//
you're reading...
dagboek van Tjang

KETIKA KITA BERADA DI POSISI “KETLISUT”

Paginya..
Banyak sekali pelajaran hidup yang aku dapatkan hari ini. Puji Tuhan!!

Pagi tadi tidak seperti biasa karena mulai minggu lalu aku mngendarai motor ke kampus. Sebenarnya dalam hati agak berat, mengingat aku ingin mengajak teman-teman (rekan-rekan universitas) berjalan kaki atau mengayuh sepeda. 😦 (phonixku nganggur deh!)
mengingat juga udara panas sekali dan aku harus naik motor karena tempat kursus bahasa asingku jauh!!!
Hari rabu itu hari yang paling melelahkan
Pelajaran dimulai jam 7.30 WIB (tidak boleh terlambat 1 menit dan kelipatannya) dan berakhir jam 15.30 WIB.

Aku berjalan menuju kelas sastra mistik dan hanya menjumpai seorang teman. Waktu sudah lebih 5 menit, namun tidak seorang pun teman datang dan tidak ada tanda-tanda dosen datang. Beberapa menit kemudian seorang kakak tingkat datang dan dua teman sekelas. Kami berlima pun akhirnya berbincang-bincang mengenai jarkom, tugas, dan solidaritas.

Jaringan komunikasi yang buruk di kelasku, kami berlima tidak mendapatkan jarkom bahwa kelas hari ini kosong dan diganti pada hari senin jam kedua di kelas darmasiswa. Baru-baru ini kelas darmasiswa menjadi kelas favorit dosen, entahlah! Aku juga merasa nyaman jika kelasnya di sana. Haha..

Malam sebelumnya jarkom sudah menyebar, namun aku tidak kebagian, istilah jawanya ketlisut (haha). Ternyata di balik itu semua aku mendapatkan hikmah yang luar biasa. Aku bisa berbincang-bicang dengan kakak tingkat angkatan 2005 dan alumni sastra Indonesia angkatan 2005 yang sudah sukses (kebetulan sekali ya!).

Mas Opik, angkatan 2005 (alumni) dan Mas Wira, angkatan 2005. Dua orang yang berbeda dan mempunyai mindseat yang berbeda pula. Pengalaman mereka membuat aku berpikir ulang tentang kehidupan. Mas Opik berhasil lulus pada waktunya dan berhasil berbisnis sedangkan Mas Wira masih sibuk dengan skripsi dan berhasil lebih dulu di dunia kerjanya.

Apa sebenarnya tujuan kita? Itu adalah pertanyaan pertama yang ditujukan Mas Opik pada kami. Kita harus mempunyai tujuan jelas dalam kehidupan. Untuk apa kita kuliah? Untuk apa kita mendapatkan nilai bagus? Untuk apa kita selalu memperjuangkan IPK? Untuk apa kita bersosialisasi? Untuk apa kita harus mempunyai kepedulian dan solidaritas?

Prestasi adalah kebanggaan tersendiri setiap orang. Demi prestasi kita rela tidak tidur, lupa makan, sampai-sampai tidak peduli dengan teman. Prestasi (IPK tinggi) seakan seperti sampah ketika tingkat kepedulian kita NOL%. Banyak kasus di dunia pendidikan “Kita terlihat paling menonjol di antara teman-teman”, namun ketika di dunia kerja “kita hanyalah orang-orang kurang produktif karena keterbatasan jaringan.”

Sekarang apa permasalahnya? Selain berprestasi kita sebaiknya juga harus mampu bersosialisasi dengan orang lain, mempunyai jaringan bagus (mulailah dari teman sekelas) dan solidaristas itu penting.
misalkan saja,”apa susahnya kita menyebarkan info melalui sms?”, “seberapa mahalkah jika mengirim sms ke 5 orang saja?” kita kuliah tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian kita, cara pandang kita terhadap sesuatu hal, dan kebijaksanaan dalam menanggapi permasalahan.

