//
archives

Sastra

This category contains 1 post

Jangan Berhenti Menulis, Jika itu Memang Gairah Terbesarmu!

Halo! Saya menambah kategori di home page saya ini, tentang serba-serbi menulis.

Mungkin pembaca bertanya-tanya kenapa saya selalu mengubah-ubah kata ganti orang pertama dengan “saya, aku, dan gue”, alasannya saya hanya ingin berakrab ria dengan pembaca ketika menceritakan tentang keseharian saya di kategori Dan Boek Van Tjang, kata ganti “aku” saya hanya menggunakan itu di pembahasan-pembahasan yang ringan, dan “saya” pembahasan yang agak formal dan semua kalangan dari segi umur dapat menikmati dengan nyaman.

Saya menulis ini untuk memberikan inspirasi saja karena pada dasarnya saya hanya seorang blogger dan bukan seorang profesionalis dalam hal menulis cerita baik novel maupun cerpen. Saya hanya seorang yang kebetulan terperangkap di ruangan penuh bacaan sehingga tiba-tiba saja tidak tahan ingin mengeluarkan pijaran-pijaran konyol di pikiran saya.

Saya mengamati dan gemas atau istilah lain yang saya suka “geregetan” pada penulis-penulis pemula maupun yang sudah agak mahir datang ke seminar-seminar tentang kepenulisan yang kadang-kadang diadakan di kampus. Sungguh! Ini luar biasa, antusiasme mahasiswa-mahasiswi yang memiliki hobi menulis ternyata sangat tinggi! Hal ini sekaligus menyudutkan hati saya, waduh saingan saya makin banyak nih!

Hal penting yang harus kalian ingat adalah jangan berhenti menulis, jika menulis memang gairah terbesarmu! Hmm.. perlu diingat juga, kamu tidak perlu banting setir dari jurusan kedokteran ke jurusan sastra, jika memang kamu ingin menjadi penulis. Siapapun bisa menulis!!!

Kebetulan saya salah satu mahasiswi dari jurusan sastra, tapi saya mengambil fokus di bidang bahasa. Kalian mungkin membayangkan dunia saya sangat menyenangkan, asik, dan begitu menggairahkan, ha! Kalian salah besar.

Salah satu teman saya sempat meracau di kantor dosen beberapa waktu yang lalu,”Ini kan jurusan sastra, kok kita tidak diajarkan menulis novel atau menerbitkan novel, tidak ada hasil!” saya pikir dia super gila, tapi 100% dia benar. Maksudnya mungkin dia ingin sekali ada satu mata kuliah yang mengajarkan tentang “teknik menulis novel dan cerita pendek sekaligus menjebol menerbit terkemuka di Indonesia”, sebenarnya kami mendapat materi kepenulisan di kuliah penulisan kreatif, tapi karena banyaknya teori yang harus dipelajari di perguruan tinggi, dosen lebih memprioritaskan “TEORI!” dan dia belum sadar ketika dosen mengadakan sayembara kepenulisan di Fakultas dan dosen saya pun agaknya masih minim kesadaran akan keinginan (lihat kembali huruf yang saya tebalkan!) dari membran otak anak super gila itu.

Membaca juga tidak selalu mengasikkan. Di fakultas sastra, saya tidak selalu dijejali bacaan-bacaan yang asik seperti novel-novel populer yang menjadi favorit anak muda. Bacaan bacaan sastra lama justru lebih mendominasi, lebih parah lagi itu masih berbahasa melayu, dan semakin parah buku sastra itu hasil fotokopian buku yang juga hasil dari fotokopi buku asli atau entah buku fotokopian juga. Parah kan! Tapi, saya sadar ini salah satu pembentukan karakter tulisan-tulisan saya.

Buku apapun harus dibaca di jurusan sastra, baik fotokopian maupun asli! eh, maksud saya ini menyangkut keberuntungan kalian untuk mencapai peruntungan di perpustakaan. Buku-buku tidak lengkap karena saya kuliah di universitas jajahan pemerintah, jadi saya tidak pernah menaruh harapan lebih seluruh buku di toko Gramedia nangkring semua di perpustakaan universitas! Jika harapan itu jadi kenyataan, mungkin semua sudah berbasis teknologi telepati.

Nah! Sekarang apakah kalian paham? Calon yang orang-orang anggap “sastrawan” itu harus memakan apapun buku, tidak hanya sastra, tidak hanya teori sastra dan bahasa, dan tidak hanya bergelut pada dunia teater yang orang-orang pikir,”apa lu pengen jadi artis? Heh? Nggak laku deh kalau lu nggak bertampang kebule-bulean! Yang ada maho!”, sekaligus mendengar cercaan-cercaan manis dari para tetangga yang membuat semakin minder, menciut, dan teranaktirikan di pojokan kamar mandi universitas.

Anak-anak di jurusan sastra dituntut untuk meninggikan daya keintelektualnya dalam berpikir dan tidak hanya sekedar omong kosong prasoal kepraktisan di masyarakat. Kegunaan kami memang tidak terlihat gamblang seperti dokter yang rela banting tulang untuk meraih rekor muri BPJS dari Presiden supaya anak-anak mereka bisa makan atau bahkan pengusaha yang dapat menggumpulkan dolar versi rupiah di gedung DPR. Kami begitu sulit untuk melakukan itu karena kesempatan untuk melakukan itu 0,01% dari keahlian kami yang sesungguhnya.

Tingkat kejujuran kami bukan berdasarkan uang! Ngomong-omong soal derajat keuangan, saya pikir tidak akan setinggi keadaan debitur seorang Syahrini. Kami memang sering manggung dan begadang siang malam, tapi sekali lagi itu hanya dibayar sekocek kebahagiaan semata oleh bumi yang semakin cepat berotasi. Kadang-kadang saya dibuat mual karena terus berlarian mengejar matahari terbit, secepat saya berlari, secepat pula matahari itu tenggelam meskipun kelihatannya sudah jam 12 siang, matahari tidak benar-benar di atas saya, yang saya andaikan dapat mengambilnya lalu melemparnya ke bulan.

Normalnya, kalian akan semakin banyak kata-kata konyol yang akan membuat tulisan kalian menjadi berlembar-lembar jumlahnya ketika kalian membaca berbagai macam buku.

Jika kalian perhatikan dari atas ke bawah, saya sebenarnya hanya ingin menulis satu kata yang dapat mewakili semua yang saya tulis yaituuuuuuu…. “BACA!” untuk menggairahkan semangat menulis kalian.

kalian boleh bertanya-tanya tentang kepenulisan kreatif yang ingin menjadi bahan diskusi 🙂

Selamat membaca! \^.^/