//
archives

Pixie Bell

Pixie Bell has written 44 posts for LADIES JOURNAL

P.S. I Still Love You

ba

Judul Novel: P.S. I Still Love You

Penulis: Jenny Han

Penerjemah: Airien Kusumawardani

Kategori: Roman, Remaja

Penerbit: Spring

Cetakan: Pertama, September 2015

Hal: 356 hlm; 20 cm

ISBN: 978-602-71505-3-9

        Fokus dari novel lanjutan To All the Boys I’ve Loved Before ini adalah hubungan Peter dan Lara Jean. Lagi-lagi kita akan dibuat penasaran dengan alur cerita garapan Jenny Han. Kali ini bukan surat yang menjadi fokus utama, tetapi vidio Peter dan Lara Jean yang tersebar luas di situs jejaring sosial.

        Kekacauan kali ini lebih memalukan dari sebelumnya, lebih memalukan dari pertemuan demi pertemuan dengan cowok-cowok yang sudah memergoki surat cintanya. Ini soal vidio yang dibuat meme teman-temannya yang iseng, ini soal vidio yang mirip adegan porno! Sungguh kacau!

        Salah satu surat cinta yang belum kembali ke Lara Jean juga mendatangkan cowok super tampan yang bakal jadi saingan Peter. Lara Jean pun kelabakan dengan perasaannya, juga rasa cemburunya pada mantan pacar Peter yang masih suka menggelayuti pacarnya itu.

        Dimulai dari persahabatan di masa kecil, rumah pohon, reuni, cinta, dan cemburu akan menjadikan akhir dari surat-surat ini bahagia. Kehidupan Lara Jean lebih berwarna. Cintanya kembali berkobar bersama seseorang yang masih ia cintai dan akan tetap ia cintai selamanya.

        Dari kedua novel ini, aku lebih suka yang pertama! Edisi kedua ini kurang greget, tapi cukup menarik untuk dibaca.

 

This slideshow requires JavaScript.

To All the Boys I’ve Loved Before

allc

Judul Novel: To All the Boys I’ve Loved Before

Penulis: Jenny Han

Penerjemah: Airien Kusumawardani

Kategori: Roman, Remaja

Penerbit: Spring

Cetakan: Pertama, April 2015

Hal: 380 hlm; 20 cm

ISBN: 978-602-71505-1-5

 

        Lara Jean, anak kedua dari keluarga Song. Dia memiliki kakak perempuan bernama Margot dan adik perempuan bernama Kitty. Dia juga memiliki surat-surat cinta yang ia simpan di dalam sebuah kotak topi pemberian almarhum ibunya.

        Setiap kali dia jatuh cinta, dia akan menulis surat dan menyimpan surat itu di dalam kotak topi. Dia hanya menulis itu untuk dirinya-sendiri tanpa berniat mengirimkan surat-surat itu kepada cowok-cowok yang membuatnya jatuh cinta.

        Kepribadian Lara Jean ini terbilang romantis dan agak kuno. Dia berlebihan terhadap hal-hal sepele, seperti pesan-pesan mungil yang diselipkan di dalam loker. Tentu, dia mendambakan sosok cowok yang bisa membuatnya terbang melayang.

        Ceritanya sangat menarik untuk dibaca, apalagi waktu surat-surat itu  terkirim ke orang-orang yang pernah membuat hati Lara Jean tertambat tak karuan. Satu demi satu cowok itu menghampiri Lara Jean untuk mendapatkan sebuat penjelasan. Sampai salah satu di antara mereka menjadi pacar pura-pura Lara Jean.

        Hidupnya mulai kacau, dia tak percaya Margot yang dikenalnya sangat kuat di antara keluarga Song, menangis terisak-isak dan ternyata dia tak mengenal sepenuhnya sosok Morgot selama ini. Sungguh Lara Jean terkejut ketika membaca buku harian Margot. Di lain sisi, Margot telah mengetahui bahwa Lara Jean mengirim surat cinta ke pacarnya yang bernama Josh.

        Ada satu momen yang paling aku suka, yaitu ketika Lara Jean bersepeda dengan terburu-buru ke rumah Peter hanya untuk berkongsi soal kontrak bahwa mereka pura-pura pacaran. Rasanya cerita di dalam novel ini ada di kehidupan nyata. Bener-bener respon gelisah yang cukup bikin emosional pembaca. I like you, Jenny! That’s great!

        Alur cerita dari novel ini juga membuat penasaran dan geram karena “siapa sih sebenarnya biang keladi yang mengirimkan surat-surat cinta Lara Jean?”  “Siapa sih yang sebenarnya membuat kekacauan?”

This slideshow requires JavaScript.

Love Disorder

IMG_3421

Judul Novel: Love Disorder

Penulis: Clara Canceriana

Kategori: Roman

Tebal:

ISBN-10: 98-602-997-92-5

Cetakan: ke I

Penerbit: Bentang Belia

Hm.. Hai

Kali ini aku bakal merekomendasiin novel yang cute banget buat kalian.

Jika kalian suka banget cerita tentang anak fakultas kedokteran yang jadi tokoh utamanya, nah, Love Disorder ini cukup nyentrik buat dibaca. Daan.. aku agak heran deh, kenapa kalau anak kedokteran pasti lawannya anak sastra? haha..

Tokoh utama di cerita ini namanya Troy dan Patricia. Troy ini anak kedokteran sedangkan Patricia ini anak sastra. Ceritanya simple mengenai cinta pertama Patricia yang dipertemukan kembali dengan Troy di Universitas.

Karakter Troy ini cukup bikin geregetan yah, soalnya salah satu kebiasaannya itu enggak mandi dan langsung ngampus. Pokoknya jangan bayangin dia itu keren dan populer deh! haha..

Karakter Patricia ini juga gemesin, kenapa sih ada cewek kek gini? bisa dibilang agak bandel dalam per-move on-an. Dia ngejer-ngejer Troy gitu deh! Nggak bisa bayangin anak sastra masuk ke fakultas kedokteran. Yeah, menurutku suasananya anjlok banget gitu deh, super nekat.

Oh, ya ada peran yang cukup ngebantu banget buat hubungan mereka berdua. Anak kecil, namanya Tiara. Dari novel A sampai novel Z, kalau ada anak kecil pasti hubungan mereka % bakal berhasil.

Novel ini bakal menyuguhkan kamu hal-hal berbau medis karena sorotan utama di sini adalah Troy. Kamu juga bakal tahu kebiasaan-kebiasaan jadi mahasiswa kedokteran di novel ini. Bagaimana kesulitan Troy membagi waktu antara menjaga keponakannya, cinta, kuliah, dan jurnal? Kamu bakal tahu konfliknya melajur runtut dan bikin treyuh.

This slideshow requires JavaScript.

DEADLINE!!! :O

IMG_9673

Finally, I can rest for a few hours… fuh!

I would spend at least an hour to write on the blog every day or once a week… ember! haha

You understand, right? How short and agile rotating clockwise in your room? that’s if you have a clock in your room lol

I will show my job lately spend my energy, work that really makes my body balanced nutrition in reduced approximately 79.999%, because it probably will not be any cute guy like Osamu Mukai are interested in me. I was far from the word “sexy”, sometimes it makes me sad T_T

I just received a shipment today from the publisher, so next week I’m very busy T.T

IMG_9671

I wrote about sociolinguistics.

I wrote about the language of the human who has a feminine and masculine gender, and because the book of Mrs. Esther full up like a snowball from the top of Fuji rolling until Tokyo, so I learned all about Queer language.

This is actually very simple, but suddenly became very silly when it should be linked with a figure of stylistics and proverbs. It’s unfeeling! Uh! As though picking up beads at the zoo and be in a place the animals are dragons (OMG! What is english word for KOMODO? Dragons yaebo? Haha.. :3 :3 :3 meuw! ). Komodo very interested in Blood thirsty woman! ><

Interesting, cool, and very punk rock when reading Japanese comics aka manga. So all the things I mentioned above, all connected to the manga. Hahaha… like you get into the bath ball turns out it’s not just for kids, but you also have to meet with a peers and so badly when you also have to meet with people who are already over-edition…Oh My GOD!

Well, you know the manga a lot of the types?! For those who like to eat the manga would have understood, if not…

You must be confused with like that and you need to really read my research haha

So, please read my research, ladies and gantleman throughout the country !!!

Ahah, if you need my research, you also have to translate my research for your friends ^_^

Thank You! ^^

————————————–>>>>>> terjemahan bahasa Indonesia non-formal

Beberapa jam akhirnya gue bisa rehat sebentar, ahuy! ahuy! oh, yes!

gue bakal ngeluangin waktu setidaknya satu jam buat nulis di blog tiap hari atau seminggu sekali ajaaa hehe..

Ngerti kan? Betapa pendek dan lincahnya jarum jam yang muter di kamar lu? Itupun kalau ada.

Gue bakal ngelihatin pekerjaan yang akhir-akhir ini nguras tenaga gue, pekerjaan yang benar-benar bikin skor gizi di badan gue berkurang sekitar 79,999%, gara-gara ini mungkin nggak ada cowok imut sekelas Osamu Mukai yang tertarik ngeliat gue. Gue emang jauh dari kata seksi, kadang-kadang itu bikin gue sedih.

Tet.. tot… tet…

Gue nulis tentang kajian ilmu sosiolinguistik.

Gue nulis tentang bahasa para manusia yang punya gender (Feminin & Maskulin), dan karena buku dari Mrs. Esther lengkapnya sampai sebesar bola salju dari puncak Fuji yang gelinding sampai Tokyo, gue jadi sekalian belajar tentang Queer language.

Sebenernya ini sederhana banget, tapi tiba-tiba jadi konyol banget pas harus dihubung-hubungin sama majas dan peribahasa. Rasanya! Uh! Bagaikan mungut manik-manik di kebun binatang dan parahnya binatang itu komodo. Haus darah wanita deh pokoknya!

Menarik, keren, dan punk rock abis pas ngadepin komik Jepang alias manga. Jadi yang gue sebutin di atas, dihubungin semua ke manga. Hahaha… ibarat lu tuh masuk ke pemandian bola yang ternyata isinya bukan cuma buat anak-anak, tapi lu juga harus ketemu yang namanya temen sebaya dan parahnya ketemu sama orang-orang yang udah over edition. Itu nggak banget! Yah, lu tahu kan manga banyak banget bala kurawanya?! Bagi yang doyan makan manga pastilah udah paham, kalau belum…

Well, lu pasti bingung dengan ibarat itu dan lu perlu banget baca penelitian gue haha

So, baca penelitian gue ya ladies and gantleman di seluruh pelosok negeri!!!

Ehem, kalau perlu penelitian gue, lu terjemahin juga buat temen-temen di negeri lu!!!

Jangan Berhenti Menulis, Jika itu Memang Gairah Terbesarmu!

Halo! Saya menambah kategori di home page saya ini, tentang serba-serbi menulis.

Mungkin pembaca bertanya-tanya kenapa saya selalu mengubah-ubah kata ganti orang pertama dengan “saya, aku, dan gue”, alasannya saya hanya ingin berakrab ria dengan pembaca ketika menceritakan tentang keseharian saya di kategori Dan Boek Van Tjang, kata ganti “aku” saya hanya menggunakan itu di pembahasan-pembahasan yang ringan, dan “saya” pembahasan yang agak formal dan semua kalangan dari segi umur dapat menikmati dengan nyaman.

Saya menulis ini untuk memberikan inspirasi saja karena pada dasarnya saya hanya seorang blogger dan bukan seorang profesionalis dalam hal menulis cerita baik novel maupun cerpen. Saya hanya seorang yang kebetulan terperangkap di ruangan penuh bacaan sehingga tiba-tiba saja tidak tahan ingin mengeluarkan pijaran-pijaran konyol di pikiran saya.

Saya mengamati dan gemas atau istilah lain yang saya suka “geregetan” pada penulis-penulis pemula maupun yang sudah agak mahir datang ke seminar-seminar tentang kepenulisan yang kadang-kadang diadakan di kampus. Sungguh! Ini luar biasa, antusiasme mahasiswa-mahasiswi yang memiliki hobi menulis ternyata sangat tinggi! Hal ini sekaligus menyudutkan hati saya, waduh saingan saya makin banyak nih!

Hal penting yang harus kalian ingat adalah jangan berhenti menulis, jika menulis memang gairah terbesarmu! Hmm.. perlu diingat juga, kamu tidak perlu banting setir dari jurusan kedokteran ke jurusan sastra, jika memang kamu ingin menjadi penulis. Siapapun bisa menulis!!!

Kebetulan saya salah satu mahasiswi dari jurusan sastra, tapi saya mengambil fokus di bidang bahasa. Kalian mungkin membayangkan dunia saya sangat menyenangkan, asik, dan begitu menggairahkan, ha! Kalian salah besar.

Salah satu teman saya sempat meracau di kantor dosen beberapa waktu yang lalu,”Ini kan jurusan sastra, kok kita tidak diajarkan menulis novel atau menerbitkan novel, tidak ada hasil!” saya pikir dia super gila, tapi 100% dia benar. Maksudnya mungkin dia ingin sekali ada satu mata kuliah yang mengajarkan tentang “teknik menulis novel dan cerita pendek sekaligus menjebol menerbit terkemuka di Indonesia”, sebenarnya kami mendapat materi kepenulisan di kuliah penulisan kreatif, tapi karena banyaknya teori yang harus dipelajari di perguruan tinggi, dosen lebih memprioritaskan “TEORI!” dan dia belum sadar ketika dosen mengadakan sayembara kepenulisan di Fakultas dan dosen saya pun agaknya masih minim kesadaran akan keinginan (lihat kembali huruf yang saya tebalkan!) dari membran otak anak super gila itu.

Membaca juga tidak selalu mengasikkan. Di fakultas sastra, saya tidak selalu dijejali bacaan-bacaan yang asik seperti novel-novel populer yang menjadi favorit anak muda. Bacaan bacaan sastra lama justru lebih mendominasi, lebih parah lagi itu masih berbahasa melayu, dan semakin parah buku sastra itu hasil fotokopian buku yang juga hasil dari fotokopi buku asli atau entah buku fotokopian juga. Parah kan! Tapi, saya sadar ini salah satu pembentukan karakter tulisan-tulisan saya.

Buku apapun harus dibaca di jurusan sastra, baik fotokopian maupun asli! eh, maksud saya ini menyangkut keberuntungan kalian untuk mencapai peruntungan di perpustakaan. Buku-buku tidak lengkap karena saya kuliah di universitas jajahan pemerintah, jadi saya tidak pernah menaruh harapan lebih seluruh buku di toko Gramedia nangkring semua di perpustakaan universitas! Jika harapan itu jadi kenyataan, mungkin semua sudah berbasis teknologi telepati.

Nah! Sekarang apakah kalian paham? Calon yang orang-orang anggap “sastrawan” itu harus memakan apapun buku, tidak hanya sastra, tidak hanya teori sastra dan bahasa, dan tidak hanya bergelut pada dunia teater yang orang-orang pikir,”apa lu pengen jadi artis? Heh? Nggak laku deh kalau lu nggak bertampang kebule-bulean! Yang ada maho!”, sekaligus mendengar cercaan-cercaan manis dari para tetangga yang membuat semakin minder, menciut, dan teranaktirikan di pojokan kamar mandi universitas.

Anak-anak di jurusan sastra dituntut untuk meninggikan daya keintelektualnya dalam berpikir dan tidak hanya sekedar omong kosong prasoal kepraktisan di masyarakat. Kegunaan kami memang tidak terlihat gamblang seperti dokter yang rela banting tulang untuk meraih rekor muri BPJS dari Presiden supaya anak-anak mereka bisa makan atau bahkan pengusaha yang dapat menggumpulkan dolar versi rupiah di gedung DPR. Kami begitu sulit untuk melakukan itu karena kesempatan untuk melakukan itu 0,01% dari keahlian kami yang sesungguhnya.

Tingkat kejujuran kami bukan berdasarkan uang! Ngomong-omong soal derajat keuangan, saya pikir tidak akan setinggi keadaan debitur seorang Syahrini. Kami memang sering manggung dan begadang siang malam, tapi sekali lagi itu hanya dibayar sekocek kebahagiaan semata oleh bumi yang semakin cepat berotasi. Kadang-kadang saya dibuat mual karena terus berlarian mengejar matahari terbit, secepat saya berlari, secepat pula matahari itu tenggelam meskipun kelihatannya sudah jam 12 siang, matahari tidak benar-benar di atas saya, yang saya andaikan dapat mengambilnya lalu melemparnya ke bulan.

Normalnya, kalian akan semakin banyak kata-kata konyol yang akan membuat tulisan kalian menjadi berlembar-lembar jumlahnya ketika kalian membaca berbagai macam buku.

Jika kalian perhatikan dari atas ke bawah, saya sebenarnya hanya ingin menulis satu kata yang dapat mewakili semua yang saya tulis yaituuuuuuu…. “BACA!” untuk menggairahkan semangat menulis kalian.

kalian boleh bertanya-tanya tentang kepenulisan kreatif yang ingin menjadi bahan diskusi 🙂

Selamat membaca! \^.^/

Your Names is Your Indentity

Holla Hello Guys! Long time ye? I’m back now.. HuuHaa!

Kali ini saya akan membahas soal karakteristik nama yang tidak terlalu pantas digunakan untuk umum secara semena-mena dan alasan untuk menggunakan nama itu tidak masuk diakal. Nama-nama di semua negara memiliki karakteristik yang begitu khas. Ada sebuah kutipan “apalah arti sebuah nama?” kalau boleh jujur, kutipan itu sangat menyakitkan hati orang tua kamu lho! Karena nama yang kamu miliki sekarang ini adalah nama yang mereka persiapkan sebelum kamu terlahir di dunia. Nah, kecuali kamu bener-bener ingin menyembunyikan identitas kamu ke khalayak, tapi pilihan nama populer pun harus sesuai atau tidak untukmu.

