam dan Mama

I Love God, Nothing Man!

Aku ini adalah perempuan apatis bila menyangkut laki-laki. Aku tidak pernah yang namanya berjalan berduaan apalagi berpacaran. Mengingat bahwa hatiku memang ditakdirkan sedemikian rupa sehingga tak mampu menjadi berbunga-bunga sampai harus terbang di angkasa. Tidak ada cupid cinta yang mengelilingiku, mungkin hanya malaikat kebaikkan yang tersenyum-senyum bila aku di depan laki-laki.

Semenjak memasuki bangku perkuliahan, aku merasa sedikit terganggu dengan kehadiran laki-laki. Mengingat sedari kecil aku bersekolah di yayasan khusus wanita dan aku selalu berada di asrama. Yang aku lihat setiap hari hanya anak-anak perempuan dengan sifat yang berbeda-beda. Semua begitu gamblang dimataku.

Satu bulan sekali atau kalau ada libur sekolah, orang tuaku menjemputku. Membawaku pulang ke rumah yang terlihat mewah. Dimana aku akan bertemu dengan ketiga saudara laki-lakiku dan adik perempuan semata wayangku.

Mereka semua menyambutku dengan kasih sayang dan penuh kegembiraan.

Satu diantara kakak laki-lakiku adalah anak angkat orang tuaku. Jason, lebih tua dua tahun dariku. Bisa dibilang di dalam keluargaku, aku mempunyai kakak laki-laki angkat. Sedangkan kedua kakak laki-laki kandungku bersekolah di luar negeri, namun semua menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga saat hari libur nasional. Seperti Natal.

Mama dulu agaknya sedih saat aku mengatakan bahwa aku ingin menginap di asrama sekolah. Satu minggu aku baru mendapatkan keputusan dari Mama, kalau aku diizinkan berpisah rumah dengan mereka. Saat itu masih Sekolah Dasar, umurku kira-kira sekitar sembilan tahun.

***

Bangku perkuliahan mengharuskanku untuk berinteraksi langsung dengan laki-laki. Berdiskusi bersama sampai harus duduk diantara mereka, semua campur menjadi satu. Sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja aku tidak terbiasa. Hingga pada suatu kali aku harus berdiskusi dengan beberapa teman laki-lakiku untuk menyelesaikan tugas kuliah. Teman perempuanku hanya satu orang dan dia sosok yang pendiam, Azizah namanya.

Kami bersepakat akan mengerjakan tugas pada sore hari setelah beberapa temanku menjalankan sholat Ashar. Perlu diketahui juga Azizah dan ketiga teman laki-lakiku adalah Muslim yang baik dan taat. Jadi aku dan kedua teman laki-lakiku yang kebetulan sama-sama beragama Katholik harus menunggu mereka selesai menjalankan ibadah.

Berawal dari perbincanganku dengan Anant dan Yusa. Kami bercanda bersama di bale yang tak jauh dari fakultas. Yusa menggodaku, kalau Anant itu menyukaiku. Kulihat memang Anant agak salah tingkah saat aku menatap matanya yang sempat menatapku tanpa aku sadari sebelumnya. Aku pun hanya tersenyum.

Diskusi dimulai, tugas akhirnya terselesaikan tepat pukul tujuh malam. Azizah dijemput ayahnya. Yang lain dengan motornya masing-masing.

Aku berjalan keluar, duduk di bawah lampu bundar yang masih menyala benderang. Suasana kampus masih terlihat ramai, mungkin mereka juga sedang menyelesaikan tugas dari dosen.

“Mona..” aku menatap orang yang memanggilku. Anant berdiri di sampingku. Aku lihat dia sempat tersenyum, gugup.

“Ya?” sahutku.

“Menunggu jemputan?” tanyanya sembari menghembuskan nafasnya perlahan.

“Ya. Kau sendiri?” tanyaku balik.

“Aku disini, menemanimu! Boleh kan?” aku tersenyum mendengarnya.

“Terima kasih!” ucapku.

Berdiri berdua yang hanya diterangi lampu yang samar-samar di atas sana. Warna sinarnya putih pudar karena jaraknya yang lumayan tinggi dari tempat kami berdiri. Dingin mulai mengelenyit. Suasana menjadi sunyi.

“Kau sudah punya pacar?” aku kaget mendengar pertanyaan darinya. Diam.

