//
archives

Archive for

Bayangan jiwa

Ingin ku terbang menyusuri indahnya awan

Ingin ku lepas dari segala akar-akar kepedihan

Ingin ku bernyanyi dengan bayangan jiwa

Bayangan yang selalu melekat

Dengan puing-puing kehidupan

Hai!

Dimanakah kau berada?

Kemarilah wahai bayangan jiwa!

Ku ingin kau tahu keinginanku padamu!

Kemarilah wahai bayangan jiwa!

Bantulah saudaramu yang merana ini!

Biarlah aku tak melihatmu

Yang terpenting adalah kau bisa melihatku

Melihatku mewarnai dunia

Dunia yang tak bisa menampakkanmu

Dunia yang telah memisahkan diriku dengan mu

Hai!

Bayangan jiwa!

Kemarilah wahai saudaraku!

Marilah kita bersajak irama!

Marilah kita bercengkerama ria!

Karena dirimulah aku ada dalam kedamaian…

Model Foto: Ben Kazukii

Pernah diterbitkan di Harian Solopos 2009

Advertisements

Bangku Kayu Tua

Aku menghampiri bangkunya, melangkah dengan hati riang. Kutorehkan senyumku padanya. Mencoba membuat guratan-guratan di pipinya muncul. Sayangnya tidak berhasil. Ia melengos mengamati buku yang berada di atas bangkunya.

“Tara, apa aku nanti siang boleh bermain ke rumahmu?” tanyaku pelan.  Ia tidak kunjung merespon. Kutunggu jawabnya sembari berdiri di sisi bangkunya. Mengetuk-ngetuk bangku tua ini dengan jemariku. Menatapnya dengan raut muka tidak sabar.

“Tara…” kupanggil namanya supaya ia segera menjawab pertanyaanku. Aku tidak mendapatkan jawaban tapi justru mendapatkan raut wajah yang tiba-tiba menatapku dingin. Aku mencoba tersenyum, namun lagi-lagi ia tidak membalas senyumku. Ia melengos dari wajahku dan kembali menatap buku.

Tidak lama setelah itu, ia membiarkan bukunya tergeletak dengan posisi terbuka di meja. Membuatku seperti orang bodoh. Sudah jelas-jelas dia tidak mau berbicara denganku, aku justru bersikukuh untuk berbicara dengannya. Seakan memang seperti yang aku pikirkan. Aku bodoh.

Aku berharap ia membalas senyumku. Lebih bahagianya lagi kalau ia juga membalas pertanyaanku. Tapi itu hanyalah harapanku. Ia pergi tanpa sepatah kata.

Aku berjalan pulang, melewati pintu gerbang sendirian. Aku tidak jadi bermain ke rumah Tara. Mungkin ia tidak suka kalau aku bermain di rumahnya. Lagipula aku teman barunya, tidak pantas aku menginginkan yang lebih seperti itu.

Ia teman pertamaku di sekolah baruku ini. Aku duduk di sampingnya. Melihatnya mendengarkan penjelasan guru dan melihatnya menulis hal-hal yang dianggap penting. Aku merasa begitu senang saat melihatnya seperti itu.

Aku berkenalan dengannya dua hari yang lalu, saat aku dipersilakan duduk oleh guru. Ia menyambutku dengan senyum tipis. Meski tidak kentara, tapi aku tahu Ia menyambutku sebagai teman barunya.

Saat jam istirahat, aku langsung menjulurkan tanganku ke arahnya. Meski agak lama ia menyambut uluran tanganku, aku tetap bahagia karena perkenalanku mendapat respon darinya.

“Kevin Ardian.” Kuperkenalkan namaku dengan menyebutnya secara lengkap.

“Tara.” Kutunggu lanjutannya. Ia diam dan melepaskan jabatanku. Itu menandakan bahwa harapanku kosong. Dia tidak melanjutkan nama panjangnya. Tara, hanya itu. Kukatakan aku senang berkenalan dengannya, responnya pun hanya tersenyum sedikit. Tidak ada lagi. Kosong. Lalu beberapa teman baru menghampiriku, mengajakku berbincang. Aku pergi meninggalkannya duduk di depan bangku itu. Bangku yang menghubung dengan bangkuku. Sepasang bangku kayu tua yang berdempetan.

Matanya indah. Bulat dengan bulu mata yang lentik. Sayangnya kosong. Pandangan matanya kosong saat itu. Sama seperti harapanku padanya. Kosong.

Hari ke empat,

Bukan main panasnya. Benar-benar bikin gerah. Aku meneguk air mineral yang kubeli tadi. Kulirik Tara menulis di buku pelajarannya. Kucondongkan badanku ke arahnya sedikit,

“Kamu sedang mengerjakan apa?” tanyaku. Diam. Tak menjawab. Aku melihat isi bukunya. Aritmatika. Angka-angka yang selalu membuatnya bergairah. Aku tahu itu karena ia sering berlatih berhitung setiap jam kosong seperti ini. Aku meluruskan badanku kembali. Menghembuskan nafas panjang. Benar-benar aku ingin mengajaknya berbicara. Aku ingin berteman dengannya, ingin tahu tentangnya sedikit saja. Hobinya, warna kesukaannya, atau apa saja.

“Kevin!” Anjar menepuk bahuku dari belakang.

“Kenapa?” tanyaku yang masih agak kaget dengan kemunculannya.

“Tidak keluar?”

“Aku ingin disini saja.” Jawabku. Ia melirik gadis yang berada di sampingku.

“Aku belajar matematika dengannya! Hehe…” sebelum ia mencurigaiku yang tidak-tidak, aku mengatakan sesuatu sekenanya. Anjar tersenyum masam. Jelaslah Anjar bersikap seperti itu karena tidak ada tanda-tanda kalau Tara sedang mengajariku.

“Oh, kalau begitu selamat belajar!” ujarnya sembari meninggalkanku. Beberapa teman laki-laki mengikutinya dari arah belakang. Mereka menatapku nanar. Seakan tahu kalau aku telah membohongi mereka. Karena aku tidak benar-benar sedang belajar bersama Tara.

“Kenapa bilang seperti itu?” saat aku menipas-nipas baju kerahku dengan lesu, tiba-tiba suara itu mengagetkanku. Aku menoleh ke kanan lalu kiri. Tidak ada seorang pun di antara kami berdua. Hanya ada beberapa anak gadis yang bercengkrama di pojok belakang. Jauh dari tempat duduk kami.

“Karena aku ingin belajar denganmu! Tidak boleh?” tanyaku balik.

“Kerjakan semua soal-soal di paket!” suruhnya tanpa memandangku. Aku menurut. Membuka halaman yang sama dengan halaman di buku paketnya.

“Aku tidak bisa!”

“Mana bisa kalau kamu belum mencoba?!”

“Kenapa kamu jarang berbicara? Apa kamu tidak suka berteman denganku?”

“Bicara apa? Sekarang aku bicara.”

“Kamu jarang menjawab pertanyaanku?” kini dia menatapku. Tersenyum sedikit seperti biasa. Dingin sekali.

“Kalau tidak ingin belajar, lebih baik kamu keluar saja!”

“Tidak, aku akan memulainya!”  aku segera membuka buku tulisku dan menyerobot pulpen yang berada di depanku. Mencoba mengerjakan satu soal yang sulit aku mengerti. Ini menyebalkan! Dimana jawabannya? Sungutku.

Aku membolak-balik isi buku paket Matematika sub bab Aritmatika, mencoba menemukan contoh yang dapat aku pegang sebagai acuan dalam mengerjakan. Beberapa menit kepalaku memang tidak bisa berhenti untuk mengikuti isi buku yang aku bolak-balik sedari tadi.

Saat aku mencoba membuka halaman demi halaman buku itu untuk kesekian kali sehingga membuat halamannya sedikit lecek, tiba-tiba dia memegang tanganku. Menyahut buku paketku dan menggantikannya dengan selembar kertas kosong. Dia menulis sebuah angka berumus. Menguak tabir yang sulit aku pahami. Sekelumit tabir angka yang membuatku harus memperhatikan bagaimana cara dia mengerjakan soal itu.

“Sudah mengerti?” tanyanya. Aku gelagapan.

“Hmm…yang ini bagaimana caranya? Aku belum mengerti.” Ia mulai mengajariku. Hari ini aku dekat dengannya. Sedekat angka-angka aritmatika yang selama ini aku benci.

Siang ini tidak sengaja aku melihatnya di sebuah bangunan dekat taman. Ia berjalan sendiri dengan tas jinjing di bahu kanannya. Tanpa pikir panjang aku mengikutinya dari arah belakang. Menyamai langkahnya yang cepat. Ia tidak mempedulikanku. Sedikit pun tidak.

“Tara,” aku mencoba menyapanya. Tapi dia tidak pernah menyahutku. Aku masih mengikuti arah jalannya.

“Tara,” aku menahan tangannya. Dalam keadaan diam aku berhasil  menghentikan langkahnya. Perlahan aku melepaskan tangannya karena aku merasa canggung.

“Kenapa mengikutiku?” menatapku dengan mata bulat indahnya. Agak tajam. Aku terlihat kikuk. Aku tidak tahu alasan apa yang paling pantas untuk menjawab pertanyaan itu. Karena aku sendiri pun bingung kenapa aku tadi mengikutinya, apalagi menahan lajunya. Ia menungguku. Kini ia yang menunggu jawabanku. Daun-daun kering itu berjatuhan di sekitar kami. Angin menyelusup sunyi. Seperti hatiku, aku sampai tidak bisa berucap sepatah kata pun.

Setelah beberapa menit kami diam mematung. Akhirnya kulihat ia tersenyum. Merekahkan bibirnya hingga terbentuk guratan-guratan tipis di sekitar mata indahnya. Aku justru tertegun selama beberapa detik, tidak percaya dengan apa yang aku saksikan. Mimpikah?

“Kamu ingin bermain ke rumahku kan?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. Ia langsung menyerobot tanganku. Berjalan dengan menggandeng tanganku. Aku tersenyum.

“Aku punya anak anjing yang lucu!”

“Oya?”

“Iya. Kamu pasti suka!”

“Pasti!” jawabku. Kemana sosoknya yang dingin itu? Haha…aku tidak peduli! Sekarang aku bahagia, Tara menerimaku sebagai sahabatnya dengan perlakuan yang jauh sangat menyenangkan! Tidak seperti sebelumnya.

Di dalam perjalanan, kami tertawa dengan canda. Baru kali ini aku merasakan sosok Tara yang sebenarnya. Sampai saat ini aku pun belum tahu alasan dari perubahan sikapnya terhadapku. Ini mengejutkan. Aku berharap waktu akan menjawabnya. Menjawab semua kekosongan yang Tara rasakan saat awal jumpa denganku.

Setelah aku mengantar berkas kakakku ke kantornya. Aku berjalan sendiri melewati gedung tua di samping taman. Sebuah gedung yang dibiarkan tanpa penghuni. Aku ingin menghirup udara segar di sini. Maka aku putuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar taman.

Tanpa aku sadari ada seseorang yang menyamai langkahku. Ia memanggil namaku berulang kali. Seseorang yang sudah aku kenal. Seseorang yang dengan sengaja tidak aku hiraukan. Seseorang yang membuatku terluka bila aku membiarkannya begitu saja.

Awalnya aku tidak suka dengan anak baru yang bernama Kevin Ardian. Ia telah menggantikan tempat duduk sahabatku, Alena. Ia memakai tempat duduk Alena. Ia memakai bangku yang biasanya dipakai untuk menulis Alena. Ia telah merusak pemandanganku. Ia pengacau!

Aku bersikap dingin padanya, aku tahu Ia pasti juga merasa dengan perbuatan yang kusengaja itu. Aku tidak ingin melihatnya. Rasanya aku ingin mengusirnya. Mendepaknya dari bangku Alena.

Tapi, setelah aku pikirkan kembali. Perbuatanku melampaui batas kalau aku teruskan. Ia tidak tahu apa-apa. Ia tidak tahu perasaanku. Ia hanya tahu bangku itu kosong. Ia tahu kalau bangku di kelas ini yang kosong hanya di sampingku. Tidak ada yang lain. Ia butuh tempat duduk, Ia butuh tempat untuk mencatat materi, Ia butuh tempat untuk menerima pelajaran dari guru. Tidak mungkin aku mengusirnya. Aku tidak berhak karena ia juga murid di sekolah ini, di kelas ini. Ia berhak atas bangku itu. Lagipula Alena tidak akan pernah kembali. Ia tidak akan memakai bangku dan kursi yang berada di sampingku lagi. Ia sudah menghilang. Jadi aku harus menerima kenyataan yang ada. Aku harus mampu melupakan kalau bangku itu milik Alena. Kenangan, biarlah menjadi kenangan saja. Kenangan dimana aku dan Alena menghabiskan masa persahabatan kami di kelas ini, di bangku kayu tua ini. Bangku tua yang pinggir kakinya terdapat bekas gigitan rayap. Keropos dan cat kayunya sebagian sudah memudar.

Aku menerimanya. Aku menerima Kevin Ardian sebagai sahabatku seutuhnya. Seperti Alena yang kini sudah berada di sisi Tuhan.

Kini aku berjalan dengannya. Menapaki undakan kehidupan persahabatan yang baru. Aku akan memulainya, saat ini aku memutuskan untuk bersahabat baik dengan Kevin Ardian.

————————-Selesai!

Model Foto: Stephania Maria & Stefan Cornelius

MoonLight

“Datanglah, wahai Dewa Angin!!!!!!!!

Tepat saatnya kau mengambil nyawaku…

Lakukanlah sekarang,

Aku ingin segera lepas dari ragaku,

Aku ingin bebas,

Ku tahu ini menyalahi takdir Tuhan,

Dan kau bukanlah Malaikat pencabut nyawa,

Kau Zeus…

Dewa mara hembusan yang dapat melenyapkanku!”

Gadis itu merentangkan tangannya. Wajahnya menatap bulan penuh di atas sana. Cahaya lembut bulan itu telah membinarkan parasnya yang elok. Hembusan angin datang perlahan. Sayup. Namun, satu detik kemudian amarahnya meluap-luap. Gadis itu tetap merentangan tangannya, menatap bulan penuh itu tanpa sedikit pun kedipan. Ia layaknya bidadari yang terbang. Gaun satin yang ia kenakan tak luput berkibar seakan ingin lenyap seperti nyawanya. Zeus benar-benar marah. Mata indah itu mengalirkan darah segar. Hingga bibir mungil itu pun meneteskan warna saga yang sangat kental.

Ini bukan salahku tapi ia sendiri yang menginginkan kematian ini harus terjadi. Aku hanya bisa menatapnya yang mulai mengerikan, tubuhku kaku di tempat aku tertunduk lesu. Detik berjalan, gaun satin putih yang sengaja kubelikan untuknya itu sekarang telah berubah warna. Cairan anyir di dalam tubuhnya merembas di setiap helai-helai satin itu. Indah bukan main. Sempat aku tersenyum. Lebih tepatnya senyuman gila yang pernah kulakukan.

Masih kuingat dua hari yang lalu, gadis itu menemuiku untuk kesekian kalinya. Mencoba merayuku dengan segala cara supaya Zeus membunuhnya. Saat itu aku hanya diam. Namun, tanganku dengan sendirinya berhenti menekan tuts-tuts piano di depanku. Aku menoleh ke arahnya, dia tersenyum ke arahku. Membelai lembut pipiku yang basah oleh airmata. Kugenggam tangannya. Erat. Beberapa saat mata kami saling beradu. Kulihat dengan pasti kesenduan tersirat di kornea coklatnya. Masih dengan keadaan diam, aku mencium punggung tangannya. Lalu, dia ambruk di dalam dekapanku.

“Daniel, ingin rasanya aku tersenyum!” tangisnya pecah saat itu juga.

“Tidak cukupkah aku berusaha memunculkan senyummu itu kembali?”

“Aku tahu! Aku tahu! Kau sangat membantuku. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku tak sanggup, Daniel! Aku ingin Zeus segera memisahkan jiwa dan ragaku. Kau mengerti kan, aku anak terkutuk!” aku mendekap kedua belah pipinya dengan telapak tanganku.

“Membiarkanmu mati ditangan Zeus?” tanyaku dengan nada yang terdengar bergetar. Dia mengangguk.

“Ya..” aku masih bisa mendengarnya meski ia hanya mengumam tak jelas. Kualihkan pandanganku ke arah tuts-tuts piano di depanku kembali.

“Daniel!” kurasakan tangan lembutnya menyentuh pipiku. Suaranya terdengar memohon. Aku hanya diam.

“Daniel, Kumohon! Kau satu-satunya yang bisa membuatku merasakan kedamaian atas keabadian.” Sekali lagi aku hanya diam.

“Kumohon, Daniel!” ini diluar dugaanku sebelumnya. Dia berlutut di kakiku. Dia melakukan hal serendah itu hanya demi keabadian yang tak semestinya. Aku menatapnya sesaat. Entah dorongan darimana aku tega melakukan ini, aku menariknya dengan kasar. Mencengkeram lengannya, lalu mengajaknya lari menjauh dari ruangan ini.

— אלוהים–

Gadis itu Luna. Saat pertama kali menemukannya, ia dalam keadaan menangis. Aku berjongkok supaya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kuangkat wajahnya perlahan dan kubuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.

“Astaga!” aku melonjak kaget. Ingin rasanya saat itu aku berlari sekencang-kencangnya dari gadis itu. Tapi tubuhku tiba-tiba kaku seketika. Cairan kental itu keluar dari kelopak mata indahnya. Kuakui dia sangat cantik, cantik sekali. Seperti bidadari yang baru turun dari surga. Sempat terpikir olehku juga bahwa dia adalah anak setan. Darah…cairan kental itu tak lain adalah darah! Yah, darah!

Aku tak tega meninggalkan ia dengan keadaan seperti itu sendiri. Kuusap airmatanya yang langka itu dengan sapu tanganku.

“Jangan menangis lagi!” ujarku terdengar setenang mungkin. Padahal aku ngeri melihatnya. Dia menatapku. “Aku takut darahmu habis.” Lanjutku ragu. Dia hanya tersenyum. Lalu, matanya beralih ke arah rosario berwarna merah saga yang tergantung manis di leherku. Ditariknya perlahan.

