//
archives

Sequel Park Jong-hwa

This category contains 3 posts

Mengenal Park Jong-hwa

Masih bingung mau ditulis di blog ato dikirim ke penerbit (?) wekekekekekek…..

Park Jong Hwa adalah nama tokoh di sequel novelku. Nah, sekarang ke arah alur ceritanya. Park Jong-hwa story mempunyai dua versi cerita yang saling berkaitan. Pertama berjudul “FOR FIRST TIME LOVERS” ini menceritakan kehidupan dan kisah cinta Jong-hwa saat di New York. Sedangkan versi yang kedua berjudul “HEART DOLL” ini bercerita tentang kehidupan Jong-hwa dan Young-ho, berkisar pada Park bersaudara.

Nah apa sih kelebihan tokoh Jong-hwa? Jong-hwa lihai bermain musik. Dia adalah anak berbakat dari keluarga Park. Putri satu-satunya yang memiliki kelebihan bermain musik yang luar biasa. Sebenarnya dia ingin menjadi pianis terkenal, tapi karena sesuatu hal (Humm.. ikuti kisahnya yah!!) dia memutuskan menjadi cellist, dia mengambil musik gesek berirama berat daripada grand piano yang selama ini dia idam-idamkan.

Keluarga Park juga memiliki putra yang sangat cerdas dalam bidang sains, terutama biologi. Park Young-ho adalah kakak kandung dari Park Jong-hwa. Umur mereka terpaut 5 tahun. Young-ho sudah bekerja di salah satu rumah sakit terkemuka di Seoul dan melanjutkan studi strata dua, ketika Jong-hwa berumur 17 tahun sedangkan dia sendiri berumur 22 tahun dan memutuskan untuk menikah muda. Young-ho sangat menyayangi adiknya, kasih sayangnya melebihi apapun. Belum Jong-hwa lahir dia sudah medambakan kelahirannya. Sayangnya Jong-hwa tidak terlalu peka dengan segala perhatian Young-ho. Jong-hwa justru bersikap seolah-olah tidak mempunyai kakak laki-laki ‘saudara’.

Jong-hwa mengalami gagal jatung akibat kecelakaan yang menimpanya. Awalnya Young-ho tidak menahu soal ini, tapi akhirnya dia tahu juga. Nah, di versi Heart Doll kalian akan menjumpai dunia medis. Karena sorotan utama Park bersaudara. Kok diambil judul Heart Doll? Hubungannya dengan boneka apa nih? Hiaaa… cari tahu sendiri yah! 😀

Untuk versi For First Time Lovers, dunia musik mungkin lebih menonjol ketimbang Heart Doll. Karena memang di FFTL lebih fokus pada kehidupan percintaan Jong-hwa..hehe..

Untuk setting FFTL berada di Boston & Cambridge, Massachusetts, USA..(dua diantaranya? hehe..awalnya sih aku ambil New York. Tapi karena info yang aku dapat tentang NY sangatlah kurang, aku ganti dah! Akakak..). Boston itu seperti apa sih? dan bayangan musim dingin di sana.. Brrr…Brrr… haha..

Untuk setting HD berada di Seoul, Korea Selatan. Ha, Seoul? Kata orang-orang sih Seoul itu seperti New York (Padahal mau menyamakan dikit-dikit gitu, eh malah NY dilepas..say Good bye! 😀 .. hehe.. HD akan menampilkan suasana musim gugur yang dingin dan kering tapi sangat indah.

Rrr.. perlu diketahui juga, sebenarnya cerita ini awalnya sudah pernah aku publiskasikan di note fb dengan judul Mone Doll. Idenya saja yang sama tapi alurnya agak berbeda karena aku rombak semua dari nama tokoh sampai ending.  Dulu aku ambil setting di Jepang dengan dua Higashiyama bersaudara, Kei Higashiyama dan Erika Higashiyama. Agak berat juga sih melepas mereka (caelah! Haha.. uda seperti anak sendiri), dengan sangat-sangat berat hati aku akhirnya melepaskan mereka juga. Bukan karena masalah apa-apa hanya karena info yang aku dapatkan jauh lebih banyak Korea daripada Jepang. Mungkin lain kesempatan aku akan membuat cerita versi Jepang. hehe.. aku mau fokus ke korea dulu.

Sekian yah perkenalan singkat mengenai sequel pertamaku ini. setidaknya aku memberikan sedikit gambaran tentang ceritaku sebelum melenggang lebih jauh. Gumawo Reader!!

Sumber Foto: Mawar di Seoul/Page: Korea Language/Facebook.com

Advertisements

Heart Doll

Aku bernyanyi sembari mendentangkan piano milik Eomma, menyanyikan sebuah lagu untuk adik perempuanku yang manis.

“Daun…daun…berguguran….

Jatuh..jatuh…di pundakmu yang wangi….

Aku dan kamu bergandengan bersama..

Melewati guguran daun-daun keabadian..

Berlari…berlari…mengejar angin…

Berlari…berlari…mengejar cinta…

Berlari..dan berlari…

Berlariiiii….Kita terus berlari bersama…..

Bersuka cita… mengejar angin… mengejar cinta…”

[syair sederhana ini untuk sebuah lagu. Sebuah kisahku akan di mulai pada tanggal 16 Mei 2007. Semua impianku akan tercapai sehingga aku tidak perlu memberitahukan siapa pun, termasuk diriku sendiri mengenai sebuah rencana indah yang kurangkai semenjak aku bertemu dengannya. Aku bukan seorang ahli kisah yang menebar kemunafikan, tapi aku adalah apa yang aku tulisankan dan kau baca sekarang. Maka lanjutkanlah membaca sampai selesai tulisanku. Ini tentang diriku, tentang keluargaku, tentang adikku, tentang kekasihku, tentang teman-temanku yang telah mengkhianatiku. Semuanya akan membujur menjadi satu di dalam rangkaian garis lintang sebuah jarum pendek yang berputar mengarah angka 9. Di mana semua orang mengangkat kepalanya sampai darah keluar dari lubang telinga. Aku hanya bisa mengingatkanmu ketika kali kau membaca. Diamlah! Dan aku mohon renungkanlah apa yang aku tulisankan dan kau baca. Benar-benar kau akan merasakan bagaimana yang aku rasakan] Park Young-ho.

[Bukan benih yang kau tanamkan, kalau memang itu bukan milikmu. Memang benar bila melirik saja ke arahmu, apa yang dapat aku lakukan? Membuatmu bersujud di kakiku? Bukan hal penting untuk mengangkat kepalamu  ke kepalaku hingga kita mampu berhadapan langsung. Bukan katamu kalau itu bukan kataku. Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang ilustrasi nyata yang diberikan Eomma sejak 11 tahun yang lalu. Mengenai sebuah takdir yang sudah tertuliskan di lembaran telapak tanganmu yang halus. Benar-benar anak laki-laki yang tampan dan tidak pernah diperlakukan kasar oleh siapa pun. Apa yang mambuat semua ini menjadi rangkaian kisah yang rumit dan menawan? Aku sama sekali tidak mengagumimu semenjak aku terlahir di dunia dan harus dipertemukan denganmu kembali] Park Jong-hwa.

Seoul adalah kota di mana tempat yang mereka tinggali bersama. Membuka cakrawala, mendidihkan lembayung di awan gemintang. Dengan sekali terbangkan burung layang, mengepak-epak di rerimbunan dedaunan musim gugur. Mengecapkan sedikit rasa di lidah, Tteokguk acap kali menghunus usus di malam tahun baru. Meski malam tahun baru tidak jatuh di saat-saat dedaunan maple berjatuhan seperti saat ini.

Bukan warna hitam yang menyala di atas bukit, akan tetapi lumut hijau itu yang memantulkan seluet tipis di ketepian danau. Melilit liar di kanan-kiri dagu pohon cemara yang tidak bersalah. Kala rintik hujan kian menenggelamkan sarang tikus, tidak ada sebercak darah pun yang akan tertinggal. Mengingat dedaunan mapple sangat rindang menutupinya, sangat menawan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal, dan apalah arti curiga pada sosok molek ranting kecoklatan?

*_*

Keterangan: Tteokguk (떡국) adalah masakan tradisional Korea dimakan selama perayaan Tahun Baru Korea. Hidangan ini terdiri dari kaldu / sup (guk) dengan kue beras iris tipis (tteok). Tradisi untuk makan tteokguk pada malam tahun baru diyakini akan memberikan keberuntungan untuk tahun yang akan datang dan panjang umur. Makanan ini biasanya dihiasi telur matang yang diiris memanjang dan tipis, rendaman daging di dalam Gim (Bejana kering)

Ini Versi kedua dari cerita Park Jong-hwa yang berjudul Heart Doll. Di sini Jong-hwa kembali ke Seoul dan hidup berdua dengan kakaknya, Park Young-ho yang akan menikah. Aku mengambil setting di Korea, Seoul. Dalam versi ini Jong-hwa juga akan dipertemukan kembali dengan Hai-li, boneka di masa kecilnya. Kejutan demi kejutan seolah menumbuki jantungnya.

FOR FIRST TIME LOVERS

Hari  ini adalah pertama kalinya aku menginjak Boston. Aku berkeliling bersama Appa menyusuri jalan penuh dengan pemusik jalanan. Appa menggandeng tangan mungilku erat. Bibirku kadang mengingil karena dinginnya udara. Salju mulai berjatuhan dan meriap-riap di atas kepalaku. Aku tersenyum dengan langkah riang.

Appa membawaku ke salah satu toko penjual alat musik. Appa ingin membelikan piano untukku. Appa tahu aku suka sekali bermain musik dengan alat tekan itu. Tapi aku menolaknya lantaran bukan karena aku tak ingin bermain piano lagi, ini lebih karena aku ingin melupakan sesuatu yang membuat jatungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Mendengar permainan orang lain mungkin tidak terlalu masalah, hanya kalau aku yang menekannya sendiri. Tidak hanya ingatan liar yang menelusuk dan berputar-putar di kepalaku. Jantungku pun akan berdetak diluar kenormalan bila aku benar-benar melakukannya.

“Bagaimana kalau Cello itu Appa?” Aku menunjuk sebuah cello klasik di samping anak laki-laki yang spontan menoleh ke arahku. Suaraku yang terlalu nyaring mungkin mengindahkan perhatiannya. Appa dan penjual berhidung mancung sangat itu turut memperhatikanku. Penjual itu langsung mementengkan cello itu ke arahku dengan senyum. Appa sepertinya terkejut mendengar keinginanku.

“Jong-hwa, apa kau serius? Bukankah kau ingin menjadi pianis terkenal, ingin bermain lihai seperti Mr. Tadasuke? Hmm..” Appa menatapku heran. Mr. Tadasuke adalah komposer sekaligus pianis asal Jepang yang melatih anak-anak di sekolahku saat masih tinggal di Seoul. Aku sangat mengaguminya dan Appa tahu soal aku ingin seperti Mr. Tadasuke yang sangat hebat kala bermain piano. Aku nyengir dengan memunculkan gigi mentimunku yang beberapa tanggal. Apa perlu aku memberitahu Appa alasanku yang sebenarnya? Ah, rasanya tidak masuk akal di telinga Appa.

“Aku ingin bermain cello,” Aku memeluk cello yang tadinya dipegang penjual yang murah senyum itu.

“Kau tidak akan menyesal?” aku menggeleng kuat-kuat. Yah, aku sama seperti anak kecil berusia 6 tahun lainnya. Aku belum terlalu mengerti secara jauh apa arti rasa sakit itu sebenarnya. Selebihnya hanya ingin melupakan masa lalu yang begitu menyakitkan. Meski usaha untuk melupakan akan sia-sia belaka karena aku terdaftar di kelas musik dan mengenal seseorang yang sangat lihai bermain piano. Pelatih kami menginginkan aku berival dengannya. Sangat berat memang untukku yang ingin mengubur dalam-dalam kenangan yang menyangkut alat tekan dan suara dentingan.

*_*

Mata kami sempat bersinggungan saat kami berada di toko alat musik enam tahun yang lalu. Kornea mata kecoklatan dengan wajah tampan nyaris aku melupakannya. Kami hanya bertemu secara kebetulan dan bertatapan secara kebetulan. Itu tidak berarti apa-apa di masa kecilku, tapi aku tidak tahu apakah aku mempunyai arti lebih di matanya.

Dia menghampiriku dengan senyum sangat menawan dan memperkenalkan dirinya dengan sikap terbuka, saat ini di gedung musik.

“Steffen Yang..” Senyumnya merekah sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.

“Jong-hwa,” jawabku singkat dan menyambar tangannya pelan. Buru-buru aku melepas tangannya, menekuri kembali cello yang berada di depanku. Aku tidak menyangka dia menarik kursi dan duduk di depanku. Aku mengangkat kepalaku hingga aku mampu melihat senyumnya kembali.

“Kenapa kau di situ? Masih ada perlu denganku?” tanyaku berturut. Dia menggeleng pelan.

“Aku ingin melihat permainanmu, boleh kan?” aku tersenyum tipis. Menghembuskan nafasku perlahan. Entah perasaan apa dadaku berdebar saat dia bicara dengan nada ramah seperti itu. Nyaman sekali rasanya di telingaku. Aku mulai menggesek senar-senar dan menekannya sesuai dengan kunci nada vivaldi in G minor yang akan kubawakan di pertunjukan seni bulan depan.

Setelah aku selesai memainkan permainanku, kulihat dia tersenyum puas. Memberikan sentilan energi padaku kalau permainan celloku sangat mengagumkan. Sejak saat itu aku mengenalnya lebih dari sebuah nama. Aku tahu dia ternyata berkebangsaan ganda. Dia keturunan cina-perancis hingga membuat parasnya bercorak sangat khas. Aku katakan pula, bahwa aku murni seorang korea yang menetap di Boston sejak memasuki bangku SD. Aku terkejut ketika dia mulai mengakui,

”Sebenarnya aku ingin mengenalmu sejak lama. Aku sering melihatmu berlatih di Central Park. Aku sering mendengarkan permainanmu ketika kamu bermain seorang diri. Tapi aku malu menghampirimu dan mengajakmu berkenalan.” Aku tersenyum mendengarnya. Aku semakin tidak menyaka kalau dia ternyata mulai memperhatikanku sejak pertemuan pertama kami di toko musik.

======Sinopsis=======