//
archives

Archive for

제니, 주노/ Jenny, Juno


Judul: 제니, 주노/ Jenny, Juno

Genre: Comedy

Episodes: 1

Broadcast period: 18 Februari 2005

Durasi: 108 menit

Bahasa/Subtitle: Korea/English

Sutradara/penulis: Kim Ho-joon  (김호준)

Pemeran:

. Park Min-ji (박민지) as Jenny

. Kim Hye-sung (김혜성) as Juno

Cameo

. Lim Dong-jin (임동진)

. Kim Ja-ok (김자옥)

. Seo Min-Jung (서민정)

. Kang Nam-gil (강남길)

. Lee Eung-kyung (이응경)

. Jeong Jin-an (정지안)

. Kim Yoo-nah (김유나)

. Kim Gi-soo (김기수)

. Han Choon-il (한춘일)

. Kim Kwang-sik (김광식)

. Lee Min-ah (이민아)

. Ahn Seon-yeong (안선영)

. Shim Eun-Jin (심은진)

. Kim Jeong-ha (김정하)

Synopsis

Kamu pernah nggak ngerasain hamil? Kalau kamu tanya aku, ya jelas belum lah.. haha.. (Ngawur tok!). Ini film bercerita tentang dua sosok siswa sekolah menengah atas yang awalnya hanyalah teman, artinya belum berstatus berpacaran.

Siang itu Jenny menemui Juno, dan menyatakan bahwa dirinya hamil. Reaksi pertama Juno kaget banget, “Pregnant?” Jenny hanya bisa mengangguk dan meminta pertanggung jawaban.

Beberapa hari Juno menghindari Jenny. Secara mental dia masih terlalu muda untuk mengemban tanggung jawab sebesar itu. Apalagi kalau bayi itu lahir, wah dia mulai bingung.

Jenny kalang kabut mencari Juno. Dia mengira laki-laki itu bakal kabur karena beberapa hari tidak melihat sosok Juno di kelasnya, di sekolah. Tapi, mereka akhirnya bertemu dan Jenny ingin dia bertanggung jawab.

Esoknya Juno memberikan kejutan untuk Jenny. Juno juga secara rutin menjemput dan membawakan tas Jenny saat berangkat ke sekolah bersama. Mereka seperti pasangan yang sempurna, Juno sangat perhatian sekali dengan Jenny. Mereka sepakat tidak mengugurkan kadungan Jenny, tapi berusaha menyembunyikan kehamilan Jenny dari orang tua. Sepintar apapun mereka sembunyikan rahasia itu, akhirnya terbongkar juga. Orang tua mereka tahu dan memutuskan hubungan mereka.

Teman-teman mereka mengetahui masalah itu dan berencana mengadakan pesta pernikahan sederhana di gedung sekolah. Semua berjalan lancar karena salah satu teman Jenny menyamar menjadi dirinya di kamar, sedangkan Jenny menjadi pasangan pengantin Juno di sekolah. Suasana sangat meriah.. (Bikin Iri nih, Soalnya aku ngefans sama Juno!! Haha..) setelah itu mereka tidak bisa bertemu lagi. Orang tua Jenny melarang Juno menemui anaknya.

Juno pengen banget ketemu Jenny, sampai-sampai di penghujung acara Juno menelpon taksi untuk mengejar mobil yang ditumpangi Jenny sekeluarga dengan dalih kalau ada penculikan. So, beberapa taksi kalang kabut mengejar tuh mobil (Lucu banget di bagian ini). Mobil Jenny berhasil terkejar dan berhenti disigap beberapa sopir taksi. Juno dan Jenny pun bertemu, tepat saat mereka berencana kabur air ketuban Jenny pecah. Itu tandanya dia segera melahirkan.

Setelah kelahiran anak mereka, akhirnya orang tua menyetujui hubungan Jenny-Juno. Juno berusaha melanjutkan sekolahnya di Harvard University dan Jenny melanjutkan sekolahnya. Dan anak mereka menjadi cucu kesayangan orang tua mereka.

Film ini berakhir bahagia dan perlu digaris bawahi kalau film ini sama sekali tidak berunsur seks. Alur cerita tidak mengajarkan seseorang untuk melakukan kesalahan seperti apa yang Jenny-Juno. Tapi film ini bermaksud apabila ada kejadian seperti apa yang dialami Jenny-Juno, dapat mengambil sikap seperti mereka. Jangan mengungurkan kandungan dan berani betanggung jawab atas perbuatan yang tidak disegaja itu (Jangan malah disengaja lho ya!!! Hmm..).

Advertisements

Till We Meet Again

Judul buku: Till We Meet Again

Penulis: Yoana Dianika (Juara III Roman Asli Indonesia)

Editor: Rayina

Penerbit: Gagas Media

Tebal: iv+194 halaman

Harga: – (Kok aku lupa haha…)

-Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumnya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi.

Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku mengigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah, ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.-

Satu bulan lalu aku mendapat satu tumpuk buku dari ayahku, salah satunya adalah Till We Meet Again. Sejak masuk kuliah aku menjadi sangat jarang membaca buku, mungkin buku-buku yang aku baca kebanyakan paksaan dari dosen. Entah kenapa terasa terpaksa, benar-benar menyedihkan. Liburan semester dua hampir habis, maybe aku berniat di semester tiga nanti, aku akan banyak menambah bahan bacaan dan aku akan berusaha meresensinya. Karena aku ingin menambah wawasan dan aku juga ingin kalian mempertimbangkan terlebih dahulu mana buku yang ingin kalian beli atau baca dahulu.

Langsung aja, novel ini bercerita tentang cinta yang terpisahkan. Lagi-lagi cinta ya? Haha.. namanya juga roman. Elena Sebastian Atmadja, tokoh utama keturunan indo-austria. Dia tinggal dengan ayahnya yang asli Indonesia di kota Bandung, Ibunya telah lama meninggal karena kecelakaan pesawat.

