//
archives

Archive for

Go-ing Go-ing Rumah Sakit Jiwa!!!

Rumah Sakit Jiwa Surakarta Pertanyaan awal untuk kami,”Apa misi kalian ke RSJ?”

1. Kami adalah mahasiswa yang super ingin tahu segala sesuatu

2. Kami ingin bersahabat dengan manusia gila

3. Kami ingin mengenal mereka

4. Kami ingin tahu kinerja rumah sakit jiwa itu seperti apa? Bagaimana? dan bisa-bisanya jadi gila? Ah..bagaimana kondisi dokternya? Gila juga-kah?

5. Kami ingin konsultasi “Kenapa nilai kami jelek pada mata kuliah teori sastra?” padahal kinerja belajar kami jauh lebih keras daripada mata kuliah lainnya. Mumpung gratis untuk mahasiswa tetangga, jadi konsultasi asal-asalan.

6. Mungkin aja dapet jodoh —-> Model pemikiran Nyut-nyut, teman sejawantahku yang gila sepak bola, ee..maksudnya ingin sekali punya pacar pemain sepak bola, mari-mari..”DIOBRAL!!!” di sini aku bantu ngobral. Maaf bagi yang waras tidak boleh mendaftar!

7. Kami ingin tahu tanda-tanda orang gila terselubung.

8. Lebih jelasnya kami jauh lebih berpengalaman daripada dosen yang mengajar kami dalam mata kuliah Psikologi Sastra, karena kami melakukan terjun langsung. Jiakakak…dipalak dosen!! Just Kidding..yang ngomong bukan penulis tapi merekam dari mulut ke mulut..tanya dosen Foklor pasti tau tuh dari mulutnya siapa ke siapa! Sip banget buat penelitian skripsi!

9. Menambah wawasan, mengingat wawasan yang kita rasakan langsung jauh lebih baik daripada membaca sebuah buku. Maka dari itu kami sangat penasaran!! Akibat dari membaca-maka diharuskan praktik seadanya. (Menurut pengalamanku waktu semester 1, pas Materi Sejarah Kebudayaan Indonesia seperti ini, jadi masalah jalan-jalan sekaligus nambah pengalaman baru itu sangat penting untuk nutrisi otak).

10. Mungkin aja setelah kedatangan kami, pasien-pasien berpenyakitan mental pada sembuh semua dan dokter jiwa tidak dibutuhkan lagi!! Kyaa… mengingat misi pribadiku (Menghidupkan orang mati, sama artinya dengan menumbuhkan semangat para orang yang mati segan hidup pun bergelantungan). Kalau udah kejadian begitu muridku nanti bakal banyak, rumah sakit jiwa tidak ditemukan lagi di dunia Indonesia, khususnya Solo dan sekitar kampus UNS saja. (Jual mahal) 😀

Namanya manusia kalau baru pertama merasakan sesuatu yang baru pasti bakal kelihatan seperti manusia tolol sedunia-akhirat, rasanya nih muka-muka berhidung, bermata, beralis dan berpersonil-personil lainnya tuh mendelep semua. Masih ingat bukan? Musuh terberat di dunia ini adalah tukang siomay, tukang parker, tukang hek, pokoknya mas-mas belagu bin sapi. Baru awal-awal kami harus memberantas salah satu dari mas bin sapi, yaitu mas parker.

Nih, nih…kami udah mulai dicurigai. Dilihat dari tampang bin tampang kami nggak satu pun menunjukan mahasiswi kedokteran kecuali “aku”, mana lagi jas putih juga nggak makai alias nggak gablek. Begitulah kami nekat! Nekat masuk RSJ, lebih tepatnya menyelundup. Kami berjalan, terus sampai lorong demi lorong kami lalui bersama. Oia..kami berempat, ada Aku, Nyut-nyut, Dip-ha, dan Mon-mon.

Pandangan awal itu sejuk karena memang banyak pohon, lalu lantai bersih, pokoknya nih rumah sakit bersih deh. Gumun sangat!!! Bersih!!! Sungguh!! Kalau nggak percaya coba-coba datanglah!!! Makin ke dalam baunya kok nggak enak ya?! Sumpah!! Nggak tau bau apaan, obatkah? Tapi yang jelas baunya nggak seperti bau-bau di rumah sakit umum. Ini salah satu yang bikin kami penasaran juga! Bau apakah gerangan? Pasiennya nggak pada mandikah? Atau dokternya ngeramu jamu gendong? (pelecehan banget) Cuma bercanda lho ya, pak dokter!!

Teng..teng…nganterin dua temanku sholat, saat menuju mushola berpapasanlah kami dengan perawat-perawat “magang di sana” nah! Nah! Nyut-nyut hampir saja terjungkal gara-gara melihat perawat ganteng. Woakakak.. mati gaya deh! Yang penting aku dan dua temanku ketawa puas.

Sampailah di mushola, nunggu beberapa menit, dan keluarlah mereka berdua, keluar pulalah seorang dokter yang lumayan tua. Wah, sayang banget deh! Kenapa nggak ganteng?? Haha.. penurut pengalaman penglihatanku dokter cowok itu pasti ganteng, siapa? Dokter Adi yang meriksa aku dulu? Woakakak…#ditendang banteng.

Sumpah serapah kami sumbangkan kepada angin yang menyalurkan frekuensi ke telinga kami. Demi banteng yang entah kapan bakal nyeruduk tuh bokong dokter, pas makai sepatu tuh kedengaran “Tuttttttt” ampun!!!! Petir di siang bolong berkumandang! “Ttuuuttttt” mantep banget deh! Kembali lah kami melewati jalan yang sebelumnya, tapi melakukan belok sedikit. Sepertinya juga ada yang agak curiga dengan kami, bapak-bapak yang berpapasan dengan kami dan orang gila yang tiba-tiba melihat kami dari dalam. Waras dan nggak waras sama-sama mempopulerkan kami!! 😀 ihirr… seperti artis.

Ternyata apa yang kami dapatkan belum memenuhi standar misi kami, karena kedatangan kami hari ini memang mendadak dan tanpa tadang aling-aling kenalan. Jadi berniat masuk lagi ke RSJ dan menjalankan misi kami sebaik-baiknya. Nekat itu adalah modal utama orang sukses!!! Woakakakak…

Ini fotoku waktu di RSJ, yang kephoto Cuma aku doang dikarenakan latar tidak mendukung berphoto ramai-ramai. Takutnya nih kami dicurigai. Itu karcis parker sebagai bukti kami penjelajah jiwa-jiwa malang. Intinya kami belum puas dengan rasa penasaran!

Hong Kong atau Hing King??

Aku selalu bersemangat kalau ada yang ngajak jalan, apalagi kalau rame-rame. Pilih berdua atau rame-rame? Aku bakal pilih yang rame-rame. Daripada berdua lebih baik sendiri saja? Apa itu namanya? Kalau ramai-ramai, namanya ngepet; kalau berdua, namanya ngepret; kalau bertiga, namanya ngetek; nah! Kalau sendiri, namanya kemerdekaan selalu menyembul di otak kanan dan digodain tukang siomay itu pantangan yang paling menjijikan. Itulah efek sampingnya kalau sendiri, perasaan hanya pingin bacok penjual geje. Haha..nggak nyambung banget. Pokoknya jalan, berapa pun gundulnya nggak masalah.

Seorang teman, namanya Ayu Feb, calon dokter, denger-denger nih cita-citanya pengin jadi suami pemilik rumah sakit. Kalau cita-cita seperti itu aku juga sedang memfokuskan doaku, “Semoga nanti suamiku seorang pemilik hotel berbintang 9..haha.. komat-kamit sambil jungkir balik.

karena kak Ayu lebih tua dariku, jadi aku resmi memanggilnya “BU DOK!” keren kan? Kayak nama korea-korea gimana gitu.

Hum..kami berdua berencana ke Hongkong, bisa dibilang bukan rencana, tapi sudah kesampaian. Kami berdua berniat merayakan Sin Cia di sana. Nah, untuk menuju ke tempat ada dua alternative, becak? Atau Taxi?? Akhirnya kami memutuskan untuk naik becak karena jauh lebih mahal dan romantis, apalagi saat itu air hujan sedang kejot-kejot dan betapa aku sangat terharu.

Di dalam becak kami bercerita, tapi Bu Dok lah yang lebih berpengalaman soal bercerita. Jadi aku banyak mendengarkan daripada mengeluarkan kata. Ceritanya Bu Dok itu macam-macam dan keren-keren. Bagaimana proses dia jadi dokter itu sangat luar biasa!! Sesuatu yang tidak pernah dan tidak akan aku lakukan, tapi Bu Dok lakukan dengan penuh jiwa kesabaran yang tinggi. Kalau dipegang lembek dan kenyal, bentuknya panjang, berjenis kelamin jatan dan betina. Begitu nikmatnya Bu Dok makan cacing tanah, oh seksi sekali!! aku sih angkat tangan, lebih baik makan sapi panggang daripada disuruh makan cacing. Tapi betapa pula aku sangat kagum dengan Bu Dok karena Cacingnya itu.

“Kita sampai!!! Hongkong!!!!!” teriak kami bersama. “Ciiaaauuuu!!!!” tiba-tiba tiga sosok manusia turun dari langit sebelum malam puncak Sin Cia,”gedebuk..gedebuk..gedebukk..” kami berdua hanya melongo.

Perkenalkan, ada Jie” Mayla, Billy, dan Whawan. Tiga pendekar barongsai muncul dengan seutas tali rapi-ah. Perlu aku perkenalkan mereka? Tidak! Oh, mau kenal yah? Oke..oke..Mari dimulai dari paling tua ke yang paling muda di antara mereka bertiga. Jie Mayla, cewek berambut sebahu dengan baju kuning; Billy, kaos merah barongsai; Wawan, kaos putih. Kalau di urutin===> Bu Dok+Jie Mayla—Billy—Aku—Wawan.. kira-kira aku bukan masalahin umur lho ya?? Karena ini untuk membuat paramida barongsai nanti. Mulai dari Wawan + Bu Dok di bawah–> Cici Mayla+Billy di tengah–> aku di atas sambil nyium Barongsai!!! YAYY..Ckckck.. niatku dari rumah gagal, itu tidak terkabul. Hiks! Tapi nih ngomong-ngomong kami udah seperti Power Ranger yah?? Ada kuning, pink lurik-lurik, merah cap barongsai, merah dan putih.

Oke..

Jasa tukang lobak sudah selesai. Kami berlima nonton barongsai sampai larut. Mata kejut-kejut, perut mudeg-mudeg, ternyata kita Cuma bisa berfoto dengan kepala barongsai. Kepala saja! Fu..fu..

Pamer Foto-foto: