//
archives

Archive for

Your Names is Your Indentity

Holla Hello Guys! Long time ye? I’m back now.. HuuHaa!

Kali ini saya akan membahas soal karakteristik nama yang tidak terlalu pantas digunakan untuk umum secara semena-mena dan alasan untuk menggunakan nama itu tidak masuk diakal. Nama-nama di semua negara memiliki karakteristik yang begitu khas. Ada sebuah kutipan “apalah arti sebuah nama?” kalau boleh jujur, kutipan itu sangat menyakitkan hati orang tua kamu lho! Karena nama yang kamu miliki sekarang ini adalah nama yang mereka persiapkan sebelum kamu terlahir di dunia. Nah, kecuali kamu bener-bener ingin menyembunyikan identitas kamu ke khalayak, tapi pilihan nama populer pun harus sesuai atau tidak untukmu.

Ada dua karakteristik nama yang bisa digunakan oleh semua orang di berbagai negara, yakni nama Arab dan nama barat. Jika kamu bukan orang Saudi Arabia (Ah.. semua pelosok Timur Tengah) atau kamu bukan orang Barat, kamu bebas menggunakan nama-nama yang berasal dari kedua negara itu. Pada dasarnya orang tua memberikan nama kepada anaknya dengan melihat latar belakang agamanya. Nama-nama yang diambil dari nama-nama orang dari negara asal agama pertama kali itu muncul, justru nama yang wajib dimiliki oleh beberapa pihak (keluarga atau gereja)

Nama-nama berlatar agama yang banyak dipakai oleh orang Indonesia biasanya adalah nama-nama yang berasal dari Timur Tengah dan Barat. Karakteristik nama-nama berlatar agama justru menjadi indentitas yang cukup membanggakan bagi kaum mereka. Saya akan menjelaskan satu demi satu:

Pertama, Jika kamu bertemu dengan orang Indonesia bernama “Muhammad Fajri” atau “Ahmad Sholiqin” atau “Faradiba Yunan” jangan kaget kalau dia bukan orang Arab atau seorang keturunan dari Timur Tengah. Nama-nama itu menandakan identitas agama mereka. Mereka itu adalah seorang Muslim.

Kedua, Jika kamu bertemu dengan orang Indonesia bernama “Emelia Fransiska” atau “Carolina Maryani” atau “Feronica Wijaya” atau “Antonius Cahya” jangan kaget kalau mereka bukan orang Barat atau seorang keturunan Barat. Nama-nama ini menjadi penanda latar belakang agama mereka sekaligus kewarganegaraan mereka. Nama baptis menjadi kewajiban yang harus dimiliki  seseorang yang memiliki agama Christian-Katolik. Pemberian nama baptis begitu penting oleh pihak gereja karena nama-nama itu menandakan seberapa banyak kaum mereka yang nantinya akan terdaftar di pusat. Jadi nama-nama barat yang mereka pakai ini adalah semacam “tanda” umat yang begitu istimewa bagi mereka karena diambil dari nama-nama santo atau santa. Kelahiran dan kematian mereka akan dicatat, guys! Oleh pihak gereja yang akan dikirim ke pusat (Vatikan untuk agama Katolik).

Ketiga, seiring berjalannya waktu dan teknologi semakin merajalela ke kampung-kampung, kadang-kadang orang tua tidak paham asal nama “Fransiskus” atau “Fransiska”, kurangnya pengetahuan dan alasan karena nama itu terdengar begitu indah di telinga, saat ini nama-nama itu juga digunakan oleh Muslim. Hal ini tidak menjadi persoalan besar karena hidup di Indonesia itu kondisinya benar-benar plural.

Keempat, nama-nama yang diambil dari asal etnisnya. Nama-nama etnis begitu banyak karena di sini kamu bakal menemukan banyak etnis, seperti Jawa, Bali, Batak, Bugis, dan Betawi. Nama-nama ini mungkin tidak akan disadari oleh orang di luar Indonesia, tapi nama-nama ini begitu khas dan beberapa keluarga sangat bangga dengan marga mereka. Saya akan memberikan contoh:

“Luh” dan “I Made” dan “I Dewa Putu” jika kamu menemui kode-kode nama semacam itu maka kamu telah bertemu dengan orang Bali. Nama-nama ini begitu paten khas orang Bali atau bagi mereka beragama Hindu. Jadi sangat aneh dan tidak memungkinkan nama itu digunakan oleh orang di luar kaum mereka.

Nama-nama khas yang sangat aneh dan akan dipandang buruk jika digunakan dapat terjadi jika kamu bukan orang Batak dan tidak memeliki keturunan dari Batak, tapi menggunakan marga mereka. Misal: “Sihombing”atau “Situmourang” kode-kode nama ini sangat khas dan menjadi kebanggaan setiap keluarga. Jadi, jika seorang yang memiliki marga (family names) seperti ini, tetapi bukan orang Batak dan akhirnya diketahui orang asli Batak, itu akan begitu menyakitkan bagi mereka.

Nama-nama khas Jawa, kini tidak terlalu fanatik digunakan khusus oleh orang dari etnis Jawa, karena etnis tionghoa juga menggunakan nama khas Jawa di belakang nama baptis atau nama Barat mereka. Seperti, “Erika Budiman” atau “Joshua Raharja”. Jadi kondisi nama-nama etnis Jawa kini sudah merambah keseluruh lapisan masyarakat di Indonesia seperti halnya nama-nama Timur Tengah (misal: Saudi) dan nama Barat. Nama-nama Jawa yang dicampur dengan nama diluar Jawa ini sudah biasa dan dianggap wajar oleh semua orang.

Sebenarnya, saya menulis panjang lebar di atas untuk menjelaskan tulisan di bawah ini. Saya membaca postingan dari Japanese, yakni Tamura-san. Saya merasa dia merasakan sakit hati, jengkel juga, atau hal-hal yang bersifat manusiawi lah. Saya juga yakin Japanese lainnya juga pasti bertanya-tanya “kenapa kalian menggunakan  nama khas dan marga kami?” Tamura-san adalah Japanese yang selalu berbagi bahasa Jepang kepada Indoensian, dia sangat menyayangkan kondisi nama-nama yang digunakan oleh anak-anak dari segala negara (bagi yang di Indonesia, mohon diperhatikan ya!) yang menggunakan nama khas Japanese.

Nama-nama yang tidak pantas digunakan untuk umum secara semena-mena (atau bahasa kerennya: “Suka-suka gue dong!”) itu adalah nama-nama Jepanese dan Korean. Kenapa?

Sama halnya dengan nama orang Batak atau Bali, nama-nama khas Jepanese dan Korean memiliki karateristik yang sangat kuat sebagai identitas mereka. Jadi sangat menyakitkan jika mengetahui orang menggunakan nama japanese (dalam kasus ini), tapi pada kenyataannya orang tersebut bukan bagian dari mereka.

Keempat, karakteristik nama tersebut hanya contoh dari beberapa kasus di luar sana, saya mencontohkan nama yang tidak sembarang dicomot seenak jidat. Japanese, Korean, Batak, atau Baliness, semua nama mereka mengandung marga atau “family names”.

Kamu dapat memiliki nama-nama dari mereka, jika kamu akan tinggal (selama beberapa tahun), mungkin kamu bisa menggunakan nama depan dari Japanese, seperti “Yuki”, “Erika”, “Rina”, “Ken” nama-nama ini akan memudahkan orang jepang memanggil dan mengingat nama kamu, tapi katakan terlebih dahulu nama aslimu sebelum mengatakan nama Jepangmu kepada mereka sebagai wujud penghormatan. Kamu juga bisa menanyakan kepada Japanese “Nama Jepang apa yang cocok untukku jika nama Indonesiaku adalah Qusnul (misal)?” lalu kamu memberikan arti namamu pada mereka. Indonesian-Japanese memiliki lafal yang berbeda, jadi mereka jauh lebih senang memberi tahu arti namamu versi Jepang daripada mendengar nama Jepangmu yang kurang pas.

Kamu akan mendapatkan marga atau nama keluarga (Family names) jika kamu menjadi anak adopsi atau menikah dengan orang Jepang. Saya tidak tahu prasoal nama Jepang untuk imigran yang tidak memiliki hubungan keluarga, apakah mereka juga menggunakan full name versi Jepang atau tidak. Jelasnya, menikah dan menjadi anak adopsi menjadi titik terang jika kamu ingin mendapatkan family names dari Japanese. Anak adopsi bukan hanya seperti kamu harus berada di panti asuhan terlebih dahulu, tapi kamu seorang mahasiswa yang tinggal satu rumah dengan orang tua asuh dari Jepang (haha.. sepertinya jarang terjadi, tapi saya pernah mendengar dari teman sejawat yang sangat beruntung karena dia bertemu dengan orang tua asuh. Orang tua asuh, anda bisa mendapatkan jika tinggal di Indonesia atau di Barat, jika kamu seberuntung kakak sepupu saya sih).

Coba bayangkan, kamu jelas-jelas tinggal di Indonesia (Oke, tidak hanya di Indonesia kasus ini terjadi) sekaligus orang Indonesia tulen, tapi menggunakan nama versi Jepang? Kamu juga menggunakan identitas palsu seperti tinggal di Jepang yang kamu cantumkan di situs jejaring, bahkan berbahasa Jepang pun kamu tidak mampu, selain itu mencampur aduk nama-nama Jepang menjadi satu sehingga memiliki arti yang sangat aneh. Itu akan sangat menyakitkan jika Japanese mengetahui “siapa kamu?” “di mana kamu?”, untuk alasan “mengapa kamu” menggunakan nama nyeleneh bin ajaib itu tetap akan sangat menyakitkan karena kalian menggunakannya tidak sesuai dengan karakteristik mereka, bahkan ini akan “booms” bagi Japanese. Ledakan penduduk Jepang terjadi di salah satu situs jejaring, tapi tidak sesuai dengan kenyataan di pulau mereka. Apakah kalian tidak pernah memperhatikan itu?

Japanese juga tidak akan merubah nama mereka ketika berada di Indonesia, jika mereka ingin mengubah nama mungkin mereka bisa melakukannya, tapi kebanyakan dari mereka tidak merubah nama mereka.

Indonesian cukup jelas jika harus melafalkan nama-nama Jepang, karena semua konsonan dan vokal Japanese juga dimiliki oleh Indonesian. Jadi, Japanese akan lebih senang jika mereka mendengar nama mereka dilafalkan dengan jelas oleh Indonesian.  Tapi, guys! Ini akan sangat berkebalikkan jika Japanese melafalkan nama Indonesian, mereka tidak cukup ahli dan butuh waktu untuk melafalkan konsonan yang berdiri di belakang konsonan-vokal, seperti (k-v-k-v-k) “Karno” [kar] [no] ini akan terdengar aneh jika diucapkan “karono” atau “Karuno” bagi Indonesian.

Indonesian yang menggunakan nama Japanese di SosMed tidak perlu berkecil hati karena Japanese ternyata tidak menyukai kehebohan nama kalian (istilah kerennya kalian ini mem-PHP-in atau memberi harapan palsu pada orang Jepang) haha.. penduduk Jepang benar-benar meledak berkat kalian.

Kebudayaan yang berbeda akan mendapatkan respon yang berbeda pula. Saya sangat paham kalian menyukai “anime” dan hal-hal yang berbau Jepang. Jepang membawakan sesuatu yang begitu menarik di dunia luar, mereka juga tidak menyangka efeknya akan seperti ini. Japanese membuat ini dan itu sebetulnya untuk konsumsi kalangan mereka pribadi, tapi sekarang kan modelnya “student exchange”, “culture studies” istilah itu selevel sama “ekspor-impor” ya, kan? haha

Kesimpulannya, kepada Indonesian jika sudah mengetahui hal ini, mohon hormati Japanese. Sedangkan untuk Japanese mohon dimaklumi apapun yang dilakukan Indonesian karena efek dari karya-karya kalian. Tetaplah menjalin hubungan yang baik J

Advertisements