//
archives

Fan Fiction

This category contains 3 posts

Slove of Sarang

 

==============================================================================

Semua orang memanggilnya Yeon, gadis riang yang hidup dengan seorang Eomma yang buta. Tinggal di perumahan sempit di belakang istana milik keluarga Jung. Tidak punya saudara dan harus bekerja part time di restoran Han Sang Ahjushi, seorang paman yang tampan dan baik hati menampung gadis seperti dia.

“Yeon-naa!!!” teriak Han Ahjushi.  Gadis itu gelagapan dari lamunnya. Berlari mengapit nampan dengan terburu-buru. Berbalik dengan nampan yang sudah terisi makanan untuk pembeli.

“Selamat makan!” ucapnya riang pada pembeli. Semangatnya tidak pernah pudar meski banyak hambatan di dalam hidupnya.

“Yeonaa!!! Sup kedelai..” Seru seorang kakek yang baru datang.

“Ne, Abeoji…” balasnya pada kakek yang sudah lama berlangganan di restoran Han Ahjushi. Kakek itu tersenyum melihatnya. Mengamati gadis itu dengan perasaan bangga.

“Sup kedelai spesial!!!” tiba-tiba Yeon sudah berada di depannya dengan semangkuk sup kedelai. Kakek itu terkejut dan terkekeh.

Seseorang mengamati Yeon yang tertawa di depan kakek di depannya dari balik kaca bening restoran. Wajahnya bergurat karena ujung bibirnya mencuat ke atas. Lalu ia kembali melanjutkan jalannya.

+++

“Ingin lebih mengenal seseorang yang dicintai apa salahnya? Berusaha memberikan sesuatu yang berkesan apa salahnya? Meski hanya mampu memberikan kue kering ini untuk seseorang itu.” Pikiran Ji Yeon mulai berakar bebas dan tidak jelas ujungnya. Ia menggeleng kuat-kuat. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ia menoleh ke arah wanita yang merajut di lantai ujung sana. Wanita yang tak lain adalah Eomma yang buta karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Ia tidak lagi melihat Eommanya melihat wajahnya seperti dulu. Dulu ia masih kecil dan sekarang ia sudah remaja. Ia menunduk dengan menghembuskan nafas panjang. Menatap kue-kue coklat berbentuk kepala beruang dan bintang-bintang.

Ia melangkah mendekat ke arah Eomma. Duduk bersila di depannya wanita yang merajut sebuah syall berwarna merah tua. Rajutan yang hampir jadi untuh tanpa cacat. Padahal wanita itu sama sekali tidak mampu melihat hasil kerjanya.

“Eomma..” gumam Ji Yeon, mengelus pundak Eomma. Wanita itu berangsur menghentikan rajutannya dan mencoba menaruh rajutannya itu dengan hati-hati. Tapi tangan Ji Yeon menahannya,”Eomma lanjutkan saja, nanti rusak!” gumamnya getir. Wanita itu tersenyum.

“Kau tidak berangkat ke sekolah?” gumam Eomma.

“Iya, aku baru siap-siap. Eomma…jangan lupa makan!” gumamnya. Lagi-lagi wanita itu tersenyum. Kini dibarengi dengan anggukkan.

“Kau sudah makan, Yeonaa?”

“Ne..” Yeonna tersenyum. Melihat kue di ranjang kecilnya,”Eomma..coba!” Yeon mencoba menyuapkan kue itu ke mulut Eomma. Gadis itu berdebar-debar menunggu Eomanya berkomentar.

“Bagaimana, Eomma? Tidak enak kah?” Wanita itu mengunyahnya perlahan dalam diam. Namun, sesaat kemudian tersenyum.

“Enak sekali, Yeonaa..” Yeon mengikik girang. Ia langsung beranjak dari duduknya.

“Aku berangkat, Eomma!!! Kue untuk Eomma, aku siapkan di samping sarapan.”

“Hati-hati..” seru Eomma. Ji Yeon tersenyum dan berjalan ke luar rumah. Melihat tembok yang menjulang tinggi yang menempel di rumahnya yang kecil. Sebenarnya yang menempel itu rumahnya bukan tembok itu. Sebuah tirai jendela di atas atapnya berderai-derai karena angin yang menghembus masuk. Dia tersenyum dengan menunduk melihat ranjang berisi kue buatannya.

