//
archives

Semiotika

This category contains 1 post

Semiotika Unsur Langue dan Parole Roland Barthes

1. Semiotik dalam Linguistik

           Konsep Saussure yang paling penting adalah langue/parole. Ketika linguistik disibukkan oleh usaha mencari sebab-sebab perkembangan bersejarah dalam perubahan ucapan, asosiasi spontan, dan tindakan yang sejalan dengan itu, yang dengan sendirinya ketiganya merupakan linguistik individual. Saussure mengembangkan konsep tersebut, yaitu memulai dengan sifat bahasa yang “berbentuk jamak dan beragam”, yang pada pandangan pertama tampak suatu realita yang tidak dapat dikelompok-kelompokkan.  Manusia seolah-olah tidak akan menemukan kesatuan di dalam realita, karena realita itu sekaligus bersifat fisik, fisiologis, psikis, individual, dan juga sosial.

           Kekacauan realita itu dapat hilang apabila semua keragamannya dapat disarikan menjadi suatu objek sosial murni dan membentuk kesatuan sistematis dari konvensi yang memang perlu untuk komunikasi. Bentuk kesatuan sistematis mempunyai unsur pokok, yaitu langue dan parole. Langue adalah suatu objek yang tidak tergantung dari materi pembentuknya. Parole adalah bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bunyi, realisasi aturan-aturan, dan kombinasi tanda-tanda yang terjadi sewaktu-waktu).

Langage – Parole = Langue (suatu institusi sosial sekaligus sistem nilai).  Sebagai sistem sosial, langue sama sekali bukan tindakan dan tidak direncanakan sendiri. Individu tidak dapat membuatnya sendiri dan tidak dapat mengubahnya karena dalam membentuk langue perlu diadakan perjanjian bersama. Apabila orang ingin berkomunikasi, maka ia harus mengikuti keseluruhan perjanjian itu. Selain itu, produksi masyarakat ini bersifat otonom, seperti permainan yang mempunyai aturan-aturan sendiri: orang tidak dapat menggunakannya kecuali setelah mempelajarinya.

Parole merupakan suatu tindakan individual (seleksi dan aktualisasi); awalnya terdiri dari kombinasi. Berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat menggunakan kode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiran pribadinya. Dalam hal ini parole disebut juga sebagai wacana.

Parole juga merupakan mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan menampilkan kombinasi itu. Cara pengucapan tentu tidak dapat dikacaukan oleh langue. Institusi maupun sistem tidak mampu merubah apabila individu berbicara dengan suara keras atau lemah; secara lambat atau cepat; dan seterusnya.

Aspek kombinasi parole terdiri dari pengulangan tanda-tanda yang sama, berkat perulangan itu tanda-tanda dari wacana satu ke lainnya atau dalam satu wacana (kombinasi secara tak terbatas), maka tanda merupakan unsur langue.

Selain itu parole juga merupakan suatu kombinasi sehingga ia berkaitan dengan tindakan individual dan bukan semata-mata suatu kreasi.

 Lange dan parole tidak mempunyai makna sepenuhnya kecuali adanya proses dialektik, yaitu menghubungkan satu diantaranya; tidak langue tanpa parole dan tidak ada parole tanpa langue. Hubungan inilah terletak aktivitas linguistik sebenarnya.

2. Perspektif sosiologi atau pandangan sosiologis

        Pada dasarnya langue dan parole tidak dapat dipisahkan. Mengingat parole merupakan unsur pembentuk langue. Pemisahan yang dilakukan pada langue dan parole akan sia-sia pada sistem objek bergambar atau sikap yang belum dipelajari dari segi semantik.  Beberapa kelompok fakta dapat di masukan ke dalam kategori langue dan yang lainnya masuk ke dalam kategori parole. Dengan kata lain konsep semiologis yang dibuat oleh Saussure telah diubah. Misalnya kata busana. Ada tiga sistem berbeda berdasarkan realita yang digunakan dalam komunikasi.

Pertama, busana yang tertulis digambarkan oleh suatu majalah mode dengan bantuan bahasa yang diucapkan. Hal ini merupakan langue karena busana yang digambarkan tersebut terkadang tidak menggambarkan realitas individu yang mengucapkan.

Kedua, langue tersebut tidak mungkin ada tanpa parole. Berawal dari masa yang berbicara tersebut, suatu kelompok mewujudkan ucapan tersebut ke dalam bahasa tertulis yang merupakan langue dan parole dalam tataran komunikasi adalah kata-kata.

Ketiga, dalam busana yang dipotret, langue tidak lagi muncul karena busana yang dipotret telah dipakai oleh seseorang. Mode yang ditampilkan oleh fotografer adalah keadaan busana yang semi-sistematis. Langue tercakup di dalam busana yang semu-nyata. Sedangkan pemakai busana adalah individu yang normatif yang dipilih karena memiliki sifat umum dan ia merupakan parole beku karena tidak memiliki kebebasan dalam kombinasi.

Perbedaan langue dan parole dalam busana tersebut

Langue

  1. Merupakan oposisi potongan-potongan busana, unsur-unsur yang rinci, dan variasinya menimbulkan perubahan makna.
  2. Aturan-aturan yang mendahului penyesuaian satuan-satuan busana, baik sepanjang tubuh maupun aturan tebalnya busana.

Parole

         Mencangkup cara-cara berpakaian yang bersidat individual meliputi ukuran baju, tingkat kebersihan, keusangan, kebiasaan pribadi dan lain-lain yang bersifat individu.

