//
archives

Archive for

Mereka

Hello.. Dagboek van Tjang  ini gue isi tentang aktivitas, unek-unek, tips menulis ala Tjang atau apa saja yang mangkir sekilas di otak gue. Alasan kenapa gue memakai kata ganti “aku” jadi “gue” itu karena gue ingin berbaur secara kondisi remaja Indonesia yang rada over protektif kalau sudah menyangkut bahasa gaul atau setidaknya nggak sekaku dan sesopan memakai “aku” atau “saya”. Stt..tetep biar cocok aja sama kalimat-kalimat yang meluncur. Kadang gue kalau memakai “aku” dalam menulis karangan bebas seperti ini malah terkesan—– tidak ngena banget di hati—-tidak cocok sama kondisi kalimat. (maybe cuma perasaan gue doang kali ya? Haha.. pokoknya banyak alasan. Jadi terkesan beda ya sama karya-karya gue?

Hiahh.. begini para sahabat, gue mulai nge-blog sudah beberapa tahun silam. Eh, maksudnya baru SMA kalau nggak salah dan mulai nulis baru SMP kelas dua dengan predikat tulisan kacang-kacangan (tapi herannya diterbitin sama penerbit (?) belagu banget deh gue waktu itu 😀 ). Sebenarnya gue dilarang nulis lho sama mami gue (kapan-kapan gue sharing deh ke kalian). Blog gue ganti-ganti dan ini yang terakhir. Liat gue post tahun kapan? Bulan apa? Keliatan di side bar!! Lihat! Lihat saja sendiri ya! 😀
setiap tulisan gue pasti kalian ngedapetin foto untuk ilustrasi kan? Nah, mereka itu adalah orang-orang yang berjasa di blog gue ini. Tanpa mereka blog gue pasti serasa hambar banget dan kalau bisa dibilang kayak sayur asem tapi nggak ada asem, garem, dan gulanya. Mereka itu sohib-sohib gue yang super duper baik sama gue dan menurut gue mereka cocok banget mengisi karakter di blog gue. Tapi soal ngebayangin gimana orangnya sih itu kebebasan pembaca lho ya? Gue sih niat biar nggak terkesan redup aja blog gue ini. Gue perkenalkan sohib-sohib gue yang berjasa di balik layar blog gue ini.

Tania Budiono a.k.a Tania Hyon Ra

Temen gue yang sama-sama senewen dengan segala ke-korea-koreanan. Wajahnya yang mirip Moon Geun Young daripada dua saudaranya. Di edisi-edisi berikutnya aku pengin nampilin dia. Gimana menurut kalian? Ada beberapa foto tuh? Tebak mana Tania? Mana Geun? Akakakka.. Bisa dibilang dia pembaca yang mampu ngeluarin kritik pedas sekaligus membangun untuk tulisan gue dan itu sangat-sangat membantu kinerja gue dalam kualitas dan kuantitas karya gue.*kami berharap mendapat tiket gratis keliling korea selama satu minggu! 😀

Steffen Yang

Awalnya gue tertarik sama wajahnya ini kalau dia makai jubah pastur, hrr.. padahal sudah gue tunggu-tunggu sejak zaman pra-aksara, tapi nggak segera melakukan pemotretan. Dia bos gue di page asuhannya, tapi gue ngerasa gue lah yang cocok jadi bos dia (dipalak T-phen! 😀 ) soalnya tidak mengurus page-nya lagi dan entah kabur kemana! Kapan-kapan kalau dia beneran hilang baru deh aku cap-in brosur pencarian orang hilang. Sementara ini dia berjasa di karya gue yang berjudul For Firs Time Lover bareng Suzy Miss A.. 😀

Chindy Lam Couple


Jie-jie yang satu ini udah aku anggep Jie-jie gue sendiri. Jie-jie udah sering ngisi kekosongan di postingan gue. cek aja pasti kalian akan mendapatkan foto-foto jie Chindy yang imut sekaligus cantik. Untuk Jie Chindy Couple, aku post di edisi berikutnya.

Lee Hyon Seo Eonni


Eonni ini keturunan korea lho teman! Hihi.. dia baik banget mau menyumbangkan foto-fotonya yang imut seperti boneka ini ke Blog Park Jong-hwa. Hyon Eonni uda sempet mengisi di karya gue berjudul bangku kayu tua bareng koko Stefan. Meski tulisan gue tergolong masih biasa-biasa aja (entah bagus atau nggak), tapi ilustrasinya bagus kan? Hihi…

Ben Kazukki Yippie

Cowok satu ini sudah gue anggep adek laki gue sendiri, maklum gue nggak punya adek laki. Biasanya gue panggil dia, Kunz-Kunz. Gue seneng dia mau ngebantu gue dan ngedukung blog gue dengan foto-foto narsisnya. Satu lagi, mungkin nih anak suka buat puisi atau kata-kata indah. Tiap fotonya pasti gue lihat kata-kata indah dan gue menilainya sangat bagus kalau terus dilanjutkan! ^^

Azura de Conglee


Diam-diam gue ini adalah penggemarnya dan mengikuti tulisan-tulisannya. Ada sesuatu di balik sosok Ching (panggilannya) yang bikin gue penasaran. Tulisannya bener-bener beda dengan tulisan temen-temen lain. Ada beberapa orang mengatakan gue berbakat nulis, tapi gue justru merasa Ching lah yang anak berbakat nulis (hihi..). Setelah gue ikuti beberapa bulan sejak perkenalan, akhirnya gue merasa puas dengan karya yang terakhir di tag ke gue. Bener-bener gue nggak bisa ngomong apa-apa saat itu, gue sangat bangga punya temen seperti dia. Hmm..Kenapa gue tulis Azura de Conglee? Karena nama itu aku ambil dari akunnya dan gue merasa cocok kalau dia juga masuk ke dalam sequel Park Jong-hwa versi For First Time Lover.

Widia Lolix and Dizzu Momo


Mereka temen-temen baik gue, gue ngerasa mereka memenuhi karakter di sequel gue. Makanya gue ambil mereka berdua buat nimbrung di imajinasi gue. Banyak hal gila sejak gue berteman dengan mereka berdua. Benar-benar sesuatu yang ngebuat gue rada sinting kalau sudah gabung dan ngobrol perihal mata rantai yang kasat mata. Asik pokoknya! 😀

nggak bisa disebutin satu per satu yah, semua temen gue adalah sumber inspirasi gue. Biasanya nama-nama di tokoh gue itu aku ambil dari orang-orang di sekitar gue, dan karena gue merasa karakter mereka itu cocok sama tokoh garapan gue. Khusus untuk Fan Fiction, ilustrasinya tetep artis Korea/Jepang yah! Haha.. gue cuma pengin coba aja sih. 😀

Gumawo Chingu-aa!!! >,<

SAKURA

“Nama saya Aya! Hmm..saya dari Jepang! Matur Nuwun!” dia memperkenalkan diri di depan kelas. Bahasa Indonesianya cukup lancar, meski aksen Jepangnya masih kental terdengar. Teman-teman langsung bersorak waktu mendengar Aya mengucapkan rasa terima kasihnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Matur nuwun berarti terima kasih. Dia tersenyum manis lalu duduk kembali di kursi. Aku masih menatapnya dari arah belakang. Aku hanya mampu melihat punggungnya yang tertutup kaos berkerah berwarna biru pastel, rambut sebahunya yang ia jepit sebelah, dan dia menunduk. Dia mencari sesuatu, entah apa.

“Bisa tolong ambilkan pulpen saya?” aku bengong. Wajahnya menghadap kearahku,”Ituu..pulpen saya!” ditunjuknya pulpen berwarna biru muda cermelang di samping kakiku yang membujur kaku. Aku mengambil pulpen itu lalu kuserahkan kepadanya yang sudah menunggu.

“Terima kasih ya!” ucapnya kemudian sembari tersenyum manis. Aku membalasnya kaku, hatiku terlalu tegang menghadapinya.

“Sama-sama, Aya!” balasku. Dia kembali ke posisinya semula. Kembali pula aku hanya dapat menatap rambut sebahunya yang lurus. Senyumnya masih terbayang-bayang di kepalaku.

Aya adalah salah satu anak darma siswa yang mengikuti materi antropologi di kelas reguler di kampusku. Satu kata lain darma siswa, dia adalah seorang mahasiswa Jepang yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di Indonesia, tepatnya di Universitas Sebelas Maret. Aku tidak menyangka di kelas Sastra Indonesia ini bisa bertemu dengannya untuk pertama kali. Hanya sekali ia terlihat di kelas sastra dan beberapa kali di kelas antropologi. Dia di sini hanya satu tahun. Aku terdiam lesu saat seorang dosen mengatakan hal itu.

***

Hari ini aku melihatnya berjalan sendiri di depan gedung tiga, kampusku. Aku mengejarnya dan mencoba menyamai langkahnya.

“Aya!!! Aya!!!” seruku pelan karena aku sudah berada di belakangnya. Dia menoleh ke arahku dan menghentikan langkahnya.

“Ya? Ada apa?” tanyanya.

“Mau makan siang bersamaku?” kutawarkan sekenanya. Tidak menyangka dia menjawabnya dengan anggukan dan senyum. Betapa bahagianya hatiku sampai nafasku begitu sesak.

Aku melangkah bersamanya menuju kantin kampus. Dia berjalan di sampingku. Aku merasa orang-orang yang kami lewati memandang kami sampai ujung. Dika bisa berjalan dengan gadis Jepang yang manis itu suatu mukzizat paling besar di kampus ini. Kataku dalam hati pada diri-sendiri.

“Kamu mau makan apa?” tanyaku sembari menyodorkan menu makanan.

“Aku ingin mencoba makanan oseng buncis.” Jawabnya selaku menunjuk tulisan di menu makanan,”kamu, mau makan apa, Dika?” tanyanya. Dia yang menulis makanan yang akan kami pesan di sobekan kertas yang sudah disedikan di sini.

“Aku ingin gulai kentang,” jawabku. Dia langsung menulisnya.

“Minumnya?” tanyanya sembari menatapku. Aku kaget karena aku sedari tadi memperhatikan sambil melamunkannya. Dia tertawa kecil saat menyadari aku melonjak sedikit.

“Hmm..teh..” dia menulis teh di kertas itu kembali. Masih dengan senyum malu-malunya. Aku menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal ini, aku pun malu padanya.

Kami mulai memakan makanan pesanan kami. Dia memilih oseng karena dia merasa oseng di sini enak. Dia menceritakan saat pertama ke Indonesia sampai saat ia mengikuti pelajaran di kelas darma siswa. Di sela-sela ceritanya, kami tertawa bersama karena ada yang kami anggap itu lucu dan konyol. Aku habiskan siang itu bersamanya di kantin. Kulihat dia banyak tersenyum daripada saat aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Sekarang aku merasa begitu dekat denganya.

“Dika, terima kasih ya atas makan siangnya dan menemani makan siangku!” katanya saat kami berjalan menuju parkir.

“Ya, aku juga sangat berterima kasih karena kamu mau makan siang bersamaku!” dia menunduk dengan senyum malu-malu.

***

Sesuatu yang begitu indah itu selalu cepat berakhirnya. Seperti kedatangan Aya di Indonesia yang semakin hari semakin mendekati kepulangannya ke Jepang. Sepertinya aku baru saja makan bersamanya kemarin, berlari pagi di sekitar kampus denganya, dan jalan-jalan bersama di pusat kota tidak lama ini.

Sekarang aku melihatnya memakai baju tipis dengan jaket putih yang kubelikan beberapa hari yang lalu saat kami jalan-jalan di pusat kota Solo. Di tangan kanannya tergolek paspor dan tiket keberangkatan pesawat ke Jepang. Sedangkan koper hitam itu sudah berada di samping kirinya.

“Dika,” ujarnya padaku. Aku menatapnya dengan mengangguk kecil,”Jangan lupakan aku ya!” lanjutnya. Anggukanku semakin mantap.

“Aku tidak akan melupakanmu, Aya!” ujarku. Dia tersenyum mendengarku. Aku mengeluarkan kotak hijau yang berada di tas jinjingku. Perlahan kuangkat tangannya sedikit dan kuberikan kotak itu di tangannya.

“Apa ini, Dika?” tanyanya bingung.

“Ini hadiah untukmu, kamu bisa membukanya!” dia mencoba membuka kotak hijau berhias pita emas dariku. Tapi aku menahanya.

“Kamu buka di pesawat ya!” ujarku menahan tangannya bergerak lebih lanjut. Dia tersenyum dan mengangguk kecil.

“Terima kasih, Dika!” beberapa detik kami terdiam. Pesawat tujuan Jepang akan segera berangkat. Dia melangkah mundur, sebelum akhirnya membelakangiku. Aku menatap punggungnya yang terdiam. Dia tidak kunjung melangkahkan kakinya.

Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya. Aku kaget begitu melihat wajahnya yang dipenuhi air mata. Melangkah ke arahku hingga sedemikian dekat.

“Dika, boleh aku memelukmu?” Tanyanya.

“Ya,” aku merentangkan tanganku sedikit. Dia langsung ambruk di pelukanku. Dia menangis di pelukanku 10 menit sebelum dia benar-benar memasuki pesawat. Dia mengatakan sesuatu dengan bahasa Jepang yang kurang dapat aku pahami karena segukan tangisnya meluap. Ucapannya dalam bahasa Indonesia pun tidak jelas di telingaku. Entah apa yang ia rasakan saat ini. aku hanya mampu memeluknya selama beberapa detik dengan perasaan kehilangan. Kehidupanku akan berubah ketika ia sudah kembali ke Jepang, mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang aku rasakan sebelum kedatangan Aya di sini. Tepatnya di dalam hatiku.

          ***

Malam yang bisu. Kutatap foto kami berdua yang kami ambil saat kami di restoran tempo hari. Aku merindukannya. Seperti ini kah rasanya? Gelisah, gundah, dan rasanya hanya ingin melihatnya saja. Ingin bertemu dengannya.

Hatiku berdebar. Apakah dia sudah membuka kotak hijau yang aku berikan? Kupenjamkan mataku. Berharap Tuhan mengerti perasaanku padanya, berharap Aya mau menungguku di sana.

Lewat terpejamnya mataku, aku melihat wajahnya di dalam bayangku. Memoriku melemparku kembali ke kejadian satu tahun, satu bulan, satu hari lalu. Saat pulpennya jatuh, saat dia menatapku, saat dia tersenyum malu-malu, saat kami jalan-jalan dan saat dia berada di dalam gendonganku…

“Dika, aku capai..” katanya menahan tanganku yang menggandeng tangannya. Langkahnya terhenti, langkahku pun terhenti. Aku langsung berjongkok di depannya.

“Ayoo!” ujarku. Aku menengadahkan wajahku ke arah wajahnya yang menunduk menatapku. Dia tersenyum dengan pipi kemerahan.

“Boleh?!” Tanya lirih.

“Ya, tentu saja. Untuk apa aku berjongkok seperti ini kalau kamu masih berdiri seperti itu!” celetukku. Kami tertawa bersama. Dengan pelan dia merangkul bahuku dengan ke dua tangannya. Aku pun mulai berdiri.

 “Aku berat ya?! Hihi…” tanyanya dengan pipi merah.

“Sangat!!! Haha..” jawabku dengan gelak. Aku mulai berjalan dengan menggendongnya di punggungku.

“Haha…” dia pun ikut tertawa renyah.

Aku tersenyum, di sini, di dalam kekosongan hati. Malamku semakin larut, tidurku pun ingin segera menyahut mimpi yang indah tentangnya.

***

Wajahnya tertunduk, rambut lurusnya hampir menutupi wajahnya yang cantik. Dengan pelan dibukanya kotak hijau itu. Sebuah kalung dan selembar kertas yang terlipat tergolek di dalamnya. Perlahan ia mengambil kalung yang bergantung inisial namanya dan nama Dika dengan ukiran bunga sakura di samping huruf tersebut.

“Sakura…” gumam Aya saat berada di dalam gendongan Dika.

“Hmmm…” Dika menoleh sedikit.

“Apa kamu mau melihat Sakura?”

“Sakura?”

“Ya…pemandangan yang sangat bagus di Jepang!”

“Aku jadi ingin melihat sakura di sini!” gumam Dika yang suaranya masih mampu terdengar oleh Aya.

“Sakura hanya ada di musim semi dan tidak cocok dengan musim di Indonesia!”

“Aku tahu itu, tapi aku ingin melihatnya di sini..”

“Dika-san, kamu bisa datang ke Jepang!”

 “Aku akan datang ke Jepang bila kamu menerima Sakuraku..”

Memori itu mengingatkan Aya tentang Sakura yang disinggung oleh Dika.

“Lalu aku akan membawa Sakuraku beserta pemilik barunya kembali ke Indonesia.” Kata-kata Dika seakan begitu lekat di telinga Aya saat ini. Air mata Aya menetes haru. Karena ia melihat sakura di dalam gantungan kalung itu. Kertas yang terlibat dua belah itu pun segera ia buka.

“Aya, aku akan menemuimu di bulan Sakura. Pakai Sakuraku bila kamu menerima cintaku dan mau menungguku sampai dua tahun ke depan. Tapi kalau kamu tidak menerima cintaku dan tidak sanggup menungguku selama dua tahun ke depan. Aku tetap akan menemuimu dan membawa kembali sakuraku dan kamu bisa membawa sakuramu!” tulisan itu kembali membuat air mata haru Aya menetes. Ia tersenyum dengan rona kemerahan di kedua belah pipinya.

***

24 April…

Aku berjanji bertemu dengannya di Taman Hirosaki di Shimoshirogane, Aomori. Taman itu sangat ramai pengunjung karena selama bulan april sampai mei, Hirosaki Cherry Blossom Festival berlangsung. Setelah masuk ke dalam Taman Hirosaki dengan membayar uang sebesar 300 yen kepada petugas. Aku segera mencari sosok Aya. Aku sudah tidak sabar lagi. Begitu penasarannya diriku pada wajah yang dua tahun terakhir ini tidak kulihat.

“Dika-san!” serunya pelan. Ya, aku mengenali suara itu. Perlahan aku membalikkan badan. Melihat wajahnya yang tersenyum manis. Memakai topi rajut berwarna putih yang membuatnya semakin terlihat cantik.

Kemudian kami duduk di selasar bawah pohon cemara yang sangat rindang. Bunga-bunga berjatuhan di antara kami. Di antara aku dan Aya. Menambah Susana menjadi begitu indah di dalam hati. Kulihat ia memakai kalung sakuraku. Dia memakainya.

“Aku sudah menunggumu di sini dan memakai kalung sakura pemberianmu! Sekarang aku ingin mendengar langsung darimu tentang rasa cintamu terhadapku!” aku kaget mendengarnya. Apakah aku sedang bermimpi? Tidak, ini nyata. Benar-benar aku tidak menyangka sebelumnya.

“Aya..” kupengang ke dua belah tangannya. Lalu menaruhnya di depan dadaku,”Seperti yang aku katakan sebelumnya, bahwa aku mencintai Aya.” Kulihat senyumnya merekah. Kedua belah pipinya mulai merona merah.

“Aya juga mencintai Dika-san!” gumamnya lirih. Aku tersenyum mendengar balasannya yang malu-malu itu.

Kami berjalan melewati guguran bunga sakura dengan hati penuh cinta. Dia bercerita panjang lebar tentang dirinya, seakan semua ingin diluapkan padaku hari ini juga. Aku kembali dibuatnya kaget dengan pernyataannya barusan dan pernyataan yang lampau, yang tidak mampu aku tangkap karena isak tangisnya yang terlalu dalam di bandara dua tahun yang lalu.

“Dika-san, aku tidak ingin meninggalkan Dika-san! Aku ingin bersama Dika-san! Aya sangat mencintai Dika-san!” dia mengulangi pernyataannya. Aku tersenyum malu karena terlambat menyadari pernyataan itu. Kutatap kedua belah matanya yang indah.

“Maafkan aku, Aya!” dia mengangguk. Menerima permintaan maafku. Dia memaklumi hal itu karena dia memang tidak jelas waktu mengucapkanya.

Untuk kesekian kalinya aku menatap matanya yang indah. Tiba-tiba dia mencium pipi sebelah kananku. Dia membuatku terkejut. Setelah melakukan itu dia langsung menunduk dengan senyum yang tidak lupa meninggalkan rona merah di pipinya. Sangat indah bukan, Cinta itu?

          .Selesai. Cerita ini terinspirasi dari salah seorang teman. Terima kasih! ^^

Model Foto: Chindy Lam & Friends

Ost: Sakura__Moriyama

BELANG

[Belang-belang warna kupu-kupu

Terbang-terbang sayapnya

Aku termangu bersamamu, melihatnya hinggap di jari bercicinku]

Untuk ke sepuluh kalinya dalam pagi ini, mama bilang kalau aku ini anak manja. Suka membentak-bentak pembantu dan kalau ada kesempatan untuk memaki, mulutku mampu menjakaunya. Aku bilang pada mama lebih baik aku tinggal di Singapura. Di sana hidupku lebih nyaman dan tentram. Setidaknya tidak seperti saat ini, di mana di setiap jam aku harus mengomeli pembantuku yang lemot itu. Misal saja bajuku belum disetrika, sepatuku yang aku pakai kemaren belum juga dicuci padahal besok aku harus memakainya untuk pergi jalan-jalan dengan anjingku, dan makhluk itu tidak kunjung datang saat aku menyuruhnya membuatkanku minuman padahal tenggorokkanku sudah terancam panas. Tapi satu hal yang harus aku akui ,yaitu masakan yang dia buat lumayan enak. Meski tidak seenak makanan yang sering aku makan di rumahku dulu.

Aku nggak punya adik, aku nggak punya kakak. Sebetulnya aku anak tunggal, tapi pada waktu yang tidak pernah aku duga sebelumnya akhirnya aku punya kakak juga. Saat umurku lima tahun, mama mengangkat anak laki-laki berambut jabrik itu dari panti asuhan. Meski kutahu dia tidak jelek, dia juga tidak bodoh, dia juga tidak nakal. Tapi sayang, aku membencinya. Dari pertama melihatnya, dia senyum sok ramah di mukaku, aku tak pernah suka dengannya. Lihat saja, mama lebih mengelu-elukan dia, papa juga tak pernah berhentinya memujinya. Satu lagi, mama sering membanding-bandingkanku dengan manusia satu itu. Dia yang pintar matematika lah, jago fisika lah, getol kimia lah, atau sistematik lainnya. Aku diam saat itu, aku mengakui aku tidak terlalu menyukai macam itungan seperti batu dicelupkan ke cairan mendidih lalu dilempar dan dihitung berapa jarak A ke B. Sampai mati paling-paling nilai yang paling mujur adalah enam seperempat untukku yang tidak mungkin untuk macam keahlian Jonathan. Macam manusia yang sudah melenggang ke negara-negara pengada olympiade. Itulah kekuranganku, tidak untuk yang lainnya.  Apapun kiblat Jonathan, dia tidak mungkin bisa merancang gaun serumit jaring laba-laba seperti apa yang aku lakukan.

Di sini aku nggak punya sahabat, teman sebangkuku pun aku nggak tau namanya. Dia memperkenalkan dirinya, tapi aku lupa. Lebih tepatnya aku tidak mau mengingatnya. Ada juga yang baik, menyambutku dengan ramah sekali, sekali lagi aku tidak terlalu memperdulikan. Beda dengan Jonathan, setelah kami keluar dari ruang kepala sekolah. Dia masuk ke kelasnya yang berada di dekat tangga, aku terpaksa naik karena kelasku di lantai atas. Kupikir dia terlalu berlebihan untuk memberikan senyum seperti itu. Lihat saja, cewek-cewek mulai menjuruskan senjata kecetilannya.

Waktu istirahat aku keluar kelas, itu lantaran aku bosan. Aku turun tangga, duduk di bangku pendek di samping lapangan. Jonathan mendekatiku dan ikut-ikutan duduk di sampingku.

“Ngapain kamu ke sini?” aku nggak melihat mukanya. Aku masih menatap buku tipis yang aku bawa untuk bacaan.

“Bosan ya?! Kamu pasti nggak betah di sini.”

“Kamu bisa nggak sih, Jo, nggak ngurusin hidup aku sehari saja! kamu itu kayak mami!” aku pikir dia tuli karena kata-kata itu sudah berulang kali aku ucapkan untuknya,”Bosan! Ya, aku bosan hidup di sini!” ucapku sambil berdiri,”Dan asal kamu tahu, jangan deketin aku lagi! Meski kamu satu rumah denganku, bukan berarti kamu boleh deketin dan sok nasehatin aku seenak jidat!” aku pun meninggalkannya. Sedikitpun aku nggak memandang wajahnya. Aku pun nggak mau tahu perasaannya.

******

“Jesica.” jawabku tak acuh. Lima orang cewek mengulurkan tangan ke arahku. Mereka memperkenalkan dirinya masing-masing. Meringis layaknya cewek kurang gizi. Aku kembali ke tempat dudukku tanpa sedikit pun melihat tampang mereka.

“Jes,” aku melirik ke arah sumber suara. Hari ini hari ke tujuh aku bersekolah di sini, hari yang membuatku muak semuak-muaknya.

“Kamu mau nggak nanti sore lihat permainan basket, buat hiburan? Itu kalau kamu mau sih!” aku menatap wajahnya sekilas. Jadi aku suruh lihat permainan basket dia gitu? Aku mendengus pelan. Mencoba tersenyum sedikit biar hatinya tidak putus asa. Lihat saja tampangnya? Memelas. Aku tahu dia ketua tim basket karena mulut cewek-cewek di belakangku dari tadi menggunjingkannya.

“Oh, mungkin aku akan datang.” dia langsung tersenyum ke arahku.

“Aku tunggu ya!” dia pun pergi dari hadapanku. Kini digantikan dengan ocehan guru yang kupikir ini pelajaran untuk anak SD. Hah? Macam apa lah ini? aku mendengus kesal. Cewek di sebelahku menoleh ke arahku dengan tatapan heran.

“Kenapa Jes? Ada masalah?” tanyanya beruntun. Aku menggeleng lalu menatap paket yang seharusnya untuk anak SD.       

*****        

Aku melangkah ke lapangan sore ini, duduk-duduk melihat Jonathan dan orang yang mengundangku tadi bertanding basket. Baru juga masuk kemaren, anak itu sudah digilai banyak cewek. Nggak sudi aku memanggilnya kakak. Itu prioritas pertamaku di sekolah ini. teman-temanku di sekolah lama tahu dia itu kakakku, mereka tahu dia kakak kandungku. Di sini jangankan mengira kakak kandungku, kakak angkat pun aku nggak rela semua orang di sini mengetahuinya, mengetahui kebenarannya. Anak papa dan mama itu hanya aku seorang, bukan Jonathan atau siapapun.

Macam permainan yang menarik sekaligus membosankan. Cewek-cewek yang berkerumun itu berteriak kesetanan seperti nggak pernah melihat cowok-cowok yang berlari merebutkan bola. Bola? Yah bola basket tepatnya. Sesekali kulihat ke dua orang itu mencuri pandang ke arahku. Tersenyum dan kembali merebutkan bola. Aku menatapnya acuh.

Setelah permainan itu selesai dan dimenangkan Jonathan. Suara-suara cempreng itu riuh rendah sembari bertepuk tangan. Begitu sangat menjengkelkannya ketika mereka menghadap Jonathan dengan tatapan terkesima. Tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku tanpa aku sadari. Menyamai langkahku menuju gerbang sekolah.

“Makasih ya, kamu udah mau lihat permainan basketku! Meski aku kalah dengan anak baru itu!” ucapnya terkagum-kagum. Dia mengagumi Jonathan. Aku menggangguk dan tersenyum hambar.

“Permainanmu juga bagus kok!” ujarku mencoba menyemangatinya. Kupikir aku nggak akan terlalu menyombongkan diri di muka memelasnya itu. Kuperhatikan dia cukup tampan dan lucu.

“Kalian saudara ya? Sama-sama anak baru dari Singapura?”

“Siapa yang bilang?” nadaku meninggi. Agak sedikit aku tekan, aku tahu dia agaknya terkejut. Tapi dia langsung menyeringai.

“Aku hanya menebak saja, mungkin benar, mungkin juga salah?! Kulihat kemarin kalian berdua juga berbicara berdua bersama. Dan kulihat kamu sepertinya marah.” Aku terdiam. Dia menguntitku. Jangan-jangan…

“Atau dia pacarmu?” lanjutnya. Aku terkejut, tapi juga bersyukur karena dia tidak tahu apa yang aku katakan pada Jonathan kemarin. Aku mencoba tersenyum.

“Bukan..bukan! aku tidak mengenalnya!”

“Jadi dia bukan pacarmu?” kali ini aku menatapnya. Tersenyum dan menggeleng pelan.

“Rumahmu di mana? Biar aku antar!” ujarnya bersemangat.

“Tidak perlu, sopirku sudah menjemputku,” kulihat raut mukanya meredam kecewa. Entah kenapa aku merasa tidak tega. Dia tetap tersenyum ke arahku sembari melambaikan tangannya. Tidak akan mungkin dia mengantarku di depan rumah apalagi bermain di rumahku. Karena sangat jelas mereka akan mengetahui Jonathan adalah saudaraku.

Kulihat dari kaca mobil, di luar sana hujan sangat deras. Kupikir Jonathan sudah mengerti perkataanku. Dia tadi sama sekali tidak menghampiriku atau sekedar mengajakku berbincang yang tak mungkin aku balas. Kusentuh embun yang melekat di kaca mobil, aku tidak akan mengkawatirkannya. Aku yakin dia akan pulang dengan keadaan selamat dengan motor baru yang dibelikan Papa untuknya.

*****  

Jonathan pulang dengan keadaan basah kuyup, mama langsung menghampirinya. Macam pertanyaan untuk  anak kecil, mama  lontarkan untuknya. Aku melihatnya menggigil dan bibirnya terlihat pucat. Aku teringat saat dia pulang dari sekolah waktu aku masih sekolah dasar. Aku meninggalkannya saat hujan. Dia di belakangku tanpa menggunakan pelindung hujan, sedangkan aku menggunakan payung cantikku sendirian. Dia mengikutiku sampai rumah tanpa sedikit pun aku berniat menawarinya untuk satu payung denganku. Mama tidak memarahiku, tapi kurasa wanita itu memendam kesal kepadaku. Selama satu minggu Jonathan tidak mengikutiku lagi di belakang saat hujan turun. Kutahu dengan amat jelas dia sedang sakit demam dan berakhir di rumah sakit. Papa dan mama sangat mengkawatirkannya.

Dia menatapku sembari menyungging senyum. Aku langsung melengos, mataku tertangkap olehnya karena sedari tadi aku melihatnya berdiri gemeletuk di samping Mama yang kawatir bukan main. Aku tahu, mama tidak akan membiarkan anak laki-lakinya itu mendekam di rumah sakit seperti beberapa tahun silam.

*****

Kubenamkan wajahku di depan kedua lututku yang kukatupkan. Apakah sikapku keterlaluan pada Jonathan? Sejak melihatnya pertama kali aku tidak suka, karena dia merebut semuanya dariku. Mungkin wajar saja lah seperti ini, toh dia juga bukan siapa-siapaku. Aku tertawa. Dia bukan kakakku! Aku tidak mempunyainya! Kurasa mama saat ini sedang mengompresnya dan tidur di samping anak manja itu. Seharusnya mama menyadarinya, yang manja itu bukan aku, tapi dia.

Kurebahkan badanku, aku tidak tahan dengan semua yang ada di sini. Aku kehilangan teman-temanku. Teman-teman di sekolah baruku itu sangatlah membosankan. Tidak hanya itu, lihat saja mata pelajaran yang diajarkan! Mereka pikir aku anak sekolah dasar? Aku benci! Aku benci tinggal di sini! Aku ingin kembali ke Singapura! Kupukul-pukul bantal dengan keras. Menyebalkan.

“Kau belum tidur? Bolehkah aku masuk, Jes?” kudenggar suara di balik pintu kamarku yang tertutup rapat. Aku sangat mengenali suara itu.

“Ada apa? Bicara saja di situ! Aku tak mau melihatmu!” ucapku setengah berteriak.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!”

“Ya sudah, bicara saja di situ!” balasku kesal, ini sudah malam masih saja menggangguku. Kupikir dia mengerti, tapi ternyata tidak. Hening, dia tidak segera membalas. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu yang tadi kukunci. Kulihat dia berada di depan kamarku, berdiri mematung seperti mayat hidup. Kadang memang aku tidak sampai hati membentaknya, bibirnya pucat.

“Ada apa?” tanyaku ketus, dia justru tersenyum. Aku ingin menanyakan, apakah dia sakit? Aku berpikir ulang, kalau aku tanyakan pertanyaan itu bisa jatuh reputasiku di depannya. Kugeser kakiku menuju tempat tidurku kembali. Kupeluk bantalku, kutarik selimutku, dan mencoba menghindari tatapan matanya. Dia duduk di pinggir tempat tidurku karena kurasakan ada seseorang yang menindih kasur yang berada di belakangku. Aku merasakan kehadiran itu.

“Aku tahu kamu membenciku,” kalimat pertama yang kudengar darinya, dia tahu aku membecinya. Dia mengetahui itu sejak lama, tapi baru dia lontarkan malam mini. Dulu apa dia pura-pura tidak mengetahuinya atau memang saking bodohnya dia tidak mempunyai kepekaan terhadap sikapku? Atau karena dia ingin merebut papa dan mamaku?,”Kamu ingin aku bagaimana supaya kamu tidak membenciku lagi? Kalau kamu ingin aku pergi dari rumah ini, aku akan pergi. Aku memang tidak pantas masuk ke dalam keluargamu, aku tidak pantas menjadi kakakmu, aku bukan kakak yang baik untukmu…”

“Cukup!” ujarku cepat,”Kalau kamu mau pergi silakan saja! Nggak ada yang akan menahanmu! Jangan mencari-cari alasan konyol seperti itu!” aku tidak menatapnya sedikitpun. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi mukanya yang membelakangi punggungku yang membujur di balik selimut,”aku memang membencimu!” tandasku. Entah kenapa hatiku mencelos saat setelah kata itu keluar dari mulutku, air mataku menetes pelan. Aku menangis? Tidak.

“Baiklah kalau itu membuatmu bisa bahagia. Jaga papa dan mama, aku akan pergi.” Tubuhnya terangkat seketika dari kasurku. Setelah itu tidak kudengar suaranya, hanya deritan pintu yang tertutup. Dia sudah tidak berada di dalam kamarku.

“Itu ucapan konyol, Jonathan! Kau pikir, kau itu di mana? Ini Indonesia, kau baru saja menginjak tanah ini satu minggu yang lalu. Kalau kau mau kabur, kau mau kabur kemana? Huh, dasar anak manja! Penyakitan pula! Haha..” aku tertawa memikirkan cowok sableng itu. Mana mungkin aku menanggapi ucapannya itu? tidak mungkin dia berani pergi dari rumah ini begitu saja. Kupejamkan mataku, menjemput mimpi indah sebelum pagi-pagi sekali harus bertemu dengan manusia satu itu kembali.

*****

Di ruang makan sudah tidak ada satu pun orang, sarapan pagiku sudah siap. Ternyata pembantu itu bisa juga tepat waktu.

“Ke mana papa dan mama?” tanyaku sambil mengambil roti tawar.

“Pagi-pagi sekali tuan dan nyonya sudah pergi, non! Pesan nyonya, menemui relasi di luar kota, jadi besok pagi baru akan pulang.”

“Oh..” gumamku.

“Den Jonathan..”

“Aku tidak bertanya dia!” sambarku sebelum wanita paruh baya itu melanjutkan perkataannya. Kini kuteguk susu coklat di depanku dan segera keluar dari rumah. Paling-paling anak itu sudah sampai di sekolah. Dia sudah kelas tiga, mungkin ada pelajaran tambahan. Ah, kenapa aku malah memikirkannya?

****

“Siang-siang begini hujan,” Gerutuku sembari melihat jam tangan. Sedari tadi aku sama sekali tidak melihat Jonathan. Biasanya dia pura-pura jalan-jalan ke lantai atas padahal aku tahu dia ingin melihatku. Huh!

“Jes, kamu melamun ya?” aku tersentak. Suara itu tiba-tiba muncul di sampingku.

“Ah, tidak.” Jawabku.

“Sedang mikirin apa?” aku menoleh ke arahnya.

“Tidak kok, hanya kepalaku sedikit pusing saja.” Asalku, tapi aku merasa kepalaku memang agak pusing.

“Kalau begitu kamu mending istirahat saja di UKS!” ucapnya kawatir, aku menggeleng pelan dan memunculkan senyumku yang asing. Aku jarang tersenyum pada orang-orang yang aku anggap memang tidak perlu aku berikan senyuman.

“Tidak..aku tidak apa-apa kok!” kilahku, dia tersenyum. Dadaku berdebar melihat hujan dan petir yang tiba-tiba menyambar.

*****

Malam ini sepi sekali, Papa dan mama juga belum pulang. Kubolak-balik buku materiku yang baru saja kubeli. Lagi-lagi biologi versi SD! Kutarik badanku dan beringsut ke depan jendela. Lagi-lagi pemandangannya hanya hujan dan hujan. Seharian tadi aku sama sekali tidak melihat Jonathan. Apa dia benar-benar pergi dari rumah? Ah, mana mungkin dia serius dengan omongannya yang terdengar konyol itu.

Kubuka pintu kamarku perlahan, pintu di depanku itu tertutup rapat. Mungkin dia sudah tertidur. Aku ingin masuk dan mengecek keadaannya. Tapi aku urungkan niat baikku, dia itu sudah besar, bisa menjaga diri! Aku meyakinkan diriku sendiri kalau bibir pucat yang aku lihat kemarin baik-baik saja dan sekarang dia tertidur pulas di kasur empuknya.

“Trutt..truttt…” suara getaran ponsel yang diikuti lagu who am I milik Casting Crowns terdengar sampai di telingaku. Kulihat ponselku berdiam diri di atas kasur. Kuperhatikan suara itu berkali-kali bergetar dan suara bertambah nyaring. Kuketuk pintu di depanku tiga kali.

“Jo..” suara ponsel itu masih terdengar, sepertinya si penelpon tak jemunya memutar nomor itu sampai kesekian kalinya. Tak ada respon dari dalam.

“Jo..kau tuli ya?!” gertakku. Ponsel itu terdiam dan kembali menyaringkan suaranya. Aku membuka kamar gelap ini. Mencari saklar, setelah aku memukannya dan lampu menyala benderang. Sosok itu tak aku temukan di kamar tidur. Kubuka pintu kamar mandinya, kosong. Tidak kutemukan apa-apa kecuali ponselnya yang berdering tak karuan. Kuangkat telponnya,

“Hallo, Dear..jangan lupa minum obatmu!” kulihat beberapa bungkusan obat tergeletak tak berdaya di atas meja,”Dear, katakan pada adikmu juga. Papa dan mama pulang besok karena terjebak hujan. Dear..kau dengar mama?” ponsel itu jatuh dari genggamanku. Aku berlari keluar menuju kamar pembantuku. Mengetuk pintunya keras-karas hingga wanita itu menyembulkan kepalanya sembari mengucek mata.

“Kau lihat Jonathan?” dia menggeleng, “cepat katakan!”

“Aku tidak tahu non, hanya saja saya ingin katakan tadi pagi, kalau den Jo tidak terlihat dari pagi.” Aku langsung berlari keluar, ternyata dia tidak main-main dengan perkataannya.

*****

“Cepat dong Pak!”

“Iya non ini sudah cepat!” aku melihat-lihat kalau-kalau Jonathan ada di pinggir ruko-ruko yang sudah tutup. Meringkuk bersama gelandangan, tapi mana mungkin? Dasar bodoh! Dia belum makan dari tadi pagi, dia belum meminum obat dan kabur seperti orang yang sudah mengenal cukup baik Negara ini. Dadaku berdebar keras, kuakui perasaanku tidak enak sudah dari kemarin setelah manusia itu keluar dari kamarku. Aku tidak tahu kalau perasaanku benar.

“Hallo, kak Andi ya? Maaf mengganggu malam-malam, aku adik Jonathan. Apa kakakku ada di rumahmu?” tanyaku dengan nada bergetar.

“Jo tidak ada di sini, kenapa memangnya dengan Jo?” tanyanya balik.

“Tidak apa, terima kasih ya!” ucapku sebelum mematikan ponsel Jonathan. Semua teman-teman yang berada di phone book dalam card barunya aku telpon, tapi tidak ada satu pun yang tahu Jo di mana.

“Tadi kan dia tidak masuk, kenapa dengan Jo?” balas seorang cewek.

“Nggak apa kak, makasih!” semua aku akhiri dengan terima kasih yang jarang sekali aku ucapkan. Brengsek kau, Jo! Membuatku uring-uringan seperti ini.

“Pak..bagaimana ini? Jo di mana? Mama bisa pinsan kalau anaknya itu hilang!”

“Tenang, non!”

“Tenang bagai…stop..stop..” cowok yang meringguk di pojok itu, sepertinya aku mengenalnya. Aku membuka pintu mobil dan langsung menghambur dengan derai hujan.

“Non..mau kemana?” aku tidak menghiraukan teriakan laki-laki paruh baya itu.

Wajahnya menunduk, memeluk kedua lututnya. Dia kedinginan, aku tahu itu. Aku semakin mendekatinya. Dia hanya mengenakan kemeja hitam lengan panjangnya yang dipilihkan mama untuk ke acara ulang tahunku tahun lalu. Dia mengenakan gelang simpul yang kuhadiahkan padanya saat ulang tahunnya ke 17 tahun. Sudah tahu kedinginan dia masih saja menggulung lengan kemejanya itu, dasar bodoh kau Jo! Umpatku berkali-kali melihat lengannya yang putih itu terlihat memerah karena suhu yang tidak cocok dengan tubuhnya yang ringkih. Kudongakkan wajahnya yang pucat dengan kasar. Matanya melihatku dengan keterkejutan luar biasa.

“Plak!” aku menamparnya. Tangisku meledak. Tangan kananku berhasil menampar pipinya yang mendingin seperti es.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau mempermalukanku dengan cara kau menjadi gelandangan? Iya, begitu?” tanyaku dengan nada tak jelas karena tangis dan derai hujan mengalahkan apa yang aku ujarkan. Dia menatapku,

“Maaf..”

“Kau selalu mengatakan itu, apa kau tak punya kata lain? huh?” kulihat matanya terlihat lelah dan bibirnya pucat sekali. Ingin rasanya aku menghajarnya.

“Lihat…” aku menenteng lengannya yang kemerah-merahan,”Dasar bodoh!” aku melepas jaketku dan memakaikan ke tubuhnya yang terlihat menggigil.

“Tuan…kenapa seperti ini?” sopirku itu langsung memapah Jo. Aku memayungi mereka sampai ke mobil. Baru kali ini aku seperti pembantu dan ini semua gara-gara Jonathan.

*****

“Ke rumah sakit sekarang!” suruhku. Kulihat Jonathan menggigil sangat, terdengar giginya bergemeletuk. Matanya terpejam.

“Kau kedinginan? Cepat dong pak!” badannya sangat panas.

“Iya..iya..non!”

“Dasar! kau itu memang bodoh! Menyusahkanku!” matanya yang sipit terbuka dengan paksaan. Merekahkan bibir pucatnya.

“Jangan memaksakan diri untuk tersenyum!” sungutku. Dia terkekeh disusul dengan batuk.

“Uhuk..uhuk..” matanya kembali merapat. Wajahku mulai panik melihatnya lebih seperti mayat.

“Jo, buka matamu!” aku menepuk-nepuk pipinya pelan,”Jo..jangan mati dulu! Kau itu masih punya hutang padaku! Jonathan…” aku ambruk di tubuhnya, memeluknya,”Cepat dong pak!” selama ini aku sudah menjahatinya,”Jo, bangun! Siapa lagi nanti yang aku bentak-bentak kalau kamu nggak ada? Hiks..” tangisku menimbun di atas tubuhnya yang mendingin.

*****

1 minggu kemudian…

“Mama nggak tahu sih, dia menangis sambil memelukku!” aku merengut. Papa, mama, dan dia tertawa terpingkal-pingkal.

“Pasti romantis sekali ya?” papa mulai menggoda. Aku merasa terpojok. Papa gila!

“Papa!” aku melempar bantal ke arah papa.

“Lihat pipinya memerah!” mama menambah-nambahi. Aku beranjak dari kursi, puas-puaskan kalian menertawaiku! Tangan itu menarikku hingga kami saling berhadapan, tidak hanya itu bibirnya yang lembut menyentuh bibirku.

“Plok…plok…haha…” mama dan papa malah bertepuk tangan girang. Orang tuaku memang sedikit ah..tidak wajar seperti itu.

“Apaan sih?!” aku menunduk malu. Aku tidak tahu kenapa hatiku menjadi seperti ini. aku memang tidak ingin Jonathan menjadi kakakku. Aku hanya ingin dia menjadi kekasihku dan menjadi pendampingku di altar. Itu impianku dari kecil saat pertama kali aku tersanjung dengan semua yang dilakukannya padaku.

Tidak menyangka ternyata dia tidak melupakanku. Dia ingat semua kata-kataku dulu. Sedangkan mama dan papa mempunyai rencana gila dengan menjodohkanku dengan anak angkat yang mereka sayangi setengah mati itu. Ah, pantas saja! Mereka tak mau kehilangan Jonathan, seperti aku, aku juga tidak mau kehilangannya.

Kami tertawa bersama. Keluarga bahagia! ^.^

*****

“Kakak, tunggu aku!” aku berlari mengejarnya di taman.

“Kupu-kupunya hinggap di sini, cepatlah sedikit!” serunya. Aku menghampirinya. Kupu-kupu belang itu memang di depan bunga-bunga kecil di sekitar kami.

“Kakak lihat!” seruku pelan. Kupu-kupu belang itu hinggap di jemari bercincinku. Kami melongo bersama saking kagumnya dengan makhluk bersayap belang itu. Aku mengangkat tanganku.

Setiap pulang sekolah kami selalu bertemu di taman belakang sekolah. Kami bermain bersama.

“Kamu nanti yang akan jadi pasanganku di altar!” ujarnya sambil menggandeng tangan mungilku.

“Aku jadi pasangan kakak?” tanyaku polos sembari membayangkan aku menjadi pengantinnya. Dia mengangguk mantap.

Dua hari kemudian…

Dear, lihat siapa yang datang?” seru mama di depan pintu yang terbuka lebar. Papa membopongku. Aku melihat anak laki-laki berambut jabrik yang sering bermain denganku di taman. Papa menurunkanku. Sepertinya anak itu terkejut, tak jauh berbeda seperti apa yang sedang aku alami. Aku terkejut bukan kepalang lagi.

Dear, dia adalah saudaramu! Namanya Jonathan dan sekarang dia adalah kakak laki-lakimu!” mataku berkaca-kaca mendengar penyataan mama. Kulihat papa tersenyum bahagia seperti mama, mereka memang menginginkan anak laki-laki yang tak mungkin mereka meliki kecuali mereka mengadopsi seorang anak laki-laki. Mama tidak bisa memiliki anak lagi setelah melahirkanku. Rahim mama harus diangkat karena ada tumor yang menjalar di dinding rahimnya. Masih untung aku dan mama selamat saat itu.

Mendengar hal itu aku langsung berlari menuju kamar dan membuang boneka beruang kecilku. Aku membenci Jonathan!

TAMAT

Model foto: Kevin R. & Chindy Lam

Mengenal Park Jong-hwa

Masih bingung mau ditulis di blog ato dikirim ke penerbit (?) wekekekekekek…..

Park Jong Hwa adalah nama tokoh di sequel novelku. Nah, sekarang ke arah alur ceritanya. Park Jong-hwa story mempunyai dua versi cerita yang saling berkaitan. Pertama berjudul “FOR FIRST TIME LOVERS” ini menceritakan kehidupan dan kisah cinta Jong-hwa saat di New York. Sedangkan versi yang kedua berjudul “HEART DOLL” ini bercerita tentang kehidupan Jong-hwa dan Young-ho, berkisar pada Park bersaudara.

Nah apa sih kelebihan tokoh Jong-hwa? Jong-hwa lihai bermain musik. Dia adalah anak berbakat dari keluarga Park. Putri satu-satunya yang memiliki kelebihan bermain musik yang luar biasa. Sebenarnya dia ingin menjadi pianis terkenal, tapi karena sesuatu hal (Humm.. ikuti kisahnya yah!!) dia memutuskan menjadi cellist, dia mengambil musik gesek berirama berat daripada grand piano yang selama ini dia idam-idamkan.

Keluarga Park juga memiliki putra yang sangat cerdas dalam bidang sains, terutama biologi. Park Young-ho adalah kakak kandung dari Park Jong-hwa. Umur mereka terpaut 5 tahun. Young-ho sudah bekerja di salah satu rumah sakit terkemuka di Seoul dan melanjutkan studi strata dua, ketika Jong-hwa berumur 17 tahun sedangkan dia sendiri berumur 22 tahun dan memutuskan untuk menikah muda. Young-ho sangat menyayangi adiknya, kasih sayangnya melebihi apapun. Belum Jong-hwa lahir dia sudah medambakan kelahirannya. Sayangnya Jong-hwa tidak terlalu peka dengan segala perhatian Young-ho. Jong-hwa justru bersikap seolah-olah tidak mempunyai kakak laki-laki ‘saudara’.

Jong-hwa mengalami gagal jatung akibat kecelakaan yang menimpanya. Awalnya Young-ho tidak menahu soal ini, tapi akhirnya dia tahu juga. Nah, di versi Heart Doll kalian akan menjumpai dunia medis. Karena sorotan utama Park bersaudara. Kok diambil judul Heart Doll? Hubungannya dengan boneka apa nih? Hiaaa… cari tahu sendiri yah! 😀

Untuk versi For First Time Lovers, dunia musik mungkin lebih menonjol ketimbang Heart Doll. Karena memang di FFTL lebih fokus pada kehidupan percintaan Jong-hwa..hehe..

Untuk setting FFTL berada di Boston & Cambridge, Massachusetts, USA..(dua diantaranya? hehe..awalnya sih aku ambil New York. Tapi karena info yang aku dapat tentang NY sangatlah kurang, aku ganti dah! Akakak..). Boston itu seperti apa sih? dan bayangan musim dingin di sana.. Brrr…Brrr… haha..

Untuk setting HD berada di Seoul, Korea Selatan. Ha, Seoul? Kata orang-orang sih Seoul itu seperti New York (Padahal mau menyamakan dikit-dikit gitu, eh malah NY dilepas..say Good bye! 😀 .. hehe.. HD akan menampilkan suasana musim gugur yang dingin dan kering tapi sangat indah.

Rrr.. perlu diketahui juga, sebenarnya cerita ini awalnya sudah pernah aku publiskasikan di note fb dengan judul Mone Doll. Idenya saja yang sama tapi alurnya agak berbeda karena aku rombak semua dari nama tokoh sampai ending.  Dulu aku ambil setting di Jepang dengan dua Higashiyama bersaudara, Kei Higashiyama dan Erika Higashiyama. Agak berat juga sih melepas mereka (caelah! Haha.. uda seperti anak sendiri), dengan sangat-sangat berat hati aku akhirnya melepaskan mereka juga. Bukan karena masalah apa-apa hanya karena info yang aku dapatkan jauh lebih banyak Korea daripada Jepang. Mungkin lain kesempatan aku akan membuat cerita versi Jepang. hehe.. aku mau fokus ke korea dulu.

Sekian yah perkenalan singkat mengenai sequel pertamaku ini. setidaknya aku memberikan sedikit gambaran tentang ceritaku sebelum melenggang lebih jauh. Gumawo Reader!!

Sumber Foto: Mawar di Seoul/Page: Korea Language/Facebook.com

Heart Doll

Aku bernyanyi sembari mendentangkan piano milik Eomma, menyanyikan sebuah lagu untuk adik perempuanku yang manis.

“Daun…daun…berguguran….

Jatuh..jatuh…di pundakmu yang wangi….

Aku dan kamu bergandengan bersama..

Melewati guguran daun-daun keabadian..

Berlari…berlari…mengejar angin…

Berlari…berlari…mengejar cinta…

Berlari..dan berlari…

Berlariiiii….Kita terus berlari bersama…..

Bersuka cita… mengejar angin… mengejar cinta…”

[syair sederhana ini untuk sebuah lagu. Sebuah kisahku akan di mulai pada tanggal 16 Mei 2007. Semua impianku akan tercapai sehingga aku tidak perlu memberitahukan siapa pun, termasuk diriku sendiri mengenai sebuah rencana indah yang kurangkai semenjak aku bertemu dengannya. Aku bukan seorang ahli kisah yang menebar kemunafikan, tapi aku adalah apa yang aku tulisankan dan kau baca sekarang. Maka lanjutkanlah membaca sampai selesai tulisanku. Ini tentang diriku, tentang keluargaku, tentang adikku, tentang kekasihku, tentang teman-temanku yang telah mengkhianatiku. Semuanya akan membujur menjadi satu di dalam rangkaian garis lintang sebuah jarum pendek yang berputar mengarah angka 9. Di mana semua orang mengangkat kepalanya sampai darah keluar dari lubang telinga. Aku hanya bisa mengingatkanmu ketika kali kau membaca. Diamlah! Dan aku mohon renungkanlah apa yang aku tulisankan dan kau baca. Benar-benar kau akan merasakan bagaimana yang aku rasakan] Park Young-ho.

[Bukan benih yang kau tanamkan, kalau memang itu bukan milikmu. Memang benar bila melirik saja ke arahmu, apa yang dapat aku lakukan? Membuatmu bersujud di kakiku? Bukan hal penting untuk mengangkat kepalamu  ke kepalaku hingga kita mampu berhadapan langsung. Bukan katamu kalau itu bukan kataku. Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang ilustrasi nyata yang diberikan Eomma sejak 11 tahun yang lalu. Mengenai sebuah takdir yang sudah tertuliskan di lembaran telapak tanganmu yang halus. Benar-benar anak laki-laki yang tampan dan tidak pernah diperlakukan kasar oleh siapa pun. Apa yang mambuat semua ini menjadi rangkaian kisah yang rumit dan menawan? Aku sama sekali tidak mengagumimu semenjak aku terlahir di dunia dan harus dipertemukan denganmu kembali] Park Jong-hwa.

Seoul adalah kota di mana tempat yang mereka tinggali bersama. Membuka cakrawala, mendidihkan lembayung di awan gemintang. Dengan sekali terbangkan burung layang, mengepak-epak di rerimbunan dedaunan musim gugur. Mengecapkan sedikit rasa di lidah, Tteokguk acap kali menghunus usus di malam tahun baru. Meski malam tahun baru tidak jatuh di saat-saat dedaunan maple berjatuhan seperti saat ini.

Bukan warna hitam yang menyala di atas bukit, akan tetapi lumut hijau itu yang memantulkan seluet tipis di ketepian danau. Melilit liar di kanan-kiri dagu pohon cemara yang tidak bersalah. Kala rintik hujan kian menenggelamkan sarang tikus, tidak ada sebercak darah pun yang akan tertinggal. Mengingat dedaunan mapple sangat rindang menutupinya, sangat menawan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal, dan apalah arti curiga pada sosok molek ranting kecoklatan?

*_*

Keterangan: Tteokguk (떡국) adalah masakan tradisional Korea dimakan selama perayaan Tahun Baru Korea. Hidangan ini terdiri dari kaldu / sup (guk) dengan kue beras iris tipis (tteok). Tradisi untuk makan tteokguk pada malam tahun baru diyakini akan memberikan keberuntungan untuk tahun yang akan datang dan panjang umur. Makanan ini biasanya dihiasi telur matang yang diiris memanjang dan tipis, rendaman daging di dalam Gim (Bejana kering)

Ini Versi kedua dari cerita Park Jong-hwa yang berjudul Heart Doll. Di sini Jong-hwa kembali ke Seoul dan hidup berdua dengan kakaknya, Park Young-ho yang akan menikah. Aku mengambil setting di Korea, Seoul. Dalam versi ini Jong-hwa juga akan dipertemukan kembali dengan Hai-li, boneka di masa kecilnya. Kejutan demi kejutan seolah menumbuki jantungnya.

FOR FIRST TIME LOVERS

Hari  ini adalah pertama kalinya aku menginjak Boston. Aku berkeliling bersama Appa menyusuri jalan penuh dengan pemusik jalanan. Appa menggandeng tangan mungilku erat. Bibirku kadang mengingil karena dinginnya udara. Salju mulai berjatuhan dan meriap-riap di atas kepalaku. Aku tersenyum dengan langkah riang.

Appa membawaku ke salah satu toko penjual alat musik. Appa ingin membelikan piano untukku. Appa tahu aku suka sekali bermain musik dengan alat tekan itu. Tapi aku menolaknya lantaran bukan karena aku tak ingin bermain piano lagi, ini lebih karena aku ingin melupakan sesuatu yang membuat jatungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Mendengar permainan orang lain mungkin tidak terlalu masalah, hanya kalau aku yang menekannya sendiri. Tidak hanya ingatan liar yang menelusuk dan berputar-putar di kepalaku. Jantungku pun akan berdetak diluar kenormalan bila aku benar-benar melakukannya.

“Bagaimana kalau Cello itu Appa?” Aku menunjuk sebuah cello klasik di samping anak laki-laki yang spontan menoleh ke arahku. Suaraku yang terlalu nyaring mungkin mengindahkan perhatiannya. Appa dan penjual berhidung mancung sangat itu turut memperhatikanku. Penjual itu langsung mementengkan cello itu ke arahku dengan senyum. Appa sepertinya terkejut mendengar keinginanku.

“Jong-hwa, apa kau serius? Bukankah kau ingin menjadi pianis terkenal, ingin bermain lihai seperti Mr. Tadasuke? Hmm..” Appa menatapku heran. Mr. Tadasuke adalah komposer sekaligus pianis asal Jepang yang melatih anak-anak di sekolahku saat masih tinggal di Seoul. Aku sangat mengaguminya dan Appa tahu soal aku ingin seperti Mr. Tadasuke yang sangat hebat kala bermain piano. Aku nyengir dengan memunculkan gigi mentimunku yang beberapa tanggal. Apa perlu aku memberitahu Appa alasanku yang sebenarnya? Ah, rasanya tidak masuk akal di telinga Appa.

“Aku ingin bermain cello,” Aku memeluk cello yang tadinya dipegang penjual yang murah senyum itu.

“Kau tidak akan menyesal?” aku menggeleng kuat-kuat. Yah, aku sama seperti anak kecil berusia 6 tahun lainnya. Aku belum terlalu mengerti secara jauh apa arti rasa sakit itu sebenarnya. Selebihnya hanya ingin melupakan masa lalu yang begitu menyakitkan. Meski usaha untuk melupakan akan sia-sia belaka karena aku terdaftar di kelas musik dan mengenal seseorang yang sangat lihai bermain piano. Pelatih kami menginginkan aku berival dengannya. Sangat berat memang untukku yang ingin mengubur dalam-dalam kenangan yang menyangkut alat tekan dan suara dentingan.

*_*

Mata kami sempat bersinggungan saat kami berada di toko alat musik enam tahun yang lalu. Kornea mata kecoklatan dengan wajah tampan nyaris aku melupakannya. Kami hanya bertemu secara kebetulan dan bertatapan secara kebetulan. Itu tidak berarti apa-apa di masa kecilku, tapi aku tidak tahu apakah aku mempunyai arti lebih di matanya.

Dia menghampiriku dengan senyum sangat menawan dan memperkenalkan dirinya dengan sikap terbuka, saat ini di gedung musik.

“Steffen Yang..” Senyumnya merekah sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.

“Jong-hwa,” jawabku singkat dan menyambar tangannya pelan. Buru-buru aku melepas tangannya, menekuri kembali cello yang berada di depanku. Aku tidak menyangka dia menarik kursi dan duduk di depanku. Aku mengangkat kepalaku hingga aku mampu melihat senyumnya kembali.

“Kenapa kau di situ? Masih ada perlu denganku?” tanyaku berturut. Dia menggeleng pelan.

“Aku ingin melihat permainanmu, boleh kan?” aku tersenyum tipis. Menghembuskan nafasku perlahan. Entah perasaan apa dadaku berdebar saat dia bicara dengan nada ramah seperti itu. Nyaman sekali rasanya di telingaku. Aku mulai menggesek senar-senar dan menekannya sesuai dengan kunci nada vivaldi in G minor yang akan kubawakan di pertunjukan seni bulan depan.

Setelah aku selesai memainkan permainanku, kulihat dia tersenyum puas. Memberikan sentilan energi padaku kalau permainan celloku sangat mengagumkan. Sejak saat itu aku mengenalnya lebih dari sebuah nama. Aku tahu dia ternyata berkebangsaan ganda. Dia keturunan cina-perancis hingga membuat parasnya bercorak sangat khas. Aku katakan pula, bahwa aku murni seorang korea yang menetap di Boston sejak memasuki bangku SD. Aku terkejut ketika dia mulai mengakui,

”Sebenarnya aku ingin mengenalmu sejak lama. Aku sering melihatmu berlatih di Central Park. Aku sering mendengarkan permainanmu ketika kamu bermain seorang diri. Tapi aku malu menghampirimu dan mengajakmu berkenalan.” Aku tersenyum mendengarnya. Aku semakin tidak menyaka kalau dia ternyata mulai memperhatikanku sejak pertemuan pertama kami di toko musik.

======Sinopsis=======