Selain itu kita juga harus dituntut untuk ikut berorganisasi di kampus, di Universitas atau di luar (dalam bentuk organisasi). Hal itu intinya untuk membentuk mental kita di kemudian hari. Aku pun terdiam sejenak, benar-benar tak berdaya ketika disinggung masalah organisasi.

Mengingat-mengingat soal organisasi. Semasa SMP, aku aktif–masuk ke SMA keaktifanku berkurang–masuk universitas, keaktifan semakin berkurang dan pada akhirnya di semester 3, aku bilang “tidak suka berkumpul dan membuang waktu”. Aku sangat paham “individualis tidak berarti mengasingkan diri dari organisasi”, tetapi apapun bentuk organisasi yang selama ini aku ikuti sangat sangatttt tidak menghargai waktu. Jam berapa kita harus berkumpul tidak sejalan sesuai dengan perjanjian dan betapa itu sangat menyebalkan.

Beberapa teman juga mempunyai kasus sama denganku, namun mempunyai masalah sosial yang berbeda dari mulai mereka yang diacuhkan, tidak dianggap, tidak berpotensial untuk menyumbang ide, dan lain sebagainya. Hal-hal semacam itulah yang membuat orang minder akan kemampuan mereka, bukan mengasingkan, akan tetapi diangsingkan. Aku pribadi sejauh ini belum mengalami permasalan seperti teman-teman itu (yah..rasanya bagaimana, itu mungkin sangat sakit, 🙂

Siangnya..

Satu minggu ini memang penuh presentasi, mulai hari senin lalu dan rabu depan masih akan berlanjut. Puji Tuhan, presentasi personal tadi siang berjalan amat lancar!! Fuu.. (intinya memang “TENANG” dan “KISS” “KEEP IT’S SPIRIT!!” haha..)

Sorenya..
ini pengalaman dari temanku yang sedang mempunyai permasalah asmara.

Soal cinta yang rumit dan serba salah.

“Ketika kita mencintai seseorang, kita juga harus melihat apakah seseorang itu mencintai kita. Bagaimana kalau ternyata seseorang itu tidak mencintai kita? Apakah kita akan memaksanya? Atau apakah kita harus mampu merelakannya pergi tanpa mengenalnya lebih jauh?”

Pertanyaan itu aku buat untuk diriku sendiri sekaligus siapa pun yang membaca ini. Seberapa besar aku mencintai seorang laki-laki, aku lebih baik diam atau bercerita dengan teman dekatku, dan tentu saja tidak menggembor-gemborkan pada orang-orang.

“Aku pacarmu, tetapi sejujurnya bukan pacarmu.”

Saking kita menyukai seseorang, kita sampai-sampai tidak mampu berpikir rasional. Kita menganggapnya seseorang yang amat spesial di dalam diri kita dan hal penting yang dilupakan adalah “apakah kita mempunyai hubungan “ikatan penuh” dengan seseorang itu. Apabila tidak ada,”untuk apa kita mengatakan bahwa seseorang itu pacar kita?” itu adalah kesalahan besar dan menjadi sangat besar karena hal itu, kita mengorbankan teman kita sebagai ajang pemuasan kecemburuan yang berujung permusuhan. Di sini lah posisi temanku, dia menjadi korban cinta. Oh..cinta!!! “Cinta ibarat makan bakso tanpa sambal, sekali makan dibumbuhi sambal—pedasnya luar biasa (menyakitkan), tapi bikin ketagihan” kata-kata ini aku dapatkan dari salah satu teman ketika kita makan bersama di kantin. Seolah kalimat itu terdengar sepele, namun mempunyai makna luar biasa dalam kehidupan kita.

Aku pun berpikir,”tidak hanya satu laki-laki di depan kita, tidak ada jodoh yang hilang. Intinya Tuhan tetap akan mempertemukan kita dengan jodoh kita, meski saat ini jodoh kita masih belum nampak atau bisa dibilang masih “ketlisut” (haha).

Jadi kesimpulan untuk hari ini adalah ikut organisasi (yang kita sukai-jangan dipaksa, tetap fokus—semangat—berprestasi, dan tidak boleh memaksa cinta seseorang) 😉

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: