//
archives

dagboek van Tjang

This category contains 7 posts

DEADLINE!!! :O

IMG_9673

Finally, I can rest for a few hours… fuh!

I would spend at least an hour to write on the blog every day or once a week… ember! haha

You understand, right? How short and agile rotating clockwise in your room? that’s if you have a clock in your room lol

I will show my job lately spend my energy, work that really makes my body balanced nutrition in reduced approximately 79.999%, because it probably will not be any cute guy like Osamu Mukai are interested in me. I was far from the word “sexy”, sometimes it makes me sad T_T

I just received a shipment today from the publisher, so next week I’m very busy T.T

IMG_9671

I wrote about sociolinguistics.

I wrote about the language of the human who has a feminine and masculine gender, and because the book of Mrs. Esther full up like a snowball from the top of Fuji rolling until Tokyo, so I learned all about Queer language.

This is actually very simple, but suddenly became very silly when it should be linked with a figure of stylistics and proverbs. It’s unfeeling! Uh! As though picking up beads at the zoo and be in a place the animals are dragons (OMG! What is english word for KOMODO? Dragons yaebo? Haha.. :3 :3 :3 meuw! ). Komodo very interested in Blood thirsty woman! ><

Interesting, cool, and very punk rock when reading Japanese comics aka manga. So all the things I mentioned above, all connected to the manga. Hahaha… like you get into the bath ball turns out it’s not just for kids, but you also have to meet with a peers and so badly when you also have to meet with people who are already over-edition…Oh My GOD!

Well, you know the manga a lot of the types?! For those who like to eat the manga would have understood, if not…

You must be confused with like that and you need to really read my research haha

So, please read my research, ladies and gantleman throughout the country !!!

Ahah, if you need my research, you also have to translate my research for your friends ^_^

Thank You! ^^

————————————–>>>>>> terjemahan bahasa Indonesia non-formal

Beberapa jam akhirnya gue bisa rehat sebentar, ahuy! ahuy! oh, yes!

gue bakal ngeluangin waktu setidaknya satu jam buat nulis di blog tiap hari atau seminggu sekali ajaaa hehe..

Ngerti kan? Betapa pendek dan lincahnya jarum jam yang muter di kamar lu? Itupun kalau ada.

Gue bakal ngelihatin pekerjaan yang akhir-akhir ini nguras tenaga gue, pekerjaan yang benar-benar bikin skor gizi di badan gue berkurang sekitar 79,999%, gara-gara ini mungkin nggak ada cowok imut sekelas Osamu Mukai yang tertarik ngeliat gue. Gue emang jauh dari kata seksi, kadang-kadang itu bikin gue sedih.

Tet.. tot… tet…

Gue nulis tentang kajian ilmu sosiolinguistik.

Gue nulis tentang bahasa para manusia yang punya gender (Feminin & Maskulin), dan karena buku dari Mrs. Esther lengkapnya sampai sebesar bola salju dari puncak Fuji yang gelinding sampai Tokyo, gue jadi sekalian belajar tentang Queer language.

Sebenernya ini sederhana banget, tapi tiba-tiba jadi konyol banget pas harus dihubung-hubungin sama majas dan peribahasa. Rasanya! Uh! Bagaikan mungut manik-manik di kebun binatang dan parahnya binatang itu komodo. Haus darah wanita deh pokoknya!

Menarik, keren, dan punk rock abis pas ngadepin komik Jepang alias manga. Jadi yang gue sebutin di atas, dihubungin semua ke manga. Hahaha… ibarat lu tuh masuk ke pemandian bola yang ternyata isinya bukan cuma buat anak-anak, tapi lu juga harus ketemu yang namanya temen sebaya dan parahnya ketemu sama orang-orang yang udah over edition. Itu nggak banget! Yah, lu tahu kan manga banyak banget bala kurawanya?! Bagi yang doyan makan manga pastilah udah paham, kalau belum…

Well, lu pasti bingung dengan ibarat itu dan lu perlu banget baca penelitian gue haha

So, baca penelitian gue ya ladies and gantleman di seluruh pelosok negeri!!!

Ehem, kalau perlu penelitian gue, lu terjemahin juga buat temen-temen di negeri lu!!!

Your Names is Your Indentity

Holla Hello Guys! Long time ye? I’m back now.. HuuHaa!

Kali ini saya akan membahas soal karakteristik nama yang tidak terlalu pantas digunakan untuk umum secara semena-mena dan alasan untuk menggunakan nama itu tidak masuk diakal. Nama-nama di semua negara memiliki karakteristik yang begitu khas. Ada sebuah kutipan “apalah arti sebuah nama?” kalau boleh jujur, kutipan itu sangat menyakitkan hati orang tua kamu lho! Karena nama yang kamu miliki sekarang ini adalah nama yang mereka persiapkan sebelum kamu terlahir di dunia. Nah, kecuali kamu bener-bener ingin menyembunyikan identitas kamu ke khalayak, tapi pilihan nama populer pun harus sesuai atau tidak untukmu.

Ada dua karakteristik nama yang bisa digunakan oleh semua orang di berbagai negara, yakni nama Arab dan nama barat. Jika kamu bukan orang Saudi Arabia (Ah.. semua pelosok Timur Tengah) atau kamu bukan orang Barat, kamu bebas menggunakan nama-nama yang berasal dari kedua negara itu. Pada dasarnya orang tua memberikan nama kepada anaknya dengan melihat latar belakang agamanya. Nama-nama yang diambil dari nama-nama orang dari negara asal agama pertama kali itu muncul, justru nama yang wajib dimiliki oleh beberapa pihak (keluarga atau gereja)

Nama-nama berlatar agama yang banyak dipakai oleh orang Indonesia biasanya adalah nama-nama yang berasal dari Timur Tengah dan Barat. Karakteristik nama-nama berlatar agama justru menjadi indentitas yang cukup membanggakan bagi kaum mereka. Saya akan menjelaskan satu demi satu:

Pertama, Jika kamu bertemu dengan orang Indonesia bernama “Muhammad Fajri” atau “Ahmad Sholiqin” atau “Faradiba Yunan” jangan kaget kalau dia bukan orang Arab atau seorang keturunan dari Timur Tengah. Nama-nama itu menandakan identitas agama mereka. Mereka itu adalah seorang Muslim.