“Belum, kenapa?”

“Apa aku boleh berbagi cinta denganmu?” kini dia beranikan matanya menyorot langsung ke dalam mataku. Aku menunduk, kakiku menggeser-geser kerikil di bawah. Benar itu yang aku dengar? Atau suara tadi hanya bisikkan setan saja? Untuk memastikan, aku menengadah, menatapnya.

“Coba diulang!”

“Apa aku boleh berbagi cinta denganmu?” aku tahu untuk mengatakan kalimat tanya itu butuh perjuangan yang cukup berat. Aku tahu, aku tahu itu! Untuk seorang Anant tentunya.

“Maksudmu?” tanyaku untuk kejelasan. Padahal aku sendiri mampu mencerna maksudnya tadi.

“Maksudnya, jadi pacarku?” suaranya terdengar tegas. Aku tersenyum. Tapi, senyumku bukan berarti bahagia, tersipu atau seperti orang yang sedang dimabuk cinta. Senyumku justru mengandung arti ketakutan. Dengan jelas jawabanku akan menyakitinya! Dan aku takut dia mendengarnya. Dia menungguku. Seharusnya aku tadi menjawab “tidak”, kenapa mulutku mengucap “belum”. Ku hembuskan nafaku perlahan. Menyungging senyumku yang sekian kali. Menggeleng pelan.

“Tidak. Maaf!” jawabku. Keningnya berkerut, bingung.

“Kenapa?” kupikir setelah sekian detik terdiam. Dia baru mampu mencerna jawabanku.

“Tidak bisa!” jawabku setenang mungkin.

“Aku ingin tahu alasanmu?” pertanyaannya mengejarku.

“Aku tidak pantas untukmu! Carilah yang lebih baik dariku!”

“Tapi…”

“Tettt…” bunyi klakson mobil di seberang mengagetkanku. Lampunya menyorot tepat di mataku hingga harus menyipit. Setelah berpamitan dengannya, aku berlari kecil menuju mobil yang disetir oleh kakakku, Jason.

***

“Siapa laki-laki tadi?”

“Teman.” Jawabku sembari memasang sabuk pengamanku.

***

Roma, 18 June….

Kupejamkan mataku, tersenyum di depan Bapaku. Aku adalah pelayan gereja. Setelah lulus dari universitas yang telah menampungku selama tiga tahun, aku memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Menjadi pelayan Tuhan di salah satu gereja yang berada di Roma, Italia.

“Seorang biarawati tidak harus di dalam biara. Seorang biarawati boleh hidup di luar Gereja. Kamu tahu sendiri bukan tentang hal itu? Aku ini  salah satu biarawati yang tidak tinggal di Gereja, atau membantu di yayasan. Aku ingin melanjutkan S1-ku, dan orang tuaku menganjurkanku kuliah di universitas negeri yang mahasiswanya untuk umum. Soalnya aku sendiri juga belum pernah menjumpai universitas khusus perempuan. Disini aku dipertemukan denganmu, seorang laki-laki yang baik dan taat pada Tuhan. Jadi maafkan aku, carilah perempuan yang jauh lebih baik dariku!”

“Keputusanmu tidak bisa diubah? Tidak sedikit pun kamu menaruh rasa sayangmu padaku?”

“Aku menyayangimu! Bukankah Bapa selalu mengajarkan kita untuk menebar kasih sayang?”

“Intinya kau tidak mencintaiku seperti apa yang aku rasakan terhadapmu!”

“Ya, bisa dibilang begitu.”

Wajahnya menunduk, tak berani lagi menatapku. Hatinya terasa perih, itu pasti. Meski aku sendiri tidak pernah merasakan bagaimana rasa sakit itu? Rasa sakit karena tidak bisa memiliki.

“Aku pulang dulu ya!” pamitku. Kulihat dia hanya mengangguk dan tersenyum masam. Baru beberapa langkah darinya. Dia menarik tanganku, sehingga membuatku kini berhadapan dengannya. Dia melepaskan rosario yang berada di lehernya. Lalu menggantungkan rosario itu di leherku.

“Tuhan Bapa, Bunda, dan Roh Kudus selalu memberkatimu, Monica! Kau tetaplah gadis pertama yang membuatku jatuh cinta!” gumamnya. Aku tersenyum.