Flash back ke masa kecilnya dulu, dia pernah bertemu dengan seorang anak laki-laki yang membantu mencarikan kalung berliontin biola di Schlob Schonbrunn. Sejak saat itu dia berharap akan dipertemukan kembali dengan anak laki-laki itu kelak mereka dewasa. Entah kapan itu, di mana? Pertemuan pertama mereka di Austria, membuat ingatannya meluncur kembali setelah memutuskan melanjutkan studi di Negara itu.

Elena menempati apatement milik teman ayahnya, dia mendapatkan dua sahabat yang nyentrik dan gaul, Kimiko dan Dupont. Dan dua laki-laki di depan apatementnya. Suatu kali dia bertemu dengan salah satu pemilik apartement di depannya. Namanya Hans, berparas tampan, dewasa, dan bermata abu-abu. Dia yakin Hans adalah cinta masa kecilnya karena memiliki kornea mata yang sama dengan anak laki-laki, yang pernah menolongnya dulu. Di samping itu dia juga berkenalan dengan Chris, penghuni apartmen yang sama dengan Hans.

Tidak disangka-sangkanya Elena jadian dengan Hans. Tapi sayang Hans sangat mengecewakannya. Hans ternyata masih mencintai mantan kekasihnya dulu. Mengetahui hal itu Chris mencoba menghibur Elena, dia melantunkan sebuah lagu klasik dengan biolanya. Elena agak sedikit terkejut dengan permainan Chris yang begitu mengagumkan hingga membuat orang-orang di Starpark menghentikan langkahnya dan memberikan tepuk tangan meriah untuknya. Elena akhirnya dapat tersenyum kembali.

Chris dan Elena lolos kompetisi concert. Mereka juga terpilih menjadi pemain pairing dan itu membuat Elena bahagia. Ketika Elena sudah bisa melupakan Hans dan hatinya berdebar ketika berdekatan dengan Chris. Mantan kekasih Hans kembali berulah. Dia menggagalkan pertemuan Chris dan Elena yang sebelumnya mereka berdua sudah berjanji. Elena menyaksikan Chris berduaan dengan cewek itu.

Ending cerita yang bahagia. Chris menyusul Elena di Praha. Ini cerita menurutku cukup menarik. Pembawaan alurnya mudah dimengerti seperti kebanyakan novel remaja pada umumnya. Meski rada kurang di pencitraan latarnya, tapi aku sudah bisa membayangkan Austria seperti yang dipaparkan di novel ini. Uniknya liontin biola Elena dan Chris seperti liontin pasangan. Aku jadi ngebayangin punya yang kaya gitu (Berharap banget ada yang ngejatuhin karena aku mau dua-duanya..haha..)

Apa kalian juga tertarik untuk membaca? Sambil menikmati segelas teh hangat, novel ini cukup membantu untuk merenggangkan otot. Intinya bersantai..haha.. 😀

 

Temtation of Angel

Judul asli: 천사의 유혹 / Cheonsaui Yuhuk

Judul Populer: Temptation of an Angel / Angel’s Temptation

Genre: Melodrama

Episodes: 21

Broadcast Network: SBS

Broadcast period: 2009-Oct-12 to 2009-Dec-22

Synopsis

Dendam menjadi tema dasar di drama ini. Berawal dari kecelakaan yang menimpa orang tua sepasang kakak beradik sepatu merah (Joo Ah-ran dan Yoon Jae-hee ) di pabrik tempat ayah mereka bekerja. Ah-ran yang saat itu berumur 10 tahun menyaksikan sendiri kematian kedua orang tuanya. Sedangkan Jae-hee yang masih terlalu kecil hanya bisa menngis. Pemilik pabrik furniture tidak mau tahu dan berniat menutup kasus tersebut.

Sejak kejadian itu kehidupan Ah-ran sangat sengsara. Dia rela mencuri makanan untuk adiknya dan memakan makanan basi. Kemudian mereka terpisah karena Jae-hee diambil oleh istri pengusaha untuk dititipkan ke panti asuhan. Jae-hee tumbuh dip anti sedangkan Ah-ran berusaha untuk kabur dari siksaan bibinya yang selalu memukulinya. Ah-ran akhirnya berhasil melarikan diri dan tidak menamatkan SMA-nya. Dia ditampung oleh pengusaha club, menjadi pekerja dengan nama samaran, Rosemarry. Kehidupan keras Ah-ran menumbuhkan kebencian pada pembunuh kematian orang tuanya. Di club itulah Ah-ran akhirnya dipertemukan oleh Nam Joo Seung yang bersedia membatu Ah-ran untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya.

Pertemuan pertama Ah-ran dengan Shin Hyun Woo di pelelangan membuat pria itu jatuh cinta pada Ah-ran. Tidak butuh waktu lama mereka berdua akhirnya menikah. Pernikahan mereka hanyalah kedok Ah-ran untuk membalas dendam. Hyun-woo sangat mencintai Ah-ran, sedangkan Ah-ran berduaan dengan kekasihnya Joo-seung. Hyun-woo mengetahui hal tersebut akan tetapi selalu mengeyahkan pikiran buruknya. Dengan kelicikan Ah-ran, Hyun woo percaya pada Ah-ran. Hingga pada kesempatan Hyun-woo mengetahui semuanya, mereka bertengkar hebat di dalam mobil dan mengakibatkan kecelakaan.

Kecelakaan tersebut mengakibatkan Hyun-woo gegar otak dan koma karena Ah-ran mempercepat saluran infuse. Karena berminggu-minggu Hyun-woo tak sadarkan diri, keluarga memutuskan untuk merawat Hyun-woo di villa. Itu pun atas usulan Ah-ran supaya segera menyingkirkan Hyun-woo.

Hyun-woo dirawat oleh suster Jae-hee, yang bekerja di klinik Joo-seung. Jae-hee terkejut Hyun-woo yang ternyata adalah paman yang selama ini selalu datang ke panti asuhan. Diam-diam Jae-hee menyukai Hyun-woo sejak lama. Dia ingin membalas kebaikan Hyun-woo dengan merawatnya dengan baik. Tapi, Ah-ran menyiksa Hyun-woo di depan matanya. Melarangnya memberikan obat pada Hyun-woo.