“Daniel!” serunya pelan. Memelukku.

???

– – אלוהים- –

Untuk apa lagi aku bertanya kalau dia sendiri sudah menjelaskannya padaku. Sore ini langit muram dan mungkin sebentar lagi hujan. Baru beberapa hari aku mengenalnya. Namun rasanya hati ini sudah mengenalnya sejak lama.

“Kau dengarkan baik-baik dan aku yakin kau akan tersenyum!” dia menatapku. Mengangguk pelan.

Aku mulai memainkan tanganku di antara tuts-tuts berderet ini. Sebuah lagu klasik melantun indah. Lagu yang kubawakan juga mengantar akan kedatangan hujan. Sejenak kualihkan pandanganku ke arahnya. Kurasa dia menikmatinya. Senyumnya mengembang jelas.

Hujan semakin deras. Kuhentikan permainan pianoku. Ditariknya perlahan tanganku hingga kami saling berhadapan.

“Aku bukan gadis yang seperti kebanyakan. Aku terlahir dimana orangtuaku tak membesarkanku. Mereka takut memilikiku. Bila aku dibuat marah, maka kornea mataku akan berkilat merah darah. Mengerikan, seperti iblis. Dan bila aku dibuat menangis, maka airmata yang mengalir itu adalah darah.” Kulihat wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. Memang sangat menakutkan bila orang yang baru pertama kali melihatnya, “Tidak hanya itu, kalau hatiku merasa pedih atau mengingat akan orang tuaku, air mata ini juga akan mengalir. Jadi, semua teman-temanku menjauhiku. Mereka bilang aku adalah anak iblis.”

Dengan pelan kulepas rosario dari leherku. Lalu kukenakan rosario itu di lehernya. Ia menatapku. Lama.

“Zeus akan datang, dia akan melepaskan ragamu!”

“Bagaimana caranya?”

“Buatlah dia marah!” ia mengerutkan kening, “Dengan cara, ‘aku ingin mati ditanganmu’, teriakkan berkali-kali itu padanya!”

Hanya dengan rosario itulah Zeus akan datang. Gadis itu ternyata sudah jauh-jauh hari mencariku hanya untuk mengambil rosario ini. Ia tidak tahu kalau cinta kedua orang tuanya memang terkutuk. Seorang Malaikat telah membawa lari seorang bidadari neraka ke bumi. Itulah yang menyebabkan ia terlahir menjadi anak yang terkutuk.

Malam itu seorang malaikat datang padaku saat tertidur, dia memberikan rosario berwarna merah saga pada biarawati yang merawatku. Disuruhnya biarawati itu untuk mengalungkan rosario itu padaku. Mereka tak tahu kalau aku sengaja mendengarkan pembicaraan mereka.

“Anak suci ini, dialah malaikat bidadari kecilku. Dia adalah satu-satunya manusia yang akan mendatangkan Zeus untuk keabadian putriku. Kumohon padamu, jika anak ini sudah menginjak dewasa, katakan tentang rahasia rosario ini!”

“Baiklah, malam ini juga aku akan mengalungkan rosario ini di lehernya.”

“Bagus. Dan anak itu akan…”

“Prang..” aku menjatuhkan sesuatu di sampingku. Entah apa, saat itu keadaannya gelap. Dan suara itu tak lagi bisa kudengar.

“Daniel, kau kah itu?” terdengar suara biarawati memanggilku. Aku pun pura-pura tidur kembali.

— אלוהים–

Sejak seorang biarawati mengalungkan rosario itu, setiap malam, saat cahaya bulan menghanyutkan bunyi indah yang kulantunkan. Angin lembut itu juga datang. Menyusup sulur-sulur kuduku. Menjamah penuh di dalam kalbuku. Zeus datang dan memberikan salam hangat padaku. Kami saling berbicara dengan nada. Bila aku menekan beberapa tuts untuk menghasilkan melodi, maka Zeus juga akan membalasnya. Dia sudah menjadi temanku sejak kecil. Dia sahabatku setelah instrument musik akustik ini. Dan sekarang dia akan melenyapkan gadis yang mulai kucintai. Dia juga jadi musuhku dalam jengkal kisah cintaku. Mungkin ini yang terbaik. Gadis itu menginginkan keabadian di alam sana. Sedangkan aku hanyalah seorang manusia dengan segala keterbatasan. Aku, Daniel. Laki-laki yang terlahir tanpa mengetahui siapa orangtuaku. Sama dengan gadis itu. Terkecuali, aku ini benar-benar tak bisa tahu siapa kedua orang tuaku. Sedang gadis itu mungkin setelah ia sampai pada keabadiannya, ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Sempat terpikir olehku untuk menjadi seorang Pastur, seperti para Bapa yang mengabdi di sebuah gereja untuk Tuhan. Tapi kedatangan Luna membuatku mengerti akan cinta yang sungguh aku ingin memilikinya.

“Daniel, maafkan aku!” dia menangis di dalam pelukanku. Aku tak peduli air matanya menodai kemeja putihku. Kupeluk dia semakin dalam. Aku tak mau kehilangannya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Dia melepaskan tanganku secara berangsur. Dia berlari di tengah padang rumput yang luas. Meninggalkanku. Ingin rasanya aku mengejarnya dan meyakinkannya untuk mengurungkan niatnya itu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Mulutku terasa kelu untuk berteriak. Sedang kakiku pun terasa berat untuk kutapakkan. Sebelum ia merentangkan tangan, menatap bulan penuh di atas sana dan mengucapkan sebuah permohonan akan kematian. Dia sempat tersenyum ke arahku. Mencoba meyakinkanku bahwa ini adalah jalan terbaiknya sekaligus jalan terbaikku.

“Lunaaaa…….” Pekikku tertekan. Kupeluk raganya yang sudah tak bernyawa. Masih kurasakan getaran Zeus di sekelilingku. Menghangatkan hatiku yang mulai meredup kelam. Dan raga itu pun melebur seperti debu tak berbekas. Kulihat dengan jelas dia terbang di tengah cahaya bulan beserta kedua orang tuanya di sisinya. Tersenyum. Kemudian lenyap dari pandanganku.

The End

Model Foto: Hendry Salim & Mell Zhen

Selembar Daun Kering

Aku menuruni anak tangga dengan langkah yang sengaja kupercepat. Perasaanku tak karuan. Antara bahagia dan kecewa. Mungkinkah aku akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama kurindukan. Seseorang yang aku sayangi dalam kehidupanku. Mungkinkah itu dia, Tuhan? Semoga saja!

Kini aku sudah berada di depan pintu, dengan hati yang berdebar aku mencoba membuka pintu ini.

“Bunda!!” Seruku pelan penuh dengan segala kerinduan. Dan aku segera terdiam saat senyuman lembut muncul dari pemilik bibir tipis itu. Aku kembali dalam kekecewaan. Dia bukan Bunda! Dia bukan seseorang yang kusayangi dan kurindukan itu. Dia bukan siapa-siapaku! Aku tak pernah sekalipun mengharapkan kehadirannya di dalam kehidupanku. Apalagi menyebutnya Bunda.

“Alline, kamu baik-baik saja kan?” Tanyanya penuh perhatian. Aku hanya mengangguk. Lalu dia menuntunku masuk ke dalam rumah. Kenapa di depan pintu itu yang muncul bukan Bunda? Kenapa Tuhan? Kenapa harus Deeva yang muncul. Dia membawa belanjaan yang cukup banyak, tapi aku tak membantunya. Deri menangis pun aku tak membantu menenangkan bayi laki-laki itu. Dan semuanya itu dia lakukan sendiri. Biar kata diriku ini kejam, aku tak peduli. Aku tak peduli dengan apa yang dia lakukan di rumah ini. Sudah 1 tahun lamanya aku tinggal bersamanya, tapi dia tidak pernah marah ataupun menyiksaku seperti kebanyakan Ibu tiri yang ditayangkan di TV-TV itu. Dia selalu memberikan perhatian penuh terhadapku. Sampai Deri terlahir, perasaannya tak berubah terhadapku. Aku menatapnya yang sedang menidurkan Deri di ranjang. Namun sepertinya dia tahu dan langsung tersenyum seperti yang sebelumnya dia berikan padaku. Entah kenapa aku tetap tak bisa menerimanya di dalam hatiku. Aku segera mengalihkan pandanganku, dan menaiki anak tangga menuju kamarku.

Namaku Alline Putri Pertiwi, itulah nama yang diberikan Ayah dan Bunda. Seorang Dewi yang kukuh dan mandiri dalam menghadapi masalah, itu arti dari namaku. Mungkin mereka berharap aku seperti bumi yang kukuh. Namun Aku tak seperti bumi, aku tak sekukuh Bumi. Aku rapuh dan selalu sendiri. Kata Alline lebih pantas berarti sendiri daripada Mandiri untukku, dan usiaku kini sudah menginjak 16 tahun. Kenapa Bunda meninggalkanku? Apa Bunda tidak sayang lagi pada Alline? Alline rindu Bunda? Bukankah dulu Bunda pernah janji pada Alline, kalau suatu hari nanti Bunda akan mengajak Alline bersama-sama lagi? Kenapa Bunda bohong pada Alline? Kenapa? Aku menangis merasakan hati yang berkecamuk ini. Namun air mata ini tak pernah bisa keluar lagi. Air mata ini seakan sudah habis. 2 tahun lalu Ayah dan Bunda bercerai, saat itu aku seperti boneka yang di perebutkan anak kecil. Aku bingung. Aku bingung dengan semua kejadian demi kejadian yang tak aku inginkan. Dan akhirnya Ayahlah yang lebih berhak mengasuhku. Aku sedih, aku sedih harus berpisah dengan Bunda. Aku tak ingin salah satu dari mereka berpisah dariku. Saat itu Bunda masih mengunjungiku. Namun semua itu berubah saat Ayah menikah lagi dengan Deeva. Kenapa Ayah tega meninggalkan Bunda demi wanita itu? Aku benci, muak, setiap melihat Ayah dengan wanita itu. Bagiku mereka tak mempunyai perasaan sedikit pun.

***

Ini sudah kesekian kalinya aku menunggu Bunda di taman depan rumah. Duduk di kursi pajang di bawah pohon akasia yang cukup untuk melindungiku dari sinar matahari. Aku tetap akan menunggunya datang. Meski perasaanku mengatakan Bunda tidak akan datang lagi, namun aku akan terus berdoa agar Bunda datang mengahampiriku lagi!

Dari kejauhan Ayah menghampiriku, lalu duduk di sampingku.

“Sudah Ayah bilang, Bunda tak akan lagi datang!”

“Kenapa Ayah selalu bilang seperti itu pada Alline? Alline yakin Bunda akan datang.” Aku menatap Ayah dengan sorot mata tajam. Ayah memegang pipiku lembut dan menepuknya pelan.

“Kamu anak yang baik, Ayah tak tega melihatmu seperti ini! Ayah sangat menyayangi Alline! Maafkan Ayah, Alline!” Tangan Ayah seperti mencari sesuatu di saku kemejanya. Ayah mengeluarkan Amplop berwarna hijau pinus, lalu menyerahkannya padaku. “Maafkan Ayah, Alline!” Setelah Ayah berkata seperti itu, Ayah meninggalkanku sendiri.

Kulihat Amplop ini sangat indah, dengan warna kesukaanku dan hiasan bunga-bunga kecil membentuk namaku, Alline. Aku membaliknya, tak tertera nama pengirimnya. Kenapa Ayah tidak berbicara langsung saja pada Alline? Tak perlu kan menulis surat-surat seperti ini segala. Hatiku tiba-tiba saja berdegup dengan kencang, di benakku terlintas sosok Bunda yang tersenyum. Mungkinkah ini dari Bunda? Dengan perlahan aku mulai menyobek ujung amplop hijau ini. Aku mengeluarkan isi amplop ini, terdapat sepucuk surat dan selembar daun kering.

Dear, Putriku

Alline

Angin yang berbincang….

Saat daun berguguran….

Alline, putriku yang selalu berada di dalam hati ini selamanya. Bunda menulis surat ini karena Bunda tak lagi bisa membahagiakan Alline. Mungkin Alline akan lebih bahagia bersama Ayah dan Bunda Deeva. Maafkan Bunda! Bunda tidak bermaksud meninggalkan Alline sendirian. Bunda hanya ingin Alline bahagia di keluarga baru Alline. Alline harus bahagia bersama Ayah dan bunda Deeva. Ini mungkin berat untuk Alline, tapi Bunda ingin Alline bisa menerima dengan tulus Deeva sebagai pengganti Bunda. Deeva adalah sosok bunda yang baik untuk Alline, Bunda yakin hal itu. Jadi Alline mau kan menerima Deeva sebagai bunda Alline yang baru? Bunda tak bisa mengunjungi Alline lagi. Dokter memvonis Bunda mengidap penyakit yang sangat parah. Alline tak perlu tahu penyakit apa yang Bunda rasakan, karena Bunda tak ingin membuat Alline sedih. Meski Bunda tidak bisa melindungi Alline di dunia, namun Bunda akan selalu melindungi Alline di atas sana! Alline tahu kan sesuatu yang muncul itu suatu saat akan sendirinya menghilang. Seperti daun yang bersemi suatu saat nanti juga akan berguguran. Sama hal nya dengan Bunda, Bunda akan kembali kepada Sang Pencipta setiap saat Tuhan inginkan. Alline harus menjaga diri baik-baik. Sayangilah Ayah, bunda Deeva, dan Deri seperti Alline menyayangi Bunda.

Yang Menyayangimu.

Bunda

Setelah sekian lama, kini aku meneteskan airmata itu kembali. Harapanku bertemu Bunda sudah pupus sampai disini. Aku memegang selembar daun kering dengan hati getir.

“Alline sangat menyayangi Bunda!!” Gumamku. Tiba-tiba angin semilir menjatuhkan daun akasia itu hingga gugur tepat di pangkuanku. Mungkinkan Bunda mendengarku? Senyumku getir. Aku mengambil daun itu. Aku yakin Bunda ada disini dan mendengarku.

Dari depan pintu Ayah mulai menghampiriku kembali, namun sekarang Ayah tidak sendirian. Ada Deeva, dan Deri dipelukan Ayah. Lalu mereka duduk di sampingku. Airmataku tak bisa kuhentikan. Deeva mengelus rambutku perlahan. Aku sangat bersalah padanya, aku tak pernah menyadari kalau dia begitu tulus menyayangiku.

“Bunda!” Gumamku sembari memeluknya erat.

====================

Diterbitkan di koran harian solopos 2009

Model Foto: Chindy Lam dan Mama

I Love God, Nothing Man!

Aku ini adalah perempuan apatis bila menyangkut laki-laki. Aku tidak pernah yang namanya berjalan berduaan apalagi berpacaran. Mengingat bahwa hatiku memang ditakdirkan sedemikian rupa sehingga tak mampu menjadi berbunga-bunga sampai harus terbang di angkasa. Tidak ada cupid cinta yang mengelilingiku, mungkin hanya malaikat kebaikkan yang tersenyum-senyum bila aku di depan laki-laki.

Semenjak memasuki bangku perkuliahan, aku merasa sedikit terganggu dengan kehadiran laki-laki. Mengingat sedari kecil aku bersekolah di yayasan khusus wanita dan aku selalu berada di asrama. Yang aku lihat setiap hari hanya anak-anak perempuan dengan sifat yang berbeda-beda. Semua begitu gamblang dimataku.

Satu bulan sekali atau kalau ada libur sekolah, orang tuaku menjemputku. Membawaku pulang ke rumah yang terlihat mewah. Dimana aku akan bertemu dengan ketiga saudara laki-lakiku dan adik perempuan semata wayangku.

Mereka semua menyambutku dengan kasih sayang dan penuh kegembiraan.

Satu diantara kakak laki-lakiku adalah anak angkat orang tuaku. Jason, lebih tua dua tahun dariku. Bisa dibilang di dalam keluargaku, aku mempunyai kakak laki-laki angkat. Sedangkan kedua kakak laki-laki kandungku bersekolah di luar negeri, namun semua menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga saat hari libur nasional. Seperti Natal.

Mama dulu agaknya sedih saat aku mengatakan bahwa aku ingin menginap di asrama sekolah. Satu minggu aku baru mendapatkan keputusan dari Mama, kalau aku diizinkan berpisah rumah dengan mereka. Saat itu masih Sekolah Dasar, umurku kira-kira sekitar sembilan tahun.

***

Bangku perkuliahan mengharuskanku untuk berinteraksi langsung dengan laki-laki. Berdiskusi bersama sampai harus duduk diantara mereka, semua campur menjadi satu. Sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja aku tidak terbiasa. Hingga pada suatu kali aku harus berdiskusi dengan beberapa teman laki-lakiku untuk menyelesaikan tugas kuliah. Teman perempuanku hanya satu orang dan dia sosok yang pendiam, Azizah namanya.

Kami bersepakat akan mengerjakan tugas pada sore hari setelah beberapa temanku menjalankan sholat Ashar. Perlu diketahui juga Azizah dan ketiga teman laki-lakiku adalah Muslim yang baik dan taat. Jadi aku dan kedua teman laki-lakiku yang kebetulan sama-sama beragama Katholik harus menunggu mereka selesai menjalankan ibadah.

Berawal dari perbincanganku dengan Anant dan Yusa. Kami bercanda bersama di bale yang tak jauh dari fakultas. Yusa menggodaku, kalau Anant itu menyukaiku. Kulihat memang Anant agak salah tingkah saat aku menatap matanya yang sempat menatapku tanpa aku sadari sebelumnya. Aku pun hanya tersenyum.

Diskusi dimulai, tugas akhirnya terselesaikan tepat pukul tujuh malam. Azizah dijemput ayahnya. Yang lain dengan motornya masing-masing.

Aku berjalan keluar, duduk di bawah lampu bundar yang masih menyala benderang. Suasana kampus masih terlihat ramai, mungkin mereka juga sedang menyelesaikan tugas dari dosen.

“Mona..” aku menatap orang yang memanggilku. Anant berdiri di sampingku. Aku lihat dia sempat tersenyum, gugup.

“Ya?” sahutku.

“Menunggu jemputan?” tanyanya sembari menghembuskan nafasnya perlahan.

“Ya. Kau sendiri?” tanyaku balik.

“Aku disini, menemanimu! Boleh kan?” aku tersenyum mendengarnya.

“Terima kasih!” ucapku.

Berdiri berdua yang hanya diterangi lampu yang samar-samar di atas sana. Warna sinarnya putih pudar karena jaraknya yang lumayan tinggi dari tempat kami berdiri. Dingin mulai mengelenyit. Suasana menjadi sunyi.

“Kau sudah punya pacar?” aku kaget mendengar pertanyaan darinya. Diam.

“Belum, kenapa?”

“Apa aku boleh berbagi cinta denganmu?” kini dia beranikan matanya menyorot langsung ke dalam mataku. Aku menunduk, kakiku menggeser-geser kerikil di bawah. Benar itu yang aku dengar? Atau suara tadi hanya bisikkan setan saja? Untuk memastikan, aku menengadah, menatapnya.

“Coba diulang!”

“Apa aku boleh berbagi cinta denganmu?” aku tahu untuk mengatakan kalimat tanya itu butuh perjuangan yang cukup berat. Aku tahu, aku tahu itu! Untuk seorang Anant tentunya.

“Maksudmu?” tanyaku untuk kejelasan. Padahal aku sendiri mampu mencerna maksudnya tadi.

“Maksudnya, jadi pacarku?” suaranya terdengar tegas. Aku tersenyum. Tapi, senyumku bukan berarti bahagia, tersipu atau seperti orang yang sedang dimabuk cinta. Senyumku justru mengandung arti ketakutan. Dengan jelas jawabanku akan menyakitinya! Dan aku takut dia mendengarnya. Dia menungguku. Seharusnya aku tadi menjawab “tidak”, kenapa mulutku mengucap “belum”. Ku hembuskan nafaku perlahan. Menyungging senyumku yang sekian kali. Menggeleng pelan.

“Tidak. Maaf!” jawabku. Keningnya berkerut, bingung.

“Kenapa?” kupikir setelah sekian detik terdiam. Dia baru mampu mencerna jawabanku.

“Tidak bisa!” jawabku setenang mungkin.

“Aku ingin tahu alasanmu?” pertanyaannya mengejarku.

“Aku tidak pantas untukmu! Carilah yang lebih baik dariku!”

“Tapi…”

“Tettt…” bunyi klakson mobil di seberang mengagetkanku. Lampunya menyorot tepat di mataku hingga harus menyipit. Setelah berpamitan dengannya, aku berlari kecil menuju mobil yang disetir oleh kakakku, Jason.

***

“Siapa laki-laki tadi?”

“Teman.” Jawabku sembari memasang sabuk pengamanku.

***

Roma, 18 June….

Kupejamkan mataku, tersenyum di depan Bapaku. Aku adalah pelayan gereja. Setelah lulus dari universitas yang telah menampungku selama tiga tahun, aku memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Menjadi pelayan Tuhan di salah satu gereja yang berada di Roma, Italia.

“Seorang biarawati tidak harus di dalam biara. Seorang biarawati boleh hidup di luar Gereja. Kamu tahu sendiri bukan tentang hal itu? Aku ini  salah satu biarawati yang tidak tinggal di Gereja, atau membantu di yayasan. Aku ingin melanjutkan S1-ku, dan orang tuaku menganjurkanku kuliah di universitas negeri yang mahasiswanya untuk umum. Soalnya aku sendiri juga belum pernah menjumpai universitas khusus perempuan. Disini aku dipertemukan denganmu, seorang laki-laki yang baik dan taat pada Tuhan. Jadi maafkan aku, carilah perempuan yang jauh lebih baik dariku!”

“Keputusanmu tidak bisa diubah? Tidak sedikit pun kamu menaruh rasa sayangmu padaku?”

“Aku menyayangimu! Bukankah Bapa selalu mengajarkan kita untuk menebar kasih sayang?”

“Intinya kau tidak mencintaiku seperti apa yang aku rasakan terhadapmu!”

“Ya, bisa dibilang begitu.”

Wajahnya menunduk, tak berani lagi menatapku. Hatinya terasa perih, itu pasti. Meski aku sendiri tidak pernah merasakan bagaimana rasa sakit itu? Rasa sakit karena tidak bisa memiliki.

“Aku pulang dulu ya!” pamitku. Kulihat dia hanya mengangguk dan tersenyum masam. Baru beberapa langkah darinya. Dia menarik tanganku, sehingga membuatku kini berhadapan dengannya. Dia melepaskan rosario yang berada di lehernya. Lalu menggantungkan rosario itu di leherku.

“Tuhan Bapa, Bunda, dan Roh Kudus selalu memberkatimu, Monica! Kau tetaplah gadis pertama yang membuatku jatuh cinta!” gumamnya. Aku tersenyum.

“Tuhan Bapa, Bunda, dan Roh Kudus selalu memberkatimu kembali, Anant!” ujarku segera. Berlari menuju mobil yang menjemputku. Itu terakhir kali aku bertemu Anant. Tuhan telah mengambilnya lebih cepat dariku. Dia meninggalkan rosario ini padaku. Kubuka mataku, air mataku menetes dengan sendirinya. Rasa malam itu seakan kembali hadir di dalam hatiku saat ini.

“I love You, Father! Love You, Anant!” kuusap airmataku. Meninggalkan altar.

*-*

Model Foto: Chindy Lam

Andaikan Aku Seorang Indonesia

Alks ik een Nederlander was (Andaikan aku seorang Belanda).

“…..Seandainya aku seorang Belanda, aku protes peringatan yang akan diadakan itu. Aku akan peringatkan kawan-kawan penjajah bahwa sesungguhnya sangat berbahaya pada saat itu mengadakan perayaan peringatan kemerdekaan. Aku akan peringatkan semua bangsa Belanda, jangan menyinggung peradaban bangsa Indonsia yang baru bangun dan menjadi berani. Sungguh aku akan protes sekeras-kerasnya……..”

Sudah kesekian kalinya aku membaca paragraf yang menyatakan isi brosur mengenai pemberontakan bangsa Indonesia terhadap kolonial Belanda di dalam paket sejarahku. Lensa mataku seakan berubah menjadi hitam legam seperti milik khas Indonesia bila aku membaca paragraf itu. Aku begitu mengagumi perjuangan Ki Hajar Dewantara, E.F.E. Douwes Dekker, dan Cipto Mangun Kusuma yang tergabung dalam organisasi Indische Partij, 1912 silam. Yeah, terlebih-lebih E.F.E. Douwes Dekker adalah kakek moyangku yang telah membela negeri kepulauan ini.

Tak ada lawan yang kujajah, namun nasibku seolah seperti kolonial Belanda yang sangat dibenci pribumi. Mata itu memandangku tajam, seperti akan membakarku secara hidup-hidup. Aku tahu alasan kenapa pemilik mata tajam itu membenciku. Dia benci orang Belanda. Dia menganggap bahwa orang Belanda sama saja seorang penjajah yang tak termaafkan. Bukankah dulu para kakek moyang kita sudah saling berdamai? Tapi, kenapa sekarang masih ada sorot mata kebencian. Andaikan aku disuruh untuk memilih antara seorang Indonesia ataukah seorang Belanda, maka aku akan memilih seorang Indonesia. Supaya dia tidak membenciku seperti itu. Namun, ini takdirku. Aku disini, di negara Indonesia ini. Aku adalah seorang Belanda. Semua orang juga mengetahui hal ini karena jelas-jelas fisikku menunjukkan bahwa aku seorang Belanda. Dan kuakui aku memang tak sedikitpun menyentuh keturunan pribumi. Kedua orang tuaku asli seorang Belanda. Dan keberadaanku di Indonesia kini mengikuti kedua orang tuaku yang bertugas di Indonesia.

Kututup perlahan buku paket sejarahku. Kugeser kursi dudukku lalu beranjak keluar ruangan. Semua murid berhamburan karena jam pelajaran terakhir telah usai.

“Miley…” seruan itu menghentikan langkahku. Aku membalikkan badan dan kulihat seorang cewek beparas oriental menghampiriku. Aku sangat yakin dia juga bukan seorang Indonesia. Langkahnya terhenti di hadapanku. Senyum tipisnya mengembang sesaat sebelum berkata padaku.

“Ada apa?” tanyaku dengan bahasa Indonesia secara fasih, ayah yang mengajariku.

“Kau lupa? Hari ini kita ada kelompok belajar.” Aku mengerutkan kening. Kelompok belajar? Perasaan aku tak pernah membentuk perkelompokan belajar atau ikut dalam kelompok belajar. Senyuman tipis itu kembali tersungging.

“Hihiii…kau pasti binggung?! Sebelumnya maaf  aku tak memberi tahumu, kalau kamu satu anggota denganku. Pak Eldi memang tak pernah mengharuskan berkelompok secara resmi. Namun apabila Pak Eldi memberi tugas, para murid harus menyelesaikan tugasnya dengan cara berdiskusi. Makanya aku mengajakmu menjadi kelompok diskusiku? Apa kamu bersedia satu kelompok denganku dan teman-teman yang lain?” jelasnya dengan penuh semangat.

“Yeah, aku bersedia. Penyelesaian tugasnya apa harus sekarang?”

“He’em. Bagaimana denganmu? Kamu tak ada acara bukan?” aku berpikir sejenak, lalu menggeleng.

“Nanti jam 6 di rumahnya David!”

“David?” aku mengerutkan kening, mencoba mengingat pemilik nama itu. Ah, sudah 4 bulan aku bersekolah disini. Namun aku sulit mengingat nama teman-temanku.

“Yeah, David! Dia orangnya!” cewek mungil bermata sipit dihadapanku kini menunjuk salah satu cowok yang mencoba membereskan buku-bukunya. Cowok itu bepaling ke arah kami. Sesaat dia memandang kami dengan senyuman yang seakan terpaksakan. Dan jelas terlihat mata tajamnya menghujam tepat ke arah mata abu-abuku. Dia! Dari awal dia sudah memandangku dengan sorot yang menyiratkan tak suka padaku. Dan sekarang aku satu kelompok dengannya. Satu-satunya teman yang berada di kelas ini yang tak mau berkenalan denganku hanyalah cowok itu. Waktu pertama aku mencoba memperkenalkan diriku padanya, dia tak sekalipun menggubrisku. Dialah orang yang kusinggung sebelumnya. Seorang Indonesia bermata tajam yang sangat membenci seorang Belanda seperti diriku ini.

***

Selama kami, Aku, Vivian, Ruly, dan David itu sendiri mencoba berdiskusi. Dia si pemilik mata tajam itu tak sekalipun berniat membahas permasalahan materi diskusi denganku. Disini aku kebanyakan diam dan hanya berperan sedikit saja. Karena permasalahan materi ini bagiku sangatlah mengejutkanku. Bangsaku telah menjajah bangsa ini selama berpuluh-puluh tahun. Tepatnya yang tertulis di buku ini adalah 350 tahun. Aku tak sanggup membayangkan bangsa yang tertindas selama itu. Sangat memiriskan. Aku menyadari kesalahan nenek moyangku sangatlah besar pada para pribumi. Namun sekali lagi kenapa pribumi yang satu ini seakan membuangku jauh-jauh diriku dari hadapannya. Tak ada sedikit pun pintu maafkah darinya untukku? Disini aku adalah korban kesalahan nenek moyangku. Seandainya mereka tak menjajah bangsa ini. Mungkin dia tak berperilaku tak acuh terhadapku. Matanya masih bergelut tajam tanpa sedikitpun tersenyum. Itulah sosok David. Apa kakek buyutnya meninggal oleh tawanan penjajah dulu? Hingga sampai sekarang dia membenci seorang Belanda. Mungkinkah begitu? Entahlah. Aku pusing memikirkannya.

***

Andaikan aku seorang Indonesia

“….. Seandainya aku seorang Indonesia, aku akan protes sorot matanya yang selalu menghujam tajam ke arah mata abu-abu seorang Belanda. Aku akan peringatkan kawan-kawan pribumi bahwa sesungguhnya seorang Belanda yang berada satu ruang dengannya itu tak patut dikucilkan, hanya lantaran nenek moyangnya telah menjajah pribumi betahun-tahun silam. Sungguh tak adil untuknya bila kawan-kawan pribumi tak menyadari betapa aku mengagumi bangsa ini. Bangsa para pribumi. Sungguh aku tak ingin kawan-kawan pribumi menghujam tajam pada seorang Belanda yang berada dalam lingkarannya. Sekali lagi sungguh aku ingin protes sekeras-kerasnya…”

Sengaja aku sedikit mengutip kata-kata yang tertuang dalam brosur Alks ik een Nederlander was di dalam buku paket sejarahku. Ini yang bisa kukatakan padanya. Ini adalah cara terakhirku mencoba bicara dengannya. Esok pagi aku akan terbang meninggalkan Indonesia, karena tugas orang tuaku sudah selasai di negara ini. Di negara kincir angin sana aku akan kembali menjadi seorang Belanda seutuhnya.

Dengan pelan kulipat kertas sobekan kertas ini. Lalu tanpa sepengetahuan siapapun, dengan sangat hati-hati kuselipkan lipatan kertas ini ke dalam salah satu buku tulisnya. Semoga dia cepat mengetahuinya dan memberikan maaf padaku. Meski keberadaanku tak sama artinya dengan kesalahan nenek moyangku terhadap negara ini bertahun silam. Tetap saja dia menganggapnya sama. Tak ada bedanya.

***

Aku tak pantas mengharapkan dia datang ke bandara pagi ini. Kemarin memang sengaja aku tak memberitahukan keberangkataku kembali ke negeri kincir angin pada teman-temanku. Namun, setidaknya pemilik mata tajam itu tahu maksud tulisan yang kuberikan tanpa sepengetahuannya kemarin. Yeah, kalau dia membuka dan lebih-lebih membacanya. Aku menghela nafas perlahan. Ayah mengisyaratkanku untuk segera masuk ke pesawat. David tak akan datang! Mata tajam itu selamanya tak akan bisa memaafkanku terlebih-lebih pada para Belanda. Baru satu langkah kakiku beranjak, ada suara yang samar menjeritkan namaku.

“Miley….” aku membalikkan badan kembali. Kulihat dengan samar dan semakin jelas sosok cowok berseragam putih abu-abu tergopoh menghampiriku.

“Miley..” nafasnya agak sedikit tersengal. Tertawa renyah dan binar matanya sungguh aku mengaguminya saat ini. Tak seperti sebelumnya kulihat. Aku tersenyum melihatnya.

“Maafkan kelakuanku selama ini terhadapmu! Aku tak bermaksud…ah, kamu benar bahwa itu adalah masa lalu!”

“David!” aku tak percaya akan perkataannya barusan.

“Maafkan aku!”

“Harusnya aku yang minta maaf!”

“Tidak, itu kesalahanku karena telah menganggapmu seorang koloni!”

“Pikiranmu separah itu ternyata terhadapku?!” alasan itu ternyata diluar dugaanku.

“Haha…aku hanya bercanda!”

“Tak ada kesalahan yang harus dimaafkan!”

“Jadi?”

“Kita teman…”

“Sahabat…” kami saling menautkan jari kelingking kami.

“Miley….” suara ayah kembali menyentakku. Kini tidak hanya ayah yang mencoba mengisyaratkan supaya aku cepat memasuki pesawat itu, tapi juga seorang petugas yang kulihat dari tadi mencoba memperingatkanku.

“Aku yakin kita akan bertemu kembali!” harapku.

“Hemmm…jangan lupakan aku!” balasnya, sembari menyematkan sesuatu ke dalam pergelanganku. Sebuah gelang berukir Alks ik een Nederlander was. Aku tersenyum menerimanya.

“Terimakasih! Bye!”

Bye!” setelah mendengar balasannya, aku berajak meninggalkannya.

Pintu pesawat kian tertutup. Setidaknya aku sudah bisa melihat senyuman itu untuk terakhir kalinya aku disini. Dan percakapan itu sangat panjang untuk sosok yang sejauh ini kukenal sebagai seorang yang pendiam, tak banyak kata terucap. Kuharap anggapanku selama ini tentangnya salah. Bahwa dia tidak sungguh-sungguh membenciku untuk selamanya.

“David….

Tak ada salahnya bila para pribumi mengatakan

Alks ik een Nederlander was…pada para Belanda….

Saat itu sampai sekarang….” batinku sembari memandang ukiran gelang pemberiannya.

*-*

Adikku Yang Manis

“Ann….” Mama berteriak pada Annchi. Annchi dan Chan meringis di depan mama dengan muka penuh lumpur.

“Apa yang kalian lakukan?” ditariknya tangan mungil milik Chan terlebih dahulu. Mama lebih dulu membersihkan muka Chan daripada dirinya,”Kau membuat wajah adikmu seperti ini? Dan lihat wajahmu itu??” mama membersihkan wajah Chan dengan sapu tangan. Annchi menunduk tanpa berucap. Dia menyesal dengan perbuatannya. Dilihatnya baju berwarna merah maroon kesukaannya terkena lumpur. Kini mama menariknya, ditatapnya mata jernih Annchi,”Jangan pernah diulang lagi! Mengerti? Jadi kotor kan sekarang?” mama marah-marah. Keduanya di tarik dari taman dan dibawa mereka ke samping rumah. Di sana terdapat keran mengalir dan mama langsung menyemprot tubuh mereka supaya lumpur itu hilang dari tubuh mereka.

“Lepas bajumu!” ujar mama pada Ann. Ann langsung menuruti apa yang mama perintahkan. Dia melihat mama melepaskan baju kotor Chan. Kenapa mama tidak melepaskan baju kotorku? Apa karena aku yang salah? Aku yang membuat ulah? Pikir Ann sedih. Ann melihat adiknya tersenyum-senyum pada mama.

“Jangan kotor-kotoran lagi ya!! Jangan menyusahkan mama!” ujar mama pada Chan. Ann tercenung melihat itu. Rasa iri pun timbul di hatinya.

***

“Kakak..uh..uh…” Chan mencoba naik ke atas ranjang Ann. Ann meliriknya sinis, “Aku punya sesuatu untukmu!” ujar Chan. Ann tidak membatu Chan sama sekali sampai Chan berhasil duduk di samping Ann dengan usahanya sendiri.

“Ada apa?” Tanya Ann pada Chan dengan nada tinggi. Umur Ann 6 tahun dan Chan satu tahun lebih kecil darinya. Chan menyeringai seperti biasa di depan kakaknya.

“Coklat!!! Aku dapat dari mama!” Chan menenteng dua batang coklat. Ann merengut dan melempar boneka beruang yang sedari tadi di pangkuannya. Dia berlari keluar kamar dengan hati kesal.

“Mama jahat..mama jahat!!! Mama hanya sayang pada Chan! Mama tidak sayang padaku!” batinnya. Di luar Ann berpapasan dengan Mama yang membawa dua gelas susu ke dalam kamarnya.

“Ann..kau mau kemana?” Ann tidak menghiraukan pertanyaan mama. Dia beringsut dengan menundukkan wajahnya dalam-dalam. Hatinya terus bermumam.

“Mama jahat!”

Di samping itu Chan melihat dua batang coklatnya dengan bingung. Ann tiba-tiba meninggalkannya padahal dia ingin sekali memberikan coklat itu padanya. Mama bilang kalau dua coklat itu untuk Ann dan Chan. Sesuai apa yang mama katakan pada Chan, Chan berniat memberikan satu batang coklat itu pada Ann. Karena coklat itu memang milik Ann.

Mama masuk ke dalam kamar Ann dan Chan dengan membawa dua gelas susu di nampan.

“Kenapa dengan Ann?” Tanya mama, ditaruhnya susu itu ke meja kecil yang berada di antara dua ranjang milik mereka berdua. Chan hanya menggeleng.

“Chan minum susu dulu ya?? Sini!!!” ujar mama lembut. Chan meminum susu di dalam pangkuan mama. saat itu Ann melihat kelakuan manja Chan di balik pintu putih berhias manik-manik yang mengantung indah. Matanya berkaca-kaca.

***

Bunga di taman mawar berbunga indah, tapi Ann menangis tersedu-sedu di depan mawar berwarna merah itu. Chan melihat kakaknya yang menangis langsung mendekatinya.

“Kakak!!!” gumam Chan. Ann tak memperdulikan Chan. Hari ini Ann dimarahi mama lagi, kali ini mama marah karena Ann melempar semua bonekanya dari dalam lemari. Dia membuat kamar menjadi berantakan. Chan duduk di sampingnya, Chan ikut menangis melihat kakaknya sedih.

“Kakak jangan menangis lagi!!!” gumam Chan lagi dengan suara tertekan akibat isaknya.

“Mama tidak sayang aku!” gumam Ann,”Kamu pergi sana! Nanti mama akan marah lagi padaku kalau kamu masih di sini!”

“Aku tidak mau pergi, aku ingin bersama kakak!”

“Pergi! Atau kau bukan adikku lagi!” betak Ann pada Chan. Chan akhirnya pergi dengan terpaksa. Dia tidak tega melihat Ann menangis seperti itu sendirian. Chan ingin menemaninya, ingin menghiburnya. Tapi Ann tidak menginginkan seperti apa yang dinginkan Chan.

***

Selama satu minggu Chan terbaring di tempat tidur. Chan sakit dan mama jauh lebih sibuk mengurusi Chan. Ann hanya diam tanpa berani memprotes. Sebenarnya Ann ingin sekali mama menanyakan sedikit saja tentang dirinya. “Bagaimana sekolahmu tadi?”, atau sekedar “Apa kamu ingin dibacakan dongeng?” ingin rasanya Ann mendengar mama bilang seperti itu padanya. Sayangnya itu hanya bayangan Ann, mungkin mama tidak pernah sedikitpun memikirkan hal itu.

Dilihatnya Chan tidur dengan boneka babinya. Chan suka sekali dengan babi berwarna pink pemberian papa. Kemana pun Chan pergi, boneka itu pasti berada di dekapannya. Chan memang tidak mau berpisah dengan bonekanya. Sedangkan Ann, dia kini mendekap boneka beruang berwarna coklat emas yang sebesar dirinya. “Ini juga dari papa! Papa selalu membelikan apa yang aku inginkan! Kalau papa kembali nanti, apa dia juga akan merebut papa dariku?” batinnya.

“Beruang…aku ingin papa cepat kembali!” gumam Ann pada bonekanya. Tanpa disadari Ann, Chan menoleh ke arahnya. Tetesan hangat dari kelopak mata Chan turun.

Papa…” gumam Chan tanpa sedikit pun suara keluar, hanya mulutnya yang terbuka menyebut kata papa. Chan masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan ini. Chan sama sekali tidak mengerti, kenapa mama waktu itu  menangis melihat papa yang sedang tidur di keranjang panjang dan sempit. Mama meraung, sedangkan seorang wanita cantik dengan pakaian putih tiba-tiba membopongnya keluar dari ruangan itu.

“Mama kenapa, suster? Kenapa menangis??” Tanya Chan polos. Wanita itu tersenyum manis.

“Oh, mama tidak menangis! Mama hanya menghibur papa Chan saja!” Chan terdiam dengan kebingungan. Apakah cara orang dewasa menghibur seperti apa yang dilakukan mama?

“Suster..aku ingin bersama mama!”

“Humm…aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Gimana kalau kita kembali nanti setelah kita bermain?” Chan langsung mengangguk mantap dan memunculkan seringainya yang khas.

***

Changi di minggu pagi..

Ann menarik boneka beruangnya keluar dari kamar, dia mendudukan boneka itu di sampingnya. Duduk termenung di halaman rumah.

“Papa kok lama sekali ya kembalinya?? Aku sudah rindu sekali!!! Kamu juga kan, beruangku??” dia mencoba mengajak bonekanya berbicara. Meski tidak ada tanggapan sedikit pun dari boneka itu, Ann terus mengajaknya berbicara.

“Papa..hummm…sedang apa ya, papa sekarang? Apa papa juga merindukanku? Hihi..” Ann mengikik geli.

“Huhh..papa pasti merindukanku!!! Itu pastii!!!” Ann mencoba menggapai-gapai langit berawan di atas sana. Seolah dia mampu mengambil awan itu dengan mudah.

“Awan…papaku di mana??” tanyanya pada Awan. Dia selalu mencoba mengapai-gapai awan itu. Seperti apa yang dulu dilakukannya bersama papa dan Chan yang saat itu masih di kereta dorong.

“Pa..lihat awan ituu!!!” Papa langsung menarik Ann dan menaruh gadis mungil itu dipangkuannya. Papa mengangkat tangan kanannya, mencoba meraih awan yang ditunjukkan Ann. Ann mengikuti apa yang dilakukan papa.

“Ann raih Awan itu untuk papa dan papa akan meraih awan untuk Ann!” kata papa lembut. Ann mengangguk-angguk mantap.

“Aku akan meraihnya untuk papa!!!”

“Aku ingin meraihnya untuk papa!!!” gumam Ann,”Beruang, ayo kamu juga harus mencoba meraih awan itu!!!”

Tidak jauh dari Ann duduk di samping beruang coklat emasnya, yang tidak putus asa meraih awan yang tidak akan mungkin dapat dirainya. Mama melihat Ann dengan linangan air mata. Ingin sekali mama memeluk Ann saat itu juga. Tapi tiba-tiba ada suara pekikan dari dalam kamar.

***

“Aku akan meraihnya untuk papa!” dia turun dari pangkuan papa. Meloncat kecil sambil menyeringai. Mama duduk di samping papa dengan memangku Chan kecil.

“Chan, juga harus meraihnya untuk papa! Coba!!!” Ann mencoba memengang tangan mungil milik Chan. Papa dan Mama tersenyum hangat,”Mama cobalah!!!” Ann membujuk mama untuk melakukan apa yang dia lakukan.

“Ayo kita lakukan bersama!!” seru mama. Chan begitu riang menyambutnya. Mereka melakukan itu secara bersamaan. Bunga-bunga kebahagiaan melentik-lentik di hati mereka.

“Aku akan meraihnya untuk papa, mama, dan Chan!!!” serunya.

“Aku ingin meraihnya untuk papa, mama, dan Chan!!!” serunya. Dipeluknya tubuh mama yang berada di sampingnya. Meski mama tidak meresponnya, tapi dia tahu mama sangat menyayanginya seperti halnya mama menyayangi Chan.

***

Papa pergi meninggalkanku saat aku berumur enam tahun. Papa berangkat ke kantor seperti biasa, papa berpamitan padaku, mama, dan Chan seperti biasa. Papa akan mencium pipiku dan Chan, begitu juga terhadap mama sebelum papa benar-benar masuk ke dalam mobilnya dan keluar dari gerbang besi yang terlihat tinggi. Mama pun segera menyuruhku mengambil ranselku dan botol minuman untuk kubawa ke sekolah. Mama akan dengan sabar menuntunku sambil menggendong Chan menuju sekolahanku. Hanya dibutuhkan selama sekitar delapan menit untuk sampai ke sekolah.