“Tuhan Bapa, Bunda, dan Roh Kudus selalu memberkatimu kembali, Anant!” ujarku segera. Berlari menuju mobil yang menjemputku. Itu terakhir kali aku bertemu Anant. Tuhan telah mengambilnya lebih cepat dariku. Dia meninggalkan rosario ini padaku. Kubuka mataku, air mataku menetes dengan sendirinya. Rasa malam itu seakan kembali hadir di dalam hatiku saat ini.

“I love You, Father! Love You, Anant!” kuusap airmataku. Meninggalkan altar.

*-*

Model Foto: Chindy Lam

Andaikan Aku Seorang Indonesia

Alks ik een Nederlander was (Andaikan aku seorang Belanda).

“…..Seandainya aku seorang Belanda, aku protes peringatan yang akan diadakan itu. Aku akan peringatkan kawan-kawan penjajah bahwa sesungguhnya sangat berbahaya pada saat itu mengadakan perayaan peringatan kemerdekaan. Aku akan peringatkan semua bangsa Belanda, jangan menyinggung peradaban bangsa Indonsia yang baru bangun dan menjadi berani. Sungguh aku akan protes sekeras-kerasnya……..”

Sudah kesekian kalinya aku membaca paragraf yang menyatakan isi brosur mengenai pemberontakan bangsa Indonesia terhadap kolonial Belanda di dalam paket sejarahku. Lensa mataku seakan berubah menjadi hitam legam seperti milik khas Indonesia bila aku membaca paragraf itu. Aku begitu mengagumi perjuangan Ki Hajar Dewantara, E.F.E. Douwes Dekker, dan Cipto Mangun Kusuma yang tergabung dalam organisasi Indische Partij, 1912 silam. Yeah, terlebih-lebih E.F.E. Douwes Dekker adalah kakek moyangku yang telah membela negeri kepulauan ini.

Tak ada lawan yang kujajah, namun nasibku seolah seperti kolonial Belanda yang sangat dibenci pribumi. Mata itu memandangku tajam, seperti akan membakarku secara hidup-hidup. Aku tahu alasan kenapa pemilik mata tajam itu membenciku. Dia benci orang Belanda. Dia menganggap bahwa orang Belanda sama saja seorang penjajah yang tak termaafkan. Bukankah dulu para kakek moyang kita sudah saling berdamai? Tapi, kenapa sekarang masih ada sorot mata kebencian. Andaikan aku disuruh untuk memilih antara seorang Indonesia ataukah seorang Belanda, maka aku akan memilih seorang Indonesia. Supaya dia tidak membenciku seperti itu. Namun, ini takdirku. Aku disini, di negara Indonesia ini. Aku adalah seorang Belanda. Semua orang juga mengetahui hal ini karena jelas-jelas fisikku menunjukkan bahwa aku seorang Belanda. Dan kuakui aku memang tak sedikitpun menyentuh keturunan pribumi. Kedua orang tuaku asli seorang Belanda. Dan keberadaanku di Indonesia kini mengikuti kedua orang tuaku yang bertugas di Indonesia.

Kututup perlahan buku paket sejarahku. Kugeser kursi dudukku lalu beranjak keluar ruangan. Semua murid berhamburan karena jam pelajaran terakhir telah usai.

“Miley…” seruan itu menghentikan langkahku. Aku membalikkan badan dan kulihat seorang cewek beparas oriental menghampiriku. Aku sangat yakin dia juga bukan seorang Indonesia. Langkahnya terhenti di hadapanku. Senyum tipisnya mengembang sesaat sebelum berkata padaku.

“Ada apa?” tanyaku dengan bahasa Indonesia secara fasih, ayah yang mengajariku.

“Kau lupa? Hari ini kita ada kelompok belajar.” Aku mengerutkan kening. Kelompok belajar? Perasaan aku tak pernah membentuk perkelompokan belajar atau ikut dalam kelompok belajar. Senyuman tipis itu kembali tersungging.

“Hihiii…kau pasti binggung?! Sebelumnya maaf  aku tak memberi tahumu, kalau kamu satu anggota denganku. Pak Eldi memang tak pernah mengharuskan berkelompok secara resmi. Namun apabila Pak Eldi memberi tugas, para murid harus menyelesaikan tugasnya dengan cara berdiskusi. Makanya aku mengajakmu menjadi kelompok diskusiku? Apa kamu bersedia satu kelompok denganku dan teman-teman yang lain?” jelasnya dengan penuh semangat.