Melihat hal itu Jae-hee justru memberikan perawatan yang terbaik untuk Hyun-woo. Hyun-woo akhirnya sadar tanpa sepengetahuan Ah-ran. Dia berusaha bangkit. Di samping itu Ah-ran hamil dan berusaha menggugurkan kandungannya. Hyun-woo mengetahui hal itu, hatinya semakin sakit melihat kelakuan Ah-ran.

Ah-ran menangkap kecurigaan-kecurigaan kesadaran Hyun-woo. Dia mengusir suster In (Jae-hee). Pada kesempatan itu Ah-ran menjalankan rencananya. Dia mengunci semua kamar hyun-woo. Lalu menyulut korek di mana ruangan sudah tersebar gas bocor akibat kompor yang memang sudah sengaja dia hidupkan lama. Villa itu  meledak dan terbakar. Hyun-woo yang berhasil menyelamatkan diri langsung menelepon Jae-hee untuk segera menolongnya.

Keluarga sangat terpukul atas kematian Hyun-woo. Ayahnya yang gila harta itu memutuskan untuk menutup kematian anaknya demi perusahaan. Tapi semua itu digagalkan Ah-ran saat konferensi. Ah-ran membeberkan kematian Hyun-woo sekaligus mengumumkan wakil perusahaan SOUL adalah dirinya.

Semua aset  perusahaan menjadi milik Ah-ran dengan bukti surat bercap tangan milik Hyun-woo. Di samping itu Hyun-woo yang terluka parah akibat kebakaran akhirnya menjalani operasi plastik. Dia mengubah namanya menjadi Ahn Jae-sung. Atas bantuan seorang kakak dari adik yang dicampakan Ah-ran. Ahn Jae-sung mulai masuk ke dalam kehidupan Ah-ran. Tidak menyangkanya Ah-ran menyukai Ahn Jae-sung dan berusaha memilikinya.

Ahn Jae-sung melamar Ah-ran. Mereka mengadakan resepsi pernikahan dan sangat berharap mendapat kebahagiaan. Tapi naas nasibnya. Dia dikroyok semua orang atas kematian Hyun-woo. Ahn Jae-sung mengakui dirinya adalah Hyun-woo. Hanya Joo-seung yang membelanya, meski dia selalu dicampakan Ah-ran. Ah-ran melarikan diri dari kejaran polisi. Tapi tertangkap karena Jae-hee membakar tiket pesawat. Mereka sama-sama belum menyadari bahwa mereka sebenarnya saudara yang saling merindukan satu sama lain. Ah-ran juga menyaksikan, bahwa Ahn Jae-sung mencintai Jae-hee.

Ah-ran mengetahui Jae-hee adalah adiknya. Awalnya dia tidak menerima sosok Jae-hee, orang yang dibencinya adalah adiknya. Begitu pula Jae-hee, dia juga tidak menyangka, bahwa wanita jahat itu ternyata adalah kakaknya yang selama ini ia rindukan. Keduanya tidak percaya dan saling menyangkal, tetapi kenyataannya keduanya memiliki sepasang sepatu merah yang diberikan kedua orang tua mereka.

Naluri seorang kakak yang merindukan adiknya, Ah-ran menerima adiknya yang mulai menjengkelkan dirinya karena lebih memilih pria yang dicintainya daripada dirinya. Jae-hee selalu membela Hyun-woo.

Ah-ran mencoba membunuh Jo kyung-hee (ibu Hyun-woo) karena mengetahui kalau yang membunuh orang tunyanya ternyata adalah wanita itu. Ah-ran membawa ibu Kyung-hee ke suatu tempat dan memberikan satu jiligen bensin. Kyung-hee menyiram tubuhnya sendiri dengan bensin untuk menebus dosa karena telah membunuh kedua orang tua Ah-ran. Tapi semua gagal karena Hyun-woo dan Jae-hee datang. Jae-hee menyiram bensin ke tubuhnya. Jae-hee menyatakan, bahwa ia akan hidup bersama kakaknya. Hal itu berarti Jae-hee akan meninggalkan cintanya pada Hyun-woo.

Semua kembali ke dalam kehidupan masing-masing. Memilih untuk tidak saling berhubungan lagi antara Keluarga Shin dengan kedua kakak beradik itu. Tapi sayangnya adik bungsu Hyun-woo melaporkan Ah-ran ke kantor polisi dengan bukti flashdisk milik Hyun-woo. Dia mengambilnya tanpa izin.

Ah-ran menjadi kejaran polisi. Dia pergi ke Seoul dan menemui bibi panti asuhan dan melihat keluarga Hyun-woo. Di saat bersamaan Jo Kyung-hee menyetir mobil dengan kecepatan tinggi mengakibatkan kematian. Kesalahan atas kematiannya ditujukan pada Ah-ran yang terlihat sebelum kejadian tersebut. Joo-seung tidak terima atas kematian ibunya, dia turut mengejar Ah-ran bersama polisi. Hingga di tepi tebing laut yang curam, Ah-ran menjatuhkan dirinya.

=======================================================================================

Cerita keluarga berlatar dendam ini mempunyai banyak pesan yang terkandung di dalamnya. Pelajaran yang dapat dipetik, bahwa rahasia apapun kalau disimpan cepat lambat akan terbongkar juga. Kematian orang tua Ah-ran diakibatkan kecelakaan yang disegaja oleh Jo Kyung-hee. Ayah Ah-ran yang mengetahui, bahwa Kyung-hee mempunyai anak dari sekertaris suaminya (Shin Woo-sub, akan melaporkan hal itu. Sebelum rahasia itu terbongkar, maka Kyung-hee menyelakai Ayah Ah-ran yang juga berimbas pada ibunya yang mencoba menolongnya. Keduanya tertimbung tumpukan balok kayu. Pemilik perusahaan Shin Woo-sub menutupi hal tersebut untuk melindungi istri yang dicintainya. Meski perwatakannya keras tapi dia sebenarnya sangat mencintai Kyung-hee.

Drama ini mempunyai ikatan yang saling tarik-menarik yang kuat antar karakter tokoh. Mereka seolah-olah saling melindungi dan menjaga satu sama lain, namun juga mengorbankan orang lain/keluarga sendiri untuk orang yang dilindunginya. Seperti sekuen ringkas dibawah ini:

Kematian orang tua Ah-ran—Kyung-hee membunuhnya karena kesaksian ayah Ah-ran tentang hubungannya dengan sekertaris. Shin woo melindungi perusahaan supaya tidak bangkrut dan tanpa sadar menyelamatkan Kyung-hee dari penangkapan polisi—untuk menebus kesalahan Kyung-hee membawa Jae-hee ke panti asuhan—Kyung-hee meninggalkan Joo Seung, anak dari hubungannya dengan sekertaris suaminya. Ah-ran balas dendam—dibantu Joo Seung—Ah-ran mencelakai Hyun-woo—Hyun-wo diselamatkan oleh Jae-hee—Hyun-woo balas dendam pada Ah-ran dan mengambil kembali asetnya—Jae-he melindungi Hyun woo dan mengorbankan kakaknya—-Ah-ran melakukan balas dendam demi orang tuanya dan Jae-hee—Joo Seung melindungi Ah-ran dan mengorbankan Kyunghee, ibunya—-adik bungsu Hyun-woo melaporkan Ahran demi melindungi keluarganya—Ahran kembali menjadi buronan—Kyung-hee melakukan pembunuhan itu demi melindungi Joo Seung, supaya tidak akan terjadi apa-apa dengan anak itu kalau suaminya mengetahuinya, tapi suaminya sebenarnya sudah mengetahui hal itu dan menerima Joo seung seperti anak sendiri. Shin Woo merasa Joo Seung mirip dengannya, ia sangat menyayangi anak itu.

Main Cast

 

Han Sang Jin as Shin Hyun Woo (before)

Bae So Bin as Shin Hyun Woo (after) / Ahn Jae Sung

Lee So Yeon as Joo Ah Ran

Kim Tae Hyun as Nam Joo Seung

Hong So Hyun as Yoon Jae Hee

Park Ha Hyun (박하영) as Jae Hee (child)

Extended Cast

Han Ji Hee as Shin Woo Sub

Kim Dong Gun as Shin Hyun Min

Jin Ye Sol as Shin Hyun Ji

Cha Hwa Yun as Jo Kyung Hee

Kang Yo Mi as Kim Yeon Jae

Lee Sung (이성) as Nam Bi Seo

Choi Ji Na as Jung Sang Ah / Julie Jung

Lee Joon Hyuk as Jung Sang Mo

Lee Min Young as (Jae Hee’s aunt)

Jung Gyu Soo as (Jae Hee’s uncle)

Son Hyun Joo as pervert in sauna

Ahn Nae Sang as detective (eps.15-16)

Oh Dae Gyu as fake Hyun Woo (ep15)

Oh Young Shil (cameo, ep16)

Choi Joon Young (cameo, ep16)

Park Chul Min as Kyung Chal

Kim Ho Chang as reporter

Lee jae Hwang

Production Credit Director: Son Jung Hyun Screenwriter: Kim Son Ok

Recognitions: 2009 SBS Drama Awards: Best Supporting Actress – Special Planning Drama (Cha Hwa Yun)

NataL in Beth San Orphanage

Hi……MySpace
25 Desember 2010… Mian! Mian! Aku baru sempat posting natal tahun kemaren. Begini ceritanya..
suatu hari…(blah..langsung saja deh..MySpace
kado sudah siap, tanganku, kakiku, mukaku…siap!!
aku berangkat dianter Appa, mana kaga tahu juga di mana tuh Beth San?
karena aku agak kurang jelas dengan informasi yang diberikan Titin, dengan penuh kesadaran aku langsung minta no. hape orang yang kasih informasi tentang panti. “Nyo..sapo yg kasih tau u alamat beth san! orang solo noh..minta nope!” “tit..tit…” langsunglah terkirim nomor yang kaga aku kenal, tapi yang jelas Sandi 085xxxx. sms terus sampai tujuan meski aku harus tersesat dulu, kehujanan pula. maklum pakai motor butut, dan sms yang masuk banyak sekali itu pun hanya dari Sandi. “Ke keri..ke kanan..ada jembatan..belok..” “Ini uda sampe lhoh!” apalah..aku lupa, nih orang Solo bukan? aku sudah di Beth San, tapi kaga ada orang satu pun di luar, gerbang saja masih dikunci, mupeng banget deh aku. katanya sudah sampai? “titt..” ternyata aku salah tempat..MySpace
“ttiitt…tiitt…” sms dari Sandi masuk terus sampe inboxku penuh “Ke kanan..ke keri..ke atas jembatan..” NGOK! hari itu aku kaga mengumpat, hanya saja “Awas aje lu nanti, aku injek mpe ancur!MySpace uda berhasil muter-muterin aku!” ngumpat kaga ini? alhasil aku mengumpat sedikit. sebelum sampai, aku sempat tanya sama bapak plus mas, aku tanya Beth San di mana ya? eits..aku juga kasih jalan plus Rt. Rw. ehh..”Coba ke sana deh! itu jalan merapi..jalan berbabu lah bukan sini!” muter lagi…”titt..titt..” ngelirik hape..”udah deh!” ngambek lah aku.

akhirnya aku sampe juga, masuk di dalem uda rame sekali. tapi, sebelum masuk aku ngumpat lagi, “Bego banget sih bapak tadi, harusnya kan tinggal bilang persimpangan di depan itu, non!” lihat saja lah, rumah bapak itu kaga jauh dari panti. “Ancur..lu..pak! ancur!!!”
aku pun masuk dan perkenalkan diri, kurang ajar lah si Titin itu suruh aku berdiri pula.
aku deketin tuh si Titin, bisik-bisik “mana noh namanya Sandi?” dan Jrettt..

MySpaceJet Lee!!!!!!!!!!!!!!! alhasil aku kaga jadi ngancurin mukanya!! aku malah mengenang  masa kecilku sama Oppa waktu liat Dragon ball dan mian aku cuma panggil nama!! kaga tahu kalau ternyata udah Oppa-oppa.. mian, Sandi Oppa!!!
udah ah! lupakan, aku juga bukan tokoh pendendam! MySpace
Nyaa….masuk acara..kita nyanyi-nyanyi..MySpacegoyang-goyang… sekaligus pesta dansa..pokoknya menggila kayak gini nih——>MySpace
setelah itu makan bareng sekaligus minum bareng, ke WC pun bareng..Kya~~
aku kaga tau kalau anak itu boker, kaga mau ditinggalin pula. alhasil aku nunggu dia ampe selesai boker, Titin yang cebokin tuh anak. sementara aku jadi pengamat dulu lah, belum siap aku jadi ibu-ibu yang tiap anaknya boker harus nyebokin! haha..My God! meski aku suka anak-anak, tapi untuk saat ini jangan sampe segitunya kali ya??!! intinya saya kaga mau nyebokin!
setelah nyanyiin lagu Silent Night akhirnya bagi-bagi kado…kado..dan Foto bareng.
pulang…dengan haru!!! aku melihat anak yang nunduk terus waktu mau kita tinggalin, dan waktu Peace Full mencoba menjabat tangan anak itu, anak itu kaga mau balas…MySpacemungkin dalam hatinya kaga mau berpisah kali ya?!!!
yaaa….aku pun pulang!!! sampai jumpa lagi ya!!!!! MySpace
———————————————————————————————————IIIIIIII

liat dulu deh..foto-fotonya..haha…

Foto aku nih (MySpace)  mampang!!!!!!


Ini waktu menyanyikan lagu Silent Night..:’)


Bagian yang genjreng-genjreng…MySpacehaha..


Ini nih..Pak Doraemon sedang membagikan soda pada anak-anak, yah kaga mungkin kan membagikan Soju pada anak-anak “SODA saja”!! MySpacemeski aku hanya mencicipi, dan langsung meneguk aqua.


kya~~ ini fotO barengnya~~ tapi aku kaga keliatan dengan jelas..MySpacega apa deh!!
———————————————————————————————————————III>

nilai kehidupan yang dapat aku ambil dari rangkaian cerita di atas,
1. Banyak anak yang kaga seberuntung aku, pokonya jauh dari bayanganku dah!MySpace
2. Kaga boleh bersikap egois, kita harus saling berbagi pada sesama MySpace
3. Sekali lagi temanku tambah banyak, dan kaga boleh membeda-bedakan teman! MySpace

Gumawo semuanya, aku bahagia!!MySpace


Resensi Film Cin(T)a

 


Wah…baru kali ini aku nonton film Indonesia setelah sekian lama hanya segelintir saja. Hanya bisa dihitung jari: 1. Nonton Laskar pelangi—> aku nonton LP itu karena aku penasaran saja, bagaimana versi filmnya setelah aku membredel semua novelnya. 2. Nonton Film Alangkah lucunya negeri ini–> itu kalau tidak ditayangkan waktu SAJAK di acara penerimaan siswa baru, aku mungkin tidak menontonnya. 3. Nonton Film Emak Ingin naik haji—> itu juga aku nonton dengan gelagat paksaan karena tugas inkranisasi dari dosen. Benar-benar aku ini anak Indonesia yang durhaka..:D ..nah, ini untuk ke-empat kalinya aku menonton film karya anak bangsa berjudul “Cin(T)a”, aku dapat referensi dari seorang teman. Katanya ini menyangkut soal keyakinan, karena penasaran akhirnya tukar film. Transaksi perbajakan pun berjalan; teman copas film koreaku–> aku copas film Cin(T)a miliknya. Aku pun menonton film Indonesia..(tepuk tangan)

Setelah browsing, ternyata yang nulis ulasan film Cin(T)a itu dikit banget_dan aku ulas nih..mari-mari dibaca!!!
 
Film ini berkisah tentang Cina dan Annisa yang berbeda keyakinan, Cina seorang Christian sedangkan Annisa seorang Moslem. Di mana mereka dipertemukan di sebuah Universitas di Bandung, Indonesia.

Cina masuk ke kampus di hari pertama, dia dipertemukan dengan sosok Anisa. Cina hanya melirik saja wajah cantik milik Anisa karena Cina berfikir seorang artis dengan wajah yang cantik tidak sepadan dengan kemampuan otaknya. Istilahnya kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran. Dugaan Cina pun benar setelah menemukan hasil pembelajaran Anisa yang hanya memiliki IP sejumlah (2.1).

Mereka semakin dekat setelah Cina tanpa sengaja membuat berantakan maket milik Annisa. Cina akhirnya membantu menyelesaikan maket Annisa yang mengalami kegagalan berulang kali dalam mengerjakan TA-nya.

Hingga tumbuhlah cinta antara Cina dan Annisa. Sayangnya agama tidak bisa mempersatukan keduanya, apalagi waktu Cina mengetahui bahwa Annisa sudah dijodohkan oleh orang tuanya.

Akhirnya setelah lulus dari kuliah, Annisa menikah dengan pria yang sudah jodohkan orang tuanya. Sedangkan Cina berangkat ke Singapura untuk mengambil beasiswa, karena di Indonesia Cina tidak berhasil mendapatkan beasiswa meski nilainya tertinggi. Cina hanya mengabiskan waktunya di Indonesia untuk membantu menyelesaikan maket Annisa.

Aikk..aikk…cintanya tidak bisa bersatu!!!! Meski Cina sudah menyatakan keinginannya masuk Islam agar supaya dapat bersatu dengan Annisa. Tapi tetap saja Cina hanya akan berjodoh dengan gadis yang menulis resensi ini..woakakakak…#plak#plak (BarcandO!)

Pendalaman karakter tokoh:

Cina diperankan Sunny Soon:

Cina (Sunny Soon) berhasil masuk sebagai mahasiswa jurusan Aritektur di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung. Kehidupan ekonomi keluarganya kurang dari cukup sehingga memaksanya untuk berusaha mencari pekerjaan sampingan sebagai pegawai refleksi di Healthy Spa dan mendaftarkan beasiswa untuk menambah uang sakunya. Sesuai dengan namanya, Cina berasal dari suku tionghoa yang tinggal di daerah Sumatera Utara. Dia bercita-cita untuk menjadi seorang Gubernur Tapanuli ketika kelak Tapanuli berdiri sendiri menjadi sebuah provinsi.

———–

Sunny Soon

Kak Sunny benar-benar natural banget dalam memerankan tokoh Cina di film ini. Aku merasa Kak Sunny tidak sedang main film, tapi dia seperti menjalani kehidupannya dengan apa adaya. Di mana dia sangat bahagia dan bersemangat saat tahun ajaran baru, kecewa lantaran tidak masuk di dalam daftar mahasiswa yang mendapatkan beasiswa, sampai kekecewaannya terhadap Tuhan. Aku suka ekspresi bloonnya waktu makan apel (maaf kak!) keren kok! #Kak Sunny harus membintangi tulisanku nantinya ya!!! Haha..

Annisa diperankan oleh Saira Jihan:

Kak Saira di sini mewakili seorang jawa+muslim yang sabar dan halus tutur katanya. Dia memerankan mahasiswi semester akhir yang selalu gagal dengan hasil TA-nya. Mungkin ini sudah di tuliskan di skripnya oleh si sutradara (Protes mbek sutradara!!!! Harusnya kak Saira tidak begitu karakternya!!!!). Jujur saja aku agak sedikit bosan dengan peran Kak Saira, seakan-akan seperti orang lain yang tidak dikenal dan terkesan lembek. Apalagi saat waktu bilang “Cemburu ya?” aduh bo!!! Wagu alias aneh banget dengernya dan adegan ngrokoknya tuh weleh..weleh..yah, kurang “NGEH” aja. Hmm..tapi aku nemu karakter kak Saira yang pas di bagian; main di putaran sama Cina dan di ending saat di kamar sendirian seakan semua auranya keluar di bagian itu. OKE lah, buat kak Saira!!(benar-benar menunjukan sosok yang kesepian)

Setting (Suasana, tempat, waktu):

Ngena benget pokoknya! Aku sangat terkesan waktu Cina dan Annisa di restoran. Cina menghapus ekspresi jari Annisa yang cekung dan menghapusnya dengan garis cembung. Uh..uh…so sweet! Woakakak…

·      Saat Annisa selesai berwudlu dan berpapasan dengan Cina. Karena ketidaktahuan Cina tentang agama islam yang bila seorang wanita/laki-laki selesai berwudlu tidak boleh saling melekatkan kulit. Hukumnya —> mengulangi wudlunya.

·     Main jari ekspresi. Lucu sekali!!!! (Ah..siapa yang mau main jari denganku???)

·      Sedih waktu sutradara mengambil gambar di depan kampus yang sepi dan daun-daun berterbangan, serta boneka wayang tergolek di ruangan yang sebelumnya dipakai Cina dan Annisa melewati kebersamaan mereka. (Aku tidak suka suasana sepi jadi sedih lah ngingetin masa kecilku!!! huhu..)

Pelajaran Moral:

Alkitab yang diberikan Cina secara Cuma-Cuma untuk pengemis di pinggir jalan, dia temukan kembali di tempat yang sama. Hal itu menandakan beberapa kemungkinan bahwa:

1.       1. Pengemis itu bukan seorang nasrani.

2.     2. Pengemis sama sekali tidak membutuhkan buku tebal dengan tulisan kecil-kecil yang sebelumnya belum pernah ditemuinya. Menganggapnya tidak penting dan kemudian dia meninggalkannya.

3.       3. Pengemis tidak bisa membaca karena belum pernah mengeyam pendidikan sekolah.

Bisa ditarik kesimpulan dari ketiga kemungkinan di atas bahwa pengemis menggambarkan seorang manusia yang berada di tengah-tengah gemelut masyarakat Indonesia yang tersisihkan.

“..Emang Arsitek itu suka berasa Tuhan, makanya tidak tahu ada rencana yang lebih baik..” (Cina)

 “..kalau Istriku harus lebih mencintai Tuhannya daripada aku..” (Cina).          

“kenapa Allah nyiptain kita beda-beda klo Allah cuma pengen disembah dengan satu cara?” (Annisa)
“makanya Tuhan nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu.” (Cina)

“…satu benda tidak akan berubah sampai ada benda lain memaksanya berubah..”

Pesan moralnya sudah jelas banget kan di dalam setiap percakapan antar tokoh dan setiap adegan film..jadi, aku hanya nyempilin beberapa saja! ^.^

Rangka Fungsi

Judul Cin(T)a: Huruf ‘T’ dalam judul ini singkatan dari Tuhan. Judul film ini dapat dijabarkan: Cinta antara Cina, Tuhan, dan Annisa.

Bendera merah putih: Bendera merah putih yang merenteng dan berkibar di setiap tiang perumahan kumuh yang muncul pertama kali, menandakan bahwa kisah itu bermula pada bulan Agustus. Bulan dimana Cina memasuki perkuliahan pertamanya. (Ah, di bagian awal film kan sudah terpampang “Agustus 2000” woahahaha..)

Semut: Kehidupan keberagamaan manusia seperti halnya semut. Di mana semut itu sama sekali tidak berarti bila manusia tidak bisa menjaganya. Semut akan mati alias keberagamaan umat mati saat manusia tidak lagi saling menghormati antar umat beragama dan pembunuhan (Film Pembakaran gereja dan ungkapan Cina tentang Ambon).

Burung garuda dan tulisan “Why” dalam poster: Cina menurunkan replika burung garuda saat azan berkumandang, menandakan bahwa fungsi pancasila dan bineka tunggal ika sama sekali hanya dijadikan simbol di Indonesia. Gereja-gereja di Indonesia dibakar saat Natal. Tulisan “why” dalam poster melanjutkan dari penjelasan di atas.

Wayang: orang Indonesia, orang jawa identik dengan wayang. (betul kan? Sah..sah saja aku nganalisis seperti ini)–> Wayang di sini memperkuat kalau Annisa adalah seorang jawa (pribumi).

Maket: Maket menandakan bahwa Annisa adalah seorang mahasiswi jurusan arsitek.