“Ini untukmu! Semoga kamu suka!” Gumamnya kecil.

+++

“Kyaa…” So Yun melempar keranjang kue Ji Yeon. Kue-kue yang dibuatnya dengan susah payah tergeletak di lantai koridor,”Kenapa kamu masih mendekati Seung Oppa? Huh?” teriaknya di depan Ji Yeon. Teman-teman yang ada di sekitar mereka berdua hanya melihat tanpa memperdulikan mereka. Seung melihat mereka berdua dari dalam kelas. Pintu kelasnya membuat Seung melihat dengan jelas apa yang dilakukan So Yun pada Ji Yeon. Hari ini adalah hari ulang tahun Seung, teman-teman perempuannya yang mendekati Seung mulai menghalangi pandangannya.

“Oppa..saeng-il chugha…” senandung gadis-gadis di sekitarnya.

+++

Ji Yeon menatap jendela di atas atapnya. Lampu yang ada di dalam sana menyala terang. Dia tersenyum sembari menutup matanya perlahan. Malam musim panas yang terang, udara di luar berhembus lamat-lamat.

“Apa yang kau lakukan di situ?” Seru Seung dingin. Segera Yeon membuka matanya. Melotot ke sosok yang menyembul di balik jendela. Bukankah ini yang dia harapkan selama ini? melihat Seung menyapanya di balik jendela dan mengajaknya mengobrol. Ji Yeon meringis sambil menelengkan kepala ke arah Seung.

“Hehe…” melihat tingkah Ji Yeon, Seung mulai beranjak meninggalkan tempatnya berdiri.

“Oppa..tunggu!!!” Seung melihatnya sekilas. Ji Yeon memasang senyum semanis mungkin. Seung menatapnya,”Saeng-il Chugha!!!” Ji Yeon memejamkan mata dengan tampang imutnya. Tapi setelah matanya terbuka lebar, Seung tidak lagi berada di jendela yang terbuka itu. Ji Yeon tertunduk lesu dan tersenyum miris.

“Ji-yeonaa..” gumam Seung dari arah belakang Ji Yeon. Dia membalikkan badan dengan mata melotot tidak percaya,”gumawo!” lanjut Seung disusul dengan senyum tipisnya.

“Oppa…” Ji Yeon memeluk tangan Seung. Seung meliriknya sekejap tanpa tersenyum. Ji Yeon merengut tapi sedetik kemudian Seung memeluk bahu Ji Yeon. Gadis berambut bergelombang itu pun meringis dengan hati riang.

“Sarang..” gumam Seung. Mata bulat Ji Yeon mendelik ke arahnya dengan pipi memerah.

“Sarang hae yo..Oppa” seru Ji Yeon memeluk tubuh Seung. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis dan memutuskan dengan sepenuh hati untuk membalas pelukan Ji Yeon.

Arti dari cinta itu adalah mengerti akan perasaan diri sendiri. Memandang dan merasakan kebahagiaan di samping orang yang dicintai. Menyuguhkan kedamaian di antara bukit-bukit kesuraman. Di balik pintu geser rumah kecil yang menempel di tembok rumah yang menjulang tinggi itu, ada seorang wanita yang hilang penglihatannya diam-diam tersenyum mendengar tawa Ji Yeon dengan laki-laki yang dicintainya, Seung Ho.

++++++++++++++++++++++++++++—+>> Selesai

  • Cast & Photo: Yoo Seung Ho (유승호 ) & Park Ji-yeon (박지연)
  • Ost: In Addition Rolling-Ji-yeon

MoonLight

“Datanglah, wahai Dewa Angin!!!!!!!!

Tepat saatnya kau mengambil nyawaku…

Lakukanlah sekarang,

Aku ingin segera lepas dari ragaku,

Aku ingin bebas,

Ku tahu ini menyalahi takdir Tuhan,

Dan kau bukanlah Malaikat pencabut nyawa,

Kau Zeus…

Dewa mara hembusan yang dapat melenyapkanku!”

Gadis itu merentangkan tangannya. Wajahnya menatap bulan penuh di atas sana. Cahaya lembut bulan itu telah membinarkan parasnya yang elok. Hembusan angin datang perlahan. Sayup. Namun, satu detik kemudian amarahnya meluap-luap. Gadis itu tetap merentangan tangannya, menatap bulan penuh itu tanpa sedikit pun kedipan. Ia layaknya bidadari yang terbang. Gaun satin yang ia kenakan tak luput berkibar seakan ingin lenyap seperti nyawanya. Zeus benar-benar marah. Mata indah itu mengalirkan darah segar. Hingga bibir mungil itu pun meneteskan warna saga yang sangat kental.

Ini bukan salahku tapi ia sendiri yang menginginkan kematian ini harus terjadi. Aku hanya bisa menatapnya yang mulai mengerikan, tubuhku kaku di tempat aku tertunduk lesu. Detik berjalan, gaun satin putih yang sengaja kubelikan untuknya itu sekarang telah berubah warna. Cairan anyir di dalam tubuhnya merembas di setiap helai-helai satin itu. Indah bukan main. Sempat aku tersenyum. Lebih tepatnya senyuman gila yang pernah kulakukan.

Masih kuingat dua hari yang lalu, gadis itu menemuiku untuk kesekian kalinya. Mencoba merayuku dengan segala cara supaya Zeus membunuhnya. Saat itu aku hanya diam. Namun, tanganku dengan sendirinya berhenti menekan tuts-tuts piano di depanku. Aku menoleh ke arahnya, dia tersenyum ke arahku. Membelai lembut pipiku yang basah oleh airmata. Kugenggam tangannya. Erat. Beberapa saat mata kami saling beradu. Kulihat dengan pasti kesenduan tersirat di kornea coklatnya. Masih dengan keadaan diam, aku mencium punggung tangannya. Lalu, dia ambruk di dalam dekapanku.

“Daniel, ingin rasanya aku tersenyum!” tangisnya pecah saat itu juga.

“Tidak cukupkah aku berusaha memunculkan senyummu itu kembali?”

“Aku tahu! Aku tahu! Kau sangat membantuku. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku tak sanggup, Daniel! Aku ingin Zeus segera memisahkan jiwa dan ragaku. Kau mengerti kan, aku anak terkutuk!” aku mendekap kedua belah pipinya dengan telapak tanganku.

“Membiarkanmu mati ditangan Zeus?” tanyaku dengan nada yang terdengar bergetar. Dia mengangguk.

“Ya..” aku masih bisa mendengarnya meski ia hanya mengumam tak jelas. Kualihkan pandanganku ke arah tuts-tuts piano di depanku kembali.

“Daniel!” kurasakan tangan lembutnya menyentuh pipiku. Suaranya terdengar memohon. Aku hanya diam.

“Daniel, Kumohon! Kau satu-satunya yang bisa membuatku merasakan kedamaian atas keabadian.” Sekali lagi aku hanya diam.

“Kumohon, Daniel!” ini diluar dugaanku sebelumnya. Dia berlutut di kakiku. Dia melakukan hal serendah itu hanya demi keabadian yang tak semestinya. Aku menatapnya sesaat. Entah dorongan darimana aku tega melakukan ini, aku menariknya dengan kasar. Mencengkeram lengannya, lalu mengajaknya lari menjauh dari ruangan ini.

— אלוהים–

Gadis itu Luna. Saat pertama kali menemukannya, ia dalam keadaan menangis. Aku berjongkok supaya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kuangkat wajahnya perlahan dan kubuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.

“Astaga!” aku melonjak kaget. Ingin rasanya saat itu aku berlari sekencang-kencangnya dari gadis itu. Tapi tubuhku tiba-tiba kaku seketika. Cairan kental itu keluar dari kelopak mata indahnya. Kuakui dia sangat cantik, cantik sekali. Seperti bidadari yang baru turun dari surga. Sempat terpikir olehku juga bahwa dia adalah anak setan. Darah…cairan kental itu tak lain adalah darah! Yah, darah!

Aku tak tega meninggalkan ia dengan keadaan seperti itu sendiri. Kuusap airmatanya yang langka itu dengan sapu tanganku.

“Jangan menangis lagi!” ujarku terdengar setenang mungkin. Padahal aku ngeri melihatnya. Dia menatapku. “Aku takut darahmu habis.” Lanjutku ragu. Dia hanya tersenyum. Lalu, matanya beralih ke arah rosario berwarna merah saga yang tergantung manis di leherku. Ditariknya perlahan.

“Daniel!” serunya pelan. Memelukku.

???

– – אלוהים- –

Untuk apa lagi aku bertanya kalau dia sendiri sudah menjelaskannya padaku. Sore ini langit muram dan mungkin sebentar lagi hujan. Baru beberapa hari aku mengenalnya. Namun rasanya hati ini sudah mengenalnya sejak lama.

“Kau dengarkan baik-baik dan aku yakin kau akan tersenyum!” dia menatapku. Mengangguk pelan.

Aku mulai memainkan tanganku di antara tuts-tuts berderet ini. Sebuah lagu klasik melantun indah. Lagu yang kubawakan juga mengantar akan kedatangan hujan. Sejenak kualihkan pandanganku ke arahnya. Kurasa dia menikmatinya. Senyumnya mengembang jelas.

Hujan semakin deras. Kuhentikan permainan pianoku. Ditariknya perlahan tanganku hingga kami saling berhadapan.

“Aku bukan gadis yang seperti kebanyakan. Aku terlahir dimana orangtuaku tak membesarkanku. Mereka takut memilikiku. Bila aku dibuat marah, maka kornea mataku akan berkilat merah darah. Mengerikan, seperti iblis. Dan bila aku dibuat menangis, maka airmata yang mengalir itu adalah darah.” Kulihat wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. Memang sangat menakutkan bila orang yang baru pertama kali melihatnya, “Tidak hanya itu, kalau hatiku merasa pedih atau mengingat akan orang tuaku, air mata ini juga akan mengalir. Jadi, semua teman-temanku menjauhiku. Mereka bilang aku adalah anak iblis.”

Dengan pelan kulepas rosario dari leherku. Lalu kukenakan rosario itu di lehernya. Ia menatapku. Lama.

“Zeus akan datang, dia akan melepaskan ragamu!”

“Bagaimana caranya?”

“Buatlah dia marah!” ia mengerutkan kening, “Dengan cara, ‘aku ingin mati ditanganmu’, teriakkan berkali-kali itu padanya!”

Hanya dengan rosario itulah Zeus akan datang. Gadis itu ternyata sudah jauh-jauh hari mencariku hanya untuk mengambil rosario ini. Ia tidak tahu kalau cinta kedua orang tuanya memang terkutuk. Seorang Malaikat telah membawa lari seorang bidadari neraka ke bumi. Itulah yang menyebabkan ia terlahir menjadi anak yang terkutuk.

Malam itu seorang malaikat datang padaku saat tertidur, dia memberikan rosario berwarna merah saga pada biarawati yang merawatku. Disuruhnya biarawati itu untuk mengalungkan rosario itu padaku. Mereka tak tahu kalau aku sengaja mendengarkan pembicaraan mereka.

“Anak suci ini, dialah malaikat bidadari kecilku. Dia adalah satu-satunya manusia yang akan mendatangkan Zeus untuk keabadian putriku. Kumohon padamu, jika anak ini sudah menginjak dewasa, katakan tentang rahasia rosario ini!”

“Baiklah, malam ini juga aku akan mengalungkan rosario ini di lehernya.”

“Bagus. Dan anak itu akan…”

“Prang..” aku menjatuhkan sesuatu di sampingku. Entah apa, saat itu keadaannya gelap. Dan suara itu tak lagi bisa kudengar.

“Daniel, kau kah itu?” terdengar suara biarawati memanggilku. Aku pun pura-pura tidur kembali.

— אלוהים–

Sejak seorang biarawati mengalungkan rosario itu, setiap malam, saat cahaya bulan menghanyutkan bunyi indah yang kulantunkan. Angin lembut itu juga datang. Menyusup sulur-sulur kuduku. Menjamah penuh di dalam kalbuku. Zeus datang dan memberikan salam hangat padaku. Kami saling berbicara dengan nada. Bila aku menekan beberapa tuts untuk menghasilkan melodi, maka Zeus juga akan membalasnya. Dia sudah menjadi temanku sejak kecil. Dia sahabatku setelah instrument musik akustik ini. Dan sekarang dia akan melenyapkan gadis yang mulai kucintai. Dia juga jadi musuhku dalam jengkal kisah cintaku. Mungkin ini yang terbaik. Gadis itu menginginkan keabadian di alam sana. Sedangkan aku hanyalah seorang manusia dengan segala keterbatasan. Aku, Daniel. Laki-laki yang terlahir tanpa mengetahui siapa orangtuaku. Sama dengan gadis itu. Terkecuali, aku ini benar-benar tak bisa tahu siapa kedua orang tuaku. Sedang gadis itu mungkin setelah ia sampai pada keabadiannya, ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Sempat terpikir olehku untuk menjadi seorang Pastur, seperti para Bapa yang mengabdi di sebuah gereja untuk Tuhan. Tapi kedatangan Luna membuatku mengerti akan cinta yang sungguh aku ingin memilikinya.

“Daniel, maafkan aku!” dia menangis di dalam pelukanku. Aku tak peduli air matanya menodai kemeja putihku. Kupeluk dia semakin dalam. Aku tak mau kehilangannya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Dia melepaskan tanganku secara berangsur. Dia berlari di tengah padang rumput yang luas. Meninggalkanku. Ingin rasanya aku mengejarnya dan meyakinkannya untuk mengurungkan niatnya itu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Mulutku terasa kelu untuk berteriak. Sedang kakiku pun terasa berat untuk kutapakkan. Sebelum ia merentangkan tangan, menatap bulan penuh di atas sana dan mengucapkan sebuah permohonan akan kematian. Dia sempat tersenyum ke arahku. Mencoba meyakinkanku bahwa ini adalah jalan terbaiknya sekaligus jalan terbaikku.

“Lunaaaa…….” Pekikku tertekan. Kupeluk raganya yang sudah tak bernyawa. Masih kurasakan getaran Zeus di sekelilingku. Menghangatkan hatiku yang mulai meredup kelam. Dan raga itu pun melebur seperti debu tak berbekas. Kulihat dengan jelas dia terbang di tengah cahaya bulan beserta kedua orang tuanya di sisinya. Tersenyum. Kemudian lenyap dari pandanganku.

The End

Model Foto: Hendry Salim & Mell Zhen

Jangan Berkedip!

Cita-citaku waktu kecil adalah membunuh orang. Bagaimana caranya menyiksanya sampai dia benar-benar mati. Aku sering membayangkan aku mengambil anak kecil tetangga, membekapnya di kamar lalu kumasukkan ke dalam kolong tempat tidur.

***

Korea Selatan .서울 특별시 (Seoul Teukbyeolsi). Eunpyung-Gu .2.2.2010. 06.32 a.m.

“Hrmm..Njoo, apa yang kamu lakukan?”

“Menanam bunga. Kau sendiri sedang apa di sini?”

“Bunga? Untuk apa kau menanam bunga, Njoo?” Eun memicingkan mata tidak percaya,”aku hanya berjalan-jalan saja dan tiba-tiba melihatmu.”

“Aaa…aku dapat bunga ini dari tetanggaku, kupikir bagus kalau di tanam di kebun sekolah.” Ditepuk-tepuk kedua belah tengannya. Tersenyum puas,”Kau akan melihatnya berbunga satu minggu lagi.”

“Aaa..kau meramal?” Njoo dan Jang-eun pergi meninggalkan kebun. Mengikik bersama sembari melanjutkan canda. Tanaman yang baru ditanam Njoo, bergoyang terhembus angin yang sama sekali tidak kentara.

***

Seperti bisikan iblis padahal aku sendiri yang membisikannya. Aku tidak pernah meragukan kemampuanku mengolah arimatika. Hanya saja ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyelesaikan satu demi satu soal pengantar. Kulihat buku panduan milik Eun, sama sekali tidak bisa membantu. Kulihat dia sudah tertidur.

Aku memiliki segalanya. Rumah mewah, mobil, uang, orang tua yang utuh, adik laki-laki, kakak perempuan, dan kakek tua yang suka mengomel bila liburan. Mereka semua selalu menjejaliku dengan uang, uang, dan uang. Apapun dapat kuperbuat hanya dengan sekali gesek. Njoo Na, nama yang cukup keren kan? Nenek yang memberikan nama itu sebelum dia meninggal di tempat tidurnya yang penuh dengan bebauan mawar. Aku masih merasakan bebauan itu jika melewati kamarnya.

Eun, dia sahabatku. Sebenarnya dia tinggal di asrama sekolah. Setelah mempertimbangkan selama satu malam, aku mengajaknya tidur di rumahku. Aku ingin dia yang mengajariku memotong daging, mencincang beberapa wortel. Sebenarnya ada pelayan yang bisa kuandalkan sedangkan aku pun mampu tanpa bantuan Eun. Tapi setelah aku pikir-pikir kembali, aku ingin memotong beberapa sepersegi dan sepersekian daging dengan tekniknya yang rapi. Aku suka cara dia memotong daging saat lomba memasak di sekolah bulan lalu dan aku begitu tertarik untuk menguasai caranya.

***

Aku membekapnya. Kebetulan saat itu orang tuaku tidak ada di rumah. Entah kenapa aku merasa hari ini adalah hari keberuntunganku. Tidak ada satu pun orang yang ada di rumah. Hanya ada aku dan dia.

Wajahnya cantik, kulitnya putih mulus, matanya jernih seperti bayanganku selama ini. Sosoknya tidak jauh berbeda dengan sosok di foto yang berdiri anggun di atas permadani yang menempel di meja di ujung kamarku.

“Mmmhh..hmmhh…hhh…” semakin dia berusaha berteriak, semakin lebar mulutku untuk melepas tawa. Kukeluarkan pisau yang sering aku gunakan untuk berlatih memotong daging yang lembut. Kugoreskan di bagian pipinya yang mulus. Tubuhnya sedikit menegang lalu mengejangkannya supaya tali yang tidak mungkin terlepas dapat dilepaskannya dengan hanya sekali menggeliatkan tubuh mungil tidak berdayanya. Aku mengikik, dia justru memekik seperti suara kelinci yang dijatuhkan dari lantai dua rumahku. Perlahan tetesan hangat keluar dari kelopak mata jernihnya. Mengejang lagi, aku mengikik.

“Aku hanya ingin melukis saja kok!” ujarku, air matanya terus mengalir.

***

Kuusap lantai dengan air jernih yang sudah berubah warna kemerahan. Satu botol emulsilfier kutumpahkan sembarang. Kuulangi lagi dengan menyemprot wewangian. Aku mengintipnya di kolong tempat tidurku. Dia masih bergerak-gerak dengan mengumbarkan bau anyir dari dalam tubuhnya yang terus saja mengalir.

“Njoo..kau sedang apa?” Soh Lie, kakak perempuanku berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Aku langsung memasukkan ember kecil ini ke dalam kolong tempat tidur.

“Ada apa?”

“Bisakah kau rendahkan musik iblismu itu? huh! Aku sedang belajar!”dengan gesit kuputar tombol volume ke arah minus. Suara gemeretak kaki Soh mulai menjauh. Kukibaskan tanganku dengan lentik. Kutatap tanaman mawar di dalam pot yang kutaruh di pinggir jendela kamarku.

“Sangat cantik sekali!” gumamku menebar senyum, meski tanaman itu belum berbunga.

***

Aku menyeretnya keluar dari kolong tempat tidurku. Wajah itu sudah pucat dan dipenuhi dengan darah beku bercampur cairan yang arus. Hampir busuk. Kubuka plaster yang menutupi mulutnya. Bibirnya sedikit bergetar.

“Njoo eonni…” mata itu membuka perlahan. Tangan mungilnya memegang lenganku erat,”Njoo..maafkan Me Chan..Eonni.Njoo.Me Chan.salah!” aku melempar tubuhnya. Dia masih hidup? Aku meliriknya tajam. Tangannya mencoba meraihku. Aku mendekatinya kembali dengan tissue di tanganku. Kuusap wajah yang sudah tidak mulus itu perlahan. Kutopang kepalanya di pahaku.

“Kau tak apa, sayang?” Aku memeluknya. Kubuka pelukanku. Anak itu sudah tidak mampu membuka matanya lagi. Kubawa dia ke kamar mandi. Kubersihkan badannya dari kotoran merah kental itu. Darah terus mengalir dari lubang-lubang di tubuhnya.

***

“Mawarmu berbunga, Njoo!” seru Eun. Mendekati tanaman itu. Aku hanya tersenyum miris melihat gadis kecil itu menyirami bunga mawar tanpa henti dengan air matanya. Matanya pun tidak henti-hentinya menatapku tanpa sedikit pun kedipan.

==============================================

Model Foto: Chindy Lam