“Yeah, aku bersedia. Penyelesaian tugasnya apa harus sekarang?”

“He’em. Bagaimana denganmu? Kamu tak ada acara bukan?” aku berpikir sejenak, lalu menggeleng.

“Nanti jam 6 di rumahnya David!”

“David?” aku mengerutkan kening, mencoba mengingat pemilik nama itu. Ah, sudah 4 bulan aku bersekolah disini. Namun aku sulit mengingat nama teman-temanku.

“Yeah, David! Dia orangnya!” cewek mungil bermata sipit dihadapanku kini menunjuk salah satu cowok yang mencoba membereskan buku-bukunya. Cowok itu bepaling ke arah kami. Sesaat dia memandang kami dengan senyuman yang seakan terpaksakan. Dan jelas terlihat mata tajamnya menghujam tepat ke arah mata abu-abuku. Dia! Dari awal dia sudah memandangku dengan sorot yang menyiratkan tak suka padaku. Dan sekarang aku satu kelompok dengannya. Satu-satunya teman yang berada di kelas ini yang tak mau berkenalan denganku hanyalah cowok itu. Waktu pertama aku mencoba memperkenalkan diriku padanya, dia tak sekalipun menggubrisku. Dialah orang yang kusinggung sebelumnya. Seorang Indonesia bermata tajam yang sangat membenci seorang Belanda seperti diriku ini.

***

Selama kami, Aku, Vivian, Ruly, dan David itu sendiri mencoba berdiskusi. Dia si pemilik mata tajam itu tak sekalipun berniat membahas permasalahan materi diskusi denganku. Disini aku kebanyakan diam dan hanya berperan sedikit saja. Karena permasalahan materi ini bagiku sangatlah mengejutkanku. Bangsaku telah menjajah bangsa ini selama berpuluh-puluh tahun. Tepatnya yang tertulis di buku ini adalah 350 tahun. Aku tak sanggup membayangkan bangsa yang tertindas selama itu. Sangat memiriskan. Aku menyadari kesalahan nenek moyangku sangatlah besar pada para pribumi. Namun sekali lagi kenapa pribumi yang satu ini seakan membuangku jauh-jauh diriku dari hadapannya. Tak ada sedikit pun pintu maafkah darinya untukku? Disini aku adalah korban kesalahan nenek moyangku. Seandainya mereka tak menjajah bangsa ini. Mungkin dia tak berperilaku tak acuh terhadapku. Matanya masih bergelut tajam tanpa sedikitpun tersenyum. Itulah sosok David. Apa kakek buyutnya meninggal oleh tawanan penjajah dulu? Hingga sampai sekarang dia membenci seorang Belanda. Mungkinkah begitu? Entahlah. Aku pusing memikirkannya.

***

Andaikan aku seorang Indonesia

“….. Seandainya aku seorang Indonesia, aku akan protes sorot matanya yang selalu menghujam tajam ke arah mata abu-abu seorang Belanda. Aku akan peringatkan kawan-kawan pribumi bahwa sesungguhnya seorang Belanda yang berada satu ruang dengannya itu tak patut dikucilkan, hanya lantaran nenek moyangnya telah menjajah pribumi betahun-tahun silam. Sungguh tak adil untuknya bila kawan-kawan pribumi tak menyadari betapa aku mengagumi bangsa ini. Bangsa para pribumi. Sungguh aku tak ingin kawan-kawan pribumi menghujam tajam pada seorang Belanda yang berada dalam lingkarannya. Sekali lagi sungguh aku ingin protes sekeras-kerasnya…”

Sengaja aku sedikit mengutip kata-kata yang tertuang dalam brosur Alks ik een Nederlander was di dalam buku paket sejarahku. Ini yang bisa kukatakan padanya. Ini adalah cara terakhirku mencoba bicara dengannya. Esok pagi aku akan terbang meninggalkan Indonesia, karena tugas orang tuaku sudah selasai di negara ini. Di negara kincir angin sana aku akan kembali menjadi seorang Belanda seutuhnya.

Dengan pelan kulipat kertas sobekan kertas ini. Lalu tanpa sepengetahuan siapapun, dengan sangat hati-hati kuselipkan lipatan kertas ini ke dalam salah satu buku tulisnya. Semoga dia cepat mengetahuinya dan memberikan maaf padaku. Meski keberadaanku tak sama artinya dengan kesalahan nenek moyangku terhadap negara ini bertahun silam. Tetap saja dia menganggapnya sama. Tak ada bedanya.

***

Aku tak pantas mengharapkan dia datang ke bandara pagi ini. Kemarin memang sengaja aku tak memberitahukan keberangkataku kembali ke negeri kincir angin pada teman-temanku. Namun, setidaknya pemilik mata tajam itu tahu maksud tulisan yang kuberikan tanpa sepengetahuannya kemarin. Yeah, kalau dia membuka dan lebih-lebih membacanya. Aku menghela nafas perlahan. Ayah mengisyaratkanku untuk segera masuk ke pesawat. David tak akan datang! Mata tajam itu selamanya tak akan bisa memaafkanku terlebih-lebih pada para Belanda. Baru satu langkah kakiku beranjak, ada suara yang samar menjeritkan namaku.

“Miley….” aku membalikkan badan kembali. Kulihat dengan samar dan semakin jelas sosok cowok berseragam putih abu-abu tergopoh menghampiriku.

“Miley..” nafasnya agak sedikit tersengal. Tertawa renyah dan binar matanya sungguh aku mengaguminya saat ini. Tak seperti sebelumnya kulihat. Aku tersenyum melihatnya.

“Maafkan kelakuanku selama ini terhadapmu! Aku tak bermaksud…ah, kamu benar bahwa itu adalah masa lalu!”

“David!” aku tak percaya akan perkataannya barusan.

“Maafkan aku!”

“Harusnya aku yang minta maaf!”

“Tidak, itu kesalahanku karena telah menganggapmu seorang koloni!”

“Pikiranmu separah itu ternyata terhadapku?!” alasan itu ternyata diluar dugaanku.

“Haha…aku hanya bercanda!”

“Tak ada kesalahan yang harus dimaafkan!”

“Jadi?”

“Kita teman…”

“Sahabat…” kami saling menautkan jari kelingking kami.

“Miley….” suara ayah kembali menyentakku. Kini tidak hanya ayah yang mencoba mengisyaratkan supaya aku cepat memasuki pesawat itu, tapi juga seorang petugas yang kulihat dari tadi mencoba memperingatkanku.

“Aku yakin kita akan bertemu kembali!” harapku.

“Hemmm…jangan lupakan aku!” balasnya, sembari menyematkan sesuatu ke dalam pergelanganku. Sebuah gelang berukir Alks ik een Nederlander was. Aku tersenyum menerimanya.

“Terimakasih! Bye!”

Bye!” setelah mendengar balasannya, aku berajak meninggalkannya.

Pintu pesawat kian tertutup. Setidaknya aku sudah bisa melihat senyuman itu untuk terakhir kalinya aku disini. Dan percakapan itu sangat panjang untuk sosok yang sejauh ini kukenal sebagai seorang yang pendiam, tak banyak kata terucap. Kuharap anggapanku selama ini tentangnya salah. Bahwa dia tidak sungguh-sungguh membenciku untuk selamanya.

“David….

Tak ada salahnya bila para pribumi mengatakan

Alks ik een Nederlander was…pada para Belanda….

Saat itu sampai sekarang….” batinku sembari memandang ukiran gelang pemberiannya.

*-*

Adikku Yang Manis

“Ann….” Mama berteriak pada Annchi. Annchi dan Chan meringis di depan mama dengan muka penuh lumpur.

“Apa yang kalian lakukan?” ditariknya tangan mungil milik Chan terlebih dahulu. Mama lebih dulu membersihkan muka Chan daripada dirinya,”Kau membuat wajah adikmu seperti ini? Dan lihat wajahmu itu??” mama membersihkan wajah Chan dengan sapu tangan. Annchi menunduk tanpa berucap. Dia menyesal dengan perbuatannya. Dilihatnya baju berwarna merah maroon kesukaannya terkena lumpur. Kini mama menariknya, ditatapnya mata jernih Annchi,”Jangan pernah diulang lagi! Mengerti? Jadi kotor kan sekarang?” mama marah-marah. Keduanya di tarik dari taman dan dibawa mereka ke samping rumah. Di sana terdapat keran mengalir dan mama langsung menyemprot tubuh mereka supaya lumpur itu hilang dari tubuh mereka.

“Lepas bajumu!” ujar mama pada Ann. Ann langsung menuruti apa yang mama perintahkan. Dia melihat mama melepaskan baju kotor Chan. Kenapa mama tidak melepaskan baju kotorku? Apa karena aku yang salah? Aku yang membuat ulah? Pikir Ann sedih. Ann melihat adiknya tersenyum-senyum pada mama.

“Jangan kotor-kotoran lagi ya!! Jangan menyusahkan mama!” ujar mama pada Chan. Ann tercenung melihat itu. Rasa iri pun timbul di hatinya.

***

“Kakak..uh..uh…” Chan mencoba naik ke atas ranjang Ann. Ann meliriknya sinis, “Aku punya sesuatu untukmu!” ujar Chan. Ann tidak membatu Chan sama sekali sampai Chan berhasil duduk di samping Ann dengan usahanya sendiri.

“Ada apa?” Tanya Ann pada Chan dengan nada tinggi. Umur Ann 6 tahun dan Chan satu tahun lebih kecil darinya. Chan menyeringai seperti biasa di depan kakaknya.

“Coklat!!! Aku dapat dari mama!” Chan menenteng dua batang coklat. Ann merengut dan melempar boneka beruang yang sedari tadi di pangkuannya. Dia berlari keluar kamar dengan hati kesal.

“Mama jahat..mama jahat!!! Mama hanya sayang pada Chan! Mama tidak sayang padaku!” batinnya. Di luar Ann berpapasan dengan Mama yang membawa dua gelas susu ke dalam kamarnya.

“Ann..kau mau kemana?” Ann tidak menghiraukan pertanyaan mama. Dia beringsut dengan menundukkan wajahnya dalam-dalam. Hatinya terus bermumam.

“Mama jahat!”

Di samping itu Chan melihat dua batang coklatnya dengan bingung. Ann tiba-tiba meninggalkannya padahal dia ingin sekali memberikan coklat itu padanya. Mama bilang kalau dua coklat itu untuk Ann dan Chan. Sesuai apa yang mama katakan pada Chan, Chan berniat memberikan satu batang coklat itu pada Ann. Karena coklat itu memang milik Ann.

Mama masuk ke dalam kamar Ann dan Chan dengan membawa dua gelas susu di nampan.

“Kenapa dengan Ann?” Tanya mama, ditaruhnya susu itu ke meja kecil yang berada di antara dua ranjang milik mereka berdua. Chan hanya menggeleng.

“Chan minum susu dulu ya?? Sini!!!” ujar mama lembut. Chan meminum susu di dalam pangkuan mama. saat itu Ann melihat kelakuan manja Chan di balik pintu putih berhias manik-manik yang mengantung indah. Matanya berkaca-kaca.

***

Bunga di taman mawar berbunga indah, tapi Ann menangis tersedu-sedu di depan mawar berwarna merah itu. Chan melihat kakaknya yang menangis langsung mendekatinya.

“Kakak!!!” gumam Chan. Ann tak memperdulikan Chan. Hari ini Ann dimarahi mama lagi, kali ini mama marah karena Ann melempar semua bonekanya dari dalam lemari. Dia membuat kamar menjadi berantakan. Chan duduk di sampingnya, Chan ikut menangis melihat kakaknya sedih.

“Kakak jangan menangis lagi!!!” gumam Chan lagi dengan suara tertekan akibat isaknya.

“Mama tidak sayang aku!” gumam Ann,”Kamu pergi sana! Nanti mama akan marah lagi padaku kalau kamu masih di sini!”

“Aku tidak mau pergi, aku ingin bersama kakak!”

“Pergi! Atau kau bukan adikku lagi!” betak Ann pada Chan. Chan akhirnya pergi dengan terpaksa. Dia tidak tega melihat Ann menangis seperti itu sendirian. Chan ingin menemaninya, ingin menghiburnya. Tapi Ann tidak menginginkan seperti apa yang dinginkan Chan.

***

Selama satu minggu Chan terbaring di tempat tidur. Chan sakit dan mama jauh lebih sibuk mengurusi Chan. Ann hanya diam tanpa berani memprotes. Sebenarnya Ann ingin sekali mama menanyakan sedikit saja tentang dirinya. “Bagaimana sekolahmu tadi?”, atau sekedar “Apa kamu ingin dibacakan dongeng?” ingin rasanya Ann mendengar mama bilang seperti itu padanya. Sayangnya itu hanya bayangan Ann, mungkin mama tidak pernah sedikitpun memikirkan hal itu.

Dilihatnya Chan tidur dengan boneka babinya. Chan suka sekali dengan babi berwarna pink pemberian papa. Kemana pun Chan pergi, boneka itu pasti berada di dekapannya. Chan memang tidak mau berpisah dengan bonekanya. Sedangkan Ann, dia kini mendekap boneka beruang berwarna coklat emas yang sebesar dirinya. “Ini juga dari papa! Papa selalu membelikan apa yang aku inginkan! Kalau papa kembali nanti, apa dia juga akan merebut papa dariku?” batinnya.

“Beruang…aku ingin papa cepat kembali!” gumam Ann pada bonekanya. Tanpa disadari Ann, Chan menoleh ke arahnya. Tetesan hangat dari kelopak mata Chan turun.

Papa…” gumam Chan tanpa sedikit pun suara keluar, hanya mulutnya yang terbuka menyebut kata papa. Chan masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan ini. Chan sama sekali tidak mengerti, kenapa mama waktu itu  menangis melihat papa yang sedang tidur di keranjang panjang dan sempit. Mama meraung, sedangkan seorang wanita cantik dengan pakaian putih tiba-tiba membopongnya keluar dari ruangan itu.

“Mama kenapa, suster? Kenapa menangis??” Tanya Chan polos. Wanita itu tersenyum manis.

“Oh, mama tidak menangis! Mama hanya menghibur papa Chan saja!” Chan terdiam dengan kebingungan. Apakah cara orang dewasa menghibur seperti apa yang dilakukan mama?

“Suster..aku ingin bersama mama!”

“Humm…aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Gimana kalau kita kembali nanti setelah kita bermain?” Chan langsung mengangguk mantap dan memunculkan seringainya yang khas.

***

Changi di minggu pagi..

Ann menarik boneka beruangnya keluar dari kamar, dia mendudukan boneka itu di sampingnya. Duduk termenung di halaman rumah.

“Papa kok lama sekali ya kembalinya?? Aku sudah rindu sekali!!! Kamu juga kan, beruangku??” dia mencoba mengajak bonekanya berbicara. Meski tidak ada tanggapan sedikit pun dari boneka itu, Ann terus mengajaknya berbicara.

“Papa..hummm…sedang apa ya, papa sekarang? Apa papa juga merindukanku? Hihi..” Ann mengikik geli.

“Huhh..papa pasti merindukanku!!! Itu pastii!!!” Ann mencoba menggapai-gapai langit berawan di atas sana. Seolah dia mampu mengambil awan itu dengan mudah.

“Awan…papaku di mana??” tanyanya pada Awan. Dia selalu mencoba mengapai-gapai awan itu. Seperti apa yang dulu dilakukannya bersama papa dan Chan yang saat itu masih di kereta dorong.

“Pa..lihat awan ituu!!!” Papa langsung menarik Ann dan menaruh gadis mungil itu dipangkuannya. Papa mengangkat tangan kanannya, mencoba meraih awan yang ditunjukkan Ann. Ann mengikuti apa yang dilakukan papa.

“Ann raih Awan itu untuk papa dan papa akan meraih awan untuk Ann!” kata papa lembut. Ann mengangguk-angguk mantap.

“Aku akan meraihnya untuk papa!!!”

“Aku ingin meraihnya untuk papa!!!” gumam Ann,”Beruang, ayo kamu juga harus mencoba meraih awan itu!!!”

Tidak jauh dari Ann duduk di samping beruang coklat emasnya, yang tidak putus asa meraih awan yang tidak akan mungkin dapat dirainya. Mama melihat Ann dengan linangan air mata. Ingin sekali mama memeluk Ann saat itu juga. Tapi tiba-tiba ada suara pekikan dari dalam kamar.

***

“Aku akan meraihnya untuk papa!” dia turun dari pangkuan papa. Meloncat kecil sambil menyeringai. Mama duduk di samping papa dengan memangku Chan kecil.

“Chan, juga harus meraihnya untuk papa! Coba!!!” Ann mencoba memengang tangan mungil milik Chan. Papa dan Mama tersenyum hangat,”Mama cobalah!!!” Ann membujuk mama untuk melakukan apa yang dia lakukan.

“Ayo kita lakukan bersama!!” seru mama. Chan begitu riang menyambutnya. Mereka melakukan itu secara bersamaan. Bunga-bunga kebahagiaan melentik-lentik di hati mereka.

“Aku akan meraihnya untuk papa, mama, dan Chan!!!” serunya.

“Aku ingin meraihnya untuk papa, mama, dan Chan!!!” serunya. Dipeluknya tubuh mama yang berada di sampingnya. Meski mama tidak meresponnya, tapi dia tahu mama sangat menyayanginya seperti halnya mama menyayangi Chan.

***

Papa pergi meninggalkanku saat aku berumur enam tahun. Papa berangkat ke kantor seperti biasa, papa berpamitan padaku, mama, dan Chan seperti biasa. Papa akan mencium pipiku dan Chan, begitu juga terhadap mama sebelum papa benar-benar masuk ke dalam mobilnya dan keluar dari gerbang besi yang terlihat tinggi. Mama pun segera menyuruhku mengambil ranselku dan botol minuman untuk kubawa ke sekolah. Mama akan dengan sabar menuntunku sambil menggendong Chan menuju sekolahanku. Hanya dibutuhkan selama sekitar delapan menit untuk sampai ke sekolah.

Sejak saat itu aku sering melihat wajah mama gelisah dan pucat. Aku merasa mama juga sering marah-marah padaku, meski tidak terhadap Chan. Karena mungkin Chan masih terlalu kecil untuk mengerti kemarahan mama. Tapi mama memperlihatkan kemarahannya itu padaku lebih sering. Kutunggu kedatangan papa, tapi papa pun tidak kunjung pulang. Hampir satu tahun lamanya aku dengan sabar menunggu papa. Hingga suatu hari di siang yang terik kudengar teriakan mama dari dalam kamarku. Aku berlari ke arah mama dengan panik. Aku tidak tahu apa-apa karena aku masih terlalu kecil untuk memahami keadaan saat itu. Mama memeluk Chan yang tertidur pulas. Aku tidak berani menatap mama barang sedetikpun. Tetangga-tetangga yang mendengar teriakan mama pun segera menuju ke rumahku dan masuk ke dalam rumah tanpa permisi.

Papa yang kutunggu sekian tahun ternyata sudah meninggal akibat kecelakaan. Aku tidak pernah menyaksikan pemakamannya. Selama satu bulan papa mengalami koma yang akhirnya meninggal. Kutahu itu dari nenek yang membesarkanku sampai sejauh ini. Chan meninggal karena demam yang tak kunjung reda. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakannya, karena kupikir mama jauh menyayanginya dibandingkan denganku. Setelah papa tidak kunjung kembali, saat itu pula mama agak berubah. Mama mulai memunculkan sifat-sifat yang sebelumnya belum pernah aku terima.

Aku sebenarnya sangat menyayangi Chan. Bagaimana pun juga Chan adalah adikku satu-satunya, dia adikku yang manis. Kadang aku rindu sekali saat aku bermain lumpur dengannya dan mama mulai memarahi kami karena baju-baju indah kami terkena lumpur. Aku rindu dengan seringainya yang manis dan membentuk lekuk kecil di pipi bagian atasnya. Aku sangat rindu dia dan ayah!

Mama mengalami stress berat. Sebelumnya mama mengantarkanku ke rumah nenek. Selama 15 tahun lamanya aku tidak bertemu mama. Hingga suatu hari nenek mengajakku ke sebuah rumah sakit yang berlorong-lorong panjangnya. Di sebuah ruang yang sempit, di situlah kutemui mama meringkuk sendirian. Mama mengalami gangguan jiwa semenjak ditinggal papa dan Chan.

Saat ini aku bekerja sebagai salah satu dokter yang merawat pasien yang berada di sini. Di sini aku akan lebih sering bertemu dengan mama. di saat senggang aku akan menemani mama dan mengajaknya mengobrol. Aku mulai menghiburnya meski terlalu amat sulit. Tapi aku yakin mama akan sembuh.

“Bidadari cantikku!” begitulah gumaman mama padaku sembari mencium sekitar wajahku.

Tamat

* Arti nama:

Annchi: bidadari cantik

Chan Juan: Bulan