Ada dua karakteristik nama yang bisa digunakan oleh semua orang di berbagai negara, yakni nama Arab dan nama barat. Jika kamu bukan orang Saudi Arabia (Ah.. semua pelosok Timur Tengah) atau kamu bukan orang Barat, kamu bebas menggunakan nama-nama yang berasal dari kedua negara itu. Pada dasarnya orang tua memberikan nama kepada anaknya dengan melihat latar belakang agamanya. Nama-nama yang diambil dari nama-nama orang dari negara asal agama pertama kali itu muncul, justru nama yang wajib dimiliki oleh beberapa pihak (keluarga atau gereja)

Nama-nama berlatar agama yang banyak dipakai oleh orang Indonesia biasanya adalah nama-nama yang berasal dari Timur Tengah dan Barat. Karakteristik nama-nama berlatar agama justru menjadi indentitas yang cukup membanggakan bagi kaum mereka. Saya akan menjelaskan satu demi satu:

Pertama, Jika kamu bertemu dengan orang Indonesia bernama “Muhammad Fajri” atau “Ahmad Sholiqin” atau “Faradiba Yunan” jangan kaget kalau dia bukan orang Arab atau seorang keturunan dari Timur Tengah. Nama-nama itu menandakan identitas agama mereka. Mereka itu adalah seorang Muslim.

Kedua, Jika kamu bertemu dengan orang Indonesia bernama “Emelia Fransiska” atau “Carolina Maryani” atau “Feronica Wijaya” atau “Antonius Cahya” jangan kaget kalau mereka bukan orang Barat atau seorang keturunan Barat. Nama-nama ini menjadi penanda latar belakang agama mereka sekaligus kewarganegaraan mereka. Nama baptis menjadi kewajiban yang harus dimiliki  seseorang yang memiliki agama Christian-Katolik. Pemberian nama baptis begitu penting oleh pihak gereja karena nama-nama itu menandakan seberapa banyak kaum mereka yang nantinya akan terdaftar di pusat. Jadi nama-nama barat yang mereka pakai ini adalah semacam “tanda” umat yang begitu istimewa bagi mereka karena diambil dari nama-nama santo atau santa. Kelahiran dan kematian mereka akan dicatat, guys! Oleh pihak gereja yang akan dikirim ke pusat (Vatikan untuk agama Katolik).

Ketiga, seiring berjalannya waktu dan teknologi semakin merajalela ke kampung-kampung, kadang-kadang orang tua tidak paham asal nama “Fransiskus” atau “Fransiska”, kurangnya pengetahuan dan alasan karena nama itu terdengar begitu indah di telinga, saat ini nama-nama itu juga digunakan oleh Muslim. Hal ini tidak menjadi persoalan besar karena hidup di Indonesia itu kondisinya benar-benar plural.

Keempat, nama-nama yang diambil dari asal etnisnya. Nama-nama etnis begitu banyak karena di sini kamu bakal menemukan banyak etnis, seperti Jawa, Bali, Batak, Bugis, dan Betawi. Nama-nama ini mungkin tidak akan disadari oleh orang di luar Indonesia, tapi nama-nama ini begitu khas dan beberapa keluarga sangat bangga dengan marga mereka. Saya akan memberikan contoh:

“Luh” dan “I Made” dan “I Dewa Putu” jika kamu menemui kode-kode nama semacam itu maka kamu telah bertemu dengan orang Bali. Nama-nama ini begitu paten khas orang Bali atau bagi mereka beragama Hindu. Jadi sangat aneh dan tidak memungkinkan nama itu digunakan oleh orang di luar kaum mereka.

Nama-nama khas yang sangat aneh dan akan dipandang buruk jika digunakan dapat terjadi jika kamu bukan orang Batak dan tidak memeliki keturunan dari Batak, tapi menggunakan marga mereka. Misal: “Sihombing”atau “Situmourang” kode-kode nama ini sangat khas dan menjadi kebanggaan setiap keluarga. Jadi, jika seorang yang memiliki marga (family names) seperti ini, tetapi bukan orang Batak dan akhirnya diketahui orang asli Batak, itu akan begitu menyakitkan bagi mereka.

Nama-nama khas Jawa, kini tidak terlalu fanatik digunakan khusus oleh orang dari etnis Jawa, karena etnis tionghoa juga menggunakan nama khas Jawa di belakang nama baptis atau nama Barat mereka. Seperti, “Erika Budiman” atau “Joshua Raharja”. Jadi kondisi nama-nama etnis Jawa kini sudah merambah keseluruh lapisan masyarakat di Indonesia seperti halnya nama-nama Timur Tengah (misal: Saudi) dan nama Barat. Nama-nama Jawa yang dicampur dengan nama diluar Jawa ini sudah biasa dan dianggap wajar oleh semua orang.

Sebenarnya, saya menulis panjang lebar di atas untuk menjelaskan tulisan di bawah ini. Saya membaca postingan dari Japanese, yakni Tamura-san. Saya merasa dia merasakan sakit hati, jengkel juga, atau hal-hal yang bersifat manusiawi lah. Saya juga yakin Japanese lainnya juga pasti bertanya-tanya “kenapa kalian menggunakan  nama khas dan marga kami?” Tamura-san adalah Japanese yang selalu berbagi bahasa Jepang kepada Indoensian, dia sangat menyayangkan kondisi nama-nama yang digunakan oleh anak-anak dari segala negara (bagi yang di Indonesia, mohon diperhatikan ya!) yang menggunakan nama khas Japanese.

Nama-nama yang tidak pantas digunakan untuk umum secara semena-mena (atau bahasa kerennya: “Suka-suka gue dong!”) itu adalah nama-nama Jepanese dan Korean. Kenapa?

Sama halnya dengan nama orang Batak atau Bali, nama-nama khas Jepanese dan Korean memiliki karateristik yang sangat kuat sebagai identitas mereka. Jadi sangat menyakitkan jika mengetahui orang menggunakan nama japanese (dalam kasus ini), tapi pada kenyataannya orang tersebut bukan bagian dari mereka.

Keempat, karakteristik nama tersebut hanya contoh dari beberapa kasus di luar sana, saya mencontohkan nama yang tidak sembarang dicomot seenak jidat. Japanese, Korean, Batak, atau Baliness, semua nama mereka mengandung marga atau “family names”.

Kamu dapat memiliki nama-nama dari mereka, jika kamu akan tinggal (selama beberapa tahun), mungkin kamu bisa menggunakan nama depan dari Japanese, seperti “Yuki”, “Erika”, “Rina”, “Ken” nama-nama ini akan memudahkan orang jepang memanggil dan mengingat nama kamu, tapi katakan terlebih dahulu nama aslimu sebelum mengatakan nama Jepangmu kepada mereka sebagai wujud penghormatan. Kamu juga bisa menanyakan kepada Japanese “Nama Jepang apa yang cocok untukku jika nama Indonesiaku adalah Qusnul (misal)?” lalu kamu memberikan arti namamu pada mereka. Indonesian-Japanese memiliki lafal yang berbeda, jadi mereka jauh lebih senang memberi tahu arti namamu versi Jepang daripada mendengar nama Jepangmu yang kurang pas.

Kamu akan mendapatkan marga atau nama keluarga (Family names) jika kamu menjadi anak adopsi atau menikah dengan orang Jepang. Saya tidak tahu prasoal nama Jepang untuk imigran yang tidak memiliki hubungan keluarga, apakah mereka juga menggunakan full name versi Jepang atau tidak. Jelasnya, menikah dan menjadi anak adopsi menjadi titik terang jika kamu ingin mendapatkan family names dari Japanese. Anak adopsi bukan hanya seperti kamu harus berada di panti asuhan terlebih dahulu, tapi kamu seorang mahasiswa yang tinggal satu rumah dengan orang tua asuh dari Jepang (haha.. sepertinya jarang terjadi, tapi saya pernah mendengar dari teman sejawat yang sangat beruntung karena dia bertemu dengan orang tua asuh. Orang tua asuh, anda bisa mendapatkan jika tinggal di Indonesia atau di Barat, jika kamu seberuntung kakak sepupu saya sih).

Coba bayangkan, kamu jelas-jelas tinggal di Indonesia (Oke, tidak hanya di Indonesia kasus ini terjadi) sekaligus orang Indonesia tulen, tapi menggunakan nama versi Jepang? Kamu juga menggunakan identitas palsu seperti tinggal di Jepang yang kamu cantumkan di situs jejaring, bahkan berbahasa Jepang pun kamu tidak mampu, selain itu mencampur aduk nama-nama Jepang menjadi satu sehingga memiliki arti yang sangat aneh. Itu akan sangat menyakitkan jika Japanese mengetahui “siapa kamu?” “di mana kamu?”, untuk alasan “mengapa kamu” menggunakan nama nyeleneh bin ajaib itu tetap akan sangat menyakitkan karena kalian menggunakannya tidak sesuai dengan karakteristik mereka, bahkan ini akan “booms” bagi Japanese. Ledakan penduduk Jepang terjadi di salah satu situs jejaring, tapi tidak sesuai dengan kenyataan di pulau mereka. Apakah kalian tidak pernah memperhatikan itu?

Japanese juga tidak akan merubah nama mereka ketika berada di Indonesia, jika mereka ingin mengubah nama mungkin mereka bisa melakukannya, tapi kebanyakan dari mereka tidak merubah nama mereka.

Indonesian cukup jelas jika harus melafalkan nama-nama Jepang, karena semua konsonan dan vokal Japanese juga dimiliki oleh Indonesian. Jadi, Japanese akan lebih senang jika mereka mendengar nama mereka dilafalkan dengan jelas oleh Indonesian.  Tapi, guys! Ini akan sangat berkebalikkan jika Japanese melafalkan nama Indonesian, mereka tidak cukup ahli dan butuh waktu untuk melafalkan konsonan yang berdiri di belakang konsonan-vokal, seperti (k-v-k-v-k) “Karno” [kar] [no] ini akan terdengar aneh jika diucapkan “karono” atau “Karuno” bagi Indonesian.

Indonesian yang menggunakan nama Japanese di SosMed tidak perlu berkecil hati karena Japanese ternyata tidak menyukai kehebohan nama kalian (istilah kerennya kalian ini mem-PHP-in atau memberi harapan palsu pada orang Jepang) haha.. penduduk Jepang benar-benar meledak berkat kalian.

Kebudayaan yang berbeda akan mendapatkan respon yang berbeda pula. Saya sangat paham kalian menyukai “anime” dan hal-hal yang berbau Jepang. Jepang membawakan sesuatu yang begitu menarik di dunia luar, mereka juga tidak menyangka efeknya akan seperti ini. Japanese membuat ini dan itu sebetulnya untuk konsumsi kalangan mereka pribadi, tapi sekarang kan modelnya “student exchange”, “culture studies” istilah itu selevel sama “ekspor-impor” ya, kan? haha

Kesimpulannya, kepada Indonesian jika sudah mengetahui hal ini, mohon hormati Japanese. Sedangkan untuk Japanese mohon dimaklumi apapun yang dilakukan Indonesian karena efek dari karya-karya kalian. Tetaplah menjalin hubungan yang baik J

Suka Berkutek, Ladies?

Hello Ladies…
Aku nggak tahu apakah semua wanita itu menggemari kutek, terutama memakainya. Aku hanya berpikir wanita perlu mempercatik ujung jari-jari lentiknya. Ini kutek baru yang aku dapatkan kemarin, lucu banget kan bentuknya? Hoho.. warnanya aku pilih warna favoritku, merah dan hitam, oke karena aku sudah punya warna oraye bening dan oraye pastel 😀

 

NaiL Polish

 

*/Red: NINE Nail Polish/Black: Mukka Nail Polish/*

Semiotika Unsur Langue dan Parole Roland Barthes

1. Semiotik dalam Linguistik

           Konsep Saussure yang paling penting adalah langue/parole. Ketika linguistik disibukkan oleh usaha mencari sebab-sebab perkembangan bersejarah dalam perubahan ucapan, asosiasi spontan, dan tindakan yang sejalan dengan itu, yang dengan sendirinya ketiganya merupakan linguistik individual. Saussure mengembangkan konsep tersebut, yaitu memulai dengan sifat bahasa yang “berbentuk jamak dan beragam”, yang pada pandangan pertama tampak suatu realita yang tidak dapat dikelompok-kelompokkan.  Manusia seolah-olah tidak akan menemukan kesatuan di dalam realita, karena realita itu sekaligus bersifat fisik, fisiologis, psikis, individual, dan juga sosial.