3.     Langue pada makanan

Langue makanan terbentuk dari:

  • Aturan-aturan yang mengucilkan, semisal larangan memakan suatu macam makanan). Sebagai contoh,  memakan coklat dapat membuat orang gemuk. Banyak orang yang menghindari makanan tersebut.
  • Oposisi yang mempuyai makna dari unsur-unsur yang masih harus ditentukan kemudian. (misalnya, oposisi antara rasa asin dan manis). Oposisi ini dalam arti perlu penjelsan lebih lanjut antara dua hal yang terasa mirip. Sebagai contoh rasa asin dan manis. Dua rasa tersebut jika didengar akan terpikir oleh rasa yang hampir mirip, akan tetapi keduanya memiliki rasa yang berbeda.
  • Aturan-aturan dalam asosiasi makanan, baik yang bersamaan (campuran dalam suatu hidangan, maupun yang berurutan, semisal menu). Lebih jelasnya, jika makan malam pasti makanan (ada sendok, garpu) dan ada hal-hal sebelum makan (cara memegang sendok yang benar). Di beberapa kota (kelas atas, kelas bawah) ada cara aturan makan yang menurut mereka benar, tidak halnya jika dibandingkan dengan orang biasa yang makan tanpa aturan, dalam arti tidak mencolok seperti orang berkelas atau urutan memakan sesuatu.
  • Protokol pengaturan makanan yang mungkin berperan sebagai suatu retorika makanan.

* Keterangan: hubungan antara langue dan parole saling berintraksi satu sama lain. Pembaruan-pembaruan individual dapat merubah nilai institusional. Seperti aturan-aturan yang menjadi langue, orang kelas atas, bawah, dan biasa memiliki aturan memakan atau cara memakan sendiri. Hal tersebut lama-kelamaan akan menjadi dasar untuk dijadikan norma yang harus dipatuhi.

 4.     Semiotik Secara Arbitrer

        Secara arbitrer, dapat ditemui perbedaan langue dan parole sebagai berikut, misalnya mobil dan perabot rumah tangga (mebel). Pada mobil, langue terdiri dari suatu kesatuan bentuk dan bagian yang detail namun strukturnya berbeda-beda seperti yang tampak pada berbagai prototipe (model asli). Disini jumlah parole sangat terbatas, karena kebebasan memilih model sangat terbatas, dalam satu model dapat  divariasikan dengan berbagai warna dan hiasan serta model yang ada hanya dua atau tiga model. Pelaksaan penggunaan langue dan parole dianalogikan pada waktu penggunaannya. Pada waktu penggunaan tersebut dapat diaktualisasikan berbagai bentuk yang berasal dari langue tersebut. Hal itu dapat melalui tahapan-tahapan tertentu dalam praktik penggunaannya.

Sistem terakhir yang akan dibicarakan, yaitu perabot rumah tangga (mebel), juga dapat menjadi objek semantik. Langue terbentuk dari aturan-aturan dalam menggabungkan unsur-unsur yang berbeda dalam tahap penyusunan ruangan (dekorasi). Sedangkan parole terbentuk dari variasi yang dapat dilakukan para pemakai pada suatu unsur.

5.  Sistem dalam Sosiologi Komunikasi Massa

Sistem-sistem yang paling menarik tercakup dalam sosiologi komunikasi massa, yaitu sistem yang kompleks. Misal, dalam film, televisi, dan iklan memiliki makna yang tergantung pada persaingan antara gambar, suara, dan tulisan.

Fenomena linguistik memegang peran penting, yaitu konotasi, perkembangan sistem makna tahap kedua, yang merupakan parasit dari bahasa sebenarnya. Sistem tanda yang kedua ini adalah langue, dalam hubungan ini berkembang wujud parole, idiolek, struktur ganda. Untuk menentukan kelompok wujud langue dan kelompok wujud parole memiliki sistem yang kompleks atau mengandung konotasi (kedua sifat tidak saling meniadakan).

Masalah linguistik tidak dapat diikuti lagi dan perlu diubah. Masalah pertama berkaitan dengan asal-usul sistem, yaitu dialektik antara lange dan parole. Lange dipersiapkan bukan oleh massa yang berbicara, tetapi oleh suatu kelompok penentu (pengambil keputusan). Tanda bersifat arbirer karena tanda merupakan buatan dan dibentuk oleh keputusan sepihak.

Mengenai “logo-teknik”, pemakai bahasa mengikuti bahasa, mengambil “pesan” di dalam parole, tetapi tidak turut mempersiapkan. Kelompok penentu yang menetapkan sistem (dan perubahan-perubahannya).

Bahasa-bahasa ditentukan oleh suatu kelompok, disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

  • Bila timbul kebutuhan-kebutuhan baru sebagai akibat perkembangan dalam masyarakat. Misal: perubahan pakaian semi-Eropa di negara-negara Afrika masa kini dan munculnya cara makan fast-food dalam masyarakat industri dan masyarakat urban.
  • Bila keperluan ekonomi menentukan hilangnya atau justru promosi bahan-bahan tertentu. Misal: kain tiruan.
  • Bila ideologi membatasi penemuan bentuk-bentuk baru menjadikannya tabu dan dengan demikian menyempitkan batas “normal”.

Persiapan yang dilakukan oleh kelompok penentu (para teknikus-logo) hanyalah istilah-istilah yang selalu lebih umum penggunaannya. Istilah-istilah itu merupakan imaji kolektif zaman tertentu. Jadi penemuan individual diatasi oleh keputusan masyarakat (kelompok kecil) dan kelompok itu mengacu pada makna akhir yang bersifat antropologis.

Daftar Pustaka

Panuti Sudjiman dan Art van Zoest, 1996. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.