Sejak saat itu aku sering melihat wajah mama gelisah dan pucat. Aku merasa mama juga sering marah-marah padaku, meski tidak terhadap Chan. Karena mungkin Chan masih terlalu kecil untuk mengerti kemarahan mama. Tapi mama memperlihatkan kemarahannya itu padaku lebih sering. Kutunggu kedatangan papa, tapi papa pun tidak kunjung pulang. Hampir satu tahun lamanya aku dengan sabar menunggu papa. Hingga suatu hari di siang yang terik kudengar teriakan mama dari dalam kamarku. Aku berlari ke arah mama dengan panik. Aku tidak tahu apa-apa karena aku masih terlalu kecil untuk memahami keadaan saat itu. Mama memeluk Chan yang tertidur pulas. Aku tidak berani menatap mama barang sedetikpun. Tetangga-tetangga yang mendengar teriakan mama pun segera menuju ke rumahku dan masuk ke dalam rumah tanpa permisi.

Papa yang kutunggu sekian tahun ternyata sudah meninggal akibat kecelakaan. Aku tidak pernah menyaksikan pemakamannya. Selama satu bulan papa mengalami koma yang akhirnya meninggal. Kutahu itu dari nenek yang membesarkanku sampai sejauh ini. Chan meninggal karena demam yang tak kunjung reda. Aku menyesal karena telah menyia-nyiakannya, karena kupikir mama jauh menyayanginya dibandingkan denganku. Setelah papa tidak kunjung kembali, saat itu pula mama agak berubah. Mama mulai memunculkan sifat-sifat yang sebelumnya belum pernah aku terima.

Aku sebenarnya sangat menyayangi Chan. Bagaimana pun juga Chan adalah adikku satu-satunya, dia adikku yang manis. Kadang aku rindu sekali saat aku bermain lumpur dengannya dan mama mulai memarahi kami karena baju-baju indah kami terkena lumpur. Aku rindu dengan seringainya yang manis dan membentuk lekuk kecil di pipi bagian atasnya. Aku sangat rindu dia dan ayah!

Mama mengalami stress berat. Sebelumnya mama mengantarkanku ke rumah nenek. Selama 15 tahun lamanya aku tidak bertemu mama. Hingga suatu hari nenek mengajakku ke sebuah rumah sakit yang berlorong-lorong panjangnya. Di sebuah ruang yang sempit, di situlah kutemui mama meringkuk sendirian. Mama mengalami gangguan jiwa semenjak ditinggal papa dan Chan.

Saat ini aku bekerja sebagai salah satu dokter yang merawat pasien yang berada di sini. Di sini aku akan lebih sering bertemu dengan mama. di saat senggang aku akan menemani mama dan mengajaknya mengobrol. Aku mulai menghiburnya meski terlalu amat sulit. Tapi aku yakin mama akan sembuh.

“Bidadari cantikku!” begitulah gumaman mama padaku sembari mencium sekitar wajahku.

Tamat

* Arti nama:

Annchi: bidadari cantik

Chan Juan: Bulan

Jangan Berkedip!

Cita-citaku waktu kecil adalah membunuh orang. Bagaimana caranya menyiksanya sampai dia benar-benar mati. Aku sering membayangkan aku mengambil anak kecil tetangga, membekapnya di kamar lalu kumasukkan ke dalam kolong tempat tidur.

***

Korea Selatan .서울 특별시 (Seoul Teukbyeolsi). Eunpyung-Gu .2.2.2010. 06.32 a.m.

“Hrmm..Njoo, apa yang kamu lakukan?”

“Menanam bunga. Kau sendiri sedang apa di sini?”

“Bunga? Untuk apa kau menanam bunga, Njoo?” Eun memicingkan mata tidak percaya,”aku hanya berjalan-jalan saja dan tiba-tiba melihatmu.”

“Aaa…aku dapat bunga ini dari tetanggaku, kupikir bagus kalau di tanam di kebun sekolah.” Ditepuk-tepuk kedua belah tengannya. Tersenyum puas,”Kau akan melihatnya berbunga satu minggu lagi.”

“Aaa..kau meramal?” Njoo dan Jang-eun pergi meninggalkan kebun. Mengikik bersama sembari melanjutkan canda. Tanaman yang baru ditanam Njoo, bergoyang terhembus angin yang sama sekali tidak kentara.

***

Seperti bisikan iblis padahal aku sendiri yang membisikannya. Aku tidak pernah meragukan kemampuanku mengolah arimatika. Hanya saja ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyelesaikan satu demi satu soal pengantar. Kulihat buku panduan milik Eun, sama sekali tidak bisa membantu. Kulihat dia sudah tertidur.

Aku memiliki segalanya. Rumah mewah, mobil, uang, orang tua yang utuh, adik laki-laki, kakak perempuan, dan kakek tua yang suka mengomel bila liburan. Mereka semua selalu menjejaliku dengan uang, uang, dan uang. Apapun dapat kuperbuat hanya dengan sekali gesek. Njoo Na, nama yang cukup keren kan? Nenek yang memberikan nama itu sebelum dia meninggal di tempat tidurnya yang penuh dengan bebauan mawar. Aku masih merasakan bebauan itu jika melewati kamarnya.

Eun, dia sahabatku. Sebenarnya dia tinggal di asrama sekolah. Setelah mempertimbangkan selama satu malam, aku mengajaknya tidur di rumahku. Aku ingin dia yang mengajariku memotong daging, mencincang beberapa wortel. Sebenarnya ada pelayan yang bisa kuandalkan sedangkan aku pun mampu tanpa bantuan Eun. Tapi setelah aku pikir-pikir kembali, aku ingin memotong beberapa sepersegi dan sepersekian daging dengan tekniknya yang rapi. Aku suka cara dia memotong daging saat lomba memasak di sekolah bulan lalu dan aku begitu tertarik untuk menguasai caranya.

***

Aku membekapnya. Kebetulan saat itu orang tuaku tidak ada di rumah. Entah kenapa aku merasa hari ini adalah hari keberuntunganku. Tidak ada satu pun orang yang ada di rumah. Hanya ada aku dan dia.

Wajahnya cantik, kulitnya putih mulus, matanya jernih seperti bayanganku selama ini. Sosoknya tidak jauh berbeda dengan sosok di foto yang berdiri anggun di atas permadani yang menempel di meja di ujung kamarku.

“Mmmhh..hmmhh…hhh…” semakin dia berusaha berteriak, semakin lebar mulutku untuk melepas tawa. Kukeluarkan pisau yang sering aku gunakan untuk berlatih memotong daging yang lembut. Kugoreskan di bagian pipinya yang mulus. Tubuhnya sedikit menegang lalu mengejangkannya supaya tali yang tidak mungkin terlepas dapat dilepaskannya dengan hanya sekali menggeliatkan tubuh mungil tidak berdayanya. Aku mengikik, dia justru memekik seperti suara kelinci yang dijatuhkan dari lantai dua rumahku. Perlahan tetesan hangat keluar dari kelopak mata jernihnya. Mengejang lagi, aku mengikik.

“Aku hanya ingin melukis saja kok!” ujarku, air matanya terus mengalir.

***

Kuusap lantai dengan air jernih yang sudah berubah warna kemerahan. Satu botol emulsilfier kutumpahkan sembarang. Kuulangi lagi dengan menyemprot wewangian. Aku mengintipnya di kolong tempat tidurku. Dia masih bergerak-gerak dengan mengumbarkan bau anyir dari dalam tubuhnya yang terus saja mengalir.

“Njoo..kau sedang apa?” Soh Lie, kakak perempuanku berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Aku langsung memasukkan ember kecil ini ke dalam kolong tempat tidur.

“Ada apa?”

“Bisakah kau rendahkan musik iblismu itu? huh! Aku sedang belajar!”dengan gesit kuputar tombol volume ke arah minus. Suara gemeretak kaki Soh mulai menjauh. Kukibaskan tanganku dengan lentik. Kutatap tanaman mawar di dalam pot yang kutaruh di pinggir jendela kamarku.

“Sangat cantik sekali!” gumamku menebar senyum, meski tanaman itu belum berbunga.

***

Aku menyeretnya keluar dari kolong tempat tidurku. Wajah itu sudah pucat dan dipenuhi dengan darah beku bercampur cairan yang arus. Hampir busuk. Kubuka plaster yang menutupi mulutnya. Bibirnya sedikit bergetar.

“Njoo eonni…” mata itu membuka perlahan. Tangan mungilnya memegang lenganku erat,”Njoo..maafkan Me Chan..Eonni.Njoo.Me Chan.salah!” aku melempar tubuhnya. Dia masih hidup? Aku meliriknya tajam. Tangannya mencoba meraihku. Aku mendekatinya kembali dengan tissue di tanganku. Kuusap wajah yang sudah tidak mulus itu perlahan. Kutopang kepalanya di pahaku.

“Kau tak apa, sayang?” Aku memeluknya. Kubuka pelukanku. Anak itu sudah tidak mampu membuka matanya lagi. Kubawa dia ke kamar mandi. Kubersihkan badannya dari kotoran merah kental itu. Darah terus mengalir dari lubang-lubang di tubuhnya.

***

“Mawarmu berbunga, Njoo!” seru Eun. Mendekati tanaman itu. Aku hanya tersenyum miris melihat gadis kecil itu menyirami bunga mawar tanpa henti dengan air matanya. Matanya pun tidak henti-hentinya menatapku tanpa sedikit pun kedipan.

==============================================

Model Foto: Chindy Lam