Gambaran di jari: Menunjukan ekspresi yang ditujukan oleh masing-masing tokoh.

Selesai..yang tertarik dan belum nonton film ini, buruan nonton!!! DVD beredar di Gramedia dengan satuan harga Rp. 59.000..ato mau copy punyaku juga boleh..!!!  ekekekk…>,<

God is a Director n’ God is a Architect

Kacang Lupa Kulit

Ayah dan Asan duduk di ruang keluarga sambil menonton tivi. Samira, adik Asan sibuk dengan PRnya di ujungsana. Tidak jauh dari tempat Asan dan Ayahnya berbicang-bincang. Ibu menemani Samira, menjawab pertanyaan yang Samira belum paham. 

“Makanan apa yang paling kamu suka?” tanya Ayah sembari menyeruput kopi hangatnya.

“Kacang, Ayah!”

“Itukancemilan, San! Maksud Ayah, makanan.”

“Kacangkanjuga termasuk makanan, Yah!”

“Iya, tapi kalau dikategorikan lebih dalam itu termasuk ke dalam cemilan.”

“Ayah berfikir selalu ke kompleks jadi aku malas kalau harus membicarakan hal yang sederhana menjadi rumit.” Asan menatap Ayah dengan pandangan nyiyir.

“Justru sebaliknya! Lagian bukankah sudah biasa bagimu?!” mendengar hal itu Asan mendengus kesal. Ayahnya justru tertawa. Asan pun menarik majalah di depannya dengan kasar. Terlihat beberapa halamannya sampai bertekuk-tekuk.

“Ya, sudah. Sekarang karena kamu suka dengan kacang, Ayah ingin tahu apa yang membuatmu suka dengan kacang?”

“Karena rasanya enak.”

“Apanya yang enak?”

“Kacangnya lah, Yah!” suara Asan terdengar jengkel. Ayah terkekeh kembali.

“Lalu apa yang membuat orang tidak suka dari kacang?”

“Karena harus membuang kulitnya terlebih dahulu! Ribet seperti ayah!”

“Ya, tapi kamu tetap suka!”

“Jelas!”

“Jadi kesimpulannya?” Asan menatap Ayahnya yang kembali menyeruput kopinya.

“Aku suka kacang, tapi tidak suka dengan kulitnya. Jadi isi telah meninggalkan kulit karena isi lebih banyak disukai orang atau hewan. Isi meninggalkan kulit bukan karena kehendaknya sendiri, isi meninggalkan kulit karena ada pihak yang telah memisahkan mereka. Isi lebih bermanfaat, selain bisa dimakan, isi juga bisa ditanam kembali untuk menjadikan gerombolan kacang-kacang yang montok. Sedangkan kulit hanya sebagai sampah. Tapi, jasa kulit justru lebih besar. Tanpa kulit isi tidak bisa tumbuh dengan sempurna dan bisa dimakan seperti ini! Kriuk!” Cerocos Asan. Beberapa detik Asan justru terdiam. Berfikir. Mulutnya masih mengunyah kacang atom yang dibuat Ibunya, tanpa harus bersusah payah mengupas kulitnya dulu. Kacang atom lebih praktis untuk dimakan.

“Jadi kehidupan sendiri?”

“Ibarat kacang lupa pada kulitnya. Tidak ada kehidupan yang sempurna untuk manusia, Ayah!”

Suara jam gantung berdentang. Asan berpamitan pada Ayah kalau dia harus segera masuk kamar untuk melaksanakan ritual rutin. Mengingat besok harus sekolah.Adaujian Biologi. Tidur baginya adalah sebuah ritual sebagai seorang manusia. Menggosok gigi dan mencuci muka terlebih dahulu itu juga dia sebut sebagai ritualnya.

———

——————-

“Gua itu memang tampan. Ini sudah takdir!” kata Asan setengah berteriak pada beberapa teman cowoknya.

“Pintar itu jelas!” lanjutnya.

“Sombong lu!” samber Janu.

“Bego lu!” sahut Asan cepat. Janu melotot nggak terima. Kini jadi saling memelototkan mata.

“Sudah jangan ribut!” Ivan menengahi mereka,“Kamu itu tidak perlu pamer, kami juga tahu, San!” Asan merengut. Beberapa temannya tertawa semua.

“Kenapa Tuhan nyiptain kamu?”

“Untuk pelengkap dunia, Van! kamu tahu sendiri, ngapain tanya-tanya segala! Kalau bego jangan diumbar!” untung saja Ivan sabar menanggapi Asan yang selalu meremehkan orang. Sebenarnya tidak bermaksud meremehkan, hanya saja jengkel pada orang yang bertanya padahal jawabannya sudah jelas dimengerti. Ivan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Yang lain mengikik karena sudah tahu sifat Asan yang memang begitu kecuali Janu tentunya. Janu itu tidak suka diremehkan. Sebenarnya sama sifatnya dengan Asan. Sama-sama tidak mau diremehkan. Sama-sama tidak mau dibilang “BEGO” karena mereka sudah teruji kecerdasannya. Bedanya Janu bukan tipe orang yang dengan gamblang meremehkan orang, meremehkan seperti Asan yang berkata apa adanya secara terang-terangan. Tapi tujuan Asan seperti itu sebenarnya untuk memacu potensi seseorang.

“Hanya pelengkapkah?”

“Ya. Untuk apa lagi?” Asan balik tanya. Dia sebenarnya paling benci kalau harus menjawab. “Cari buku, baca! Ngapain tanya-tanya aku? Emang aku tetua? Tuhan saja nggak pernah jawab, kamu suruh aku jawab? Tuh, buku di perpustakan banyak, nggak usah beli, baca ampe mampus! Nggak usah tanya sudah dijawab! Atau mikir tuh pake otak! Untuk apa otak kalau nggak untuk tanya-pikir-jawab!” dia selalu berfikir seperti itu. Tapi sikap juga harus dijaga, reputasi bisa jatuh kalau etika buruk, pikirnya. Jadi dia hanya membatin, tidak mungkin digamblangkan begitu saja. Sebenarnya tidak takut kalau menyinggung hati orang karena kalau dikatakan bukannya lebih baik, mengajak orang untuk berfikir bagaimana memunculkan sebuah pertanyaan dan mencoba menjawabnya sendiri. Kalaupun tidak mampu ya baca buku setidaknya cukup.

“Bicara kok sama Asan, sakit hati kamu nanti, Van!” songol Janu.

“Aku ingin mengobrol dengan Asan, mumpung tidak ada tugas sekolah.” Kata Ivan dengan nada halus. Dia sosok yang sabar luar biasa. Mungkin disuruh untuk menaruh apel di atas kepalanya, dia akan menurut. Katanya, “Ini untuk kebaikan, sobat!” padahal nyawanya bisa mati kalau peluru itu meleset ke tengkoraknya kemudian menebus sel-sel otaknya.

 “Apa lagi Van? Gua tanggapi nih?” tanya Asan antusias sambil melirik Janu. Tersenyum sinis, Janu membalas dengan memonyongkan mulutnya.

“Hidup kamu untuk apa, San?” tanya Ivan.

“Untuk mati.” Jawabnya singkat.

“Kalau begitu mati saja sekarang!” Janu menyambar cepat.

“Memotong pembicaraan itu tidak sopan, Bego!” sahut Asan. Janu berontak ingin memukul Asan tapi Viktor dengan gesit menahan ancang-ancang Janu.

“Lanjutkan!” gelak Viktor dan Romi. Janu dongkol di ujung lemari. Mengambil buku kimia dan membantingnya di meja. Sangat jelas dilihat dia hanya berpura-pura membaca. Bersungut-sungut. Asan tertawa keras disusul dengan kedua temannya. Ivan hanya tersenyum.

“Kalau begitu percuma dong kamu mendapat nilai 100 dalam setiap mata pelajaran, menyelesaikan penelitian, dan mengejar medali emas?” pertanyaan Ivan berlanjut.

“Itukanpemanis hidup, Van! Hidup itu harus ada pemanisnya. Kayak gini tuh aku juga mikir orang tuaku dan adikku, Samira. Kalau aku mati sekarang, seperti yang dikatakan Janu,” Asan melirik Janu. Janu menoleh sedikit lalu memalingkan wajahnya kembali.”Hidupku di tengah-tengah keluarga percuma, Van! Aku tidak suka mengecewakan orang yang ditakdirkan menyayangiku. Intinya semua yang aku lakukan ini adalah pemanis hidup.”

“Kamu sayang pada mereka, San?” kali ini Romi yang bertanya.

“Pasti.”

“Mendoakan mereka tidak?” Janu yang sedari tadi pura-pura membaca buku tebal berjudul KIMIA di sampulnya, kini kembali ikut bertanya-tanya. Asan diam sejenak.

“Mendoakan lah! Lu pikir ngapain gua?”

“Ke Gereja saja tidak pernah, kapan lu doa?”

“Memangnya berdoa harus ke Gereja ya? Ke Masjid, ke Pura? Bagi gua nggak perlu, Jan! disini gua duduk juga bisa berdoa ‘dimana saja’, mendoakan mereka, mendoakan lu juga supaya nggak banyak bacot!” sangkal Asan. Janu melotot seakan organ dalam hampir hangus terbakar oleh kata-kata Asan barusan.

“Doa sama siapa lu?”

“Yang nyiptain gua lah? Masak gua doa sama lu? Memangnya lu itu yang nyiptain gua?”

“Siapa yang nyiptain lu?”

“Sang Pencipta, namanya juga pencipta!”

“Lu nggak pernah mau nyebut Allah, Tuhan setidaknya!”

“Harus ya?”

“Iya dong!”

“Siapa lu nyuruh-nyuruh gua? Lu nyadar nggak posisimu dimana? Lu itu bukan atasan gua, dan gua bukan bawahan lu! Posisi gua disini! Lu disitu! Kita itu sama-sama manusia, sadari itu!”

“Lah, lu sendiri sadar kalau lu manusia kenapa nggak mau menyebut Tuhan dan taat pada ajaran!”

“Woi, mata lu itu rabun atau sudah buta? Kalau buta nggak perlu pakai kaca mata setebal itu! Kapan gua melanggar ajaranNya? Lu pernah liat gua membunuh orang, mencuri uang, atau memperkosa gadis lu?”

Ivan, Victor, dan Romi hanya diam. Mulutnya terkatup sempurna, tidak mampu menengahi argumentasi mereka berdua.

“Kenyataannya begitu! Menyebut saja tidak mau, itu namanya lu sudah membangkang! Jangan bawa-bawa gadis gua!”

“Haha…serius amat lu! Hidup itu nyantai, Man! Membangkang dalam arti lu bukan gua. Ritual lu beda dengan ritual gua. Tuhan lu beda dengan Tuhan gua. Gua nyebut Pencipta-Eksistensi yang tinggi, lu sebut Allah. Victor dan Ivan nyebut penciptanya dengan sebutan Tuhan. Sedangkan Romi lebih suka menyebutnya Dewa. Aku langsung saja “Pencipta” meski agak panjang tapi tidak masalah. Sebenarnya sama saja, Cuma penyebutannya yang berbeda!”

“Beda!”

“Terserah lu!”

“Hentikan!” Ivan kembali mencoba menengahi. Dia tidak mau suasana tambah memanas. Asan mungkin bersikap santai dan tidak terlalu memikirkan apa yang barusan dia katakan, tapi tidak untuk Janu. Bisa-bisa menyita waktu panjang. Senja sudah nampak. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing yang sebelumnya berkumpul di ruang diskusi yang berada di ujung perpustakaan sekolah. Asan pergi lebih dulu setelah berpamitan pada mereka. Sedangkan Janu pulang bersama yang lain setelah membereskan beberapa berkas yang mereka butuhkan untuk praktek besok pagi.

——-

—————–

“Kalian pikir aku ini siapa?” gumam Asan sembari tersenyum tipis. Menyetir mobilnya untuk keluar dari gerbang sekolah, “Jangan pernah meremehkan Matheus Asandy! Haha…Uhuk!” dia terbatuk lalu tersenyum kembali.