//
archives

Archive for

Annie’s Baby (Buku Harian Remaja yang Hamil di Luar Nikah)

 

Judul: Annie’s Baby (Buku Harian Remaja yang Hamil di Luar Nikah)

Penulis: Anonim disunting oleh Beatrice Sparks, Ph. D editor Go Aks Alice

Alih Bahasa: Sofia Mansoor

Kategori: Kisah Nyata —terjemahan

Tebal: 254+

Harga: Rp. 48.750,-

ISBN-1o: 979-22-0977-8

Ukuran: 135×20

Cetakan: ke dua, Februari 2005

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Semua berawal dari pertemuannya dengan Daniel yang biasa dipanggil Danny di taman football. Mereka berdua bersahabat. Danny, anak orang kaya itu sangat membutuhkan sosok seperti Annie di dalam hidupnya. Danny membutuhkan seseorang seperti Annie untuk menenangkannya, mengingat keluarga Danny yang hancur. Annie mendengar itu merasa prihatin dan tentu bahagia sekali karena dapat berpacaran dengan cowok keren seperti Danny.

Demi ingin bertemu dengan Danny, Annie harus berbohong pada ibunya. Dia berbohong dan selalu memciptakan kebohongan lagi untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Dia bahagia bersama Danny, dia tidak bisa hidup tanpa Danny. Hingga malam setelah pesta bir itu Danny bertindak agresif dan menakutkan pada Annie. Danny hampir memperkosa Annie, untunglah perlawanan Annie saat itu berhasil.

Semenjak kejadian malam itu Danny tidak pernah menemui Annie dan ini membuat Annie belingsatan. Dia begitu sangat merindukan Danny, Danny dan Danny yang hanya ada dalam pikirannya. Pada akhirnya pun Annie yang mulai meminta maaf atas kejadian malam itu dengan memberikan pesan di loker Danny. Malamnya Danny menelpon Annie dan menyesal atas perbuatannya.

Esoknya mereka sudah terlihat akur kembali. Danny mengajak Annie ke rumah besarnya. Di sana Annie di suruh menari di depan Danny. Awalnya Annie tidak mau, namun karena rasa cintanya yang begitu besar pada Danny, Annie pun menari. Kelakuan agresif Danny pun kembali muncul membuat Annie sangat ketakutan. Kini Danny menang atas kesucian Annie, Danny berhasil memperkosa Annie dan menepangnya ke luar rumah besarnya padahal hari sudah malam. Annie hanya mampu menangis di perjalanan pulang ke rumahnya yang 30 blok dari rumah Danny.

Lagi-lagi Annie yang memulai minta maaf, mereka berdua akur kembali setelah kejadian itu. Annie terus berbohong pada ibunya dan Annie mulai menikmati pesta bir dan kehangatan tubuh Danny.

Hingga suatu hari dia,

“Duniaku seolah-olah runtuh…

                                Aku gak sanggup menghadapinya!          Aku gak sanggup…!

Aku gak mau!    …Aku gak mau tanggung jawab ini!         umurku baru empat belas!

…bagaimana bisa aku mengurus bayi? Ngasih makan kucing aja aku sering lupa!”

Betulah kata-kata Annie penuh frustasi setelah mengetahui dirinya mengandung. Dia gelisah. Tidak waras. Bingung dan mencoba menggugurkannya, namun tidak dilakukannya.

Dia bercerita pada ibunya sembari menangis dan sungguh ibunya sama sekali tidak memarahinya atau langsung mendepaknya dari rumah. Ibunya justru menenangkannya, mereka mengobrol panjang, dan berniat merawat calon bayi Annie.

Setelah kelahiran Lil’s Annie bukan perkara mudah untuk merawatnya. Ibu Annie harus berusaha dua kali lipat untuk menghidupi mereka. Annie begitu senang dengan Lil’s Annie, namun kadang dia sangat frustasi mengurusi bayi sedangkan dia masih berumur 15 tahun. Dia ingin bermain dengan teman-temannya seperti dulu, sayangnya itu tidak mungkin, dia tidak mungkin bisa kembali lagi seperti tidak terjadi apa-apa dan tidak ada sosok Lil’s Annie.

Novel ini memuat semua isi diary Annie, sungguh luar biasa perjuangannya. Pelajaran yang dapat ditarik dari cerita Annie’s Baby adalah kita harus berhati-hati dengan apa yang namanya seks ‘hubungan seks’. Tidak ada adegan-adegan tabu di sini, pencerita memaparkan secara sederhana sehingga mudah dimengerti pembaca dan novel ini cocok dibaca oleh anak SMP sampai dewasa. Pengetahuan sekilas tentang kehamilan dan seputar penyakit akibat hubungan seks (PHS) juga terpapar di sini. Cerita Annie’s Baby membuat kita sadar—kapan seharusnya kita melakukan sesuatu yang dianggap wajar oleh orang dewasa.

Saya harus memberikan applause kepada Gramedia terutama pada alih bahasa sekaligus editornya karena saya tidak mendapatkan kesalahan dalam pengetikan, sayangnya saya bertanya-tanya dalam hati soal penggunaan kata ‘Kuntilanak’ di bab awal—bukankah itu hantu Indonesia ya? Apa di Amerika mengenal warga berambut panjang meruap-ruap gimbal dan memakai daster putih? entahlah, ini membuat saya tertawa.

Soal kover, ilutrasi gadis hamil tanpa gambar ‘wajah’ sangat bagus karena pembaca dapat berimajinasi sendiri—“Seperti apa kah wajah Annie? Anaknya?” itu dapat tergambar di benak pembaca masing-masing. Ilustrasi itu sangat jelas menggambarkan sosok khas anak SMP Amerika, menggunakan rok ketat dan kaos you can see ketat saat hamil. Latar putih memberikan kesan bersih yang menonjolkan gambar dan tulisan dengan amat jelas dibaca.

Pengarang- sayang sekali tidak diketahui ya? Sungguh terima kasih sekali karena dia mau berbagi dengan kita tentang pengalamannya.

Advertisements

Lament dan Ballad (series)

Judul: Lament dan Ballad (series)

Penulis: Maggie Stiefvater

Alih Bahasa: Kania Dewi

Editor: Emil Salim

Kategori: A Gathering of Fairie—terjemahan

Tebal: Lament (397+) dan Ballad (452+)

Harga: Rp.90.870,- dan Rp. 59.900,- I

SBN-10: 978-602-9159-49-3

Cetakan: ke I, Agustus 2011

Penerbit: Ufuk Fiction

Lament

Deirdre Monaghan, gadis 16 tahun adalah musisi yang sangat berbakat. Dia mampu memainkan harpa dengan sangat lembut dan mampu menciptakan lagu dengan begitu lihai. Akan tetapi dia tidak sadar bahwa dia juga seorang Cloverhand, seorang yang dapat melihat peri.

Dibalik bakatnya yang luar biasa itu dia ternyata begitu sangat lemah dan berakhir  muntah-muntah sebelum memulai kontes atau menampilkan permainan harpanya. Hingga seorang pemuda tampan bernama Luke Dillon masuk dan mencuri hatinya—yang ternyata Luke adalah seorang peri pembunuh. Luke mendapat tugas dari Ratu Peri untuk membunuh Dierdre sebelum musiknya menggugah para peri dan mengancam kedaulatan sang Ratu. Bahaya mengintai Deirdre dan juga orang-orang di dekatnya—termasuk James Morgan sahabatnya.

Kover: Tokoh utama adalah Dierdre dan Luke, keduannya mendominasi isi novel. Kover dengan sosok gadis bergaun putih sudah bagus dan menggambarkan sosok Dierdre. Namun, yang sangat disayangkan adalah latar ranting dan pohon maple. Di dalam novel jauh lebih menyetingkan waktunya pada musim panas dan daun semanggi sangat berperan banyak di dalamnya. Alangkah baiknya seandainya kover itu sosok gadis yang memegang harpa dengan latar dedaunan semanggi. Atau bisa juga dua alat musik yang dimainkan tokoh utama berupa harpa dan flute. Begitu pendapat pribadiku, hehe.. 😀

Typo: Ada beberapa kata yang kurang satu huruf.

Ballad

James Morgan dianugerahi kemampuan bermusik luar biasa, dia pemenggang Oboe yang mampu menarik perhatian Nuala, sesosok Leanan Sidhe—semacam peri pencuri jiwa yang membangun lalu memakan energi kreatif manusia sampai mereka mati. Namun Leanan Sidhe terlihat lebih manusiawi dibanding peri pemakan jiwa yang lain.

Di novel ini fokus ke tokoh James Morgan dan Nuala, sebuah kolaborasi tokoh yang unik di mana manusia mampu berinteraksi dengan peri hingga mengakibatkan mereka saling jatuh cinta. Alur ceritanya lebih menarik daripada novel pertama, di cerita ini lebih terasa hidup dengan karakter keras Nuala dan ketakutan James pada makhluk-mahkluk yang sebelumnya telah memporak-porandakan jiwa dan meninggalkan bekas di tubuhnya.

Kover: mengingat di dalam novel—adegan tokoh James Morgan lebih mendominasi daripada Deirdre Monaghan, kover Ballad sangat tidak serasi dengan isi. Jauh lebih baik apabila ilustrasi gadis itu diganti seorang laki-laki pemegang oboe dan sosok leanan Sidhe itu sendiri. Latar putih dengan daun mapple cukup memberikan kesan menarik dan cocok seperti yang dipaparkan di dalam novel bahwa waktu berlangsung saat musim gugur.

Typo:  Ada beberapa kata yang kurang satu huruf.

Pengarang; Maggie Stiefvater

Kehidupan Maggie Stiefvater berjalan di seputar perubahan jenis pekerjaan. Tentu saja tidak bisa berbicara degan diri sendiri, terbengong-bengong menatap langit, dan pergi bekerja hanya dengan mengenakan piyama ketika kita bekerja sebagai seorang pelayan, instruktur kaligrafi, atau editor. Dia mencoba tiga pekerjaan itu. Tapi, untuk seorang penulis novel atau seniman, tabiat itu sangat dibutuhkan, dan itulah pekerjaannya sejak dia menginjak usia dua puluh tahun.

Kini Maggie menjalani kehidupan yang unik di daerah antah berantah, Virginia, dengan seorang suami, dan dua anak, dan seekor anjing.

Website Maggie Stiefvater

http://www.maggiestiefvater.com http://www.shiverseries.com http://m-stiefvater.livejournal.com

OEI HUI LAN

 Nama Pengarang: Agnes Davonar

Penerbit: Inti Books

Tempat dan Tahun terbit: Jakarta, 2009

ISBN: 978-602-95752-0-0

Harga: Rp. 55.000,-

“Saya bermimpi suatu saat ketika anak-anak saya terlahir, mereka dapat tinggal di tempat yang berbeda-beda di dunia ini. tidak peduli warna kulit dan betapa buruknya wajah mereka, yang terpenting mereka terlahir untuk dikenal dari perilaku dan wataknya.” (Agnes Davonar)

Novel ini memuat tentang kisah perjalanan Oei Hui lan. Seorang gadis yang terlahir dengan segala kemewahan dan kehidupan yang sempurna. Ayahnya Oei Tiong Ha adalah seorang pria terkaya di Asia Tenggara yang dikenal sebagai raja gula asal Semarang. Suaminya Wellington Koo adalah seorang politikus handal, ia menjabat sebagai menteri luar negeri China yang ikut serta dalam pembentukan Perserikatan Bangsa-bangsa. Sang Ibu yang ambisius, berhasil membawanya bergabung dengan kalangan jet-jet di Eropa yang sejajar dengan keluarga kerajaan di Eropa.

Membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak seorang yang begitu kaya? Membayangkan bagaimana rasanya semua kebutuhan terpenuhi dengan segera? Semua bayangan itu mungkin tidak pernah terlintas di benak Hui Lan karena dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang yang miskin dan suka berangan-angan. Dia di dalam keluarga Oei benar-benar telah merasakan dari lahir sebuah kekayaan dan kemewahan. Akan tetapi apa yang dirasakan Hui Lan ketika ia semakin bertambah umur?

Ketika masih gadis belia dia selalu diajak ayahnya bertemu dengan gundik-gundik ayahnya, melihat pertengkaran Ayah dan Ibunya, dan hubungan dengan saudara kandung yang seakan ada jurang pemisah. Hingga Ia tumbuh menjadi seorang wanita cantik dan mempesona, bukan kebahagiaan yang dia dapat, tapi konflik selalu menghadang. Sang Ayah yang tiba-tiba meninggal dan menyisakan warisan yang menjadi mala petaka diantara 8 Istri dan 42 anak-anak yang dilahirkan. Warisan yang seharusnya membawa berkah berubah menjadi pertikaian yang tidak pernah berujung sampai detik ini. Lebih tragisnya lagi dia tidak sekalipun merasakan adanya kasih dari suaminya ketika dia mengandung sampai melahirkan dua orang putra, Junior dan freeman.

Cover Novel: Keren yah?! 😀

Typo: Banyak dijumpai kata yang kurang satu huruf.

GRAFITI

Judul buku     : Grafiti

Penulis           : Ginny Lyn

Editor             : A. Ariobimo Nusantara

Penerbit         : PT Grasindo

Tebal             : xi+149 halaman

Harga            : Rp. 25.500,-

-“Kok lu jadi sok dewasa gitu sih? Lu tau apa tentang hidup gue? Gue juga berusaha buat hidup gue tau! Gue sekolah! Gue berusaha buat nyelesain tugas-tugas gue. Apa itu kalo bukan usaha?” tanyaku kesal.

“Tapi tante bilang, lu sering ngeluh. Lu belum ngerasain hidup kayak mereka ini. Tadi pagi contohnya, untuk sarah aja lu ngeluh.”

“Itu kan manusiawi,” kataku.

“Itu namanya nggak mensyukuri, G. Gue bukannnya mau ngeguruin lu gitu. Tapi, tante bener. Lu kadang keenakan hidup,” kata Edo. Aku terdiam. Termangu. Apa yang dikatakan keenakan hidup? Aku nggak minta dilahirin.”-

Aku mutusin ngeresensi novel garapan Ginny Lyn ini, karena menurutku tulisannya bagus. Well, ceritanya tidak jauh dari kehidupan kita. Pembawaannya lancar dan mudah dipahami. Cerita dimulai dari tokoh bernama Morgan yang biasa dipanggil G (baca-Ji). Dia anak orang kaya dan sebelumnya dia tinggal di London. Lalu dia tinggal di Indonesia dengan mama dan adiknya. Ayahnya masih di London bekerja di kedutaan.

Dia punya sahabat baik bernama Carenina. Dia punya adik yang dia anggap menyebalkan bernama Sarah. Dia punya saudara angkat bernama Edo. Dia punya mantan kekasih bernama Anthony Kanzler yang selalu dia bangga-banggakan, dia rela tidak pacaran demi menunggu Anthon dan mengharapkan cowok itu kembali. Dia mempunyai sahabat yang menjadi panutannya, bernama Yana. Dia mempunyai teman yang baik, mungkin dapat dibilang juga mencintainya bernama Venus. Dia juga punya musuh bernama Sandra, dibilang musuh sih bukan hanya mungkin sering perang batin sendiri menghadapi sosok Sandra. Dia mempunyai seseorang yang spesial bernama Nagi, orang yang membuatnya kalang kabut. Dia punya barang-barang bermerk yang mungkin teman-temannya belum tentu mengoleksinya. Well, dia juga mempunyai bakat luar biasa di bidang seni dan musik. Dia bisa bermain piano hanya dengan mendengar sekali sebuah lagu, dia jago melukis, dan dia juga dipercaya menjadi ketua jurnalistik di sekolahnya.

Seolah dia memiliki segalanya, tapi kehidupan seseorang tidak lah sempurna. Di balik kelebihannya, dia juga memiliki banyak kekurangan. Dia tidak pintar dalam bidang sains seperti Sarah. Dia tidak mempunyai orang tua yang memperhatikannya.

Kelebihan dan kekuranganya itu mungkin yang membuatnya menjadi sosok yang mandiri sekaligus egois. Dia selalu menggap dirinya lebih bisa ketimbang orang lain. Dia meremehkan sahabatnya sendiri. Dia menganggap Carenina tidak peduli dengannya ketika ada masalah. Hubungannya dengan Mamanya juga tidak terlalu baik, apalagi hubungan dengan papanya yang berada di London. Dia sangat membencinya. Dan akibat sifat egoisnya itu dia harus menyaksikan Sarah masuk rumah sakit. Tim jurnalisnya tidak menyukai sifatnya dan menginginkannya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua. Satu-satunya orang yang menemani kepedihanya adalah Nagi. Dia menceritakan semua kepedihanya itu pada Nagi seorang.

Dia akhirnya memutuskan ke London untuk bertemu dengan Ayahnya. Tapi dia dipertemukan dengan sosok wanita cantik dan sebuah graffiti di tembok. Empat gambar orang saling bergandengan dan dibawahnya tertulis nama, “Papa, Mama, Morgan, dan Sarah.” Papanya mempunyai keluarga baru dan memberikan nama anak-anaknya persis dengan namanya. Dia meninggalkan rumah itu dan tidak menunggu kepulangan Papanya. Dia menangis. Sedih. Perih. Dia menyadari betapa egoisnya dirinya.

Setelah dia berhasil dalam mengemban pagelaran seni. Dia mendapat beberapa kejutan mulai dari Carenina yang kini jadi saudaranya, sejak orang tuanya meninggal dan hak asuh diberikan ke pamannya. Gadis itu selalu murung dan menjauhi Morgan. Jadi bukan karena Carenina tidak peduli dengan Morgan, lebih tepatnya dia merasa tidak sepadan lagi jalan dengan Morgan. Tapi masalah itu sekarang teratasi karena mama-Morgan mengambil hak asuhnya. Kejutan yang membuatnya tambah bahagia, Nagi menembaknya, laki-laki itu ingin jadi pacarnya. Dia juga berjanji akan menyayangi Sarah dan mama, karena keadaan Sarah juga sudah membaik. Selain itu kabar dari Yana, bahwa sahabatnya dari Singapura itu mempunyai hubungan dengan saudara angkatnya, Edo. Dan terakhir dia mulai mencoba menerima Papanya dengan sepenuh hati.

Setelah membaca resensi ini, gimana menurut kalian? Resiko memang selalu ditanggung pembaca.. 😀