           Kekacauan realita itu dapat hilang apabila semua keragamannya dapat disarikan menjadi suatu objek sosial murni dan membentuk kesatuan sistematis dari konvensi yang memang perlu untuk komunikasi. Bentuk kesatuan sistematis mempunyai unsur pokok, yaitu langue dan parole. Langue adalah suatu objek yang tidak tergantung dari materi pembentuknya. Parole adalah bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bunyi, realisasi aturan-aturan, dan kombinasi tanda-tanda yang terjadi sewaktu-waktu).

Langage – Parole = Langue (suatu institusi sosial sekaligus sistem nilai).  Sebagai sistem sosial, langue sama sekali bukan tindakan dan tidak direncanakan sendiri. Individu tidak dapat membuatnya sendiri dan tidak dapat mengubahnya karena dalam membentuk langue perlu diadakan perjanjian bersama. Apabila orang ingin berkomunikasi, maka ia harus mengikuti keseluruhan perjanjian itu. Selain itu, produksi masyarakat ini bersifat otonom, seperti permainan yang mempunyai aturan-aturan sendiri: orang tidak dapat menggunakannya kecuali setelah mempelajarinya.

Parole merupakan suatu tindakan individual (seleksi dan aktualisasi); awalnya terdiri dari kombinasi. Berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat menggunakan kode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiran pribadinya. Dalam hal ini parole disebut juga sebagai wacana.

Parole juga merupakan mekanisme psiko-fisik yang memungkinkan menampilkan kombinasi itu. Cara pengucapan tentu tidak dapat dikacaukan oleh langue. Institusi maupun sistem tidak mampu merubah apabila individu berbicara dengan suara keras atau lemah; secara lambat atau cepat; dan seterusnya.

Aspek kombinasi parole terdiri dari pengulangan tanda-tanda yang sama, berkat perulangan itu tanda-tanda dari wacana satu ke lainnya atau dalam satu wacana (kombinasi secara tak terbatas), maka tanda merupakan unsur langue.

Selain itu parole juga merupakan suatu kombinasi sehingga ia berkaitan dengan tindakan individual dan bukan semata-mata suatu kreasi.

 Lange dan parole tidak mempunyai makna sepenuhnya kecuali adanya proses dialektik, yaitu menghubungkan satu diantaranya; tidak langue tanpa parole dan tidak ada parole tanpa langue. Hubungan inilah terletak aktivitas linguistik sebenarnya.

2. Perspektif sosiologi atau pandangan sosiologis

        Pada dasarnya langue dan parole tidak dapat dipisahkan. Mengingat parole merupakan unsur pembentuk langue. Pemisahan yang dilakukan pada langue dan parole akan sia-sia pada sistem objek bergambar atau sikap yang belum dipelajari dari segi semantik.  Beberapa kelompok fakta dapat di masukan ke dalam kategori langue dan yang lainnya masuk ke dalam kategori parole. Dengan kata lain konsep semiologis yang dibuat oleh Saussure telah diubah. Misalnya kata busana. Ada tiga sistem berbeda berdasarkan realita yang digunakan dalam komunikasi.

Pertama, busana yang tertulis digambarkan oleh suatu majalah mode dengan bantuan bahasa yang diucapkan. Hal ini merupakan langue karena busana yang digambarkan tersebut terkadang tidak menggambarkan realitas individu yang mengucapkan.

Kedua, langue tersebut tidak mungkin ada tanpa parole. Berawal dari masa yang berbicara tersebut, suatu kelompok mewujudkan ucapan tersebut ke dalam bahasa tertulis yang merupakan langue dan parole dalam tataran komunikasi adalah kata-kata.

Ketiga, dalam busana yang dipotret, langue tidak lagi muncul karena busana yang dipotret telah dipakai oleh seseorang. Mode yang ditampilkan oleh fotografer adalah keadaan busana yang semi-sistematis. Langue tercakup di dalam busana yang semu-nyata. Sedangkan pemakai busana adalah individu yang normatif yang dipilih karena memiliki sifat umum dan ia merupakan parole beku karena tidak memiliki kebebasan dalam kombinasi.

Perbedaan langue dan parole dalam busana tersebut

Langue

  1. Merupakan oposisi potongan-potongan busana, unsur-unsur yang rinci, dan variasinya menimbulkan perubahan makna.
  2. Aturan-aturan yang mendahului penyesuaian satuan-satuan busana, baik sepanjang tubuh maupun aturan tebalnya busana.

Parole

         Mencangkup cara-cara berpakaian yang bersidat individual meliputi ukuran baju, tingkat kebersihan, keusangan, kebiasaan pribadi dan lain-lain yang bersifat individu.

3.     Langue pada makanan

Langue makanan terbentuk dari:

  • Aturan-aturan yang mengucilkan, semisal larangan memakan suatu macam makanan). Sebagai contoh,  memakan coklat dapat membuat orang gemuk. Banyak orang yang menghindari makanan tersebut.
  • Oposisi yang mempuyai makna dari unsur-unsur yang masih harus ditentukan kemudian. (misalnya, oposisi antara rasa asin dan manis). Oposisi ini dalam arti perlu penjelsan lebih lanjut antara dua hal yang terasa mirip. Sebagai contoh rasa asin dan manis. Dua rasa tersebut jika didengar akan terpikir oleh rasa yang hampir mirip, akan tetapi keduanya memiliki rasa yang berbeda.
  • Aturan-aturan dalam asosiasi makanan, baik yang bersamaan (campuran dalam suatu hidangan, maupun yang berurutan, semisal menu). Lebih jelasnya, jika makan malam pasti makanan (ada sendok, garpu) dan ada hal-hal sebelum makan (cara memegang sendok yang benar). Di beberapa kota (kelas atas, kelas bawah) ada cara aturan makan yang menurut mereka benar, tidak halnya jika dibandingkan dengan orang biasa yang makan tanpa aturan, dalam arti tidak mencolok seperti orang berkelas atau urutan memakan sesuatu.
  • Protokol pengaturan makanan yang mungkin berperan sebagai suatu retorika makanan.

* Keterangan: hubungan antara langue dan parole saling berintraksi satu sama lain. Pembaruan-pembaruan individual dapat merubah nilai institusional. Seperti aturan-aturan yang menjadi langue, orang kelas atas, bawah, dan biasa memiliki aturan memakan atau cara memakan sendiri. Hal tersebut lama-kelamaan akan menjadi dasar untuk dijadikan norma yang harus dipatuhi.

 4.     Semiotik Secara Arbitrer

        Secara arbitrer, dapat ditemui perbedaan langue dan parole sebagai berikut, misalnya mobil dan perabot rumah tangga (mebel). Pada mobil, langue terdiri dari suatu kesatuan bentuk dan bagian yang detail namun strukturnya berbeda-beda seperti yang tampak pada berbagai prototipe (model asli). Disini jumlah parole sangat terbatas, karena kebebasan memilih model sangat terbatas, dalam satu model dapat  divariasikan dengan berbagai warna dan hiasan serta model yang ada hanya dua atau tiga model. Pelaksaan penggunaan langue dan parole dianalogikan pada waktu penggunaannya. Pada waktu penggunaan tersebut dapat diaktualisasikan berbagai bentuk yang berasal dari langue tersebut. Hal itu dapat melalui tahapan-tahapan tertentu dalam praktik penggunaannya.

Sistem terakhir yang akan dibicarakan, yaitu perabot rumah tangga (mebel), juga dapat menjadi objek semantik. Langue terbentuk dari aturan-aturan dalam menggabungkan unsur-unsur yang berbeda dalam tahap penyusunan ruangan (dekorasi). Sedangkan parole terbentuk dari variasi yang dapat dilakukan para pemakai pada suatu unsur.

5.  Sistem dalam Sosiologi Komunikasi Massa

Sistem-sistem yang paling menarik tercakup dalam sosiologi komunikasi massa, yaitu sistem yang kompleks. Misal, dalam film, televisi, dan iklan memiliki makna yang tergantung pada persaingan antara gambar, suara, dan tulisan.

Fenomena linguistik memegang peran penting, yaitu konotasi, perkembangan sistem makna tahap kedua, yang merupakan parasit dari bahasa sebenarnya. Sistem tanda yang kedua ini adalah langue, dalam hubungan ini berkembang wujud parole, idiolek, struktur ganda. Untuk menentukan kelompok wujud langue dan kelompok wujud parole memiliki sistem yang kompleks atau mengandung konotasi (kedua sifat tidak saling meniadakan).

Masalah linguistik tidak dapat diikuti lagi dan perlu diubah. Masalah pertama berkaitan dengan asal-usul sistem, yaitu dialektik antara lange dan parole. Lange dipersiapkan bukan oleh massa yang berbicara, tetapi oleh suatu kelompok penentu (pengambil keputusan). Tanda bersifat arbirer karena tanda merupakan buatan dan dibentuk oleh keputusan sepihak.

Mengenai “logo-teknik”, pemakai bahasa mengikuti bahasa, mengambil “pesan” di dalam parole, tetapi tidak turut mempersiapkan. Kelompok penentu yang menetapkan sistem (dan perubahan-perubahannya).

Bahasa-bahasa ditentukan oleh suatu kelompok, disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

  • Bila timbul kebutuhan-kebutuhan baru sebagai akibat perkembangan dalam masyarakat. Misal: perubahan pakaian semi-Eropa di negara-negara Afrika masa kini dan munculnya cara makan fast-food dalam masyarakat industri dan masyarakat urban.
  • Bila keperluan ekonomi menentukan hilangnya atau justru promosi bahan-bahan tertentu. Misal: kain tiruan.
  • Bila ideologi membatasi penemuan bentuk-bentuk baru menjadikannya tabu dan dengan demikian menyempitkan batas “normal”.

Persiapan yang dilakukan oleh kelompok penentu (para teknikus-logo) hanyalah istilah-istilah yang selalu lebih umum penggunaannya. Istilah-istilah itu merupakan imaji kolektif zaman tertentu. Jadi penemuan individual diatasi oleh keputusan masyarakat (kelompok kecil) dan kelompok itu mengacu pada makna akhir yang bersifat antropologis.

Daftar Pustaka

Panuti Sudjiman dan Art van Zoest, 1996. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

KETIKA KITA BERADA DI POSISI “KETLISUT”

Paginya..
Banyak sekali pelajaran hidup yang aku dapatkan hari ini. Puji Tuhan!!

Pagi tadi tidak seperti biasa karena mulai minggu lalu aku mngendarai motor ke kampus. Sebenarnya dalam hati agak berat, mengingat aku ingin mengajak teman-teman (rekan-rekan universitas) berjalan kaki atau mengayuh sepeda. 😦 (phonixku nganggur deh!)
mengingat juga udara panas sekali dan aku harus naik motor karena tempat kursus bahasa asingku jauh!!!
Hari rabu itu hari yang paling melelahkan
Pelajaran dimulai jam 7.30 WIB (tidak boleh terlambat 1 menit dan kelipatannya) dan berakhir jam 15.30 WIB.

Aku berjalan menuju kelas sastra mistik dan hanya menjumpai seorang teman. Waktu sudah lebih 5 menit, namun tidak seorang pun teman datang dan tidak ada tanda-tanda dosen datang. Beberapa menit kemudian seorang kakak tingkat datang dan dua teman sekelas. Kami berlima pun akhirnya berbincang-bincang mengenai jarkom, tugas, dan solidaritas.

Jaringan komunikasi yang buruk di kelasku, kami berlima tidak mendapatkan jarkom bahwa kelas hari ini kosong dan diganti pada hari senin jam kedua di kelas darmasiswa. Baru-baru ini kelas darmasiswa menjadi kelas favorit dosen, entahlah! Aku juga merasa nyaman jika kelasnya di sana. Haha..

Malam sebelumnya jarkom sudah menyebar, namun aku tidak kebagian, istilah jawanya ketlisut (haha). Ternyata di balik itu semua aku mendapatkan hikmah yang luar biasa. Aku bisa berbincang-bicang dengan kakak tingkat angkatan 2005 dan alumni sastra Indonesia angkatan 2005 yang sudah sukses (kebetulan sekali ya!).

Mas Opik, angkatan 2005 (alumni) dan Mas Wira, angkatan 2005. Dua orang yang berbeda dan mempunyai mindseat yang berbeda pula. Pengalaman mereka membuat aku berpikir ulang tentang kehidupan. Mas Opik berhasil lulus pada waktunya dan berhasil berbisnis sedangkan Mas Wira masih sibuk dengan skripsi dan berhasil lebih dulu di dunia kerjanya.

Apa sebenarnya tujuan kita? Itu adalah pertanyaan pertama yang ditujukan Mas Opik pada kami. Kita harus mempunyai tujuan jelas dalam kehidupan. Untuk apa kita kuliah? Untuk apa kita mendapatkan nilai bagus? Untuk apa kita selalu memperjuangkan IPK? Untuk apa kita bersosialisasi? Untuk apa kita harus mempunyai kepedulian dan solidaritas?

Prestasi adalah kebanggaan tersendiri setiap orang. Demi prestasi kita rela tidak tidur, lupa makan, sampai-sampai tidak peduli dengan teman. Prestasi (IPK tinggi) seakan seperti sampah ketika tingkat kepedulian kita NOL%. Banyak kasus di dunia pendidikan “Kita terlihat paling menonjol di antara teman-teman”, namun ketika di dunia kerja “kita hanyalah orang-orang kurang produktif karena keterbatasan jaringan.”

Sekarang apa permasalahnya? Selain berprestasi kita sebaiknya juga harus mampu bersosialisasi dengan orang lain, mempunyai jaringan bagus (mulailah dari teman sekelas) dan solidaristas itu penting.
misalkan saja,”apa susahnya kita menyebarkan info melalui sms?”, “seberapa mahalkah jika mengirim sms ke 5 orang saja?” kita kuliah tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian kita, cara pandang kita terhadap sesuatu hal, dan kebijaksanaan dalam menanggapi permasalahan.

Selain itu kita juga harus dituntut untuk ikut berorganisasi di kampus, di Universitas atau di luar (dalam bentuk organisasi). Hal itu intinya untuk membentuk mental kita di kemudian hari. Aku pun terdiam sejenak, benar-benar tak berdaya ketika disinggung masalah organisasi.

Mengingat-mengingat soal organisasi. Semasa SMP, aku aktif–masuk ke SMA keaktifanku berkurang–masuk universitas, keaktifan semakin berkurang dan pada akhirnya di semester 3, aku bilang “tidak suka berkumpul dan membuang waktu”. Aku sangat paham “individualis tidak berarti mengasingkan diri dari organisasi”, tetapi apapun bentuk organisasi yang selama ini aku ikuti sangat sangatttt tidak menghargai waktu. Jam berapa kita harus berkumpul tidak sejalan sesuai dengan perjanjian dan betapa itu sangat menyebalkan.

Beberapa teman juga mempunyai kasus sama denganku, namun mempunyai masalah sosial yang berbeda dari mulai mereka yang diacuhkan, tidak dianggap, tidak berpotensial untuk menyumbang ide, dan lain sebagainya. Hal-hal semacam itulah yang membuat orang minder akan kemampuan mereka, bukan mengasingkan, akan tetapi diangsingkan. Aku pribadi sejauh ini belum mengalami permasalan seperti teman-teman itu (yah..rasanya bagaimana, itu mungkin sangat sakit, 🙂

Siangnya..

Satu minggu ini memang penuh presentasi, mulai hari senin lalu dan rabu depan masih akan berlanjut. Puji Tuhan, presentasi personal tadi siang berjalan amat lancar!! Fuu.. (intinya memang “TENANG” dan “KISS” “KEEP IT’S SPIRIT!!” haha..)

Sorenya..
ini pengalaman dari temanku yang sedang mempunyai permasalah asmara.

Soal cinta yang rumit dan serba salah.

“Ketika kita mencintai seseorang, kita juga harus melihat apakah seseorang itu mencintai kita. Bagaimana kalau ternyata seseorang itu tidak mencintai kita? Apakah kita akan memaksanya? Atau apakah kita harus mampu merelakannya pergi tanpa mengenalnya lebih jauh?”

Pertanyaan itu aku buat untuk diriku sendiri sekaligus siapa pun yang membaca ini. Seberapa besar aku mencintai seorang laki-laki, aku lebih baik diam atau bercerita dengan teman dekatku, dan tentu saja tidak menggembor-gemborkan pada orang-orang.

“Aku pacarmu, tetapi sejujurnya bukan pacarmu.”

Saking kita menyukai seseorang, kita sampai-sampai tidak mampu berpikir rasional. Kita menganggapnya seseorang yang amat spesial di dalam diri kita dan hal penting yang dilupakan adalah “apakah kita mempunyai hubungan “ikatan penuh” dengan seseorang itu. Apabila tidak ada,”untuk apa kita mengatakan bahwa seseorang itu pacar kita?” itu adalah kesalahan besar dan menjadi sangat besar karena hal itu, kita mengorbankan teman kita sebagai ajang pemuasan kecemburuan yang berujung permusuhan. Di sini lah posisi temanku, dia menjadi korban cinta. Oh..cinta!!! “Cinta ibarat makan bakso tanpa sambal, sekali makan dibumbuhi sambal—pedasnya luar biasa (menyakitkan), tapi bikin ketagihan” kata-kata ini aku dapatkan dari salah satu teman ketika kita makan bersama di kantin. Seolah kalimat itu terdengar sepele, namun mempunyai makna luar biasa dalam kehidupan kita.

Aku pun berpikir,”tidak hanya satu laki-laki di depan kita, tidak ada jodoh yang hilang. Intinya Tuhan tetap akan mempertemukan kita dengan jodoh kita, meski saat ini jodoh kita masih belum nampak atau bisa dibilang masih “ketlisut” (haha).

Jadi kesimpulan untuk hari ini adalah ikut organisasi (yang kita sukai-jangan dipaksa, tetap fokus—semangat—berprestasi, dan tidak boleh memaksa cinta seseorang) 😉

Gloria Brief’s