Kedua, Jika kamu bertemu dengan orang Indonesia bernama “Emelia Fransiska” atau “Carolina Maryani” atau “Feronica Wijaya” atau “Antonius Cahya” jangan kaget kalau mereka bukan orang Barat atau seorang keturunan Barat. Nama-nama ini menjadi penanda latar belakang agama mereka sekaligus kewarganegaraan mereka. Nama baptis menjadi kewajiban yang harus dimiliki  seseorang yang memiliki agama Christian-Katolik. Pemberian nama baptis begitu penting oleh pihak gereja karena nama-nama itu menandakan seberapa banyak kaum mereka yang nantinya akan terdaftar di pusat. Jadi nama-nama barat yang mereka pakai ini adalah semacam “tanda” umat yang begitu istimewa bagi mereka karena diambil dari nama-nama santo atau santa. Kelahiran dan kematian mereka akan dicatat, guys! Oleh pihak gereja yang akan dikirim ke pusat (Vatikan untuk agama Katolik).

Ketiga, seiring berjalannya waktu dan teknologi semakin merajalela ke kampung-kampung, kadang-kadang orang tua tidak paham asal nama “Fransiskus” atau “Fransiska”, kurangnya pengetahuan dan alasan karena nama itu terdengar begitu indah di telinga, saat ini nama-nama itu juga digunakan oleh Muslim. Hal ini tidak menjadi persoalan besar karena hidup di Indonesia itu kondisinya benar-benar plural.

Keempat, nama-nama yang diambil dari asal etnisnya. Nama-nama etnis begitu banyak karena di sini kamu bakal menemukan banyak etnis, seperti Jawa, Bali, Batak, Bugis, dan Betawi. Nama-nama ini mungkin tidak akan disadari oleh orang di luar Indonesia, tapi nama-nama ini begitu khas dan beberapa keluarga sangat bangga dengan marga mereka. Saya akan memberikan contoh:

“Luh” dan “I Made” dan “I Dewa Putu” jika kamu menemui kode-kode nama semacam itu maka kamu telah bertemu dengan orang Bali. Nama-nama ini begitu paten khas orang Bali atau bagi mereka beragama Hindu. Jadi sangat aneh dan tidak memungkinkan nama itu digunakan oleh orang di luar kaum mereka.

Nama-nama khas yang sangat aneh dan akan dipandang buruk jika digunakan dapat terjadi jika kamu bukan orang Batak dan tidak memeliki keturunan dari Batak, tapi menggunakan marga mereka. Misal: “Sihombing”atau “Situmourang” kode-kode nama ini sangat khas dan menjadi kebanggaan setiap keluarga. Jadi, jika seorang yang memiliki marga (family names) seperti ini, tetapi bukan orang Batak dan akhirnya diketahui orang asli Batak, itu akan begitu menyakitkan bagi mereka.

Nama-nama khas Jawa, kini tidak terlalu fanatik digunakan khusus oleh orang dari etnis Jawa, karena etnis tionghoa juga menggunakan nama khas Jawa di belakang nama baptis atau nama Barat mereka. Seperti, “Erika Budiman” atau “Joshua Raharja”. Jadi kondisi nama-nama etnis Jawa kini sudah merambah keseluruh lapisan masyarakat di Indonesia seperti halnya nama-nama Timur Tengah (misal: Saudi) dan nama Barat. Nama-nama Jawa yang dicampur dengan nama diluar Jawa ini sudah biasa dan dianggap wajar oleh semua orang.

Sebenarnya, saya menulis panjang lebar di atas untuk menjelaskan tulisan di bawah ini. Saya membaca postingan dari Japanese, yakni Tamura-san. Saya merasa dia merasakan sakit hati, jengkel juga, atau hal-hal yang bersifat manusiawi lah. Saya juga yakin Japanese lainnya juga pasti bertanya-tanya “kenapa kalian menggunakan  nama khas dan marga kami?” Tamura-san adalah Japanese yang selalu berbagi bahasa Jepang kepada Indoensian, dia sangat menyayangkan kondisi nama-nama yang digunakan oleh anak-anak dari segala negara (bagi yang di Indonesia, mohon diperhatikan ya!) yang menggunakan nama khas Japanese.

Nama-nama yang tidak pantas digunakan untuk umum secara semena-mena (atau bahasa kerennya: “Suka-suka gue dong!”) itu adalah nama-nama Jepanese dan Korean. Kenapa?

Sama halnya dengan nama orang Batak atau Bali, nama-nama khas Jepanese dan Korean memiliki karateristik yang sangat kuat sebagai identitas mereka. Jadi sangat menyakitkan jika mengetahui orang menggunakan nama japanese (dalam kasus ini), tapi pada kenyataannya orang tersebut bukan bagian dari mereka.

Keempat, karakteristik nama tersebut hanya contoh dari beberapa kasus di luar sana, saya mencontohkan nama yang tidak sembarang dicomot seenak jidat. Japanese, Korean, Batak, atau Baliness, semua nama mereka mengandung marga atau “family names”.

Kamu dapat memiliki nama-nama dari mereka, jika kamu akan tinggal (selama beberapa tahun), mungkin kamu bisa menggunakan nama depan dari Japanese, seperti “Yuki”, “Erika”, “Rina”, “Ken” nama-nama ini akan memudahkan orang jepang memanggil dan mengingat nama kamu, tapi katakan terlebih dahulu nama aslimu sebelum mengatakan nama Jepangmu kepada mereka sebagai wujud penghormatan. Kamu juga bisa menanyakan kepada Japanese “Nama Jepang apa yang cocok untukku jika nama Indonesiaku adalah Qusnul (misal)?” lalu kamu memberikan arti namamu pada mereka. Indonesian-Japanese memiliki lafal yang berbeda, jadi mereka jauh lebih senang memberi tahu arti namamu versi Jepang daripada mendengar nama Jepangmu yang kurang pas.

Kamu akan mendapatkan marga atau nama keluarga (Family names) jika kamu menjadi anak adopsi atau menikah dengan orang Jepang. Saya tidak tahu prasoal nama Jepang untuk imigran yang tidak memiliki hubungan keluarga, apakah mereka juga menggunakan full name versi Jepang atau tidak. Jelasnya, menikah dan menjadi anak adopsi menjadi titik terang jika kamu ingin mendapatkan family names dari Japanese. Anak adopsi bukan hanya seperti kamu harus berada di panti asuhan terlebih dahulu, tapi kamu seorang mahasiswa yang tinggal satu rumah dengan orang tua asuh dari Jepang (haha.. sepertinya jarang terjadi, tapi saya pernah mendengar dari teman sejawat yang sangat beruntung karena dia bertemu dengan orang tua asuh. Orang tua asuh, anda bisa mendapatkan jika tinggal di Indonesia atau di Barat, jika kamu seberuntung kakak sepupu saya sih).

Coba bayangkan, kamu jelas-jelas tinggal di Indonesia (Oke, tidak hanya di Indonesia kasus ini terjadi) sekaligus orang Indonesia tulen, tapi menggunakan nama versi Jepang? Kamu juga menggunakan identitas palsu seperti tinggal di Jepang yang kamu cantumkan di situs jejaring, bahkan berbahasa Jepang pun kamu tidak mampu, selain itu mencampur aduk nama-nama Jepang menjadi satu sehingga memiliki arti yang sangat aneh. Itu akan sangat menyakitkan jika Japanese mengetahui “siapa kamu?” “di mana kamu?”, untuk alasan “mengapa kamu” menggunakan nama nyeleneh bin ajaib itu tetap akan sangat menyakitkan karena kalian menggunakannya tidak sesuai dengan karakteristik mereka, bahkan ini akan “booms” bagi Japanese. Ledakan penduduk Jepang terjadi di salah satu situs jejaring, tapi tidak sesuai dengan kenyataan di pulau mereka. Apakah kalian tidak pernah memperhatikan itu?

Japanese juga tidak akan merubah nama mereka ketika berada di Indonesia, jika mereka ingin mengubah nama mungkin mereka bisa melakukannya, tapi kebanyakan dari mereka tidak merubah nama mereka.

Indonesian cukup jelas jika harus melafalkan nama-nama Jepang, karena semua konsonan dan vokal Japanese juga dimiliki oleh Indonesian. Jadi, Japanese akan lebih senang jika mereka mendengar nama mereka dilafalkan dengan jelas oleh Indonesian.  Tapi, guys! Ini akan sangat berkebalikkan jika Japanese melafalkan nama Indonesian, mereka tidak cukup ahli dan butuh waktu untuk melafalkan konsonan yang berdiri di belakang konsonan-vokal, seperti (k-v-k-v-k) “Karno” [kar] [no] ini akan terdengar aneh jika diucapkan “karono” atau “Karuno” bagi Indonesian.

Indonesian yang menggunakan nama Japanese di SosMed tidak perlu berkecil hati karena Japanese ternyata tidak menyukai kehebohan nama kalian (istilah kerennya kalian ini mem-PHP-in atau memberi harapan palsu pada orang Jepang) haha.. penduduk Jepang benar-benar meledak berkat kalian.

Kebudayaan yang berbeda akan mendapatkan respon yang berbeda pula. Saya sangat paham kalian menyukai “anime” dan hal-hal yang berbau Jepang. Jepang membawakan sesuatu yang begitu menarik di dunia luar, mereka juga tidak menyangka efeknya akan seperti ini. Japanese membuat ini dan itu sebetulnya untuk konsumsi kalangan mereka pribadi, tapi sekarang kan modelnya “student exchange”, “culture studies” istilah itu selevel sama “ekspor-impor” ya, kan? haha

Kesimpulannya, kepada Indonesian jika sudah mengetahui hal ini, mohon hormati Japanese. Sedangkan untuk Japanese mohon dimaklumi apapun yang dilakukan Indonesian karena efek dari karya-karya kalian. Tetaplah menjalin hubungan yang baik J

KETIKA KITA BERADA DI POSISI “KETLISUT”

Paginya..
Banyak sekali pelajaran hidup yang aku dapatkan hari ini. Puji Tuhan!!

Pagi tadi tidak seperti biasa karena mulai minggu lalu aku mngendarai motor ke kampus. Sebenarnya dalam hati agak berat, mengingat aku ingin mengajak teman-teman (rekan-rekan universitas) berjalan kaki atau mengayuh sepeda. 😦 (phonixku nganggur deh!)
mengingat juga udara panas sekali dan aku harus naik motor karena tempat kursus bahasa asingku jauh!!!
Hari rabu itu hari yang paling melelahkan
Pelajaran dimulai jam 7.30 WIB (tidak boleh terlambat 1 menit dan kelipatannya) dan berakhir jam 15.30 WIB.

Aku berjalan menuju kelas sastra mistik dan hanya menjumpai seorang teman. Waktu sudah lebih 5 menit, namun tidak seorang pun teman datang dan tidak ada tanda-tanda dosen datang. Beberapa menit kemudian seorang kakak tingkat datang dan dua teman sekelas. Kami berlima pun akhirnya berbincang-bincang mengenai jarkom, tugas, dan solidaritas.

Jaringan komunikasi yang buruk di kelasku, kami berlima tidak mendapatkan jarkom bahwa kelas hari ini kosong dan diganti pada hari senin jam kedua di kelas darmasiswa. Baru-baru ini kelas darmasiswa menjadi kelas favorit dosen, entahlah! Aku juga merasa nyaman jika kelasnya di sana. Haha..

Malam sebelumnya jarkom sudah menyebar, namun aku tidak kebagian, istilah jawanya ketlisut (haha). Ternyata di balik itu semua aku mendapatkan hikmah yang luar biasa. Aku bisa berbincang-bicang dengan kakak tingkat angkatan 2005 dan alumni sastra Indonesia angkatan 2005 yang sudah sukses (kebetulan sekali ya!).

Mas Opik, angkatan 2005 (alumni) dan Mas Wira, angkatan 2005. Dua orang yang berbeda dan mempunyai mindseat yang berbeda pula. Pengalaman mereka membuat aku berpikir ulang tentang kehidupan. Mas Opik berhasil lulus pada waktunya dan berhasil berbisnis sedangkan Mas Wira masih sibuk dengan skripsi dan berhasil lebih dulu di dunia kerjanya.

Apa sebenarnya tujuan kita? Itu adalah pertanyaan pertama yang ditujukan Mas Opik pada kami. Kita harus mempunyai tujuan jelas dalam kehidupan. Untuk apa kita kuliah? Untuk apa kita mendapatkan nilai bagus? Untuk apa kita selalu memperjuangkan IPK? Untuk apa kita bersosialisasi? Untuk apa kita harus mempunyai kepedulian dan solidaritas?

Prestasi adalah kebanggaan tersendiri setiap orang. Demi prestasi kita rela tidak tidur, lupa makan, sampai-sampai tidak peduli dengan teman. Prestasi (IPK tinggi) seakan seperti sampah ketika tingkat kepedulian kita NOL%. Banyak kasus di dunia pendidikan “Kita terlihat paling menonjol di antara teman-teman”, namun ketika di dunia kerja “kita hanyalah orang-orang kurang produktif karena keterbatasan jaringan.”

Sekarang apa permasalahnya? Selain berprestasi kita sebaiknya juga harus mampu bersosialisasi dengan orang lain, mempunyai jaringan bagus (mulailah dari teman sekelas) dan solidaristas itu penting.
misalkan saja,”apa susahnya kita menyebarkan info melalui sms?”, “seberapa mahalkah jika mengirim sms ke 5 orang saja?” kita kuliah tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian kita, cara pandang kita terhadap sesuatu hal, dan kebijaksanaan dalam menanggapi permasalahan.

Selain itu kita juga harus dituntut untuk ikut berorganisasi di kampus, di Universitas atau di luar (dalam bentuk organisasi). Hal itu intinya untuk membentuk mental kita di kemudian hari. Aku pun terdiam sejenak, benar-benar tak berdaya ketika disinggung masalah organisasi.

Mengingat-mengingat soal organisasi. Semasa SMP, aku aktif–masuk ke SMA keaktifanku berkurang–masuk universitas, keaktifan semakin berkurang dan pada akhirnya di semester 3, aku bilang “tidak suka berkumpul dan membuang waktu”. Aku sangat paham “individualis tidak berarti mengasingkan diri dari organisasi”, tetapi apapun bentuk organisasi yang selama ini aku ikuti sangat sangatttt tidak menghargai waktu. Jam berapa kita harus berkumpul tidak sejalan sesuai dengan perjanjian dan betapa itu sangat menyebalkan.

Beberapa teman juga mempunyai kasus sama denganku, namun mempunyai masalah sosial yang berbeda dari mulai mereka yang diacuhkan, tidak dianggap, tidak berpotensial untuk menyumbang ide, dan lain sebagainya. Hal-hal semacam itulah yang membuat orang minder akan kemampuan mereka, bukan mengasingkan, akan tetapi diangsingkan. Aku pribadi sejauh ini belum mengalami permasalan seperti teman-teman itu (yah..rasanya bagaimana, itu mungkin sangat sakit, 🙂

Siangnya..

Satu minggu ini memang penuh presentasi, mulai hari senin lalu dan rabu depan masih akan berlanjut. Puji Tuhan, presentasi personal tadi siang berjalan amat lancar!! Fuu.. (intinya memang “TENANG” dan “KISS” “KEEP IT’S SPIRIT!!” haha..)

Sorenya..
ini pengalaman dari temanku yang sedang mempunyai permasalah asmara.

Soal cinta yang rumit dan serba salah.

“Ketika kita mencintai seseorang, kita juga harus melihat apakah seseorang itu mencintai kita. Bagaimana kalau ternyata seseorang itu tidak mencintai kita? Apakah kita akan memaksanya? Atau apakah kita harus mampu merelakannya pergi tanpa mengenalnya lebih jauh?”

Pertanyaan itu aku buat untuk diriku sendiri sekaligus siapa pun yang membaca ini. Seberapa besar aku mencintai seorang laki-laki, aku lebih baik diam atau bercerita dengan teman dekatku, dan tentu saja tidak menggembor-gemborkan pada orang-orang.

“Aku pacarmu, tetapi sejujurnya bukan pacarmu.”

Saking kita menyukai seseorang, kita sampai-sampai tidak mampu berpikir rasional. Kita menganggapnya seseorang yang amat spesial di dalam diri kita dan hal penting yang dilupakan adalah “apakah kita mempunyai hubungan “ikatan penuh” dengan seseorang itu. Apabila tidak ada,”untuk apa kita mengatakan bahwa seseorang itu pacar kita?” itu adalah kesalahan besar dan menjadi sangat besar karena hal itu, kita mengorbankan teman kita sebagai ajang pemuasan kecemburuan yang berujung permusuhan. Di sini lah posisi temanku, dia menjadi korban cinta. Oh..cinta!!! “Cinta ibarat makan bakso tanpa sambal, sekali makan dibumbuhi sambal—pedasnya luar biasa (menyakitkan), tapi bikin ketagihan” kata-kata ini aku dapatkan dari salah satu teman ketika kita makan bersama di kantin. Seolah kalimat itu terdengar sepele, namun mempunyai makna luar biasa dalam kehidupan kita.

Aku pun berpikir,”tidak hanya satu laki-laki di depan kita, tidak ada jodoh yang hilang. Intinya Tuhan tetap akan mempertemukan kita dengan jodoh kita, meski saat ini jodoh kita masih belum nampak atau bisa dibilang masih “ketlisut” (haha).

Jadi kesimpulan untuk hari ini adalah ikut organisasi (yang kita sukai-jangan dipaksa, tetap fokus—semangat—berprestasi, dan tidak boleh memaksa cinta seseorang) 😉

Mereka

Hello.. Dagboek van Tjang  ini gue isi tentang aktivitas, unek-unek, tips menulis ala Tjang atau apa saja yang mangkir sekilas di otak gue. Alasan kenapa gue memakai kata ganti “aku” jadi “gue” itu karena gue ingin berbaur secara kondisi remaja Indonesia yang rada over protektif kalau sudah menyangkut bahasa gaul atau setidaknya nggak sekaku dan sesopan memakai “aku” atau “saya”. Stt..tetep biar cocok aja sama kalimat-kalimat yang meluncur. Kadang gue kalau memakai “aku” dalam menulis karangan bebas seperti ini malah terkesan—– tidak ngena banget di hati—-tidak cocok sama kondisi kalimat. (maybe cuma perasaan gue doang kali ya? Haha.. pokoknya banyak alasan. Jadi terkesan beda ya sama karya-karya gue?

Hiahh.. begini para sahabat, gue mulai nge-blog sudah beberapa tahun silam. Eh, maksudnya baru SMA kalau nggak salah dan mulai nulis baru SMP kelas dua dengan predikat tulisan kacang-kacangan (tapi herannya diterbitin sama penerbit (?) belagu banget deh gue waktu itu 😀 ). Sebenarnya gue dilarang nulis lho sama mami gue (kapan-kapan gue sharing deh ke kalian). Blog gue ganti-ganti dan ini yang terakhir. Liat gue post tahun kapan? Bulan apa? Keliatan di side bar!! Lihat! Lihat saja sendiri ya! 😀
setiap tulisan gue pasti kalian ngedapetin foto untuk ilustrasi kan? Nah, mereka itu adalah orang-orang yang berjasa di blog gue ini. Tanpa mereka blog gue pasti serasa hambar banget dan kalau bisa dibilang kayak sayur asem tapi nggak ada asem, garem, dan gulanya. Mereka itu sohib-sohib gue yang super duper baik sama gue dan menurut gue mereka cocok banget mengisi karakter di blog gue. Tapi soal ngebayangin gimana orangnya sih itu kebebasan pembaca lho ya? Gue sih niat biar nggak terkesan redup aja blog gue ini. Gue perkenalkan sohib-sohib gue yang berjasa di balik layar blog gue ini.

Tania Budiono a.k.a Tania Hyon Ra

Temen gue yang sama-sama senewen dengan segala ke-korea-koreanan. Wajahnya yang mirip Moon Geun Young daripada dua saudaranya. Di edisi-edisi berikutnya aku pengin nampilin dia. Gimana menurut kalian? Ada beberapa foto tuh? Tebak mana Tania? Mana Geun? Akakakka.. Bisa dibilang dia pembaca yang mampu ngeluarin kritik pedas sekaligus membangun untuk tulisan gue dan itu sangat-sangat membantu kinerja gue dalam kualitas dan kuantitas karya gue.*kami berharap mendapat tiket gratis keliling korea selama satu minggu! 😀

Steffen Yang

Awalnya gue tertarik sama wajahnya ini kalau dia makai jubah pastur, hrr.. padahal sudah gue tunggu-tunggu sejak zaman pra-aksara, tapi nggak segera melakukan pemotretan. Dia bos gue di page asuhannya, tapi gue ngerasa gue lah yang cocok jadi bos dia (dipalak T-phen! 😀 ) soalnya tidak mengurus page-nya lagi dan entah kabur kemana! Kapan-kapan kalau dia beneran hilang baru deh aku cap-in brosur pencarian orang hilang. Sementara ini dia berjasa di karya gue yang berjudul For Firs Time Lover bareng Suzy Miss A.. 😀

Chindy Lam Couple


Jie-jie yang satu ini udah aku anggep Jie-jie gue sendiri. Jie-jie udah sering ngisi kekosongan di postingan gue. cek aja pasti kalian akan mendapatkan foto-foto jie Chindy yang imut sekaligus cantik. Untuk Jie Chindy Couple, aku post di edisi berikutnya.

Lee Hyon Seo Eonni


Eonni ini keturunan korea lho teman! Hihi.. dia baik banget mau menyumbangkan foto-fotonya yang imut seperti boneka ini ke Blog Park Jong-hwa. Hyon Eonni uda sempet mengisi di karya gue berjudul bangku kayu tua bareng koko Stefan. Meski tulisan gue tergolong masih biasa-biasa aja (entah bagus atau nggak), tapi ilustrasinya bagus kan? Hihi…

Ben Kazukki Yippie

Cowok satu ini sudah gue anggep adek laki gue sendiri, maklum gue nggak punya adek laki. Biasanya gue panggil dia, Kunz-Kunz. Gue seneng dia mau ngebantu gue dan ngedukung blog gue dengan foto-foto narsisnya. Satu lagi, mungkin nih anak suka buat puisi atau kata-kata indah. Tiap fotonya pasti gue lihat kata-kata indah dan gue menilainya sangat bagus kalau terus dilanjutkan! ^^

Azura de Conglee


Diam-diam gue ini adalah penggemarnya dan mengikuti tulisan-tulisannya. Ada sesuatu di balik sosok Ching (panggilannya) yang bikin gue penasaran. Tulisannya bener-bener beda dengan tulisan temen-temen lain. Ada beberapa orang mengatakan gue berbakat nulis, tapi gue justru merasa Ching lah yang anak berbakat nulis (hihi..). Setelah gue ikuti beberapa bulan sejak perkenalan, akhirnya gue merasa puas dengan karya yang terakhir di tag ke gue. Bener-bener gue nggak bisa ngomong apa-apa saat itu, gue sangat bangga punya temen seperti dia. Hmm..Kenapa gue tulis Azura de Conglee? Karena nama itu aku ambil dari akunnya dan gue merasa cocok kalau dia juga masuk ke dalam sequel Park Jong-hwa versi For First Time Lover.

Widia Lolix and Dizzu Momo


Mereka temen-temen baik gue, gue ngerasa mereka memenuhi karakter di sequel gue. Makanya gue ambil mereka berdua buat nimbrung di imajinasi gue. Banyak hal gila sejak gue berteman dengan mereka berdua. Benar-benar sesuatu yang ngebuat gue rada sinting kalau sudah gabung dan ngobrol perihal mata rantai yang kasat mata. Asik pokoknya! 😀

nggak bisa disebutin satu per satu yah, semua temen gue adalah sumber inspirasi gue. Biasanya nama-nama di tokoh gue itu aku ambil dari orang-orang di sekitar gue, dan karena gue merasa karakter mereka itu cocok sama tokoh garapan gue. Khusus untuk Fan Fiction, ilustrasinya tetep artis Korea/Jepang yah! Haha.. gue cuma pengin coba aja sih. 😀

Gumawo Chingu-aa!!! >,<

NataL in Beth San Orphanage

Hi……MySpace
25 Desember 2010… Mian! Mian! Aku baru sempat posting natal tahun kemaren. Begini ceritanya..
suatu hari…(blah..langsung saja deh..MySpace
kado sudah siap, tanganku, kakiku, mukaku…siap!!
aku berangkat dianter Appa, mana kaga tahu juga di mana tuh Beth San?
karena aku agak kurang jelas dengan informasi yang diberikan Titin, dengan penuh kesadaran aku langsung minta no. hape orang yang kasih informasi tentang panti. “Nyo..sapo yg kasih tau u alamat beth san! orang solo noh..minta nope!” “tit..tit…” langsunglah terkirim nomor yang kaga aku kenal, tapi yang jelas Sandi 085xxxx. sms terus sampai tujuan meski aku harus tersesat dulu, kehujanan pula. maklum pakai motor butut, dan sms yang masuk banyak sekali itu pun hanya dari Sandi. “Ke keri..ke kanan..ada jembatan..belok..” “Ini uda sampe lhoh!” apalah..aku lupa, nih orang Solo bukan? aku sudah di Beth San, tapi kaga ada orang satu pun di luar, gerbang saja masih dikunci, mupeng banget deh aku. katanya sudah sampai? “titt..” ternyata aku salah tempat..MySpace
“ttiitt…tiitt…” sms dari Sandi masuk terus sampe inboxku penuh “Ke kanan..ke keri..ke atas jembatan..” NGOK! hari itu aku kaga mengumpat, hanya saja “Awas aje lu nanti, aku injek mpe ancur!MySpace uda berhasil muter-muterin aku!” ngumpat kaga ini? alhasil aku mengumpat sedikit. sebelum sampai, aku sempat tanya sama bapak plus mas, aku tanya Beth San di mana ya? eits..aku juga kasih jalan plus Rt. Rw. ehh..”Coba ke sana deh! itu jalan merapi..jalan berbabu lah bukan sini!” muter lagi…”titt..titt..” ngelirik hape..”udah deh!” ngambek lah aku.

akhirnya aku sampe juga, masuk di dalem uda rame sekali. tapi, sebelum masuk aku ngumpat lagi, “Bego banget sih bapak tadi, harusnya kan tinggal bilang persimpangan di depan itu, non!” lihat saja lah, rumah bapak itu kaga jauh dari panti. “Ancur..lu..pak! ancur!!!”
aku pun masuk dan perkenalkan diri, kurang ajar lah si Titin itu suruh aku berdiri pula.
aku deketin tuh si Titin, bisik-bisik “mana noh namanya Sandi?” dan Jrettt..

MySpaceJet Lee!!!!!!!!!!!!!!! alhasil aku kaga jadi ngancurin mukanya!! aku malah mengenang  masa kecilku sama Oppa waktu liat Dragon ball dan mian aku cuma panggil nama!! kaga tahu kalau ternyata udah Oppa-oppa.. mian, Sandi Oppa!!!
udah ah! lupakan, aku juga bukan tokoh pendendam! MySpace
Nyaa….masuk acara..kita nyanyi-nyanyi..MySpacegoyang-goyang… sekaligus pesta dansa..pokoknya menggila kayak gini nih——>MySpace
setelah itu makan bareng sekaligus minum bareng, ke WC pun bareng..Kya~~
aku kaga tau kalau anak itu boker, kaga mau ditinggalin pula. alhasil aku nunggu dia ampe selesai boker, Titin yang cebokin tuh anak. sementara aku jadi pengamat dulu lah, belum siap aku jadi ibu-ibu yang tiap anaknya boker harus nyebokin! haha..My God! meski aku suka anak-anak, tapi untuk saat ini jangan sampe segitunya kali ya??!! intinya saya kaga mau nyebokin!
setelah nyanyiin lagu Silent Night akhirnya bagi-bagi kado…kado..dan Foto bareng.
pulang…dengan haru!!! aku melihat anak yang nunduk terus waktu mau kita tinggalin, dan waktu Peace Full mencoba menjabat tangan anak itu, anak itu kaga mau balas…MySpacemungkin dalam hatinya kaga mau berpisah kali ya?!!!
yaaa….aku pun pulang!!! sampai jumpa lagi ya!!!!! MySpace
———————————————————————————————————IIIIIIII

liat dulu deh..foto-fotonya..haha…

Foto aku nih (MySpace)  mampang!!!!!!


Ini waktu menyanyikan lagu Silent Night..:’)


Bagian yang genjreng-genjreng…MySpacehaha..


Ini nih..Pak Doraemon sedang membagikan soda pada anak-anak, yah kaga mungkin kan membagikan Soju pada anak-anak “SODA saja”!! MySpacemeski aku hanya mencicipi, dan langsung meneguk aqua.


kya~~ ini fotO barengnya~~ tapi aku kaga keliatan dengan jelas..MySpacega apa deh!!
———————————————————————————————————————III>

nilai kehidupan yang dapat aku ambil dari rangkaian cerita di atas,
1. Banyak anak yang kaga seberuntung aku, pokonya jauh dari bayanganku dah!MySpace
2. Kaga boleh bersikap egois, kita harus saling berbagi pada sesama MySpace
3. Sekali lagi temanku tambah banyak, dan kaga boleh membeda-bedakan teman! MySpace

Gumawo semuanya, aku bahagia!!MySpace


Go-ing Go-ing Rumah Sakit Jiwa!!!

Rumah Sakit Jiwa Surakarta Pertanyaan awal untuk kami,”Apa misi kalian ke RSJ?”

1. Kami adalah mahasiswa yang super ingin tahu segala sesuatu

2. Kami ingin bersahabat dengan manusia gila

3. Kami ingin mengenal mereka

4. Kami ingin tahu kinerja rumah sakit jiwa itu seperti apa? Bagaimana? dan bisa-bisanya jadi gila? Ah..bagaimana kondisi dokternya? Gila juga-kah?

5. Kami ingin konsultasi “Kenapa nilai kami jelek pada mata kuliah teori sastra?” padahal kinerja belajar kami jauh lebih keras daripada mata kuliah lainnya. Mumpung gratis untuk mahasiswa tetangga, jadi konsultasi asal-asalan.

6. Mungkin aja dapet jodoh —-> Model pemikiran Nyut-nyut, teman sejawantahku yang gila sepak bola, ee..maksudnya ingin sekali punya pacar pemain sepak bola, mari-mari..”DIOBRAL!!!” di sini aku bantu ngobral. Maaf bagi yang waras tidak boleh mendaftar!

7. Kami ingin tahu tanda-tanda orang gila terselubung.

8. Lebih jelasnya kami jauh lebih berpengalaman daripada dosen yang mengajar kami dalam mata kuliah Psikologi Sastra, karena kami melakukan terjun langsung. Jiakakak…dipalak dosen!! Just Kidding..yang ngomong bukan penulis tapi merekam dari mulut ke mulut..tanya dosen Foklor pasti tau tuh dari mulutnya siapa ke siapa! Sip banget buat penelitian skripsi!

9. Menambah wawasan, mengingat wawasan yang kita rasakan langsung jauh lebih baik daripada membaca sebuah buku. Maka dari itu kami sangat penasaran!! Akibat dari membaca-maka diharuskan praktik seadanya. (Menurut pengalamanku waktu semester 1, pas Materi Sejarah Kebudayaan Indonesia seperti ini, jadi masalah jalan-jalan sekaligus nambah pengalaman baru itu sangat penting untuk nutrisi otak).

10. Mungkin aja setelah kedatangan kami, pasien-pasien berpenyakitan mental pada sembuh semua dan dokter jiwa tidak dibutuhkan lagi!! Kyaa… mengingat misi pribadiku (Menghidupkan orang mati, sama artinya dengan menumbuhkan semangat para orang yang mati segan hidup pun bergelantungan). Kalau udah kejadian begitu muridku nanti bakal banyak, rumah sakit jiwa tidak ditemukan lagi di dunia Indonesia, khususnya Solo dan sekitar kampus UNS saja. (Jual mahal) 😀

Namanya manusia kalau baru pertama merasakan sesuatu yang baru pasti bakal kelihatan seperti manusia tolol sedunia-akhirat, rasanya nih muka-muka berhidung, bermata, beralis dan berpersonil-personil lainnya tuh mendelep semua. Masih ingat bukan? Musuh terberat di dunia ini adalah tukang siomay, tukang parker, tukang hek, pokoknya mas-mas belagu bin sapi. Baru awal-awal kami harus memberantas salah satu dari mas bin sapi, yaitu mas parker.

Nih, nih…kami udah mulai dicurigai. Dilihat dari tampang bin tampang kami nggak satu pun menunjukan mahasiswi kedokteran kecuali “aku”, mana lagi jas putih juga nggak makai alias nggak gablek. Begitulah kami nekat! Nekat masuk RSJ, lebih tepatnya menyelundup. Kami berjalan, terus sampai lorong demi lorong kami lalui bersama. Oia..kami berempat, ada Aku, Nyut-nyut, Dip-ha, dan Mon-mon.

Pandangan awal itu sejuk karena memang banyak pohon, lalu lantai bersih, pokoknya nih rumah sakit bersih deh. Gumun sangat!!! Bersih!!! Sungguh!! Kalau nggak percaya coba-coba datanglah!!! Makin ke dalam baunya kok nggak enak ya?! Sumpah!! Nggak tau bau apaan, obatkah? Tapi yang jelas baunya nggak seperti bau-bau di rumah sakit umum. Ini salah satu yang bikin kami penasaran juga! Bau apakah gerangan? Pasiennya nggak pada mandikah? Atau dokternya ngeramu jamu gendong? (pelecehan banget) Cuma bercanda lho ya, pak dokter!!

Teng..teng…nganterin dua temanku sholat, saat menuju mushola berpapasanlah kami dengan perawat-perawat “magang di sana” nah! Nah! Nyut-nyut hampir saja terjungkal gara-gara melihat perawat ganteng. Woakakak.. mati gaya deh! Yang penting aku dan dua temanku ketawa puas.

Sampailah di mushola, nunggu beberapa menit, dan keluarlah mereka berdua, keluar pulalah seorang dokter yang lumayan tua. Wah, sayang banget deh! Kenapa nggak ganteng?? Haha.. penurut pengalaman penglihatanku dokter cowok itu pasti ganteng, siapa? Dokter Adi yang meriksa aku dulu? Woakakak…#ditendang banteng.

Sumpah serapah kami sumbangkan kepada angin yang menyalurkan frekuensi ke telinga kami. Demi banteng yang entah kapan bakal nyeruduk tuh bokong dokter, pas makai sepatu tuh kedengaran “Tuttttttt” ampun!!!! Petir di siang bolong berkumandang! “Ttuuuttttt” mantep banget deh! Kembali lah kami melewati jalan yang sebelumnya, tapi melakukan belok sedikit. Sepertinya juga ada yang agak curiga dengan kami, bapak-bapak yang berpapasan dengan kami dan orang gila yang tiba-tiba melihat kami dari dalam. Waras dan nggak waras sama-sama mempopulerkan kami!! 😀 ihirr… seperti artis.

Ternyata apa yang kami dapatkan belum memenuhi standar misi kami, karena kedatangan kami hari ini memang mendadak dan tanpa tadang aling-aling kenalan. Jadi berniat masuk lagi ke RSJ dan menjalankan misi kami sebaik-baiknya. Nekat itu adalah modal utama orang sukses!!! Woakakakak…

Ini fotoku waktu di RSJ, yang kephoto Cuma aku doang dikarenakan latar tidak mendukung berphoto ramai-ramai. Takutnya nih kami dicurigai. Itu karcis parker sebagai bukti kami penjelajah jiwa-jiwa malang. Intinya kami belum puas dengan rasa penasaran!

Hong Kong atau Hing King??

Aku selalu bersemangat kalau ada yang ngajak jalan, apalagi kalau rame-rame. Pilih berdua atau rame-rame? Aku bakal pilih yang rame-rame. Daripada berdua lebih baik sendiri saja? Apa itu namanya? Kalau ramai-ramai, namanya ngepet; kalau berdua, namanya ngepret; kalau bertiga, namanya ngetek; nah! Kalau sendiri, namanya kemerdekaan selalu menyembul di otak kanan dan digodain tukang siomay itu pantangan yang paling menjijikan. Itulah efek sampingnya kalau sendiri, perasaan hanya pingin bacok penjual geje. Haha..nggak nyambung banget. Pokoknya jalan, berapa pun gundulnya nggak masalah.

Seorang teman, namanya Ayu Feb, calon dokter, denger-denger nih cita-citanya pengin jadi suami pemilik rumah sakit. Kalau cita-cita seperti itu aku juga sedang memfokuskan doaku, “Semoga nanti suamiku seorang pemilik hotel berbintang 9..haha.. komat-kamit sambil jungkir balik.

karena kak Ayu lebih tua dariku, jadi aku resmi memanggilnya “BU DOK!” keren kan? Kayak nama korea-korea gimana gitu.

Hum..kami berdua berencana ke Hongkong, bisa dibilang bukan rencana, tapi sudah kesampaian. Kami berdua berniat merayakan Sin Cia di sana. Nah, untuk menuju ke tempat ada dua alternative, becak? Atau Taxi?? Akhirnya kami memutuskan untuk naik becak karena jauh lebih mahal dan romantis, apalagi saat itu air hujan sedang kejot-kejot dan betapa aku sangat terharu.

Di dalam becak kami bercerita, tapi Bu Dok lah yang lebih berpengalaman soal bercerita. Jadi aku banyak mendengarkan daripada mengeluarkan kata. Ceritanya Bu Dok itu macam-macam dan keren-keren. Bagaimana proses dia jadi dokter itu sangat luar biasa!! Sesuatu yang tidak pernah dan tidak akan aku lakukan, tapi Bu Dok lakukan dengan penuh jiwa kesabaran yang tinggi. Kalau dipegang lembek dan kenyal, bentuknya panjang, berjenis kelamin jatan dan betina. Begitu nikmatnya Bu Dok makan cacing tanah, oh seksi sekali!! aku sih angkat tangan, lebih baik makan sapi panggang daripada disuruh makan cacing. Tapi betapa pula aku sangat kagum dengan Bu Dok karena Cacingnya itu.

“Kita sampai!!! Hongkong!!!!!” teriak kami bersama. “Ciiaaauuuu!!!!” tiba-tiba tiga sosok manusia turun dari langit sebelum malam puncak Sin Cia,”gedebuk..gedebuk..gedebukk..” kami berdua hanya melongo.

Perkenalkan, ada Jie” Mayla, Billy, dan Whawan. Tiga pendekar barongsai muncul dengan seutas tali rapi-ah. Perlu aku perkenalkan mereka? Tidak! Oh, mau kenal yah? Oke..oke..Mari dimulai dari paling tua ke yang paling muda di antara mereka bertiga. Jie Mayla, cewek berambut sebahu dengan baju kuning; Billy, kaos merah barongsai; Wawan, kaos putih. Kalau di urutin===> Bu Dok+Jie Mayla—Billy—Aku—Wawan.. kira-kira aku bukan masalahin umur lho ya?? Karena ini untuk membuat paramida barongsai nanti. Mulai dari Wawan + Bu Dok di bawah–> Cici Mayla+Billy di tengah–> aku di atas sambil nyium Barongsai!!! YAYY..Ckckck.. niatku dari rumah gagal, itu tidak terkabul. Hiks! Tapi nih ngomong-ngomong kami udah seperti Power Ranger yah?? Ada kuning, pink lurik-lurik, merah cap barongsai, merah dan putih.

Oke..

Jasa tukang lobak sudah selesai. Kami berlima nonton barongsai sampai larut. Mata kejut-kejut, perut mudeg-mudeg, ternyata kita Cuma bisa berfoto dengan kepala barongsai. Kepala saja! Fu..fu..

Pamer Foto-foto: